HANYA RINDU

HANYA RINDU
Hanya Rindu 12


__ADS_3

Aku berjalan mengitari koridor sekolah. Masih sepi.


Shit.


Lagi-lagi aku teringat kejadian kemarin pagi, dimana aku menyuruh Alden untuk menjauhiku.


Aku meruntuki kebodohan diriku. Aku tidak seharusnya bertingkah dan berucap seperti itu kemarin.


Aku menunduk dan mendapati tali sepatuku yang lepas. Bahkah aku lalai mengikat tali sepatu dengan benar.


Aku berjongkok guna membenarkan tali sepatuku.


Baru saja aku hendak mengikat tali sepatuku, tiba-tiba saja ada tangan yang menyambar tali sepatuku lebih dulu.


Tangan besarnya mengikat tali sepatuku dengan perlahan namun tepat. Aku mendongak, memandang lurus kedepan, guna melihat siapa orang itu.


Alden dengan mata dan tangan yang serius sedang mengikat tali sepatuku.


Apa ia tidak marah?


Tuhan, bagaimana aku bisa lepas darinya jika seperti ini?!


Aku tersentak kaget saat mata kami tiba-tiba saja bertemu pandang dalam beberapa detik.


Aku dapat melihat senyumnya, walau hanya sekilas sebelum akhirnya aku mengalihkan pandanganku.


Aku berdiri, lalu kembali berjalan tanpa menghiraukan keberadaan Alden.


Baru dua kali melangkah kedepan, tanganku sudah ditarik oleh sak empunya.


“Aku akan lindungi kamu, Nad.”


Lelaki ini tahu bagaimana caranya memporak porandakan hati seorang wanita. Semalam, akupun tidak percaya dengan apa yang ku ucapkan. Aku tidak yakin bisa jauh tanpanya.


“Ada aku, kamu jangan takut.” Lanjutnya lagi.


Aku tidak dapat berkata-kata. Disaat seperti ini, aku merasa bimbang.


Egoku sangat tinggi untuk berbalik badan menghadap Alden dan berkata aku percaya sama kamu. Tapi perasaanku sangat ingin memberinya pelukan hangat, atas penyesalanku terhadapnya kemarin.


SHit...


Aku menutup mata sekejap. Tiba-tiba saja badanku terasa hangat. Terdapat tangan melingkar tepat pada pinggangku.


Alden memelukku.


Aneh, tubuhku sama sekali tidak meronta saat Alden dengan sengaja memeluk ku.


Perlahan aku melepaskan tangan Alden dari pinggangku. Aku melirik kesana kemari, untung saja tidak ada yang melihat.


Aku berbalik, menatap Alden dengan tatapan tegas.


“Gue minta maaf,”


Kenapa aku lemah sekali?!


Tiba-tiba saja aku mengucapkan kata maaf dihadapannya.


Kami saling beradu tatap. Aku dapat melihat Alden yang menggeleng sembari terdenyum.


“Kamu percaya sama aku kan? Aku ada buat kamu, Nad.” Ucap Alden.


Laki-laki ini sangat pandai memainkan ekspresi wajahnya.


°°°°


Aki duduk sembari membaca buku yang ku bawa dari rumah.


BRaakkk....


Aku mendongak, melihat siapa pelakunya.


Ella berdiri dengan cengiran khasnya, sambil menenteng tas punggungnya.


“Lo kemarin kemana aja, bego?!” Teriaknya.


Aku menutup buku ku, lalu menatapnya bingung.


“Di rumah. Kenapa?” Tanyaku.


Ella menghela napas kesal.


Apa ada masalahnya?


“Kemarin sabtu Alden spam gue, nanyain keberadaan lo. Sampai gue gak bisa malam mingguan dong,” ucap Ella sembari duduk dibangkunya.


Aku mengangguk paham.


Tunggu.


Ia sedang bermalam minggu, dengan siapa?


“Tumben, sama siapa malam mingguannya?” Tanyaku dengan menatap kedua bola matanya intens.


Ella membelalakkan matanya, rasanya ia baru sadar mengucapkan kata itu padaku.


Ella tertawa sembari memalingkan wajah dariku. Aku pun menarik tangan kanannya agar ia kembali menatapku dan bercerita.


“Sama siapa?” Tanyaku.


“Arya,” jawabnya.


Aku menghela napas, melepaskan tarikan tanganku pada tangan Ella.


“Udah gue bilangin kan, jauhin dia.” Ucapku pada Ella.

__ADS_1


Ella menggeleng, “dia kemarin minta maaf, dan jelasin semuanya ke gue,” jawabnya.


