HANYA RINDU

HANYA RINDU
Hanya Rindu 6


__ADS_3

Aku berlari dengan tergesa mencari keberadaan Alden. Kaki ku terus melangkah menaiki anak tangga yang begitu banyak. Hati ku tidak tenang, aku merasa sangat bersalah.


Tinggal dua anak tangga lagi, aku harus semangat.


Aku merasa lega saat kedua kaki ku sudah menginjak rooftop. Dari belakang, aku dapat melihat Alden yang duduk sendirian dilantai rooftop. Ia duduk dan mengapit kedua lututnya menggunakan kedua lengannya.


Aku berjalan menghampirinya. Perlahan, tidak ingin mengganggu suasana hatinya.


Aku duduk tepat disampingnya. Aku melihat wajahnya dari samping, ia memejamkan kedua matanya.


Apa sangat melelahkan untuknya hidup?


Aku tersenyum sembari membuka bungkus plastik roti yang tadi diberikan Alden padaku.


“Makan dulu,” ucapku sambil menyodorkan roti tepat dihadapannya.


Perlahan Alden membuka kedua matanya. Ia menatapku tanpa ekspresi terkejut sedikitpun.


“Kenapa disini? Tugas lo gimana?” Tanyanya dengan menatap kedua manik mataku.


Aku tampak gelagapan saat ingin menjawab pertanyaannya. Aku menggaruk tengkuk kepalaku yang tak gatal.


“Gue lupa kalau udah gue kerjain dirumah.” Jawabku sambil mengeluarkan semyum tanpa dosa.


“Terus, kenapa lo nyusulin gue ke sini?” tanyanya lagi.


Aku kembali menyodorkan roti yang sedari tadi belum diambil Alden. “Gue tahu, lo ajakin gue kesini karena mau makan siang bareng gue. Jadi gue susulin lo kesini.”


Aku tertegun. Saat melihat Alden tertawa terbahak-bahak. Melihatkan keseluruhan giginya yang putih dan rapi. Sembari tangan kanannya mengambil roti yang ku pegang sedari tadi.


“Percaya diri banget lo,” ucapnya sambil memakan sedikit demi sedikit rotinya.


Entah mengapa, senang rasanya bisa melihat Alden tertawa hingga aku ikut tersenyum melihatnya.


“Ngaku aja deh,” ucapku dengan menatap Alden dari samping.


Alden yang merasa ku tatap, akhirnya mengalihkan pandangan kearahku. Kini kami saling tatap.


Desir darah ini seakan berhenti, keringat dingin mulai terasa saat Alden perlahan memajukan kepalanya mendekati wajahku.


Sungguh indah ciptaan tuhan. Mata tajam berwarna hazel, hidung lancip, bibir tipis, dan kulit putih bersih.


“Thanks” ucapnya tiba-tiba dengan terus menatap intens.


Aku mengedipkan mataku berkali-kali, sembari merubah posisi duduk ku agar lurus, tidak mengarah pada Alden.


“Gue nyaman sama lo,”


Sial. Lelaki ini tahu bagaimana caranya untuk mematikan seseorang.


Nafasku hampir tercekat saat Alden tiba-tiba memelukku dari samping.


Double kill.


Aku berpura-pura batuk untuk mencairkan suasana. Alden melepas pelukannya dan aku berusaha menormalkan deru detak jantungku.


“Sampai saat ini, gue Cuma bisa terbuka sama dua orang.” Ucapnya tiba-tiba.


Alden menatap lurus dengan tatapan kecewa?


Apa ia pernah mengalami sesuatu, yang membuatnya menjadi trauma?


“Lo, dan dia yang udah pergi ninggalin gue sendiri disini.” Lanjut Alden.


Alden menatapku, “Dia mirip banget sama lo, sifat dan tingkah lakunya.” Tambahnya.


Tunggu. Apa aku hanya sebagai pelariannya saja?


“Jadi, lo dekatin gue karena lo ngerasa gue mirip sama cewek lo itu? Lo jadiin gue sebagai pelampiasan rasa kangen lo ke dia?!” Tanyaku dengan menatap kedua mata Alden dengan tatapan kecewa.


Baru saja aku dibuat terbang. Kini sudah jatuh sedalam-dalamnya.


“Gue Nada, bukan cewek lo itu!” Ucapku lalu berdiri berdiri dan pergi meninggalkan Alden dibalkon sendiri.


°°°°


Aku melangkah menuruni anak tangga dengan tergesa, saat aku terus-terusan mendengar suara Alden yang memanggil namaku dari belakang.


Aku tidak tahu, kenapa hatiku sangat terasa sakit saat mendengar bahwa Alden mendekatiku hanya karena aku mirip dengan perempuannya itu.


