
"Ruii dan Zein terhanyut dalam malam pertama mereka yang tak menyangka bisa menikah dan mengikat janji untuk terus bersama hingga akhir hayat mereka, dalam pertemuan yang tak di sangka sangka dalam situasi yang di bilang tidak menyenangkan tapi itu lah takdir sudah jalan Tuhan untuk mempertemukan mereka antara Ruii dan Zein"
"Mas.."
"Iya sayang" jawab Zein singkat
"Ada kah hal yang belum mas cerita in ke Ruii?" ucap Ruii dengan memberanikan diri untuk coba menanyakan nya
"Maksud nya?" jawab Zein dengan wajah sedikit membingungkan buat nya
"Misalnya, dengan kondisi Mas sekarang tiba tiba tidak menggunakan kursi roda seperti biasanya.. Mas lupa atau sengaja pura pura lupa?" ungkap Ruii dengan wajah heran
"Akhirnya istri Mas menyadari nya juga, Mas pikir kamu langsung marah marah lalu membenci Mas karena hal ini" ledek Zein yang meng anggap enteng pertanyaan yang di lontarkan istri nya
"Maksud nya Mas? Ruii nggak ngerti " menatap lekat wajah suami nya yang terlihat biasa aja sedang kan Ruii yang merasa binggung
"Sayang (Zein mendekat kan wajah nya ke depan wajah Ruii yang sedang menatap lekat diri nya) sebenarnya suami mu ini tidak lumpuh dan ke ada an Mas sehat lahir batin hanya saja ini adalah taktik Mas dalam kepemimpinan di perusahaan. Mas mau lihat mana yang menganggap sepele bahkan merendahkan dan mana yang benar benar menghormati Mas sebagai pemimpin di perusahaan milik Mas sendiri karena tidak banyak orang seperti kamu yang tulus melihat sisi orang lain dari kekurangan nya" tegas Zein sembari tersenyum ke pada Ruii
"Mas apa apa an sih" Ruii tersipu malu karna di tatap suami nya sangat dekat hampir tak ada celah
"Ow ya Mas, tadi sudah kasih kabar ke Mami sama Papi belum" Ruii mengalihkan pembicaraan dan pandangan nya ke arah berbeda
"Sssttt.. Mas lagi nggak mau bahas yang lain.. kenapa kamu gugup seperti itu, Hem" Zein coba menggoda istri nya dengan lembut
"Siaaapa yang gugup, biasa aja"
"Kalau biasa aja kenapa mengalihkan pandangan kamu dari Mas, terus pake ngalihin pembicaraan"
"Ruii malu di tatap Mas seperti itu" ucap Ruii dan tertunduk malu
"Sayang, Mas ini suami kamu jadi nggak perlu malu apa lagi gugup kita sudah sah dan halal jika berhadapan seperti tadi bahkan bisa kok lebih dari itu" ledek Zein ke pada Ruii sembari menatap wajah Ruii lebih lekat dan dekat
"Tapi Ruii belum siap Mas, nggak faham harus gimana" ucap Ruii malu malu di hadapan suaminya
"Mas nggak memaksa kamu untuk melakukan nya sekarang, sayang" Zein menenangkan Ruii dari rasa gugup nya dengan menyambut ke dua tangan halus nya Ruii
"Tapi Mas itu kan salah satu kewajiban istri untuk melayani suami nya bukan kah hukum nya wajib, Ruii takut dosa ke Mas karna menolak" rengek Ruii ke Zein
"Kan tadi sudah bilang bukan menolak tapi belum siap, selagi Mas selaku suami Ridho nggak apa apa kok sayang, tapi jangan lama lama ya" bisik Zein di telinga Ruii dengan lembut
__ADS_1
"Ruii hanya menggagukan kepala nya seraya tertunduk sedih dan gugup karena merasa sudah mengecewakan suami nya"
"Maaf in Ruii ya Mas" ucap Ruii tulus tampak dengan rasa bersalah nya
"Iya sayang.. Yok kita tidur, kamu pasti capek nungguin Mas seharian di kamar besok Mas ajak kamu jalan jalan ya" hibur Zein ke Ruii
"Terimakasih sayang, ups Terimakasih Mas" Ruii seketika langsung meralat ucapan nya
"Jangan coba coba menggoda Mas dengan kata kata sayang barusan kalau nggak malam ini Mas bisa buat kamu makin kelelahan" ledek Zein
"Aaaarrhh.. Ruii langsung menutup semua tubuh nya dengan selimut hingga tubuh dan wajahnya tertutup dan hilang bersembunyi di dalam selimut tebal nya" (ada ada aja kelakuan bini nya Zein)
"Zein hanya bisa tersenyum melihat tingkah istri nya yang salah tingkah sembari geleng geleng kepala"
"Sayang sampai kapan kamu akan terus seperti itu, tidur di dalam selimut tebal kalau kehabisan oksigen bagaimana, mau Mas kasih napas buatan Hem" bisik Zein yang sudah di samping Ruii
"Mari kita tidur"
