
Jam sudah menunjukkan pukul 6:30 am. Matahari perlahan memancarkan sinarnya seiring berjalannya waktu.
Disini, aku sudah berdiri di depan rumah Nada sejak setengah jam yang lalu.
Semalam aku terjaga. Aku merasa sangat bersalah pada Nada. Memang benar yang diucapkan Reza. Dia butuh status?
Aku masuk kedalam halaman rumah Nada, mungkin sudah waktunya. Karena jam sudah semakin siang.
“Permisi, Nada.” Ucapku sembari mengetuk pintu rumah sang empunya.
Tak lama, dibukakannya pintu. Terdapat wanita paruh baya dengan senyum hangatnya yang selalu ia berikan saat bertatap denganku.
Aku menyalimi tangannya sopan, sembari membalas senyumnya.
“Nadanya ada tante?” Tanyaku.
Mama Nada menggeleng dengan cepat. “Nada sudah berangkat ke sekolah.” Ucapnya.
Tidak mungkin, aku sudah berada disini selama 30 menit tetapi tidak ada yang keluar sama sekali dari dalam rumah ini.
Aku tersenyum, “Dari tadi tan?” Tanyku sekali lagi.
Ia mengangguk, yang menandakan iya.
Aku pun mengangguk sembari kembali menyalami tangan wanita ini dengan sopan.
“Yaudah Alden berangkat sekolah dulu ya tan.” Ucapku sebelum akhirnya berbalik berjalan menuju motorku.
Wanita ini tersenyum, lalu masuk dan menutup pintu rumahnya.
Aku berjalan mendekati motorku. Tidak mungkin Nada sudah berangkat sekolah. Sepagi itu?
Aku tidak tahu benar atau tidak yang diucapkannya. Tapi, aku merasakan bahwa Nada masih berada didalam rumahnya.
Aku menoleh saat merasakan ada seseorang yang terus memantauku.
Aku mendongakkan kepala keatas, dimana kamar Nada terletak. Disana gordennya bergerak. Apa karena tertiup angin?
Tidak mungkin. Jendelanya masih ditutup rapat.
°°°°
Nada POV
Aku dapat melihat Alden dari atas kamarku. Ia mulai melajukan motornya, meninggalkan rumahku.
Tok... tok...
Mama membuka kamar ku dan masuk ke dalam.
“Alden udah pergi.” Ucapnya sembari mengambil selimutku dan menggantinya dengan yang baru.
Aku berbalik setelah Alden menghilang dari rumahku. Aku menatap mamaku sembari tersenyum.
“Makasih ma,” ucapku.
Entah, rasanya sangat susah untukku tersenyum.
“Berantem masalah apa sih?” Tanya mama tiba-tiba.
Aku menggeleng, “Gak ada kok.” Jawabku segera.
Mama berhenti melakukan aktivitasnya. Ia menatapku sebentar, “Kalau ada masalah, dibicarain baik-baik. Mama percaya sama Alden dan kamu. Kalian sudah dewasa.” Ucap mama.
Aku mengangguk paham. “Abang udah nungguin. Nada berangkat dulu ya ma.” Pamitku.
°°°°
Aku keluar dari mobil Alvaro, berjalan memasuki gerbang sekolah. Aku berjalan melalui lapangan upacara untuk menuju kelas.
“Lo mau jauh dari gue?”
Aku tersentak kaget sesaat. Aku mendengar suara Alden tepat disampingku.
Aku menoleh dimana suara itu muncul. Benar saja, tidak jauh dari tempatku berdiri sudah ada Alden yang tengah menatapku.
“Gue tahu mama lo bohong. Dan bodohnya, gue malah ngebut berangkat kesekolah buat bisa ketemu lo.” Lanjutnya.
Aku tidak pernah paham dengan Alden.
Aku mengernyitkan dahi, aku sama sekali dibuat bingung dengan sikap, maupun perkataannya.
“Lo benar. Gue mau jauh dari lo.” Ucapku singkat lalu kembali melanjutkan perjalananku.