Aku merintih kesakitan saat pergelangan tanganku berhasil diraih dan dicengkeram kuat oleh Alden. Aku berusaha keras untuk melepaskan diri dari Alden, namun gagal.


“Bukan. Lo bukan pelampiasan buat gue.” Ucapnya dengan suara berat miliknya.


Aku memejamkan kedua mataku. Rasanya sangat perih, hingga ingin menitihkan air mata.

__ADS_1


Aku menatap kedua mata hazel tersebut, tersenyum kearahnya.


“Gue gak pernah paham sama jalan pikiran lo.” Ucapku dengan menatap tajam.


“Lo selalu bertingkah seenaknya, tanpa lo berpikir apa yang lo lakukan itu sangat berdampak bagi seseorang.” Tegasku.


Tanganku berhasil terlepas. Aku segera berlari menjauh dari Alden. Aku tahu apa yang ku ucapkan tidak lah penting. Tapi aku harus melakukannya untuk keberlangsungan hidupku.


°°°°


ALDEN POV


Selama pelajaran terakhir, aku tidak dapat fokus pada mata pelajaran Sejarah. Fokusku teralihkan pada Nada.


Aku merasa bersalah padanya, karena telah menyebabkan kesalah pahaman. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatinya.


Sama sekali tidak.


Kriinggg.....


Bel berbunyi, aku meraih ransel ku dan berjalan keluar kelas. Aku ingin menemui Nada. Menjelaskan padanya maksud perkataanku di rooftop.


“Mau kemana sih? Buru-buru amat?” Tanya Reza padaku.


“Mau nyamperin Nada. Penting.” Jawabku tanpa menghiraukan dimana ia berada.


“Jangan lupa, hari ini ada latihan jam 7 malem di tempat biasa. Lo kan terima tantangan dari Rino.”


Shit!


Aku menghentikan langkah ku, berbalik menghadap Reza yang sedari tadi ternyata menatapku.


“Harus hari ini?” Tanyaku pada Reza.


Reza mengangguk. “Yang lain udah sepakat hari ini,” jawabnya.


Aku mengangguk lesu. Belum selesai masalah Nada, kini berganti masalah Rino.


Aku dapat melihat Reza berjalan mendekatiku.


“Kita udah 3 tahun bersama. Duduk bareng, satu team, jajan bareng. Kalau gue bisa terbuka sama lo, kenapa lo engga? Gue akan selalu ada buat lo Den. Gue mau kok dengerin semua curhatan lo selama ini.” Ucap Reza sembari menepuk pundak ku akrab dan tersenyum.


Aku tertegun, tersentuh dengan rasa simpati yang diberikan Reza padaku.


Hampir saja lupa, kini aku melangkah pergi ketujuan pertama ku. Pergi menemui Nada untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini.


Aku pergi setelah berpamitan pada Reza. Kaki ku terus melangkah menuju letak, dimana kelas Nada berada.


Ditengah perjalanan, aku menghentikan langkah ku saat mendapati Nada berjalan bersama temannya Ella.


Aku menghampiri mereka. Aku dapat melihat saat aku mendekat, Nada membuang muka dariku. Ia mengabaikan keberadaan ku dengan tetap mengajak Ella untuk terus jalan.


“Nad kasih gue kesempatan buat jelasin.” Ucapku memelas.


Aku tahu Nada tidak melihat atau bahkan melirik wajah ku sama sekali. Tapi dengan suara sedih ku, mungkin ia akan berbalik dan luluh?


3


2


1


Shit!


Nada terus berjalan bersama Ella tanpa menghiraukanku.


Apa perasaanku sangat tidak penting?!


Aku melangkah mendekati Nada. Aku meraih tangannya, dan berhasil. Dia berbalik menatapku.


“Gue emang belum pernah pacaran! Jangan bikin gue ngerasa bodoh!”


Aku terkejut saat Nada meneriaki ku dengan wajahnya yang memerah.


Ya tuhan, salah mulu gue.


Tapi, kenapa saat Nada meneriaki ku, aku merasakan sakit?


Nada kembali melepaskan peganganku. Tapi kini ia berjalan sendiri meninggalkan Ella yang masih berdiri ditempat yang sama denganku.


“Mending lo jauhin Nada deh. Dia juga punya perasaan.” Ucap Ella sebelum akhirnya pergi menyusul Nada.


Aku tidak tahu dimana letak kesalahanku padanya. Tapi bicara tentang perasaan.


Apa mereka pikir aku tidak mempunyai perasaan?

__ADS_1


Apa hanya Nada yang mempunyai perasaan?


Sial. Aku sudah terlanjur nyaman dengannya. Aku tidak bisa jauh darinya saat ini.


