HANYA RINDU

HANYA RINDU
Hanya Rindu 11


__ADS_3

Semilir angin malam berhembus dengan kencang, membelai setiap rambutku yaang sengaja ku gerai.


Kelap kelip lampu mampu menyembuhkan luka hatiku akibat perlakuan Vanya tadi.


Tamparannya benar-benar sangat keras, hingga membuat ujung bibirku kembali mengeluarkan darah lagi.


Aku mendongakkan kepala ku keatas, sembari menyandarkan kepalaku pada bagian punggung kursi.


Aku menatap lurus langit dengan mata telanjang. Memandang bintang yang berkelip diatas sana.


“Kenapa sangat susah menyukai dan mencintai seseorang? Padahal hanya bermodalkan perasaan,” gumamku.


Aku memejamkan mata sembari menarik napas dalam-dalam. Menenangkan diri.


Drrttt....


Ponsel yang ku letakkan diatas meja berdering. Aku mengambilnya lalu melihat pesan masuk.


“Lo gapapa kan?”


Aku mengernyit bingung. Aku tidak mengenal siapa orang yang sudah mengirimkan pesan ini padaku.


Bahkan nama yang tertera pun, sepertinya nama samaran.


Heroes.


“Lo siapa?”


Aku membalas kembali pesan, dan tidak lama aku kembali mendapatkan balasan pesan.


“Lo gak perlu tahu. Gue lihat semua perlakuan Vanya tadi, gue akan bantuin lo dengan cara kirim semua bukti yang gue punya ke Alden.”


Aku membelalakkan mataku lebar-lebar. Hanya ada aku dan Vanya CS tadi di kamar mandi.


Tapi siapa dia?


“Siapa pun lo, gue mohon jangan ikut campur dengan kasih bukti apapun yang lo punya ke Alden. Dia gak ada hubungannya dengan ini.”


Aku tidak tahu, siapa dia. Apa dia penguntit?


Aku segera membuka ponsel saat ada pesan masuk.


“Lo salah jika berpikiran Alden gak ada hubungannya dengan perlakuan Vanya hari ini. Lo harus ingat alasan Vanya tampar lo hari ini karena lo selangkah lebih dekat dengan Alden.”


Pikiranku kembali teringat akan kejadian tadi saat di kamar mandi. Aku juga teringat akan ucapan tajam Vanya padaku.


Raut wajahnya yang garang membuatku kembali bergidik takut jika mengingatnya.


Aku mematikan daya ponselku, menaruhnya diatas nakas.


Aku menghela nafas berat, kembali keposisi semula yang memandangi langit dengan mata telanjang.


Aku kembali memejamkan mata menikmati semilir angin, yang aku tahu pun tidak baik untuk kesehatan ku.


Aku tidak tahu mengapa tuhan menciptakan hati dan perasaan,


Bila hati dan perasaan seringkali tersakiti,


Aku tidak mengerti alasan tuhan menciptakan seseorang berpasang-pasangan,


Jika nyatanya menyukai seseorang untuk diajak berpasangan sangat sulit dan menyakitkan.


***


Tok... tok... tok...


Aku tersadar saat mendengar ketukan beberapa kali.


Aku menguap dan merenggangkan tubuhku.


“Sayang, ada Alden tuh dibawah nungguin kamu,”


Alden.


Entah mengapa, hatiku ingin menemuinya,


Tapi ragaku tidak.


“Nada lagi gak enak badan ma, suruh dia pulang aja.” Jawabku.


“Yaudah kamu istirahat aja, mama bikinin sarapan dulu.” Ucapnya sebelum akhirnya meninggalkan kamarku.


Aku meraih ponsel yang terletak diatas nakas, lalu menyalakannya karena semalam sudah kumatikan.


Baru saja ponselku menyala, kini sudah banyak notifikasi yang muncul.


Aku melihat beberapa nama yang sengaja menspam chat padaku semalam.


Alden Pramudya 64


Ella ♡ 16


Alden. Lagi-lagi namanya yang keluar hari ini. Muncul pada bagian paling atas di aplikasi Line milik ku.


Pikiranku sangat penasaran saat melihat chat yang dikirim Alden terakhir kali,


“Kamu sembunyiin sesuatu?” 23:45


Jam berapa ia tidur semalam?


Aku terkejut saat ada suara ketukan pintu lagi.


“Nada mau istirahat ma,” ucapku malas.

__ADS_1


Kreekk....


Suara pintu terbuka. Aku segera mengubah posisi ku yang semula tidur menjadi duduk.


