
Aku menyingkap gorden kamar yang berwarna light brown. Hari ini sungguh melelahkan untuk ku.
Aku menatap keatas, dimana bintang berhamburan dengan indahnya. Terpancar bagaikan permata bumi.
Malam ini aku merasa senang. Jangan bertanya, apa yang membuatku merasa senang.
Karena aku pun tidak tahu, apa alasannya.
Berdiri diatas balkon sebentar, sudah membuat bulu kuduk ku berdiri karena angin malam yang berhembus menusuk kulit.
Tiba-tiba aku teringat akan Alden. Ia mengendarai motor dengan kencang tanpa mengenakan jaket. Apa tidak dingin?
Drrtt....
Ponsel yang ku pegang tiba-tiba saja bergetar. Aku segera melihat ada notifikasi apa di dalamnya.
Alden Pramudya.
Terkejut? Pasti.
"Istirahat sekarang. Karena lo udah jadi partner gue, jadi besok lo ikut gue."
Aku segera membalas pesan Alden. Aku menggerakkan jari-jariku diatas layar ponsel.
"Kemana? Besok kan hari libur." Nada Winata.
"Pokoknya besok jam 06:00 pagi gue jemput."
Aku mendengus kesal. Besok adalah waktunya me time tapi diganggu oleh Alden.
°°°°
tok..tok..tok..
Samar - samar aku mendengar suara ketukan pintu dari dalam kamar.
Aku meraih ponsel ku diatas nakas samping tempat tidur. Aku membelalakkan mataku saat melihat bahwa jam sudah menunjukkan pukul 06:10 am.
Aku segera bangkit dari kasur dan membuka pintu kamar saat ada yang mengetuknya untuk kedua kali.
Wanita paruh baya dengan rambut yang dicepol keatas itu sudah berdiri dengan wajah kesalnya.
Aku memasang cengiran tidak berdosa.
"Ada apa ma?" tanyaku pelan.
"Kalau udah janjian itu ditepati. Itu ada cowok namanya Alden kasihan udah nunggu kamu 10 menit di luar. Coba kalau mama gak keluar rumah, pasti gak tahu kalau ada orang yang nungguin kamu."
Sudah ku duga. Pasti mamaku akan memarahiku pagi - pagi karena aku lupa jika sudah ada janji.
"Iya aku lupa ma. Aku minta tolong ke mama, suruh dia nunggu 10 menit lagi. Thank you ma." ucapku dengan memberikan routin morning kiss pada mamaku sebelum akhirnya aku menutup pintu kamar dan bergegas menuju kamar mandi.
3 menit aku berada di kamar mandi, kini aku cepat-cepat mencari baju yang cocok ku kenakan pagi ini.
Setelah semuanya siap, aku meraih ponsel dan camera ku guna untuk mendokumentasikan latihan Alden hari ini.
Semua sudah ku bawa, kini saatnya untuk aku turun menuju ruang tamu.
Disana aku dapat melihat Alden dan Alvaro yang duduk dan berbincang hangat.
Aku tidak tahu mengapa Alvaro bisa akrab dengan Alden yang bahkan baru ditemuinya hari ini.
"Gue udah siap." ucap ku memotong pembicaraan mereka.
Alden dan Alvaro menatapku saat aku memotong obrolan mereka. Alvaro menggelengkan kepalanya, lalu berdiri dan berjalan kearahku.
"Kebiasaan lo." ucap Alvaro meledek sembari mengusapkan tangannya pada kepalaku.
Aku segera menjauhkan tangannya dari kepalaku, karena tangannya sudah membuat rambutku kembali berantakan.
"Ish. Kebiasaan juga lo, berantakin rambut adek sendiri." ucapku kesal dengan kembali merapikan rambutku.
Alvaro tertawa, "Biar lo keliatan jelek di depan cowok lain." ucapnya.
Aku memukul lengan Alvaro sekencang mungkin, "Ganggu lo." ucapku kesal.
Alvaro tertawa kencang melihat ekspresi kesal wajahku, "Yaudah pergi sana. Mama lagi belanja, papa masih tidur." ucapnya disela tawanya.
Aku melirik kearah Alden yang sedari tadi duduk dan diam melihat ku berdebat dengan Alvaro.
Merasa ku lirik, Alden akhirnya bangkit dan berpamitan pada Alvaro.
"Bang gue izin ajak Nada keluar." ucap Alden meminta izin sebelum pergi.
Aku melihat Alvaro mengangguk. "Jagain adek gue. Biarpun ngeselin, dia adek yang paling gue sayang." ucap Alvaro berpesan.
"Ya karena adek lo cuma gue, bego." pekik ku kesal.
Alvaro kembali tertawa, "Nah, lo tahu." sambungnya.