°°°°


Aku menepati janji anggota basket ku. Aku datang ke tempat latihan biasa saat malam. Sudah banyak yang kumpul rupanya.


“Tumben banget lo telat?” Tanya Rendy padaku saat aku baru saja memasuki lapangan.


Aku melihat jam tangan yang melingkar rapi di tangan kiri ku. Benar saja, aku sudah telat 10 menit.


“Sorry, macet dijalan.” Jawabku berdalih.


Latihan pun dimulai dari pemanasan, sebelum akhirnya memulai permainan. Kami membagi menjadi 2 kelompok supaya permainan bisa dimulai.


1 jam sudah terlewat. Kami beristirahat sejenak. Duduk dipojok lapangan basket.


“Ntar kalau Rino berlagak, lo jangan kepancing emosi lagi.” Peringat Reza padaku.


Aku mengangguk. “Gue mah santai kalau dianya juga santai,” jawabku sembari meneguk air dari dalam botol minum.


“Wajar sih, gue juga akan kepancing emosi kalau dia mainnya sembarangan.” Sahut Tino berpendapat.


“Udah lah. Intinya kita jangan sampai terpancing emosi dipertandingan lusa.” Ucapku menengahi perdebatan.


Tidak terasa jam terus berjalan. Waktu sudah semakin malam. Satu demi satu berpamitan untuk pulang.


Tapi tidak denganku. Aku ingin menghabiskan malam ku disini. Bermain bola.


“Lo gak balik?” Tanya Reza yang terlihat sedang memasukkan beberapa barang kedalam tasnya.


Aku menggeleng sembari berjalan mendekati bola yang terletak ditengah lapangan.


“Duluan aja. Gue masih mau latihan buat lawan Rino, lusa.” Jawabku mengada-ngada.


“Ada masalah apa?” Tanya Reza tiba-tiba.


Apa ia tahu, bahwa tadi aku berbohong padanya?


Aku tidak menjawab. Aku lebih memilih mensibukkan diri dengan bermain basket sendiri ditengah lapangan.


“Berat Den kalau menyimpan masalah sendiri. Gue tahu lo susah untuk terbuka. Tapi, itu semua malah bikin lo makin rapuh secara perlahan.” Ucap Reza sembari berjalan mendekatiku.


Aku berhenti bermain basket sesaat. Menatap Reza yang sedari tadi memperhatikan ku.


“Gue suka sama Ella, teman Nada. Tapi gue Cuma bisa diam, dan sekarang apa? Dia dekat sama cowok lain. Itu semua karena gue gak berani bilang ke siapapun untuk cari saran.” Tambahnya.


Aku melemparkan bola yang ku pegang kearah ring. Aku berjalan kepinggir lapangan dimana tasku terletak.


“Gue bingung cerita apa, karena masalah banyak banget di hidup gue.” Ucapku sembari mengambil botol air minum, lalu meneguknya.


“Yang mana aja, gue pasti bantu lo.” Ucap Reza dengan menatapku serius.


“Gue berantem sama Nada, karena dia salah paham. Gue bilang ke dia, kalau gue Cuma bisa terbuka sama dia dan satu orang yang udah ninggalin gue sendiri disini,” ucapku mengawali cerita.


“Dia ngira kalau dia Cuma gue jadiin pelampiasan. Padahal gak sama sekali. Dia pun marah karena sikap gue akhir-akhir ini. Gue gak paham dong sama maksudnya, padahal gue udah coba bicara sama dia.” Lanjutku.


“Emang lo ngapain?” Tanya Reza.


Aku nampak berpikir. Mengingat kejadian apa saja yang ku lewati bersama Nada akhir-akhir ini.


“Gue jemput dia, olahraga bareng, cerita-cerita, makan bareng, gendong dia waktu pingsang, ajak ke rooftop. Udah sih,” ucapku selesai mengingat-ingat.


Reza tertawa.


Apa ia mentertawaiku?


“Lo bego banget sih. Pantes Nada marah.” Ucap Reza.


Aku memasang wajah bingung. Aku tidak tahu apa yang dimaksudkannya.


“Lo berani jemput, ngajakin keluar, makan, kasih perhatian itu sama aja lo udah bikin cewek menaruh harapan ke lo.” Ucap Reza.


Aku mengangguk. Aku baru sadar jika yang diucapkan Reza benar.


“Disaat Nada menaruh harapan suka ke lo, lo malah cerita cewek lain. Pantas lah dia marah.” Lanjut Reza.


“Terus, gue harus gimana?” Tanyaku.


“Kasih tahu perasaan lo yang sebenarnya ke dia.” Ucap Reza.


Perasaan?


Aku saja masih bingung bisa menaruh perasaanku pada orang lain atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2