Aku menatap kedua manik matanya, menjelaskan apa yang ku maksud.


“Berapa kali dia udah minta maaf ke lo? Tapi selalu di ulangi bukan?” Ucapku.


“Dia datang, disaat dia merasa sepi. Selanjutnya, dia akan lupa sama lo yang selalu menunggu dia supaya kembali,” lanjutku dengan nada serius.


Ella terus menggeleng, tidak setuju dengan ucapanku.


“Lo gak akan tahu gimana rasanya Nad. Bahkan lo sendiri belum pernah merasakan,” jawabnya dengan tajam.


Napasku tercekat saat mendengar jawaban Ella. Rasanya sakit sekali mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ella.


Aku hanya berniat memberikan solusi untuk dia, tapi nyatanya ia malah membalasku seperti ini.


Aku tersenyum dan mengangguk kearahnya.


“Gue emang belum tahu gimana rasanya, tapi gue peduli sama lo.” Jawabku.


Aku bangkit dari tempat duduk ku, dan berjalan keluar kelas.


MOod ku sangat hancur, padahal ini masih pagi. Aku berjalan menyusuri koridor sekolah. Entah kemana langkah kaki membawa ku pergi.


Perlahan kaki ku menaiki satu persatu anak tangga, hingga akhirnya aku dapat merasakan hembusan angin yang sangat kencang.


Aku menengadahkan kepalaku, menatap awan yang berwarna biru cerah.


Aku duduk bersila diatas roftop sembari kedua tangan ku arahkan ke belakang sebagai tumpuan.


Aku menatap awan sekilas sebelum akhirnya memejamkan mata.


Usia remaja tidak lah selalu bahagia


Ada beberapa konflik yang bahkan tidak dapat diatas sendiri


Namun, terkadang hanya ingin mengatasinya sendiri.


HAhahaa....


Egois.


Aku tidak tahu,


Usia remaja yang selama ini ku kira akan membuat ku bahagia,


Dapat memberikan pengalaman hidup berharga, karena di usia ini lah aku dapat mempelajari hal baru


Tapi, tidak semua itu benar.


Semakin dewasa usia, semakin terlihat bagaimana asli sikap mu,


Semakin terlihat bagaimana watak asli mu,


Semakin sering orang mengomentarimu,


Ya, itulah dunia.


Tidak melulu soal hidup bahagia yang dipenuhi cinta. Tetapi juga di iringi konflik yang dapat mempererat hubungan dan menumbuhkan cinta.


“Lagi mikir apa sih?”


Perlahan aku membuka mata saat mendengar suara yang jaraknya sangat dekat denganku.


Aku menoleh ke bagian kiriku dan mendapati Alden yang sudah duduk disampingku persis seperti bagaimana aku duduk saat ini.


Ia menoleh kearahku, “mau cerita?” Tanyanya sembari menatapku.


Aku tersenyum, “ternyata masalah percintaan bisa merusak persahabatan ya,” gumamku seraya menatap lurus pemandangan yang ada di depanku.


Alden menggeleng, sembari tertawa mencairkan suasana.


“Gak selalu kok. Asal ada salah satu diantaranya yang mau merelakan,” jawabnya.


Aku mengangguk paham. Memang tidak baik jika mendahulukan sikap egois untuk menyelesaikan masalah.


“Kenapa? Berantem sama Ella?” Tanyanya lagi.


Aku menggeleng.


Mungkin lebih tepatnya, kesal tanpa ada pertengkaran?


“Aku selalu bilang ke Ella buat jauhin Arya,” ucapku sembari menghembuskan napas kesal.


“Tapi yaudah lah, nanti juga dia akan capek sendiri.” Lanjutku.


Aku dapat melihat dari sudut mataku bahwa cara duduk Alden sudah berubah.


Alden kini duduk menghadap kearahku.


Sesekali aku melirik kearahnya, namun aku mencoba bersikap biasa saja.


“Arya? Siapa? Pacarnya Ella?” Tanyanya dengan nada panik.


Tunggu.


Apa ia penasaran?


“Kenapa kamu jadi penasaran? Suka sama Ella?” Tanyaku.


Ah entahlah, moodku kembali hancur setelah mendengar pertanyaan Alden tadi.


Hening.


Aku terkejut saat mendengar suara tawa Alden yang meenggelegar.

__ADS_1


Alden meraih bahuku, lalu memutarnya perlahan hingga aku duduk menghadap kearahnya.


“Kenapa cemberut? Cemburu ya?” Tanyanya sembari menahan tawa.


Apa? Aku cemberut?


Aku membelalakkan kedua mataku sembari menatapnya terkejut.


“ENGGAK, KATA SIAPA?!” Ucapku dengan cepat.