Aku meraih tangan Alvaro dan menyalimnya. Ia pun mencium dahiku sebentar. "Hati-hati" ucapnya.
Aku dan Alden berjalan keluar rumah. Disana sudah terpakir motor CBRnya dengan rapi.
Ia berjalan menuju motornya, mengambil helm dan memberikannya padaku.
__ADS_1
"Dari outfit yang lo pake, ternyata lo paham juga mau gue ajak kemana." ucapnya sembari memberikan helmnya padaku.
"Karena lo ngajaknya pagi - pagi buta dan alasan partner, tentu gue paham." jawabku.
Setelah Alden memakai helmnya, kini ia menaiki motor dan menyalakan mesin motornya. Aku pun naik dan duduk dikursi penumpang.
Lagi, sepanjang perjalanan ini kami hanya diam seribu bahasa. Ketidak akraban kami membuat kami canggung jika ingin berinteraksi. Aku paham itu.
Suara kendaraan yang bergemuruh menjadi satu dijalanan, mendominasi pikiranku pagi ini.
Ia yang menemaniku disetiap perjalanan bersama Alden.
"Gue mau ajak lo lihat gue latihan." ucap Alden memecah keheningan.
Aku mengangguk walaupun Alden tidak mengetahuinya. "Den, sorry udah buat lo nunggu 10 menit." ucapku penuh penyesalan.
"Awalnya gue mau marah karena lo gak tepat waktu. Tapi setelah dengerin abang lo cerita tadi, gue jadi maklumin lo." jawab Alden.
Apa? Alvaro cerita pada Alden? Cerita apa?
"Abang gue cerita apaan ke lo? Gak aneh - aneh kan?" ucapku sedikit berteriak karena Alden kembali memacu kecepatannya.
Ia menggeleng. "Gak kok." jawabnya lagi.
Tidak mungkin Alvaro tidak mengatakan apapun yang aneh pada Alden.
15 menit berlalu, kini kami tiba ditempat yang dimaksud Alden.
Ternyata lapangan basket.
Tunggu. Kenapa sepi? tidak mungkin kan kalau Alden berlatih dan bermain sendiri?
Aku turun dari motornya dan melepas helm. Kami berjalan masuk kedalam lapangan indoor tersebut.
Benar saja, masih sepi dan tidak ada orang sama sekali disini.
Lalu kenapa Alden mengajakku pergi sepagi ini?
Aku berhenti melangkah tepat setelah 5 langkah memasuki lapangan.
"Lo bohongin gue?" ucapku pada Alden saat melihat lapangan yang kosong.
Alden berjalan mendahuluiku. Aku dapat melihatnya menggelengkan kepala.
"Gue gak suka bohong atau dibohongin." jawabnya sambil meletakkan ransel sportnya di pinggir lapangan.
"Terus, kenapa sepi? Katanya mau latihan. Gak mungkin kan lo latihan sendiri disini?" ucapku.
Alden menghadapkan badannya kearah aku berdiri. "Kita janjian jam 9 pagi." jawabnya.
"Gila lo? Kalo janjian jam 9 pagi, kita bisa dateng jam 8 pagi Alden. Bukan jam 6 pagi." ucapku geram.
Alden tidak menggubrisku. Ia malah memulai gerakan pemanasan untuk tubuhnya.
"Aish. Seharusnya gue masih bisa tidur, ya Tuhan." gerutuku sembari berjalan mendekat kearah tas Alden.
Aku memilih duduk disana dan mengeluarkan ponsel ku. Aku bermain ponsel dan menunggu jam 9 pagi.
Aku harus melakukan sesuatu.
Aku pun membuka aplikasi kamera di ponsel, dan mulai bergaya menghilangkan rasa bosan.
Saat sedang asik berfoto, aku terkejut saat ada orang yang mengulurkan tangannya dihadapanku.
Aku mendongak dan melihat kearahnya. Ternyata Alden berdiri dengan tangan kanannya yang ia ulurkan untuk ku.
"Gue mau lo sehat." ucapnya tiba - tiba.
Aku pun menaruh tas dan ponselku disamping tas milik Alden. Lalu aku berdiri dibantu oleh Alden.
"Gue ajakin lo berangkat jam 6 pagi karena, gue yakin lo akan telat kayak tadi. Jadi, gue berangkat lebih cepat." ucapnya dengan menggerakkan badannya agar tidak kaku.
Aku mengangguk paham. "Oh iya, nanti lawan sama siapa basketnya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"SMA Bakti 5." jawabnya.
Aku kembali mengangguk.
"Pagi hari bagus buat olahraga. Jadi lo harus gerakin badan lo." ucapnya dengan memanduku melakukan pemanasan.
Hanya kami berdua dilapangan yang luas ini. Tidak ada suara apapun selain decitan sepatu kami saat melakukan pemanasan.