“Gue Cuma mau jelasin semuanya. Apa sesusah itu, buat lo dengerin gue?”
Kaki ku kembali berhenti melangkah saat Alden kembali berucap. Aku berbalik menatap kedua matanya kuat.
Aku menggeleng. “Gak susah, karena telinga gue masih berfungsi. Tapi, gue gak ada niat buat dengerin omongan lo!” Ucapku sarkartis.
Aku berbalik dan kembali berjalan menuju kelas.
“Pulang sekolah, gue ada di rooftop. Terserah lo mau datang atau engga. Tapi gue tetap ada disana sampai lo datang.” Ucap Alden.
Aku masih dapat mendengar ucapannya. Tidak mungkin dia segila itu, menungguku selama berjam-jam diatas rooftop.
Ia masih mempunyai otak jernih untuk berpikir. Ia tidak mungkin melukai dirinya sendiri.
°°°°
Waktu istirahat sudah tiba. Sebagian teman kelasku pergi menuju kantin.
“Kantin yuk.” Ajak Ella.
Aku menggeleng. “Lo aja, gue mager.” Ucapku sembari memasang wajah malas.
Ella memutarkan bola matanya kesal. Akhirnya ia pun pergi ke kantin sendiri. Tidak. Bersama teman dekatnya, Arya.
Aku mengeluarkan earphone dari dalam saku baju ku. Memasangkannya pada ponselku, lalu menyetel musik Halu milik Feby Putri.
__ADS_1
Aku menyandarkan kepalaku pada meja dengan tumpuan kedua tanganku. Perlahan aku memejamkan kedua mataku, sembari mendengarkan dentuman alunan musik yang berjalan.
*Senyumanmu yang indah bagaikan candu
Ingin trus kulihat walau
Ku berandai
Kau disini
Mengobati rindu ruai
Dalam sunyi
Kusendiri meratapi
Perasaan yang tak jua didengar
Tak kan apa
Bila rasa ini tumbuh sendirinya
Tak berdaya
Diri bila diantara
Walau itu hanya bayang-bayangmu
Senyumanmu yang indah bagaikan candu
Ingin trus kulihat walau dari jauh
Sekarang aku pun sadari semua hanya mimpiku
Yang berkhayal akan bisa bersamamu
Senyumanmu yang indah bagaikan candu
Ingin trus kulihat walau dari jauh
Sekarang aku pun sadari semua hanya mimpiku
Yang berkhayal akan bisa bersamamu*
Aku menegakkan kepalaku saat ada seseorang yang menaruh barang diatas mejaku.
Reza. Ada apa ia menghampiriku?
Aku melepas earphone ku.
“Ada apa?” Tanyaku singkat.
Reza menatap kedua mataku tajam. “Gue tahu lo akan marah kalau gue ikut campur masalah lo sama Alden. Tapi Nad,” ucapnya yang sengaja ia gantung.
Aku hanya mendengarkan dengan suka rela ucapannya. Sembari mematikan lagu yang ku putar tadi.
“Gue udah 3 tahun kenal Alden. Gue gak mau ngelihat dia rapuh seperti dua tahun belakangan ini.” Lanjutnya.
Entah mengapa, hatiku merasa tersentuh akan kepedulian Reza pada Alden.
“Gue yakin Alden bilang kayak gitu, dia Cuma berusaha untuk terbuka sama lo. Dia ngga ingin ada ruang lebih untuk kalian.” Ujarnya.
Aku masih terus mendengarkan setiap perkataan yang Reza ucapkan.
“Alden memang susah untuk terbuka sama orang lain. Bahkan, sama gue yang satu team dan satu bangku aja dia gak pernah cerita tentang hidupnya sama sekali.”
“Dia Cuma lelaki biasa yang mencoba untuk tegar menutupi masalah hidupnya. Terkadang, gue sedih lihat Alden yang selalu menyendiri dan bersikap dewasa.”
