Harapan Langit Berbintang

Harapan Langit Berbintang
Episode 50 Keluar dari istana Pega


__ADS_3

Author pov


Seseorang berambut ungu panjang sedang memandang bulan di malam itu dari jendela kamarnya. Rambut ungu yang terkena cahaya bulan itu bersinar sangat indah, seperi seorang bidadari.


Entah apa yang di pikirkan tunangan Pega itu, dia hanya diam membisu. Ya, dia adalah Mizu sang putri vampir yang dikenal dengan kebaikan hati dan kecantikannya itu.


Mizu pov


Setelah hari ujian itu, semua orang masih terlihat sama saja. Entah kenapa ini merasa aneh bagiku, tapi kenapa mereka masih tetap sama saja?


Bukankah kemarin mereka sangat senang? Ada yang tidak beres di sini, tapi apa?


"Hei, apa yang kau lakukan?" Seseorang datang dari belakang Mizu.


Tidak perlu membalikkan badan pun pemilik nama itu tahu siapa yang ada di belakangnya itu. Dia dalah tunangannya, pemuda yang di belakangnya itu menyeringai tipis.


"Kau ini kenapa sih? Dari tadi diam terus?" Pemuda itu mendekati Mizu dan berdiri di sampingnya.


"Tidak apa apa." Ujar ku tersenyum tipis.


"Huh," pemuda itu mendengus sebal.


Author pov


Pega membalikkan badan Mizu agar Mizu menatap wajah dan matanya. Mizu pun terlejut dan menaikkan satu alisnya. Wajah itu seperti bertanya, 'kenapa?'


"Kau sedang marah denganku ya? Baiklah, kalau begitu aku minta maaf ya?" Ujar pemuda itu menatap Mizu sedikit sayu.


"Ini bukan karena mu, kok." Ucap gadis itu sambil tersemyum.


"Lalu karena masalah apa?" Tanya Pega bingung.


Mizu kembali menatap bulan malam itu dalam sela sela keheningan mereka berdua. Pega pun tambah bingung melihat tingkah Mizu.


"Sudahlah, langsung to the point aja!" Batin Pega.


"Apa karena sikap anak anak itu?"


Pertanyaan Pega berhasil meraih respon Mizu saat itu. Tapi Mizu kembali memalingkan wajahnya membuat wajah dan tatapan yang sayu.


"Kenapa anak anak itu terkihat sama saja?"


"Hah?" Pega menatap Mizu penuh kebingungan.


"Maksudku, setelah mereka mendapat hasil ujian itu mereka terlihat sangat senang. Tapi setelahnya...?"


Pega tersentak setelah itu tertawa kencang, "hahaha, jadi cuma gara gara itu? Hahahaha!"


Mizu memalingkan wajah malu aambil menggembungkan pipinya sebal. Pega pun menghentikan tertawanya dan menampilkan senyum jahilnya.


"Dengarkan aku, kau seharusnya tidak perlu memikirkan hal itu."


"Ya, aku tahu itu, tapi aku tidak bisa menghentikan kegelisahanku ini."


Pega pun menarik Mizu kedalam pelukannya dan jangan lupa ia pun menampilkan senyuman jahil. Mizu yang menyadari hal itupun segera berusaha melepaskan diri dari pelukan Pega itu.

__ADS_1


"Kalau kau begitu khawatir pada mereka, bagaimana kalau kita menyuruh mereka pergi saja?"


"Apa? Apa kau waras? Menyuruh mereka pergi? Berarti keta mengusir mereka dong!"


"Tapi, beberapa dari mereka menginginkan kebebasan, kan?"


"Memang benar sih, tapi..."


Srek, Pega tina tiba membenamkan wajahnya di pundak Mizu. Mizu pun terkejut melihat sikap Pega yang tiba tiba berubah.


"Ka, kau ini kenapa sih?!"


"Sebentar saja, aku sedikit kelelahan." Ujar Pega.


Mziu cuma terdiam tidak membantah atau mendorong Pega dari pundaknya itu. Tanpa Mizu sadari, Pega menampilkan senyum kemenangan di bibirnya itu.


"Andaikan aku bisa seperti ini setiap hari pasti akan menyenangkan." Ujar Pega dalam hati.


**Entah apa yang merasuki ku sampai aku membuat karakter tukang modus kek begini😑


Mia pov**


Keesokan harinya, seorang gadis berambut merah sedang menyusuri taman dengan wajah bahagia. Ia bersenandung ria dengan senyum terus terukir di bibirnya.


"Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa menjelajah dunia ini. Di tambah lagi aku akan pergi bersama Sierra nanti." Batin ku.


