HANYA RINDU

HANYA RINDU
Bab. 20


__ADS_3

**Waktu nya jam pulang kerja, tampak Ruii sudah berjalan menuju pintu keluar bersama sama teman ya yaitu Nia, mereka pun terpisah


"Ruii, kamu serius gak mau di anter.. takut nya kenapa napa di jalan " (Nia mengkhawatirkan ke adaan Ruii)


"Gak apa apa kok Nia, cuma kecapek an aja kok.. kamu hati hati bawa motornya ya" (tersenyum)


"Ya sudah kalau begitu.. daaa Ruii (seketika Nia pun berlalu)"


"Hmm Ruii jangan manja kamu, jangan sampai di kalah kan sama ke adaan, seperti ini aja capek (Ruii mencoba menguatkan pikiran dan mental nya sendiri)"


"Ruii terus melangkah dengan perlahan, diambil nya botol minum yang berada di samping saku tas nya untuk meminumnya setibanya dikursi taman tempat Ruii biasa duduk bersama Eito, ya Tuan Muda yang beberapa hari ini tidak pernah lagi ia jumpai"


"Ruii pun telah sampai di taman itu dan duduk di tempat biasa Ruii menunggu Eito"


"Ibuuu.. kenapa ya hari ini kok perasaan Ruii sedih gak ber-alasan, tubuh Ruii rasanya seakan mengeluh untuk tetap tampak tegar, seperti menolak untuk bersikap selalu baik baik saja.. kenapa buk? Hiks Hiks Hiks (Mata Ruii pun tidak bisa berkompromi lagi, air mata itu pun jatuh ber uraian sekuat mungkin Ruii menahannya dengan cara mendongak kan wajah nya menatap langit sore tapi tetap saja air mata itu tak tertahan)"


"Kenapa kamu masih di sini? (tampak Eito tiba tiba datang, berbicara dari belakang Ruii)"


"Ruii secepat mungkin mengusap mata dan meng hapus semua air mata yang membasahi wajahnya saat itu dan Ruii tidak menjawab sepatah kata pun dari pertanyaan Eito"


"Kamu menangis? (Eito memastikan)"


"Sejak kapan Tuan berada di belakang saya (Ruii balik bertanya tapi tetap dalam posisi duduk membelakangi Eito)"


"Ehem.. Tuan?.. apakah karna beberapa pekan gak bertemu jadi lupa dengan nama Saya?"


"Maaf permisi.. (Ruii berdiri dan beranjak dari tempat duduk nya untuk meninggalkan Eito di sana karena ingin menghindari pembicaraan yang tidak untuk di bicarakan)"


"Tunggu, kenapa kamu tiba tiba pergi, sedang kan saya baru saja tiba disini" (Eito menahan langkah Ruii)"

__ADS_1


"Mungkin Anda salah orang.. kebetulan orang yang biasa saya temui sekarang sedang tidak ada lagi disini.. Permisi! (Ruii berbicara tanpa menoleh dan menatap lawan bicara walaupun ia tau itu adalah Eito)"


"Heiii.. RUII STOP! (Langkah Ruii pun terhenti mendengar teriakan Eito)!


"Ya saya akui, saya yang salah saat pergi tidak kasih kabar sebelumnya, tapi bukan kah kamu sendiri mengatakan semua itu hanyalah sebuah kebetulan bukan! Terus kenapa sekarang kamu masih tetap menunggu aku EITO, ini aku yang kamu tunggu Ruii!


(Eito sekarang di depan Ruii, tapi Ruii berbalik dan menundukkan pandangan nya untuk tidak menatap Eito)"


"Maaf Tuan, mungkin saya yang salah orang.. karena beberapa hari ini saya terlalu ber alu sinasi terhadap orang itu seakan akan semua orang itu sama dan saya tidak mau melihat anda takutnya saya berpikir Anda juga adalah Eito yang saya tunggu disini! (Ruii tetap bersikap ramah dan sekali kali ia menahan air mata nya)"


"Hmmmm.. (Eito menarik napas panjang karena sikap nya terkesan kasar terhadap Ruii) ..


Sorry Ruii, saya terlalu bersikap gegabah sampai nada bicara saya pun tak terkontrol dengan baik


(Eito mencoba menetralkan sikap nya)"


"Apakah masih ada yang ingin Tuan katakan? (Ruii sedikit menjedah perkataan nya) jika tidak ada saya izin undur diri.. permisi Tuan! (Ruii tetap pergi meninggal kan Eito tanpa mengata kan apapun)"


"Eito hanya bisa tertunduk diam dengan melihat langkah Ruii makin lama makin jauh bahkan tak terlihat lagi" (Tunggu waktu itu pasti segera tiba.. akan aku jemput kamu dengan kebahagian tak berbatas)