"Ehm, Den." panggilku memecah keheningan.
Alden menoleh kearahku. "Ada apa?" tanyanya.
"Kenapa sikap lo dingin? Ini emang sifat asli lo, atau karena hanya bertemu dengan orang asing?" tanya ku.
Alden berhenti melakukan pemanasan saat mendengar pertanyaanku.
"Gue tipe orang yang susah nyaman sama orang lain. Tapi sekalinya gue ngerasa nyaman sama orang itu, gue bisa terbuka." ucapnya dengan senyum tipis diakhir.
Aku tertegun. "Lo pernah ada trauma sama seseorang?" tanya ku kembali.
__ADS_1
Ia diam tidak merespon apa yang baru saja ku ucap.
Alden pun mulai dengan berlari kecil mengelilingi lapangan. Aku pun mengikuti dibelakangnya.
"Kalau gue termasuk orang yang gak bisa diam. Mulut gue gatal kalau harus diam terus." ucapku bercerita walaupun aku tidam tahu apakah Alden mendengarnya atau tidak.
"Tiap hari, gue selalu beradu argumen sama Varo. Mama sama papa pun mungkin udah capek ngeliat kami berangem tiap ketemu." ucapku sambil tertawa saat mengingat bagaimana mama yang terlihat pusing saat memarahi kami berdua.
Ha ha ha...
Aku terkejut saat mendengar suara tawa Alden. Ini adalah kali pertama aku mendengar suaranya tertawa.
Dia mempunyai sisi hangat yang jarang diketahui oleh orang lain.
"Gue percaya kalau lo ini cerewet." ucap Alden dengan sesekali melihatku.
Kami pun tertawa dan aku terus menceritakan hal lucu padanya sambil berlari kecil mengelilingi lapangan.
Setelah menyelesaikan 3 putaran, aku duduk di pinggir lapangan tempat tas ku berada.
Aku lelah dan lapar.
Tidak lama setelah aku duduk, Alden pun juga ikut duduk dihadapanku.
"Lurusin kaki lo." ucapnya menyuruhku untuk meluruskan kaki.
Aku pun menurutinya.
"Gue laper. Mau makan." ucapku pada Alden yang sedang duduk santai dihadapanku.
Tidak lama setelah aku mengatakan hal itu, Alden meraih tasnya yang berada disampingku.
Ia mengeluarkan roti berukuran sedang dan dua gelas air mineral.
Ini anak sangat prepare sekali.
"Makan nih." ucapnya dengan menyodorkan roti dan satu minum tersebut padaku.
Mataku berbinar saat melihat roti yang dipegang Alden. Aku segera meraihnya dan memakannya.
Tunggu. Apa Alden sudah makan?
"Lo udah makan?" tanyaku padanya saat ia hanya melihatku makan roti dengan lahap.
"Gue bisa makan kapan aja." jawabnya sambil tersenyum kearahku.
Aku merasa tidak enak. Mungkin ini roti yang ia bawa untuk dirinya sendiri.
Aku pun membalikkan roti bekas gigitanku paling bawah. Aku menyobek roti tersebut dengan tanganku, lalu menyuapkannya pada Alden.
Alden menatapku bingung saat tanganku yang sudah dipenuhi roti berada dihadapannya.
"Buka mulut lo." perintahku padanya.
Ia menggeleng. Menolak suapanku.
"Yaudah gue udahan makannya." ancamku.
Dalam sekejap, Alden langsung membuka mulutnya dan aku segera menyuapkan roti kedalam mulutnya.
Aku tersenyum menang. Ancamanku selalu berhasil.
°°°°
Kini Alden dan teman - temannya sudah berkumpul. Tapi, dimana rekan photographi ku?
Mengapa hanya aku sendiri yang melihat mereka bertanding?
Saat semua sudah bersiap dan hendak memasuki lapangan untuk bertanding.
Alden berjalan mendekatiku di tribun. Aku memang disuruh Alden untuk pindah ke tribun, biar tidak terkena bola.
"Lo duduk disini. Lihatin gue main, gak usah fotoin gue. Lo fokus sama permainan ini." ucap Alden padaku.
Tunggu!
Jadi gue disini cuma disuruh temenin dia doang?
"Dimana yang lain? Kenapa cuma ada gue?" tanya ku.
Alden menggeleng. "Gue gak tahu."
Alden pun kembali berjalan kearah temannya, karena sudah dipanggil.
Baru saja aku akan memarahinya. Tapi sudah lah.
Permainan dimulai.
15 menit berjalan dan team Alden memimpin.
Aku tersenyum saat Alden terus mencetak skor untuk teamnya.
Ternyata Alden memang sekeren yang mereka bicarakan.
__ADS_1