
Suara dentuman motor sudah tidak berbunyi lagi. Aku segera turun dari motornya, saat Alden sudah mematikan mesin motornya.
"Thank you. Hari ini lo udah banyak bantu gue." ucapku berterima kasih pada Alden.
Aku melepas helm dari kepala ku dan memberikannya pada Alden. Aldenpun menerimanya. Tetapi tidak berbicara sedikit pun.
"Lo hati-hati dijalan. Gue masuk dulu," ucapku sekali lagi sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah.
Aku berbalik saat Alden tak kunjung menjawab ucapanku.
Apa ia masih marah?
Sudahlah, aku tidak perduli. Aku meninggalkannya sendiri diatas motor gagahnya. Aku terus melangkah masuk kedalam halaman rumah, meski hati dan raga ini menolak.
Aku memberhentikan langkahku ditengah halaman rumah, saat motor gagah milik Alden tak kunjung mengeluarkan bunyi nyarinya.
Apa ia masih diam disitu?
Sampai kapan?
Aku hendak berbalik, untuk menyuruh Alden pulang.
Tapi,
Aku terkejut saat Alden melangkah dengan tegas mendahuluiku masuk kehalaman rumahku dan berhenti pada pintu depan rumah.
Ia mengetuk pintu dengan lembut, sembari menunggu sang empu rumah.
Aku pun bergegas menuju Alden yang berdiri menghadap pintu broken white.
"Lo ngapain? Pulang aja, gue udah sehat kok." ucapku pada Alden.
Ia tidak menggubrisku, ia malah mengetuk pintu dengan lembut.
"Udahlah Den, gue gapapa. Lo bisa pulang sekarang." ucapku berniat untuk memberhentikan sikap Alden yang tidak kupahami.
Saat aku berusaha untuk mendorong badan Alden agar menjauh dari pintu, wanita paruh baya pun keluar menggunakan daster.
"Nada, ada tamu kok gak disuruh masuk sih?" ucap mamaku
Aku menggeleng, menandakan bahwa ia bukan tamu.
"Tan saya mau minta maaf. Tadi kepala Nada kena bola basket waktu lagi sama saya. Saya sembrono menjaga Nada. Jadi kalau kepala Nada sakit lagi, tante jangan salahin dia, tapi salahin saya aja." ucap Alden dengan wajah melas dan suara lembut.
Aku dapat melihat kedua manik matanya yang memancarkan kekecewaan pada dirinya. Mengapa ia melakukan ini?
Mama melihatku seolah berkata emang iya?
"Sebelumnya tante bilang makasih ke kamu karena udah jagain Nada. Kalau soal kena bola basket, itu bukan salah kamu juga. Jadi biarin masalah ini, kalaupun kepala Nada sakit lagi tante akan bawa dia periksa langsung kok, tanpa dimarahi." jelas mamaku pada Alden.
Ia mengangguk seolah setuju dengan perkataan mamaku. Senyum lega pun terpancar dari raut wajahnya yang semula khawatir menjadi lega.
"Syukurlah," ucapnya pelan.
"Kamu Alden kan?" tanya mamaku padanya.
Alden mengangguk, sembari bersalim pada mamaku.
"Mau mampir dulu kedalam, nak?" tawar mamaku.
Alden menggeleng. "Langsung pamit aja tan," jawabnya kemudian berpamitan untuk pulang.
Mama meliriku guna memberikan kode agar aku mengantar Alden hingga pagar rumah.
"Kalau gitu saya pamit ya ta," ucap Alden sebelum melangkah untuk pulang.
Mama mengangguk. "Hati-hati dijalan."
Aku pun mengantar Alden sampai pagar rumah, dimana ia meletakkan motornya disana.
Alden mulai menaiki motornya, dan memasangkan helm pada kepalanya.
"Gue pulang dulu, jaga diri." ucap Alden sembari menghidupkan mesin motornya.
Aku mengangguk, "Jangan kebut-kebutan dijalan." peringatku padanya.
Oh god!
Alden menatapku disaat aku juga menatapnya. Beberapa saat kami bertatapan.
__ADS_1
Darah ini berdesir, merasakan panas dingin karena kejadian tidak terduga ini.
Alden mengklakson sebelum akhirnya menjalankan motornya menjauhi rumahku.
Aku menatap punggungnya yang lama-kelamaan menjauh.
Kami baru kenal, tidak terlalu dekat. Mengapa sikapnya seolah kita sudah dekat lama?
