
Terdengar riuh orang berbicara secara bersahutan. Sebagian siswa siswi menghabiskan waktu istirahatnya di kantin.
Semua stan jajan dipenuhi oleh gerombolan sejumlah siswa siswi yang sedang mengantri.
Disini, aku duduk pada bagian pojok bangku kantin. Pemandangan taman yang berada di sebelah kananku, membuatku sedikit lebih nyaman karena kesegarannya.
“Makan dulu,”
Aku terkejut saat ada seseorang yang duduk di hadapanku.
Ternyata Alden.
Alden duduk dengan menaruh sepiring nasi goreng dan segelas lemon ice dihadapanku.
Aku menatap Alden sembari menggeleng. Perutku tidak lapar.
Kedua bola mataku mengunci setiap pergerakan yang dilakukan Alden saat ini.
Tangan kanannya meraih sendok, dan mengisinya dengan nasi dan ayam sebagai lauknya.
“Buka mulut,” ucapnya
Aku tetap menggeleng. Selain aku tidak lapar, bagian ujung mulutku masih terasa perih akibat tonjokan Rino kemarin.
“Oke, kalau gitu aku juga gak akan makan.” Ucapnya dengan menaruh kembali sendok kedalam piring.
Aku membelalakkan kedua mataku, menatapnya dengan marah seolah berkata kok gitu?
“Masih sakit?” Tanyanya dengan memajukan kepalanya lebih dekat padaku.
Sial.
Nafasku seolah tercekat saat wajah Alden duaa kali lebih dekat denganku.
Deru jantungku bekerja lebih cepat dari biasanya.
Alden memajukan wajahnya, tangan kanannya meraih wajahku dan mengusap pelan pada bagian bibirku yang sobek.
“Maaf,” lirihnya
Aku menatap kedua bola matanya yang fokus melihat bagian bibirku yang luka.
Di dalam matanya memancarkan penyesalan yang amat sangat sembari menatap bibirku yang luka.
Wajahnya yang menampakkan kekhawatiran membuatku tersentuh.
Apa ia peduli padaku?
Aku berusaha menarik kedua ujung bibirku, membentuk senyuman yang manis untuk Alden lihat.
Walau sakit, tidak masalah untukku.
Melihat wajah sedih dan khawatirnya terus menerus, malah membuat hartiku semakin sakit.
Bukankah salah satu dari kedua insan harus saling menguatkan?
Aku membuka mulutku seraya menyuruh Alden untuk menyuapiku nasi goreng yang sudah ia sendokkan tadi.
Wajah bingungnya nampak sesaat, setelah itu ia menyuapiku dengan lembut.
“Thank you,” ucapku sembari tersenyum kearahnya.
Aku sadar bahwa kedua mata miliknya sangat indah. Goresan rahang tajamnya membuatnya tampak semakin tampan dan dewasa.
Cupp..
Aku terkejut saat Alden mencium bibirku kilat. Aku membelalakkan mataku menatap kearahnya.
Tanganku memukul legannya kuat hingga ia meringis kesakitan.
“Berani banget,” ucapku kesal dengan terus memukulnya.
Alden tertawa kencang sembari menenangkanku. “Salah sendiri ngelamun. Lihatin aku terus, mau dicium lagi?” Tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya menggoda.
Aku menggeleng dengan cepat. Menolak tawaran Alden.
Aku dapat melihat kedua sudut di bibirnya tertarik keatas hingga mengukir senyuman disana.
Ia tertawa sangat puas, seolah ia berhasil memenangkan sebuah pertandingan. Tawanya yang menggelegar hingga menyipitkan kedua matanya, sangat indah tuhan.
Aku menopang kepala ku menggunakan tangan kananku yang ku taruh diatas meja.
Melihat setiap ruang wajahnya dengan jarak yang sangat dekat, membuat jantungku berdebar lebih cepat.
Alden terus tertawa. Lebih tepatnya mentertawakanku.