Author pov


Flash back


"Hai." Ujar Sierra tersenyum jahil.


"Ke, kenapa kau datang malam malam begini?" Ujar Mia terkejut.


"Hampir saja tadi aku berteriak dan mengambil langkah seribu!" Batin Mia.


"Mau ikut tidak?" Tanya gadis di depan Mia masih berada di jendela.


"Kemana?"


"Kita akan pergi berpetualang!"


"Benarkah?!"


Flash back selesai.


Sesuai hari yang ditentukan, Mia, Sierra, Rin, Ran, Maria, Riya, dan Mizu pergi keluar istana bersama masing masing tuan mereka.


"Jadi, em, kita mau kemana?" Tanya Ran bingung.


"Pergi ke arah mata angin berhembus." Jawab Mizu.


Ran pun menelan salivanya menatap Mizu penuh sejuta tanda tanya. Mizu cuma tersenyum saja, tapi senyuman Mizu itu memberi isyarat bahwa itu adalah ide buruk.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi!" Ujar Mia penuh semangat.

__ADS_1


"Ya, ayo pergi." Ujar yang lainnya.


Melewati hutan belantara yang di kenal angker membuat Mizu dan yang lainnya sedikit waspada. Karena hari mulai gelap, mereka memutuskan untuk menginap sebentar.


Untuk yang laki laki tentu saja tugasnya mencari kayu dan yang perempuan mencari bahan untuk memasak. Sepanjang perjalanan mencari kayu, tubuh Romi terus terusan bergetar. Padahal di temenin sama Eden.


"Hei, Romi, kau kenapa?" Tanya Eden.


"Ah, apa? Aku tidak apa apa kok!" Ujar Romi dengan tubuh bertambah gemetar.


Zhung, tanpa mereka sadari, ada dua orang anak baru saja tiba di belakang mereka. Dengan tubuh masih bergetar, Romi mengambil kayu yang ia temukan dan membawanya.


Tiba tiba, ada tangan kecil seperti tangan anak berusia 8 tahun yang menyentuhnya. Pertamanya Romi mengira itu adalah tangan Eden, tapi setelah di pikir pikir lagi. Apa tangan Eden sekecil itu?


"Eden," Panggil Romi.


"Hm?" Pemilik nama pun berbalik menatap temannya itu.


"Apa kau sedang menyentuh tanganku?" Ujar Romi sedikit gugup.


"Tidak, aku ada di sini." Eden melambai lambaikan tangannya kepada Romi yang berjarak sekitar 1 meter.


Romi pun menelan salivanya sesekali menutup mata dengan tubuh semakin bergetar hebat. Eden pun cuma melihat Romi bingung.


"Ka, kalau begitu, si, siapa yang sedang, sedang memegang, glup, tanganku?"


Eden tersentak, sekarang dia mengerti alasan Romi bersikap aneh seperti itu. Dengan degupan jantung yang semakin kuat, Romi berusaha dengan berani melihat kebelakang, dan.


Di sisi lain, Mia dan gadis gadis yang lainnya duduk di batang pohon dekat tenda mereka masing masing. Ryu Ryu melihat Riya yang sedari tadi diam.


"Kenapa?" Tanya Ryu Ryu.


"Hm? Tidak apa apa."


"Kau ini kenapa sih?" Tanya Rin melipatkan tangan di dadanya.


Semua orang menatap Riya penuh heran begitupun Mizu dan para prajurit Athena yang lainnya. 'Sebenarnya dia kenapa sih?'


"Bersiaplah, setelah ini akan ada suara teriakan yang sangat keras." Ujar Riya melihat arloji di tangannya.


"Hah...?" Semua tampak semakin bingung melihat tingkah Riya.


Riya membuka mulutnya bersiap menghitung, "1, 2, 3."


"Aaaakkkkhhhhhhhh!!!!"


Yang Riya katakan benar, suara teriakan memang terdengar sangat keras. kwak, kwak, kwak burung burung gagak pun berterbagan di hari menjelang malam itu.


"Itu, itu suara Romi!" Teriak Maria.


BERSAMBUNG~


Gimana? Bagus nggak cerita aink? U>U komen ya guys!😆


Sombong bentar boleh kali ya😉 Satu pemberitahuan aja ni guys, sifat zodiak yang ada di sini belum tentu bener karena cuma fanction dan imajinasi penulis aja😆

__ADS_1


Mau percaya atau nggak percaya itu ada di pilihan kalian😉Karena Author cuma nulis yamg ada di pikiran Author doang kok😝


__ADS_2