
"Baiklah, tapi, sebelum itu,"
Mizu menghentikan omongannya dan menatap tajam Yuna, Ryu Ryu, Hara, Romi, Eden.
"Kalian akan menerima ujian terlebih dahulu." Perkataan Mizu membuat Yuna, Ryu Ryu, Hara, Romi, dan Eden terkejut.
"Tunggu, UJIAN?!" Tanya Yuna sedikit berteriak.
"Iya, kau pikir kami akan melepaskan peri terbaik kami begitu saja? Itu tidak mungkin!" Mizu menunjukkan Smirk nya.
Para prajurit Athena yang ada di sana berpikir sangat keras tentang perkataan Mizu. Apa mereka akan setuju, atau tidak.
"Baiklah, kami akan melalui ujian itu." Ujar Hara dengan yakin.
Prajurit yang lainnya pun mengangguk setuju. Mizu masih menatap mereka dengan wajah datar, begitupun dengan Pega. Sementara Chicas menatap mereka dengan bahagia(?).
Setelah mereka semua setuju, ujian mendapatkan peri akan di mulai 2 hari lagi. Mereka dapat meminta bantuan kepada peri yang mereka pilih.
Itupun jika peri mereka setuju untuk membantu mereka. Kalau tidak, ya, sungguh kasihan.
[Pohon peri]
*Oh ya, pohon peri adalah tempat di mana para peri berkumpul. Entah itu bermain, berdiskusi atau apalah itu😅Yang pasti bukan tempat untuk pamer kemesraan ya😅*
Peri peri yang di pilih pun terlihat sangat bingung, resah, khawatir. Pokoknya, saat itu juga Pohon Peri menjadi seperti rumah sakit jiwa.
__ADS_1
"Huwaa, bagaimana ini? Aku masih mau bebas! Huwaa" Teriak Maria histeris.
"Ini benar benar menyebalkan! Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Ran yang juga ikut histeris.
"Sudahlah, itu bukan hal yang buruk juga." Riya masih saja tenang setelah di pilih oleh para prajurit Athena.
"Tidak buruk???!!!" Teriakan Maria dan Ran membuat Riya terkejut tapi masih dengan raut wajah datar.
"Kau ini terlalu naif! Bagaimana jika mereka menyiksa kita?!" Ujar Maria.
"Itu tidak akan terjadi." Riya masih menatap datar.
Kegaduhan masih berlanjut sampai mereka lelah untuk beradu mulut. Tiba tiba Mizu datang, membuat semua orang melihatnya dengan raut wajah di tekuk.
Semua orang masih diam tidak menggubris perkataan Mizu. Mizu pun duduk di dekat mereka sambil menatap mereka. Tatapan Mizu seperti bertanya Ada apa?
Rin menghela napas, "Kami sudah di pilih, ya, walaupun kau yang paling tau tentang hal ini." Ujar Rin.
Mata Mizu terbelalak sempurna, ia tidak menyangka kalau mereka akan sesedih ini. Padahal ini juga agar mereka bisa melihat dunia luar lagi.
"Tidak apa apa, lagi pula, kita bisa bertemu lagi bukan?" Tanya Mizu mencairkan keheningan saat itu.
"Iya sih, tapi, aku nggak mau pisah sama kakak!" Ari memeluk Maria dengan sangat histeris.
Maria pun membalas pelukan Ari dan ikut menangis(?). Mizu menatap mereka sayu, seperti mengerti apa yang di rasakan kakak beradik itu.
__ADS_1
"Aku juga sedih, nanti kalau kamu pergi, hiks, siapa dong yang bakal aku usili pas lagi gabut?" Pertanyaan Maria membuat yang lainnya diam dan menatap Maria datar.
"Benar, jika hal itu terjadi, hiks, siapa dong yang bakalan aku ejek nanti? Siapa dong yang aku panggil, dasar Playgirl? huwaa~" Tangisan mereka menjadi lebih histeris.
"Hah, kalian membuat ku tidak nyaman, aku pergi dulu sampai jumpa." Riya meninggalkan yang lainnya dan membuka portal dimensi ke kamarnya.
"Riya, berikan aku satu gombalan dong." Pinta Maria.
"Kamu anak siapa sih?" Tanya Riya sedikit kesal.
"Anak manusia! Lu pikir anak siapa lagi?" Tanya Maria.
"Masa sih? Ayahmu kan manusia, ibu mu juga manusia, kok kamu kaya bidadari sih?!" Ucap Riya dejgan raut wajah sedikit marah tapi menggoda.
Maria lun tersipu malu, yang lain pun cuma bisa tertawa.
*Uh, gombalannya bikin meleleh, padahal awalmya bikin kesel😆*
BERSAMBUNG~
**Oh ya, novel ini akan hiatus bentar untuk menyelesaikan beberapa kesalahan di novel ini. Sama menyelesaikan tugas sekolah yang banyak banget😅ðŸ˜
Sampai jumpa para readers setia kuðŸ˜Jangan marah sama author yaðŸ˜besok pas gw balik, gw update 3 chapter deh😅 walau nggak janji😆
Bye bye, kabuuurrrr**~
__ADS_1