HANYA RINDU

HANYA RINDU
Hanya Rindu 5


__ADS_3

Perlahan aku mulai membuka mata, saat sinar mentari mencoba untuk menembus retina ku.


Aku mengeliat, mencari posisi yang nyaman sebelum sepenuhnya bangun dari mimpi indah ku.


Mama, ternyata ia pelakunya.


Membiarkan sinar masuk melalui sela jendela yang gordennya sudah disingkap.


"Bangun terus mandi. Alden udah nungguin kamu dibawah,"


Aku meraih ponsel yang ku letakkan diatas nakas,


tunggu


Alden?


Aku membelalakkan kedua mataku kearah mama, ia sendiri terkejut dengan ekspresiku.


"Kebiasaan banget sih, udah bikin janji tapi masih lupa." lanjut mama sembari menatapku gemas.


Aku menggeleng dengan cepat. Tidak membenarkan ucapan mama barusan.


"Aku gak nyuruh dia buat jemput kok. Salah rumah kali," ucapku menepis.


Mama berjalan mendekati tumpukan baju kotor ku yang berada di dekat pintu kamar mandi,


"Orang dia bilang kalau mau jemput kamu kok," ucapnya dengan membawa bak yang berisi tumpukan baju kotorku.


"Masih mau ngeles? Mandi sana." lanjutnya sembari berjalan keluar kamar.


Aku melihat punggung mama yang sedang berjalan keluar kamar, hingga akhirnya pintu tertutup.


Aku menepuk pipiku berulang kali, terasa sakit.


Sebenarnya aku sedang bermimpi atau tidak?


Ya, aku ingat.


Aku segera turun dari atas ranjangku, menuju balkon kamar yang menghubungkan antara kamarku dengan pemandangan luar rumah.


Aku terkejut.


Benar saja, ternyata sudah terparkir motor CBR milik Alden disana.


"Masih gak percaya kalau gue jemput lo hari ini?"


Double kill.


Sial, aku tertangkap oleh Alden.


Ternyata ia baru saja keluar dari rumahku untuk mengambil suatu barang yang tertinggal di motornya.


Ia melihat keatas, dimana aku berada.


Aku segera masuk kedalam kamar saat Alden menatapku.


"Ash, gila banget sih nih cowok." gerutuku.


Aku pun masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap untuk berangkan sekolah.


°°°°°


"Udah ada yang bagian antar jemput nih, sekarang,"


Aku dapat melihat Alvaro yang sedang menggodaku saat berada di ruang makan.


"Apaan sih," jawabku kesal.


Umur kami tidak jauh berbeda, hanya terpaut 2 tahun. Itu lah mengapa kami seperti tom and jerry jika bersatu.


"Udah makan dulu, ada Alden juga. Gak malu apa?" ucap mama memotong perdebatan kami.


Di ruang makan, lengkap sudah keluargaku berkumpul. Termasuk Alden,


ya dia ikut sarapan bersama kami.


"Kalau bagian yang ngisi hati ada gak ya?" lanjut Alvaro.

__ADS_1


Baru saja aku duduk, Alvaro kembali membuka suara.


Aku melemparkan sendok besi padanya, tidak peduli mengenai bagian tubuhnya.


Alvaro tertawa puas melihatku kesal. "Puas lo?!" ucapku geram.


°°°°


Setelah menyelesaikan sarapan, aku dan Alden memutuskan untuk segera berangkat sekolah.


Diperjalanan, kami hanya saling bungkam. Tidak berbicara satu sama lain. Itulah mengapa aku sangat tidak nyaman.


Angin pagi yang masih sejuk, tidak terlalu ramai kendaraan yang melintasi jalan raya pagi ini.


Mungkin masih terlalu pagi.


Jam menunjukkan pukul 06:00 am, dimana seharusnya aku masih berada di dalam kamar untuk bersiap sekolah.


Tetapi sekarang, aku sudah berada di perjalanan menuju sekolah.


Perjalanan hari ini tidak lah membutuhkan waktu lama. Karena tidak ada macet dan kendaraan lain yang menganggu.


15 menit kami sudah sampai di sekolah. Benar saja, masih sepi. Hanya beberapa anak yang sudah berada disekolah.


Aku turun dari motor Alden sembari melepas helm.


"Thanks tumpangannya." ucapku sebelum akhirnya pergi meninggalkan Alden di parkiran.


Aku merasakan ada tangan yang menarikku.


Ya, itu tangan Alden.


Ia menarik tanganku, mencegah ku untuk pergi ke kelas.


"Lo berani di kelas sendirian? Jam segini masih sepi?" ucapnya dengan menatap kedua manik mataku.


Benar apa yang diucapkannya. Kelas masih sepi.


Aku diam, tidak menjawab. Alden pun kembali menarik tangan ku menuju suatu tempat. Aku hanya mengikuti setiap langkahnya dari belakang


Alden mengajakku naik ke rooftop sekolah.


Ternyata sangat luas dan kosong disini. Ini adalah kali pertamaku menaiki rooftop.


Aku melihat-lihat sekeliling, ternyata sangat indah disini. Aku dapat melihat semuanya dari atas sini.


Aku menghampiri Alden yang sudah duduk di tengah-tengah rooftop.


Aku pun bergabung dan duduk disampingnya. Suasana canggung pun kembali terjadi.


"Keluarga lo asik, ya?"