"Ruii seketika membuka sebagian selimut di bagian kepalanya perlahan lahan dan benar sekali kata Zein tampak Ruii sperti orang lagi kehabisan oksigen Ruii diam diam melirik ke arah Zein ternyata suaminya sudah tertidur lelap faktor kelelahan ber aktivitas seharian"
"*MasyaAllah sungguh indah ciptaan mu ya Robb, dia yang berhati lembut, penyayang, perhatian sebegitu indahnya cerita yang Engkau takdirkan buat ku sedangkan aku yang hanya sebatang kara punya watak keras kepala apakah mungkin ini hadiah dari sabar ku selama ini dan rasa sedih atas ke hilangan ke dua orangtua lalu Engkau hadirkan dia (Zein) yang sekarang jadi suami ku saat ini" gumam Ruii sembari menatap lekat wajah suami nya yang kini tertidur lelap di samping nya
"Ehem.. sudah puas belum natap Mas seperti itu" Zein tiba tiba bersuara dengan kondisi masih keadaan mata terpejam karena Zein menyadari kalau Ruii sedari tadi memperhatikan nya
"Ruii pun pura pura memejamkan matanya"
"Sayang" bisik Zein sembari mencium kening Ruii
"Ruii kaget dan membuka kedua mata nya yang di sadari suami nya bahwa istri nya itu belum juga tidur"
"Boleh Mas melakukan nya?" bisik Zein untuk izin terlebih dulu mencoba buat Ruii merasa nyaman dengan kondisi Zein sudah berada tepat di atas tubuh Ruii
"Ruii hanya menggagukan kepala nya menanda kan ia mengizinkan nya "
"Aku harus bagaimana ya, aku harus mengikuti apa kata suami saja dan mengikuti setiap gerak arahan nya" gumam Ruii dengan perasaan gugup dan dengan detak jantung yang cepat
"Terimakasih sayang" Zein sembari tersenyum
"Zein pun tanpa ragu mencium bibir ranum yang masih berwarna merah milik Ruii dengan lembut, Ruii hanya bisa mengikuti setiap sentuhan suami nya makin lama ciuman itu semakin dalam"
__ADS_1
"Zein terus menciumi bibir ranum milik Ruii makin dalam hingga ke sela ruang mulut Ruii bibir atas dan bawah tanpa ampun Ruii pun menikmatinya hingga mata nya terpejam dan ciuman itu berlangsung cukup lama hingga kedua nya tampak seperti kekurangan oksigen dan mereka pun saling melepas ciuman satu sama lain"
"Sayang, apakah kamu menyukainya" bisik lembut Zein
"Iya sayang" Ruii tersenyum malu malu
"Kini Zein beralih ke leher milik Ruii yang putih lagi halus, di kecup lembut hingga meninggal kan cap kepemilikan nya di leher putih Ruii, Zein terus mengecupnya hingga tubuh Ruii mengeliat karena mendapat serangan panas dari Zein"
"Aachhh.." rintih Ruii
"Zein mendengar nya semakin membuat nya nafsu untuk melakukan nya lebih tampak nya Ruii begitu sangat menikmatinya tanpa ragu Zein menarik semua selimut di sembarang arah dan perlahan membuka pakaian Ruii dengan berbisik.. sayang malam ini Mas mau memiliki kamu seutuhnya, boleh?"
"Iya Mas, semua nya milik Mas" Ruii pun memberi titah ke Zein
"Terimakasih sayang.. Zein mengecup kening Ruii dengan lembut"
"Zein dengan perlahan lahan membuka penutup gundukan kenyal milik Ruii yang padat, putih dengan bentuk kecil yang berwarna merah muda nya makin membuat Zein tidak sabar lagi untuk mengecup ngecup gundukan kenyal Ruii "
"Zein memainkan gundukan itu dengan pelan, meremasnya lembut sembari menciumi bibir yang ranum milik Ruii dan Zein kini beralih untuk mengecup selayaknya bayi sedang menyusu ke hausan tampak tubuh Ruii makin mengeliat dan Zein makin mempercepat gerakan nya untuk terus menikmati gunung kembar yang kenyal itu secara bergantian"
"Aaccchhh.. Ruii sampai menggigit bibir bawah nya karena menikmati nya hingga suara yang tertahan itu keluar dengan jelas"
"Jangan malu sayang, keluar kan saja suara nya itu makin membuat Mas terangsang" bisik Zein
"Perasaan apa ini Mas, kenapa panas sekali" suara dan cara bicara Ruii makin nggak ter arah
"Itu nama nya, sayang merespon nya dengan baik.. nikmati saja sayang biar Mas yang nuntun nya pelan pelan.. Mas akan bermain dengan lembut" bisik Zein dengan suara ******* lembut nya
"Baik Mas" Ruii tersenyum dengan wajah dan mata yang sayu masih menikmati rangsangan dari suami nya
...****************...
...BERSAMBUNG...
Maaf ya nggak lincah dalam mengekspresikan malam pertama Zein dan Ruiidi dalam novel "masih pemula"
maaf kalau masih ada typo nya
nanti lanjut lagi
__ADS_1