Sial.


Alden kembali tertawa.


“Kok elpigi sih?” Tanyanya


“Apa sih?” Balasku tidak paham.


“Ngegas gitu jawabnya,”


Aku memukul lengan Alden saat ia kembali tertawa terbahak-bahak.


Aneh tapi nyata,


Seolah tawanya bisa menular padaku.


Kini aku ikut tertawa bersamanya, dan terutama karena ulahnya aku bisa tertawa.


Aku tersadar saat ada yang sengaja memperhatikanku dengan saksama. Aku yang merasa aneh karena diperhatikan pun akhirnya mengakhiri tawaku dengan menatap seorang lelaki yang duduk dihadapanku.


Mata tajamnya melihat setiap sudut diwajahku dengan saksama. Bibir tebalnya mengukir senyuman yang amat sangat manis dengan sangat sempurna. Tangan kanannya ia gunakan untuk menyangga kepalanya.


“Cantik,” lirihnya.


Aku menatap kedua manik mata Alden saat ia dengan sengaja mengucapkan hal seperti itu.


Shit!


Tahan Nad, jangan lebay.


“Kamu, ngomong apa tadi?” Tanyaku terbata-bata karena aku tidak sepenuhnya dapat mendengar perkataan Alden barusan.


Alden tersenyum sembari menegakkan badannya. Ia menghela napas dengan terus menatapku.


“Aku sayang sama kamu. Sayang banget,” ucapnya dengan jelas.


Shok?


Pasti!


Mendengar perkataan Alden seperti itu, seolah badanku memberikan reaksi yang berlebihan. Badanku menjadi panas dingin, dan jantungku berdetak sangat kencang. Tidak seperti biasanya.


“Tapi,” gantungnya.


Alden meraih tanganku. Ia membelainya dengan lembut sembari tersenyum manis kearahku.


“Aku gak mau kehilangan orang yang aku sayang untuk ketiga kalinya,” lanjutnya.


Aku tertegun mendengar sambungan atas kalimatnya.


Apa ia memang setulus itu saat sedang mencintai seseorang?


“Aku mau kamu jadi pacarku, tapi aku punya pengalaman buruk dalam hal berpacaran dan aku gak ingin itu terulang,” sambungnya.


Kini sorot matanya berubah menjadi sendu saat membicarakan kenangannya dulu. Serta badannya yang tegap menjadi lunglai.


Ini saatnya aku melakukan tugas untuk mengembalikan senyum manisnya.


“Oke gimana kalau kita saling komitmen?” Ucapku sembari menatapnya dan tersenyum lebar.


Alden menatapku seolah tidak paham dengan apa yang ku maksud.


“Komitmen bukan selalu diartikan berpacaran, hanya saja saling menjaga perasaan satu sama lain tanpa adanya ikatan.” Jelasku.


“Boleh marah atau cemburu gak saat lihat kamu dekat atau jalan sama yang lain?” Tanyanya.


Aku mengangguk, “boleh kok, asal salah satu dari kita gak ada yang singgung status aja sih.” Ucapku.


Alden mengangguk paham. Senyumnya pun keluar begitu saja.


Hening.


Alden menatapku sembari tersenyum lebar. Ia menegakkan kembali badannya yang kekar menghadapku.


“Kamu mau gak komitmen sama aku? Komitmen untuk saling jaga perasaan, dan saling percaya satu sama lain?” Ucapnya dengan nada berseungguh-sungguh.


Aku yang sedari tadi membalas tatapannya tidak menemukan kebohongan apapun dari sorot matanya. Ia sangat tulus dengan ucapannya.


“Kita bisa saling terbuka dan mengenalkan diri masing-masing untuk mengenal lebih dalam lagi,” lanjutnya.


Angin berhembus seolah meminta jawabab dariku. Rambutku yang terurai, beterbangan kearah angin itu pergi.


Apa itu menunjukkan sebuah jawaban?


Mengikuti setiap alur yang sudah ditetapkan di depan mata?


Aku mengangguk sembari mengulum senyum kearah Alden yang memasang raut wajah tegang menunggu jawabanku.


“Mari kita coba,” jawabku.


Lagi dan lagi, ia tersenyum lebar sembari mengangkat tangannya dan mendaratkannya pada kepalaku.


Ia membelai kepalaku dengan lembut walau membuat rambutku semakin berantakan akibat angin kencang yang meniup.


“I love u,” ucapnya seraya tersenyum dan terus mengusap kepalaku lembut.

__ADS_1


***


Happy new year teruntuk readersku yang setia menunggu updatean cerita ini 🤗🤗


__ADS_2