HANYA RINDU

HANYA RINDU
Hanya Rindu 3


__ADS_3

Mentari mulai memancarkan sinarnya. Kini seluruh siswa dan siswi sudah banyak yang berkumpul di lapangan basket untuk menonton pertandingan hari ini.


Team Alden melawan team Rino.


Usut demi usut, Rino sendiri ternyata idol di sekolahnya. Badan yang kekar serta wajah yang tampan, tidak heran jika ia menjadi idola disekolahnya.


Jam menunjukkan pukul 09:00 pagi. Seluruh anggota photographi sudah berkumpul dilapangan dan siap dengan kamera yang dipegang masing - masing.


Kedua team basket sudah berkumpul dilapangan.


Pritt....


Terdengar suara peluit ditiup, tandanya pertandingan akan segera dimulai.


Suara sorakan mulai bersautan.


*ALDEN.


RINO*.


Begitulah seterusnya. Memang kebanyakan perempuan yang melihat pertandingan hari ini.


Aku mulai memfokuskan lensa kamera ku kearah Alden bergerak. Posisi Center memang paling susah untukku.


Jepret.


Yeah. Aku berhasil memotret Alden saat mencetak point.


20 menit berlangsung. Team Alden memimpin dengan unggul. Permainan menjadi semakin seru saat ada yang berbuat curang dengan mengandalkan fisik.


Team lawan mulai menenggor dan sesekali mendorong team Alden agar terjatuh.


Permainan kotor dimulai.


Aku terkejut saat Rino mulai melakukan hal kotor, seperti mendorong tubuh Alden saat hendak mencetak point.


Alhasil, Alden pun terjatuh.


Terkejut? tentu.


Suara sorak tidak terima muncul saat melihat kapten team andalan terjatuh.


"Lo bisa main?" tanya Alden dengan suara sarkatisnya.


Rino tertawa mengejek. "Lo yang gak bisa main."


Alden melangkah maju, membuat Rino berjalan mundur.


"Lo cowok. Jangan pengecut!" bentak Alden.


Aku terkejut. Ini kali pertama ku melihat Alden marah.


Rino yang sedang membawa bola basket, langsung dilemparnya sembarangan dengan sangat kencang saat ia dikatai Alden sebagai seseorang yang pengecut.


"Gue gak suka lihat team lo menang. Kenapa?" ucap Rino dengan nadanya menantang.


Duak..


Suara mendarat bola diselingi dengan benturan pada benda terdengar sangat keras.


"Ash.." rintihku.


Mataku tiba - tiba merasa gelap, dan kepalaku sangat pusing.


°°°°


ALDEN POV.


Emosi ku membeludak sangat melihat Nada terkapar pingsan di lapangan akibat ulah Rino yang melempar bola sembarangan.


Bugh...


Suara histeris kembali muncul.


"Bajingan!" ucapku dengan suara deep.

__ADS_1


Aku berlari menuju kerumunan, dimana terdapat Nada yang masih tergeletak di lantai lapangan yang panas.


"Minggir." ucapku dengan menerobos kerumunan.


Aku menggendong tubuh Nada yang lemas menuju UKS. Tapi sebelumnya, aku membalikkan tubuh menghadap Rino berdiri.


"I'm the winner. Ini semua belum selesai." ucapku dengan menatap tajam kedua matanya.


°°°°


"Gimana keadaan Nada?" tanya Ella padaku.


Aku menggeleng.


"Lo suka sama Nada?"


Aku terkejut saat mendengar pertanyaan Ella.


Aku diam. Tidak tahu ingin menjawab apa.


"Gue nitip Nada sebentar. Gue mau beli minum sama makan buat dia." ucapku setelah itu keluar dari ruang UKS.


Aku berjalan ke kantin. Tiba - tiba saja aku teringat akan pertanyaan Ella.


Kenapa aku sangat tidak suka saat ada yang menyakiti Nada?


Ada apa denganku?


Aku mengambil satu botol air mineral dan juga roti sobek, lalu membayarnya.


"Gimana keadaan Nada?" tanya Reza yang tiba - tiba saja berada disampingku.


"Masih belum sadar." jawabku.


"SMA Rajawali udah kalah. Tapi Rino masih nantangin kita 2 minggu lagi." ucap Reza.


Aku mengangguk dan menepuk pundak Reza. "Gue terima tantangannya." jawabku tegas.


"Oh iya, gue minta maaf ke kalian semua soal kejadian hari ini. Setelah Nada sadar, gue akan temui kalian buat minta maaf." ucapku merasa bersalah.


Reza menggeleng. "Gue tau lo lakuin ini demi team. Jadi lo fokus ke Nada aja. Kita semua gak marah sama tindakan lo."


