
"Ya, karena aku tidak mau kalian tau tentang mereka saja." Ujar Parker dengan wajah sedikit tertekuk.
"Ngomong-ngomong adik-adikmu itu sangat berani. Aku sampai takjub, loh!" Ujar Rin.
"Terima kasih, kakak-kakak yang baik." Silvia berterima kasih sambil menundukkan tubuhnya.
*Kaya salam terima kasihnya Jepang, Arigato😇*
"Oh, kenapa kau sangat manis, sih?" Ucap Maria sambil memegang pipi Silvia.
"Haha, terima kasih." Silvia mencoba melepaskan tangan Maria dari wajahnya karena tidak nyaman.
"Jangan berani-berani menyentuhnya, ya!" Bentak Nia membantu Silvia.
"Hm? Apa kalian berdua kembar?" Tanya Rin penasaran.
"Bukannya itu sudah melihat dilihat?" Ujar Nia melipat tangannya di dada.
"Iya, iya. Tidak perlu marah, sekarang, apa yang harus kita lakukan dengan hantu palsu itu?" Tanya Rin.
"Menyerahkannya ke orang yang bersangkutan, lah. Seperti polisi atau warga desa." Ujar Parker sambil menggotong hantu palsu itu.
"Aku memilih yang kedua." Ujar Maria dan Rin berjalan mendekati Parker.
Setelah itu, Hantu palsu itu di serahkan ke warga desa. Mereka berdelapan melanjutkan perjalanan menuju ke arah utara. Tanpa sengaja mereka berjalan ke Jepang dan melihat konser Ran dan Hara.
"Hei, bukannya itu Hara?" Tanya Romi menunjuk sebuah poster.
"Hara?" Tanya Eden sambil melihat poster yang di tunjuk Romi.
"Hm, aku tau di mana konser itu diadakan." Ujar Parker sambil melihat peta di ujung poster itu.
"Di mana?" Tanya Rin.
"Ikuti aku." Ajak Parker.
Sesampainya di tempat, Parker dan yang lainnya melihat Hara dan Ran tampil dengan suara yang bagus sekali. Mereka berdelapan menunggu sampai konser itu selesai dan menghampiri Hara.
*Ini maksudnya menghampiri mereka pas di belakang panggung ya😌Bukan di panggungnya langsung di panggil😌*
"Hei, Hara!" Teriak Romi.
"Ah, Romi." Sang pemilik nama pun membalikkan badan menatap asal suara barusan.
"Maria, Parker, Rin!" Ujar seorang wanita berambut coklat di sebelah Hara tadi sambil berlari menuju teman temannya.
Mereka(yang perempuan) berpelukan menghilangkan rindu dan penat yang sudah di tahan sedari tadi.
"Kalian duluan saja nanti kami menyusul." Ujar Ran kepada Hara.
Hara dan yang lainnya(laki laki keculi Parker) pergi ke suatu tempat untuk membicarakan sesuatu. Yang perempuan pun tidak mempedulikan hal itu sam. sekali dan asik berbincang.
*Ya iyalah, namanya juga perempuan😌Kalo ketemu, apa aja yang di sekitar di anggap angin doang😌*
"Wow, suara mu tadi indah sekali!" Ujar Maria takjub dengan suara Ran di panggung tadi.
"Itu bukan apa-apa, kok." Ujar Ran menggaruk garuk pipinya malu.
__ADS_1
"Haha, pipi Ran memerah! Lucu sekali. Haha." Ejek Rin menggoda Ran.
"Huh, jangan mengejekku!" Ucap Ran sebal.
"Haha, tapi, itu kan benar. Suaramu memang sangat indah!" Ujar Maria membantu membully Ran.
"Jangan menggodaku." Pipi Ran semakin memerah dan akhirnya cuma bisa memalingkan wajah.
"Haha." Parker, Maria, dan Rin tertawa sangat leras bukti kemenangan yang membuat Ran semakin malu.
*Jika ada yang tanya Silvia sama Nia dimana, mereka baru beli es krim tapi di kerjai sama pemiliki es krimnya😌Jadinya lama deh😅*
Di tempat lain, Hara, Ryu Ryu, dan Romi hanya mengawasi gerak gerik mereka di balik dinding itu.
"Romi, Eden, Ryu Ryu. Apa mereka target kalian?" Tanya Hara memelankan suaranya.
"Yah, bisa di bilang begitu. Lalu, orang yang bernyanyi bersamamu tadi?" Tanya Eden.
"Bisa di bilang sama seperti kalian. Btw, siapa anak-anak itu?" Tanya Hara menunjuk kedua anak kembar yang baru saja kembali.
*Silvia sama Nia itu baru aja kembali sambil bawa es krim dengan senangnya, gegara tadi nggak dapet, jadi abang penjualnya kepalanya di pukul deh😅*
Hara, Ryu Ryu, Romi dan Eden pun mendekati anak kembar itu. Silvia dan Nia cuma menatap mereka dengan tenang tanpa rasa takut sedikit pun.