Aku tidak ingin menyalahgunakan perasaan yang perlahan mulai muncul akibat perlakuan manisnya.
Tuhan, jagalah hatiku.
°°°°
ALDEN POV
Aku mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil yang ku ambil dari dalam almari.
Hari ini sungguh melelahkan.
Aku berjalan menuju nakas, dimana terdapat ponselku diatasnya. Aku mengambilnya, lalu dengan cepat beralih membuka pintu yang membatasi antara kabinku dengan balkon.
Aku duduk di kursi yang tersedia di balkon kabinku.
Angin malam berhembus kencang, aku yang hanya mengenakan kaos hitam dan training masih merasa dingin.
Aku memposisikan tubuhku senyaman mungkin diatas kursi, memandangi cantiknya pemandangan dimalam hari.
Lampu-lampu gemerlap menyinari komplek rumah, bulan yang bundarnya sempurna, serta bintang yang bertabur diluasnya angkasa.
Membayangkannya, tiba-tiba aku teringat akan Nada.
Bagaimana kabarnya?
Apa kepalanya masih sakit?
Apa yang sedang dilakukannya?
Sadar Den, lo harus jaga diri.
Aku menggeleng kuat saat ingatanku selalu memunculkan nama dan bayangan Nada.
Tapi aku penasaran.
Apa yang harus ku lakukan?
Aku menghidupkan ponselku, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pm.
Apa ia sudah tidur?
Aku hanya mengkhawatirkan keadaannya.
Aku segera membuka aplikasi chatting ku dan mencari nama Nada.
Aku menekan nomor tepat pada nama Nada tertera. Aku melihat riwayat aktifnya, dan dia belum tidur.
Apa yang harus ku lakukan?
Aku mencoba untuk mengetik teks,
"Selamat malam, Nada."
Aku menggeleng, lalu menghapusnya dan menggantinya dengan
"Hai Nad, udah tidur?"
Aku berpikir kembali saat hendak mengirimkan pesan padanya. Tidak, aku harus mengganti kata-katanya lagi,
"Gimana keadaan lo?"
Good!
Mungkin ini yang lazim digunakan untuk ku saat ini.
Aku pun menekan tombol kirim, dan menunggu balasan darinya.
°°°°
NADA POV
__ADS_1
Aku berbaring diatas kasur ku, menatap langit-langit kamar yang kosong.
Aku bosan, tapi mama menyuruhku untuk ku beristirahat.
Tiba-tiba aku teringat akan ucapan Ella yang mengatakan bahwa Alden sempat marah Rino saat aku pingsan.
Sampai sekarang, aku penasaran alasan Alden marah pada Rino?
"Aish, sial kenapa sikap lo manis ke gue belakangan ini." omelku saat membayangkan wajah Alden.
Walaupun hanya 3 hari kami dekat, tapi kami hanya saling tahu nama.
Mengapa dia melakukan ini?!
Drrttt....
Ponselku bergetar. Aku bangun lalu mengambilnya yang kutaruh diatas nakas.
Aku membelalakkan mataku saat melihat nama yang tertera pada notifikasi ponselku.
ALDEN PRAMUDYA
Wait!
Apa dia merasakan sesuatu, saat aku memikirkannya?
Aku membuka pesan yang dikirimkan oleh Alden untuk ku,
"Gimana keadaan lo?"
Apa dia masih mengkhawatirkan keadaanku?
"Udah baikan kok."
Aku membalas pesan Alden.
Tak sampai 2 menit, ponselku kembali bergetar.
"Syukurlah,"
"Lo belum tidur?"
"Kalo gue balas pesan lo, itu tandanya gue belum tidur."
"Hehee, iya juga 🤭😂."
"Udah makan?"
Jari ku seakan sulit untuk digerakkan diatas layar ponsel.
Kenapa dia sangat perhatian?!
"Udah."
Aku berusaha untuk bersikap biasa saja, supaya aku tidak sampai melukai hatiku sendiri.
"***Besok sekolah?"
"Iya."
"Gue jemput ya?"
"Gak usah."
"Haha oke, sampai jumpa besok."
"Selamat malam, Nada***."
Aku tertegun pada pesan terakhirnya. Manis sekali perlakuannya.
Aku membiarkan pesannya tidak terbaca, karena aku tidak berniat untuk membalasnya.
Aku hanya takut,
Takut semuanya.
Aku tidak ingin terlalu berharap.
Padanya,
__ADS_1
Alden Leon Pramudya.