__ADS_1
Aku tidak keberatan, selagi aku masih bisa melihat pemandangan yang menakjubkan dihadapanku.
Wajah oval, mata tajam yang kini menyipit akibat terus-menerus tertawa. Hidung mancung dengan batangnya yang keras. Bibir tebal yang berwarna kemerahan, serta goresan rahang yang sempurna.
Tidak habis-habisnya aku memuji ciptaanmu satu ini, tuhan.
°°°°
“Bu saya izin ke belakang,” ucapku sembari berdiri dari tempat duduk ku dikelas.
Bu Vina mengangguk. Setelah mendapat persetujuannya, aku pun berjalan keluar ruang kelas.
Waktu sudah semakin siang, mama menyuruhku untuk mengoleskan obat pada bagian bibirku yang luka agar cepat kering.
Maka dari itu aku izin untuk ke kamar mandi.
Sangat sepi diluar, semua sudah masuk dan bersiap mendapatkan pelajaran yang setiap guru yang bertugas.
Aku berjalan dengan santai menuju kamar mandi. Setelah sampai di depan pintu kamar mandi, ada yang menyeret tanganku dengan kasar.
Badanku dibenturkan pada tembok yang ada dibelakangku dengan kasar. Sakit.
Kini aku dapat melihat siapa pelakunya. Tiga perempuan yang sebaya denganku, hanya saja ia anak IPS.
Ia menatap ku dengan raut wajah yang seolah meremehkan ku.
“Apa sih yang bisa dibanggain dari wajah minimalis kayak gini?” Ucapnya.
Perempuan dengan rambut coklat panjang ini tengah menatapku. Yang terbesit dipikiranku, ia adalah ketua dari ketiga perempuan yang saat ini sedang menghakimiku.
Aku melihat name tag yang tertera pada dada bagian kanannya.
Vanya Angelista
“Berani banget loh cium Alden tadi?!” Lanjutnya dengan penuh penekanan disetiap katanya.
Jadi dia melihat ku dengan Alden sedari tadi.
Aku membalas tatapannya, “lo lihat dari awal kan? Pasti lo tahu siapa yang cium duluan.” Ucapku singkat.
Plakk...
Aku merintih kesakitan saat bibirku ditampar Vanya sangat keras.
Sial.
“Bibir Alden udah gak suci karena cium cewek kayak lo!” Bentaknya.
“Terus? Dengan Alden cium bibir lo itu, apa bibirnya akan jadi suci?!” Sahutku dengan nada tinggi.
Aku sudah geram ditindas seperti ini.
“Berani lo sama gue?!” Vanya kembali berteriak.
Rambutku disahutnya dan ditarik dengan keras. Sungguh, sangat bar – bar sekali sikapnya.
“Dengan cara lo kayak gini, Alden gak akan bisa lo dapetin!” Teriakku sembari mencoba untuk melepaskan kedua tangan Vanya dari rambutku.
Berhasil. Ia melepaskan kedua tangannya.
Plakk..
Tangannya beralih menamparku kembali. Kini pipiku yang ditampar, tepat pada ujung bibirku yang luka.
“Gak akan lama, Alden jadi milik gue.” Ucapnya dengan suara deep.
Aku bernapas lega, saat ketiga perempuan itu pergi meninggalkanku sendirian di kamar mandi.
Aku menuju washtafel yang terdapat cermin juga disana. Aku melihat wajahku yang kini kembali memerah.
Bekas tamparan Vanya sangat melekat pada pipi kananku. Sudut bibirku yang luka, kembali mengeluarkan darah.
Aku mengeluarkan obat yang sedari tadi ku bawa di dalam totebag. Aku mengambil kapas dan membersihakan darah yang keluar dengan perlahan.
Tak terasa. Pipiku basah. Ternyata aku menangis.
Setelah darahnya berhenti, aku membasuh wajah ku agar tidak terlihat kusam akibat tadi.
“You will be okay,” ucapku pada diriku sendiri.
°°°°
Aku kembali menuju kelas setelah semuanya kembali normal. Memang cukup lama aku berada di kamar mandi.