Alden bersuara, memecah keheningan. Aku tidak tahu apakah dia bertanya atau tidak.


Aku mengangguk, sembari tersenyum kearahnya.


Aku dapat melihat, Alden menatap lurus dengan pandangan kosong. Raut wajahnya berubah sendu.


Apa ia sedih?


"Gue hidup di dalam keluarga ya dingin. Tanpa kehangatan." lanjutnya.


Aku tertegun mendengar pernyataan yang diucapkan oleh Alden.


Apa ia baru saja membuka sifatnya dihadapanku?


"Papa sibuk urusan kantor, dan mama sibuk sama bisnisnya." Alden kembali berucap sembari mengubah posisi duduknya yang mengapit kedua lututnya menggunakan kedua tangannya.


Aku merasa kasihan padannya. Aku terus melihatnya dari samping, sembari terus mendengarkan ceritanya.


"Gue anak tunggal. Dirumah sendirian, makan sendirian."


Good!


Dia dingin karena suasana di kehidupan sehari-harinya. Aku mencoba menenangkan Alden. Aku menepuk hangat pundaknya agar ia merasa nyaman.


Aku tertawa mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


"Gue pernah mikir, kalau jadi anak tunggal itu suatu hal paling menyenangkan." ucapku sembari memberikan senyuman hangat pada Alden.


Alden mengalihkan pandangannya untuk menatapku. Pandangannya yang semula kosong, kini sudah terisi oleh ku.


"Kita gak perlu berbagi, gak ada yang jailin tiap hari, rusuh, atau apapun itu. Hidup menjadi damai." lanjutku dengan membalas tatapan Alden.


"Sekarang aku sadar. Aku sangat bersyukur ada Alvaro sebagai abangku, yang rela ngelakuin apapun demi adiknya."


"Tapi, bukan berarti menjadi anak tunggal adalah suatu kesialan. Karena, kita cukup untuk membuka diri dan terbiasa dengan orang lain agar tidak merasa kesepian." aku tersenyum sembari menepuk pelan pundak Alden.


Alden membalas senyumanku. Ia tersenyum manis kearahku.


Aku ini adalah kali kedua aku melihatnya tersenyum sangat manis.


Aku tidak tahu, jalan apa yang tuhan beri untuk ku dan untuknya.


Tapi, aku hanya bisa berharap agar tuhan dapat memberikan jalan yang terbaik untuk aku dan dia.


°°°°


Jam ke 3 dan 4 selesai ku gunakan untuk kumpul ekstra photography. Kini saat istirahat pun tiba.


Aku dan Ella memutuskan untuk langsung menuju kantin sebelum akhirnya kembali ke kelas. Kami membeli camilan dan minuman untuk dimakan dikelas.


Setelah selesai membeli, kami memutuskan untuk langsung kembali ke kelas, karena kantin sekolah sangat ramai.


"Lo serius hari ini berangkat bareng Alden?" tanya Ella yang masih tidak percaya.


Ya. Sempat tadi aku bercerita pada Ella, bahwa hari ini Alden menjemputku.


Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan Ella.


Kami tetap berjalan sembari berbincang.


"Bener dong yang gue bilang waktu itu, kalau Alden suka sama lo." ucap Ella dengan simpulannya.


Aku menggeleng, tidak setuju pernyataan Ella.


"Gak mungkin lah, kenal juga baru seminggu." ucapku menolak pernyataan Ella.


"Yaelah, suka sama seseorang itu gak perlu nungu waktu lama Nad. Lo tatap matanya selama 30 detik, lo bisa langsung jatuh cinta sama dia." ucap Ella dengan argumennya.


"Ternyata lo disini."


Aku terkejut saat tiba-tiba mendengar suara Alden dari dekat.


Benar saja, Alden sudah berdiri di depan kelasku saat aku baru sampai kelas.


Ia membawa dua buah roti dan dua minuman ditangannya. Untuk siapa?


Aku menatap kearah Ella, meminta pertolongan.


"Mau ke rooftop?" tanyanya sembari menatapku.


Sempat aku menoleh kearah Ella sebentar, aku paham betul Ella mengangguk mengizinkan ku.


Tapi, aku tidak bisa jika terus seperti ini.


"Sorry, gue ada tugas yang belum selesai." ucapku menolak dengan halus.


Alden mengangguk, aku tahu ia memasang raut wajah kecewa saat ini.


"Yaudah semangat." ucapnya sembari memberikan dua buah roti dan dua minuman padaku.


Alden pun pergi entah kemana, mungkin ke roftoop.


"Wajah Alden kecewa waktu lo tolak ajakannya." ucap Ella yang mengikuti arah pandangku yang melihat punggung Alden semakin menjauh.


Aku mengangguk. "Gue tahu, tapi dia orangnya aneh. Gue sendiri gak pernah faham sama sifat atau tingkah lakunya." ucapku memberi alasan.


Ella menepuk pundak ku pelan. "Lo susulin dia sekarang. Yakin deh, perlahan dia pasti terbuka." ucap Ella sembari tersenyum.


Beberapa saat aku berpikir, untuk apa aku menyusulnya?


Tapi disisi lain aku merasa bersalah sudah menolak ajakannya. Mungkin ia ingin makan dan menikmati suasana rooftop denganku seperti tadi pagi.


Aku pun segera pergi dan mencari keberadaan Alden.

__ADS_1


__ADS_2