*


*


*


"Dalam perjalanan Ruii merasa binggung sendiri dengan sikap nya terhadap Eito terkesan Egois, ia terus mengingat ingat seperti apa awal per temuan mereka sebelumnya dan kenapa Ruii seperti kesal terhadap kehadiran Eito apakah karena peristiwa di Kantor tanpa sengaja Ruii mendapati wajah Eito berada di dalam ruangan seorang CEO utama di perusahaan tempat Ruii bekerja.. Ingin Ruii menanyakan langsung ke Eito tapi semua nya tampak memaksakan bukan kah mereka adalah dua orang asing yang kebetu lan bertemu dalam waktu yang tak disengaja"


"Sudah lah bukan kah semua ini adalah sebuah kebetulan, saya harus segera pulang ingin cepat bertemu adik adik, ibu Rina beserta bapak" (Ruii sedikit mempercepat jalan nya)

__ADS_1


*


*


*


"Dihotel milik keluarga ALVARO GROUP tampak Eito duduk bareng bersama Papi dan Mami. Eito seakan di kejutkan dengan keputusan Mami nya untuk segera mengadakan pertunangan terlebih dulu agar ada kepastian antara keduanya yaitu Zein dan Jennica"


"Nak (Mami mendekat ke arah Zein).. bagaimana kesan nya setelah bertemu Jen? Jika tidak ada kendala atau alasan mendasar bagaimana kalau kalian Tunangan terlebih dulu agar memudahkan merencanakan pernikahan kalian nantinya (Mami terkesan mendesak)"


"Mam, kenapa terlalu terburu buru seperti itu kasian jagoan papi baru juga menikmati ke suksesan perusahaan nya sudah harus ada ikatan, biarkan dulu Zein berpikir.. betul begitu jagoan nya Papi? (menurun naikan alis nya)"


"Biar Mami aja yang ngurus semua nya, kasihan mama Jen dan Jennica sudah jauh jauh kesini ya kan tau nya gak jadi, apa kata orang terhadap Mami"


"Zein gak bisa bicara apapun hanya bisa diam dan menyimak semua yang di katakan oleh Mami nya, Zein gak mau ambil pusing dengan apa yang jadi permasalahan antara Zein dan keluarga nya yang pasti Zein tetap dengan tujuan nya yaitu Ruiinsya" (menanggapi dengan senyam senyum)


"Terserah Mami atur saja menurut Mami terbaik, yang pasti Zein tetap dengan apa yang menjadi keputusan Zein sendiri.. Bukan kah Jen itu tidak tertarik dengan tampilan Zein dengan kursi roda ini? Hmmm jangan salah kan Zein jika anak teman Mami bernama Jennica itu akan kecewa karena keputusannya sendiri.. Zein izin duluan ke kamar, hari ini sangat melelahkan bukan"


"Lihat sikap jagoan kamu itu Pi, setiap bahas masalah tunangan atau pernikahan pasti pergi.. lagian Zein bener bener lumpuh gak sih Pi, anak itu bisa bisa nya tidak memberi kabar ke kita hal sepenting itu, jika beneran lumpuh nanti gak ada yang bersedia jadi istri nya Zein Pi"


"Mami.. Mami kenapa sampai gak percaya seperti itu sama anak sendiri, Zein sdh bicara kalau Jen itu gak beneran tulus ingin tunangan apa lagi mau menjadi istri nya Zein, tadi setelah melihat Zein pakai kursi roda apakah Mami gak lihat reaksi Jen tampak jijik bukan kah itu sudah ke lihatan hanya ingin suksesnya aja, gimana nanti beneran jadi mantu kita.. bisa bisa dibuat malu oleh tingkah nya yang seperti itu, angkuh dan sombong! (Papi menunjukkan tidak suka nya ter hadap Jennica)"


"Pokoknya, secepatnya Mami akan buat acara pertunangan antara Zein dan Jennica biar nanti mereka sendiri menjalani nya (Mami tetep kekeh dengan keputusan nya sendiri)"


"Bener kata Zein, terserah Mami lakukan saja yang menurut Mami terbaik.. tapi jangan salah kan keputusan Zein nanti nya! Papi juga ingin duluan ke kamar, harapan Papi malam ini Mami bisa berpikir dengan relevan bukan hanya bisa memikirkan perasaan orang lain tapi sampai lupa bagaimana cara memikirkan perasaan anaknya sendiri, bagi papi semua itu biarlah Zein yang memutuskan semua nya harus seperti apa dan bagaimana karena hanya Zein sendiri yang akan menjalankan semua nya" (Papi pergi ke kamar meninggalkan Mami sendiri di ruang Kerja Papi tempat mereka berdiskusi bersama)


"Mami seketika terdiam setelah mendengar apa yang telah dikatakan oleh Papi mengenai Acara pertunangan antara Zein dan Jennica anak dari teman nya itu "


...****************...

__ADS_1


__ADS_2