Lelaki dengan badan tinggi nan proporsional masuk, menggunakan kaos putih dan celana jeans hitam.


“Apa kabar?” Tanyanya


Apa yang harus ku lakukan?


Ia terus berjalan mendekat kearahku, lalu ikut duduk diatas ranjang bersamaku.


Aku hanya mengangguk tanpa membalas perkataannya.


“Tadi mama kamu nyuruh aku buat obatin mulut kamu, jadi aku gak bisa nolak,”


Aish, mama...


Aku menggeleng, “Gue bisa sendiri.” Sembari meraih kotak obat yang tadi dibawahnya.


Aku terkejut saat tangannya menahan tanganku. Ia membelai lembut tangan kananku, sembari menatapku.


Aku hanya menunduk kebawah, tanpa berani menatap wajahnya.


Aku hanya merasa bersalah.


“Nad, tatap mataku,” ucapnya dengan lembut.


Aku tidak menggubris perkataannya.


“Sebentar aja,” sambungnya.


Entah, aku menurutinya begitu saja. Aku mendongakkan kepala ku dan menatap kedua mata milik Alden.


Aku dapat melihat dimatanya, terpancar kekecewaan yang mendalam padaku, walau ia terus tersenyum saat bertatap dengan ku.


“Kamu tahu kan, kalau aku paling benci dengan kebohongan?” ucapnya.


Deg...


Hatiku serasa ditampar oleh perkataan Alden.


Aku tidak berbohong, aku hanya menyembunyikan sesuatu darinya.


Kreekk...


Suara tutup botol menemani kesunyian ruang ini. Sedari tadi aku hanya diam, tidak menjawab ucapan Alden.


Aku dapat melihat bahwa ia meraih kapas dan ditempelkannya pada obat pembersih luka.


Ia mendekatkan wajahnya kearah bibirku yang luka.


Tangannya dengan lembut membersihkan luka mulutku dengan terampil.


Bahkan hembusan nafasnya dapat ku rasakan.


Senyumnya sedari tadi tidak luntur, walau aku sudah menyakiti hatinya berulang kali. Itu membuatku lebih merasa sakit.


“Kenapa lo masih peduli? Bahkan setelah gue diemin lo dari kemarin.” Tanyaku padanya dengan terus menatapnya.


Alden terus membersihkan luka pada mulutku, sebelum akhirnya berganti pada pemberian obat luka.


“Karena aku sayang,” jawabnya.


Ada bagian dari hatiku yang melayang saat mendengar jawaban yang diberikan Alden.


Alden tidak pernah mengungkapkan rasa sayangnya padaku sebelumnya. Ini adalah kali pertamanya.


Aku tidak dapat berkata apapun, bahkan berpaling untuk tidak menatapnya aku tidak sanggup.


“Maka dari itu, aku Cuma mau kamu jujur sama aku.” Lanjutnya dengan menatap tajam kedua mataku.


Kami pun berakhir dengan saling tatap tanpa mengucapkan kata sedikitpun.


***


ALDEN POV


Kini aku berada sendirian di dalam kamar Nada. Apa kalian bertanya dimana Nada?


Satu menit yang lalu, Nada turun untuk mengambil minum untuk ku di dapurnya. Ia tidak menyuruhku untuk ikut turun dengannya. Aku hanya menyetujui permintaannya.


Beberapa menit yang lalu, ada bagian dalam diriku yang lega. Mungkin karena aku sudah mengatakan padanya jika aku menyayanginya.


Aku mengalihkan pandanganku beberapa saat pada ponsel Nada yang terus bergetar.


Aku menatapnya dari kejauhan, tapi ponsel itu tidak berhenti bergetar.


Muncul rasa penasaran dalam diriku. Aku memutuskan untuk mengambil ponsel Nada yang diletakkannya sembarangan diatas ranjang.


Heroes.


Aku mengernyitkan dahiku setelah membaca nama yang terpampang pada notifikasi ponsel Nada.


Siapa dia?


Apa Nada sudah dekat dengan orang lain?


Aku semakin penasaran saat melihat pesan yang terakhir dikirim oleh nama heroes pada nomor Nada.


“Cepat atau lambat Alden akan tahu semuanya. Lo tinggal tunggu waktu aja,”


Ia menyebutkan namaku?

__ADS_1


Ada apa sebenarnya?


Rasa penasaranku semakin memuncak setelah melihat namaku yang disebut dalam teks pesan. Aku meraih ponsel Nada, lalu membuka chat antara heroes dan Nada.