Mataku terasa panas mendengar penjelasan Reza. Tidak adil. Mengapa harus Reza yang menceritakan kepedihan Alden padaku.
“Faktanya memang benar. Alden pernah berpacaran selama 2 tahun dengan seorang gadis. Tapi dia pindah ke London dan punya pacar disana. Alden terpuruk, karena yang bisa ia ajak bicara atau berbagi suka maupun duka Cuma sama pacarnya.” Reza terus melanjutkan ceritanya.
Air bening mengalir perlahan membasahi pipiku.
Sial. Kenapa sangat menyedihkan.
“Gue tahu Nad. Lo ada rasa sama Alden. Begitupun sebaliknya. Jangan biarkan ego mengalahkan segalanya.” Ucap Reza sembari menepuk tanganku pelan.
“Gue takut,” ucapku yang sengaja ku gantungkan.
Aku menatap Reza yang sedari tadi melihat kearahku.
“Gue takut jatuh cinta sepihak.” Ucapku.
°°°°
“Nad ada kumpul. Lo gak lupa kan?” tanya Ella.
Aku menggeleng. “Gak lah. Gue udah bilang Varo buat jemput gue nanti.” Ucapku sembari memasukkan semua barangku kedalam tas.
“Gila. Enak banget sih punya abang.” Ucap Ella.
Aku tertawa. Selalu saja, Ella merasa iri padaku yang mempunyai kakak seperti Alvaro yang siap siaga.
“Enak banget sih punya gebetan yang bisa kasih perhatian setiap saat.” Ejeku pada Ella.
Kami pun tertawa karena saling ejek. Aku dan Ella pergi menuju ruang photographi. Disana sudah banyak orang yang berkumpul rupanya.
Sembari menunggu yang lain berkumpul dan menunggu jam pukul 5:00 pm. Kami memutar lagu dan bernyanyi bersama.
Sejenak, aku melupakan masalahku saat berkumpul bersama mereka.
Jam terus berputar. Rapat pun dimulai. Semua anggota inti mengeluarkan laptop dan yang lain menyerahkan flashdisk untuk mengumpulkan hasil jepretan.
Satu demi satu foti diteliti dan dilihat dengan jeli. Hasil gambar dan editannya pecah atau tidak.
Sementara jam yang melingkar sempurna ditanganku terus berputar. Aku merasa resah saat melihat keluar jendela yang mulai menurunkan rintikan hujan.
Hatiku dan pikiranku sangat resah. Aku tidak tahu apa penyebabnya.
__ADS_1
Rapat terus berjalan. Sinar matahari pun sudah berganti menjadi sinar rembulan. Malam telah tiba.
Diluar hujan. Suhu di dalam ruanganku menjadi dingin. AC sengaja dimatikan oleh Arga karena semuanya merasa dingin.
“Lo kenapa?” Tanya Ella.
Mungkin ia tahu bahwa aku sedang resah dan melihat kearah jendela sedari tadi.
Aku menggeleng sembari tersenyum kearahnya.
“Nada, hasil jepretan lo cukup bagus untuk posisi Alden sebagai center.” Ucap Dinda padaku.
Tunggu.
Alden.
Benar, Alden.
Aku baru ingat bahwa Alden sedang berada di rooftop. Apa ia sudah pulang?
Tidak mungkin kalau ia masih berada di rooftop saat hujan tiba.
Aku tersenyum menjawab pujian yang Dinda berikan untukku.
“Baiklah rapat kita sampai disini. Udah malem juga, kalian hati-hati diperjalanan.” Ucap Dani mengakhiri rapat.
Semua orang berjalan keluar ruangan dan segera pulang.
Aku ingin pulang, tetapi aku ingin memastikan lebih dulu apakah Alden sudah pulang atau belum.
Setelah Reza berkata demikian padaku tadi. Aku merasa bersalah karena lebih mementingkan egoku.
“Ayo,” ucap Ella saat aku berhenti tepat di depan pintu ruangan.
“Lo duluan aja. Gue mau ambil barang yang ketinggalan di kelas.” Ucapku berdalih.