°°°°


NADA POV.


Mataku terasa sangat sensitif saat ada sinar yang masuk. Aku membuka mataku secara perlahan, mencoba untuk mengatur intensitas cahaya yang masuk menyinari bola mataku.


"NADA AKHIRNYA LO SADAR JUGA."


Aku mendengar seseorang berteriak dengan histeris saat mengetahui aku baru saja membuka mata.


Ada apa denganku?


Dimana aku berada sekarang?


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mendapati Ella yang berdiri sambil menatapku khawatir.


"Gue kenapa? Ini UKS?" tanyaku pada Ella.


Pl**ak...


Aku meringis kesakitan saat Ella memukul pundak ku. Aku tahu dia gemas padaku.


"Lo itu sembrono banget sih. Udah tahu ada bola, kenapa lo gak ngehindar." teriaknya.


Aku ingat sekarang. Aku tadi pingsan terkena bola yang dilempar Rino sembarangan.


"Mana gue tahu. Gue tadi lagi fokus ngelihatin Alden, eh malah kena bola." jawabku.


Aku mencoba untuk mengubah posisiku dari terbaring menjadi duduk menghadap Ella.


"Ngomong - ngomong soal Alden. Dia tadi marah besar ke Rino, setelah tahu lo kena bola yang dilempar Rino sembarangan." ucap Ella dengan membantuku untuk duduk dengan nyaman.


Alden marah besar?

__ADS_1


Karena aku?


Yang benar saja. Ha ha ha


"Gila lo. Atas dasar apa dia marahin Rino karena bola itu kena kepala gue." ucapku membantah.


Aku dapat melihat wajah gemas Ella saat aku membantah perkataannya tadi.


"Mungkin dia suka sama lo?" ucap Ella.


Hening.


Apa benar? Tidak mungkin tumbuh perasaan dalam waktu singkat.


Pintu UKS terbuka. Aku terkejut saat melihat Alden masuk dengan membawa air mineral dan roti di tangannya.


"Lo udah sadar? Gimana, masih pusing?" tanya Alden saat mengetahui bahwa aku sudah dapar duduk diatas ranjang UKS.


Aneh. Apa dia khawatir terhadapku?


"Sedikit," jawabku singkat.


Entahlah, aku merasa sedikit canggung padanya.


"Minum dulu Nad." ucapnya sembari membuka penutup botol dan memberikannya padaku.


Aku menerima dan meminumnya.


"Thank you," ucapku berterima kasih.


"Nad gue kumpul sama anak photographi dulu ya. Nanti gue sampaiin kalau hari ini lo gak bisa ikut kumpul." ucap Ella tiba - tiba.


Ella akan pergi. Hanya tinggal aku dan Alden disatu ruangan.


Tidak.


Suasana akan sangat canggung.


"Ell tunggu. Gue mau ikut, gue udah sehat kok." ucapku menahan Ella untuk pergi.


"Bilang ke ketua lo, Nada izin hari ini." ucap Alden dingin.


Aku menatap Alden bingung. Ella pun hanya mengangguk.


"Oke, gue pergi dulu." ucap Ella sebelum meninggalkan ruang UKS.


Pintu tertutup rapat setelah Ella keluar dari UKS. Dinginnya AC bertambah dua kali lipat dari biasanya.


Sikap Alden yang dingin ternyata dapat mempengaruhi suhu ruangan.


"Gue udah sehat kok. Gue mau nyusulin Ella, gue juga harus setor hasil jepretan lo hari ini." ucapku pada Alden.


Aku tidak berani melihat wajah dinginnya setelah aku berucap ingin ikut kumpul dengan Ella tadi.


"Terserah. Mau pergi? Silahkan!" ucap Alden dingin.


Aku mengalihkan pandangaku. Menatap kedua bola matanya yang sedari tadi menatapku.


Aku dapat melihat kekecewaan dari kedua matanya.


Mengapa hatiku tersentuh?


"Gue khawatir sama lo. Tapi lo? Bahkan gak ngelihat gue sama sekali." ucapnya dengan suara lembut.


Aneh. Mengapa dia dapat berubah sikap dalam sekejap?


Apa maksudnya?


"Sorry." ucapku merasa bersalah.


Alden menarik kursi disamping kirinya. Ia duduk dan membuka bungkus roti yang dipegangnya tadi.


"Makan. Setelah itu gue anterin pulang." ucapnya sembari memberikan roti tersebut padaku.


Aku menerima supaya tidak menyakiti hanya kembali. Aku sangat merasa bersalah padanya.

__ADS_1


Tapi dilain sisi benak ku penuh dengan pertanyaan tentangnya.


Mengapa ia sangat peduli padaku?


__ADS_2