Untung saja ponsel Nada tidak menggunakan sandi apapun jadi aku bisa membuka ponselnya begitu saja.


Heroes 34


Sebanyak itu kah ia mengirimkan pesan pada Nada?


Aku segera membaca pesan antara mereka mulai dari atas.


Membaca setiap kata yang dituliskannya disana, sembari bertanya dalam benak apa maksud semua ini?


Kreekk...


Aku menoleh setelah mendengar suara pintu terbuka. Nada masuk dengan tergesa saat melihatku yang sedang membawa ponselnya.


Ia menaruh dua gelas air diatas nakas, lalu menghampiriku dan merebut kembali ponselnya.


Sepertinya ia paham apa yang ku lakukan dengan ponselnya.


Raut wajahnya seolah menahan marah karena ada sesuatu yang sudah ku buka disana.


“Bukan berarti lo disini sendirian, lo bisa buka hal privasi gue.” Ucapnya dingin.


Sorot kedua matanya memancarkan amarah.


Disini, siapa yang seharusnya merasa marah?


Bukankah aku? Yang sudah ia tipu seharian ini.


“Kenapa kamu gak bilang?” Tanyaku padanya.


Shit..


Ia mengeluarkan air matanya. Mengapa hari ini hidupku dipenuhi dengan drama seperti ini, tuhan?


“Stop peduli sama gue! Kita bukan siapa – siapa Den!” Teriaknya keras.


Jika dapat digambarkan bagaimana perasaanku saat ini, mungkin lebih tepatnya seperti piring kaca yang dilempar.


Hancur dan remuk.


Aku berdiri lalu mendekat kearahnya. Aku menatap kedua matanya dalam.


“Lalu, gue harus apa supaya bisa milikin lo sepenuhnya?” Tanyaku dengan lantang.


Emosiku tidak lagi bisa kutahan. Kini Nada hanya diam tidak membalas perkataanku.


“Lo mau status?!” Tanyaku sekali lagi dengan suara lantang.


“Gue bisa nikahin lo sekarang Nad! Gue bisa hamilin lo juga. Dengan begitu, gue bisa punya wewenang atas hidup lo, bukan?!” Ucapku dengan keras.


Aku dapat melihat raut wajahnya yang semakin marah setelah mendengar ucapanku beberapa saat yang lalu.


Plakk...


Aku memejamkan mataku setelah mendapat tamparan keras dari tangan Nada.


Aku mengatur nafas ku sembari menyesali setiap perlakuan dan perkataanku tadi.


Aku kembali membuka mataku dan menatap Nada. Aku meraih tangannya, namun ia tepis begitu saja.


Aku dapat melihat Nada yang melangkah menjauh dariku. Ia membuka jendela balkon dan berdiri disana.


Aku menghelas nafas, “aku salah. Aku minta maaf.” Ucapku penuh penyelasan.


Tidak ada sahutan.


Aku melangkah mendekati Nada yang berdiri di depan pintu balkon.


Kini aku berdiri tepat dibelakang Nada yang sedang menatap pemandangan luar dari atas kamarnya.


Aku menghela nafas. Kini ia benar-benar memunggungiku. Ia hanya diam tanpa memberikan respon apapun padaku.


Aku memberanikan diriku untuk melangkah maju lebih dekat kearahnya.


Aku memeluknya dari belakang. Aku semakin mengeratkannya saat Nada terus meronta.


“Aku gak mau kehilangan orang yang berharga buatku untuk kedua kalinya. Aku mohon,” lirihku sembari terus memeluknya.


Perlahan tubuh Nada sudah tidak meronta lagi. Ada perasaan lega,


“Aku mohon Nad.” Lanjutku sembari memejamkan mata.


Tidak ada jawaban.


“Aku lebih suka lihat orang lain yang menyakiti diriku sendiri, daripada lihat kamu disakiti orang lain.” Lanjutku.


“Kenapa kamu gak jujur sama aku?” Tanyaku sekali lagi.


Nada melepas pelukan kami. Ia menghadap kearahku dan menatapku dengan mata sembabnya.


“Aku takut,” jawabnya dengan suara parau.


Aku mengernyitkan dahi. Apa yang ia takutkan?


“Kamu takut kenapa?” Tanyaku.


Nada mengambil nafas sebelum akhirnya berbicara. Ia menatapku dengan tatapan sendu.


“Aku takut kalau dia akan nyari dan nampar aku lagi. Maka dari itu, please stay away from me.”

__ADS_1


__ADS_2