“Mau gue anterin?” Tanya Ella.
Aku menggeleng. Menyuruh Ella untuk pulang lebih dulu.
Setelah Ella pergi mendahuluiku, aku pun segera berjalan menuju tangga rooftop.
Sebenarnya aku takut. Disini sangat sepi, dan cahayanya tidak terlalu terang.
Tapi aku tidak ingin pulang sebelum memastikan bahwa tidak ada Alden di atas.
Aku berjalan dengan cepat karena merasa takut. Alih-alih sambil bernyanyi menghilangkan rasa takutku.
Hampir sampai. Aku menginjakkan kedua kaki ku diatas atap sekolah. Disini sangat basah, banyak genangan air disekitarnya.
Aku terkejut saat mendapat seseorang yang duduk dibawah membelakangiku.
Aku dapat melihat bahwa itu Alden. Ia duduk dengan merangkul kedua lututnya. Baju dan rambutnya yang basah kuyub karena guyuran air hujan.
Apa ia tidak berteduh?
Aku segera melepas hoodie yang ku gunakan sedari tadi untuk menghangatkan badanku.
Aku berjalan mendekat kearahnya. Mengalungkan kedua tangan hoodie ku pada leher Alden.
Ia menoleh kearahku dan tersenyum lega. Ya, aku dapat melihat senyum yang keluar dari bibir tipisnya.
“Lo gila ya?! Kenapa gak pulang? Udah tahu hujan, anginnya dingin tapi masih disini.” Ucapku memarahinya dan Alden hanya tersenyum.
Sial.
Aku tidak bisa marah padanya jika ia hanya membalas dengan senyumannya.
“Gue bukan tipe orang yang mengingkari ucapannya sendiri.” Ucapnya dengan suara yang terdengar seperti menggigil.
“Pake hoodienya cepat,” suruhku pada Alden dan ia menurutinya.
“Seharusnya lo juga harus pikirin kesehatan lo, ada orang tua lo juga yang nungguin lo pulang.” Lanjutku memarahi Alden.
Ia hanya menggeleng dan tersenyum tipis.
Oh god!
Bibirnya berwarna biru. Ia kedinginan saat ini. Aku tidak tega.
Aku yang menyebabkan Alden menunggu sambil hujan-hujanan seperti ini.
Aku memeluk tubuhnya yang kekar, menyalurkan kehangatan pada dirinya.
Alden menerima pelukanku. Ia meraih pinggangku dan mengaratkan pelukannya mencari posisi nyaman untuk kami.
Alden menenggelamkan wajahnya pada bahuku. Aku mengusap lembut pundaknya. Meemberi kenyamanan.
“Aku gak pernah ada niat buat jadiin kamu pelampiasan,” Ucapnya lembut.
Aku terkejut mendengar ucapan Alden yang begitu lembut.
Aku mengangguk sembari terus mengusap punggungnya.
“Aku Cuma ingin berusaha terbuka sama orang yang bisa buat aku nyaman.” Lanjutnya.
Tanganku berhenti mengusap punggung Alden. Detak jantung ini rasanya bekerja dua kali lipat saat Alden berucap seperti itu.
“Maaf,” lirihku.
Alden melepas pelukan kami. Ia menatapku dari jarak yang cukup dekat.
Ia menggeleng. “Aku yang salah. Kamu benar, seharusnya sebelum bertindak aku berpikir lebih dulu,” ucapnya.
“Kamu tenang aja, aku akan tanggung jawab kok. Perasaan kamu yang muncul karena apa yang aku perbuat,” lanjutnya dengan menatap kedua manik mataku.
Tangpannya meraih pipiku, mengusapnya lembut. “Asal kamu sabar bantuin aku untuk lupain dia.” Ucapnya sembari tersenyum.
Aku membalas senyumannya, lalu kembali berhambur kedalam dekapannya yang hangat.
__ADS_1
Malam ini, ucapannya disaksikan oleh ribuan bintang yang bertabur menyebar di langit.