"Hm? Halo kakak ganteng! Salam kenal." Silvia mencairkan suasana hening itu.
"Hei, kalian belum menjawab pertanyaanku." Bisik Hara kepada Romi.
"Yang berambut biru tua di depan namanya Silvia, yang berambut biru muda di depan namanya Nia." Ujar Romi.sambil menunjuk anak anak itu.
"Mereka kembar." Eden melanjutkan ucapan Romi.
"Kembaranku? Haha, itu..." Ryu Ryu kehabisan kata kata untuk menjelaskan.
"Silvia, Nia, ayo sini." Ujar seseorang bermata permata memanggil ke dua anak itu.
"Baik kakak~" Silvia dan Nia mengikuti orang itu dengan riangnya.
Saat merasa cukup jauh dari para prajurit Athena itu, wajah ke tiga orang itu mulai nampak serius.
"Ada apa?" Tanya Silvia sambil menjilati es krim yang ada di tangannyan
"Kau lihat empat laki-laki itu?" Tanya Parker melirik laki laki yang di maksudnya.
"Iya, memangnya kenapa? Apa mereka mengganggu kakak?" Tanya Nia dengan wajah datar.
"Tidak, hanya saja. Dapatkan informasi tentang orang yang menyuruh mereka. Mengerti?" Parker melihat ke arah Silvia dan Nia meminta jawaban.
"Baik!" Parker mengangguk senang.
"Tapi, lain kali saja, ya?" Kata Nia dengan entengnya.
"Kenapa lain kali? Kenapa tidak bisa sekarang?" Tanya Parker menuntut penjelasan.
"Aku malas, dan lagi, kakak akan segera tau tentang mereka. Dengan kata lain, usaha kita akan sia-sia saja." Ujar Nia sambil mengangkat pundaknya.
"Ya, itu benar. Cepat atau lambat dia atau pun kakak pasti akan tau satu sama lain." Silvia ikut mengangguk setuju dengan pendapat Nia.
__ADS_1
"Cara bicaramu memang bisa membuat orang lain terdiam, ya?" Ujar Parker.
"Ran, setelah ini kau akan kemana?" Tanya Maria.
"Mungkin pergi bersama Hara."
"Apa kau mencintainya?" Tanya Rin menggoda Ran.
"Bodoh! Aku tidak mungkin akan menyukainya. Hubungan kami hanya sebatas memanfaatkan atau di manfaatkan. Hanya seputar itu saja." Ujar Ran dengan sangat tegas.
"Jangan menyesali perkataanmu, lo, kak Ran. Karena, penyesalan selalu datang terlambat." Ujar Silvia ikut angkat bicara.
"Benar! Belum terlambat jika kau ingin jujur tentang perasaanmu sekarang." Nia menatap Ran penuh arti.
"Cerewet ah, kalian. Dengar ya, sampai kapanpun aku tidak akan mencintainya apa lagi memaafkannya." Ujar Ran kesal.
"Kenapa?" Tanya Nia.
"Apa dia pernah menyinggung mu? Atau menyakiti hati mu?" Tanya Silvia mengintrogasi.
"Bukan itu, hanya saja..." Ran mengantupkan bibirnya tidak mau melanjutkan kata katanya.
"Hanya saja?" Tanya Maria dengan sorot mata penasaran.
"Kita bicarakan nanti saja. Kalian yang ada di sana, ayo pergi. Hari sudah mulai larut." Ajak Ran mengalihkan pembicaraan.
*Pas Ran ngomong ini, Hara, Ryu Ryu, Romi, dan Eden udah balik dari diskusi*
"Yah, aku rasa dia benar. Teman-teman ayo pergi."Romi ikut melangkah menuju hotel.
"Siapa teman-teman mu, ha?" Tanya Nia melipat tangannya di dada.
"Aku tidak berbicara padamu, kok, anak kecil!" Ujar Romi kesal.
"Aku juga tidak berbicara denganmu, kok." Ujar Nia memalingkan wajahnya.
"Sudah, sudah. Ayo kita pergi." Ryu Ryu mencoba menengahi mereka, tapi hasilnya nihil.
"Huh, ini belum berakhir!" Ujar Nia menantang Romi.
"Kau pikir aku takut denganmu? Mimpi!" Ujar Romi membalas tantangan Nia.
"Kau lah yang bermimpi!"
"Aku? Tentu saja kau!"
"Hah, pada anak kecil pun kau tidak mau mengalah?" Tanya Parker yang mulai muak dengan pertengkaran Romi dan Nia.
"Aku rasa mereka nanti harus pisah kamar." Usul Maria.
"Tentu saja. Memangnya siapa yang bilang kalau mereka akan satu kamar?" Tanya Parker.
"Haha, iya ya." Balas Maria.
BERSAMBUNG~
Pertanyaan:
__ADS_1
Bagaimana Misi mereka selanjutnya? Nantikan kelanjutannya.😇
Dan mohon untuk memvote ceritaku dan terima kasih bagi yang sudah membaca terima kasih banyak.😇