Membuat warna kulit di pipiku menjadi kembali normal membutuhkan waktu yang sedikit lama.
__ADS_1
Bekas tamparan Vanya masih membekas pada pipiku, hingga membuat pipiku berwarna merah.
Aku berjalan menuju kelas, setelah bel pulang berbunyi. Untung saja Vanya melakukan ini disaat jam terakhir.
Aku berjalan sembari menundukkan kepala ku, supaya tidak ada orang yang tahu akan tamparan ini. Karena banyak sekali siswa dan siswi yang berlalu lalang disini.
“Lo kemana aja ? Satu jam gak balik – balik ?”
Aku terkejut saat mendengar suara Ella. Baru saja aku melangkah untuk masuk kedalam pintu kelas, Ella sudah bersiap di depan pintu, sembari membawa tas ku yang barang-barangnya sudah ia kemasi.
Aku menggeleng dan tersenyum padanya.
“Antrinya panjang,” jawabku mengelak.
Ella melangkah selangkah mendekat padaku. Ia memicingkan kedua matanya, memperjelas penglihatannya.
“Bodoh.” Ucapnya setelah itu.
Aku mulai panik. Aku hanya takut jika Ella tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Siapa yang lakuin ini?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menggeleng dengan cepat. “Tadi gue kasar waktu bersihin lukanya,” bantahku.
“Lo boleh polos, tapi jangan sampai lo bego Nad! Lo jangan mau di tindas kayak gini.” Bentak Ella.
Ella memang sahabat yang emosinya mudah terpancing saat melihat sahabatnya ditindas. Aku bersyukur bisa kenal dan dekat dengannya.
“Bilang ke gue, siapa orang yang udah bikin bibir lo makin parah?” Ucapnya dengan menggoyang goyangkan tubuhku.
“Kok lo ngegas sih ngomongnya?”
Tubuhku seketika mematung saat mendengar suara Alden dari belakangku.
Aku mencoba mengisyaratkan Ella untuk tidak memberitahu Alden melalui gerakan mataku.
Aku terus menatap Ella seolah menyiratkan arti jangan beritahu Alden, please.
“Kok diem? Bibir Nada kenapa?” Tanyanya kembali.
Aku pasrah saat Ella menggeleng sembari menatapku.
Aku menunduk pasrah sembari menutup mata. Aku tidak ingin melihat reaksi Alden.
“Nada bandel banget, suruh kasih obat malah gak mau.”
Apa itu suara Ella?
Aku mendongak melihat Ella yang tengah bertatap mata dengan Alden.
Benar.
Ella membantuku.
Thank god.
Badanku berbalik menghadap Alden, saat kedua tangan Alden meraih pundak ku.
Ia memutarkan badanku menggunakan kedua tangan kekarnya.
Alden melihat bagian bibirku yang luka. “Mana obatnya?” Tanyanya.
Aku memberikan obat yang sedari tadi ku genggam. Alden meraihnya dan menggandeng tanganku untuk mencari tempat duduk.
Ia mengeluarkan betadine serta kapas dari dalam pouch yang ku berikan padanya nanti.
Ia membuka tutup obat dan menaruh beberapa tetes obat tersebut pada kapas.
Setelah itu, Alden kembali mendekatkan wajahnya supaya dapat melihat luka ku dengan jelas.
Ia menempelkan kapas pada bagian bibirku yang luka. Perlakuannya sangat lembut.
“Sakit?” Tanyanya sembari mendongak menatap mataku.
Aku mengangguk. Perih yang kurasakan saat ini.
Ia kembali menempelkan obatnya secara merata dengan perlakuan yang sangat pelan.
Ia tidak ingin menyakitiku.
Dibanding perih yang kurasakan saat ini, aku lebih merasa bahagia bisa sedekat ini dengannya.
Bisa merasakan perhatian berlebih darinya.
Apa aku harus selalu tersakiti agar mendapat perhatian dan perlakuan hangat darinya?
__ADS_1