Harapan Langit Berbintang

Harapan Langit Berbintang
Episode 54 Pacaran


__ADS_3

Keesokan paginya, saat jam menunjukan pukul 03:23, Riya terbangun dari tidurnya. Saat ia bangun, ia melihat Ryu Ryu, Eden, Hara, Romi dan yang lainnya masih tidur.


Riya kemudian bangun dari tempatnya dan mendekati Ryu Ryu yang masih tertidur di meja dengan setumpuk dokumen. Riya mengusap rambut Ryu Ryu sambil tersenyum.


"Kau sudah bekerja keras, tuan." Ujar Riya.


Ctak, Riya menjentikan jarinya dan dalam sekejap mata, wush, mereka semua tertidur di kamar mereka masing- masing. Menyisakan Riya yang hanya berdiri seorang diri di ruangan penuh dokumen.


"Aku harus segera menyelesaikannya, biarkan saja mereka tertidur nyenyak." Batin Riya.


Riya pun kemudian mengerjakan dokumen- dokumen itu. Padahal dengan sihir saja dia bisa melakukannya. Tapi aku rasa karena saat itu di sedang gabut tidak ada pekerjaan, jadi dia turun tangan sendiri.


Pukul 07:56, Maria menguap di tempat tidurnya, ia bangun lalu mengucek- ucek matanya yang masih mengantuk itu.


"Hm? Tunggu, bukannya seharusnya aku ada di kamar yang penuh dokumen menyebalkan itu?!"


Maria terkesiap kaget, ia kemudian keluar kamar dengan agak tergesa- gesa. Saat sampai di koridor istana pega, ceklek, brak, kepala Maria menabrak pintu yang tiba- tiba di buka seseorang.


"Aduh!" Maria meringis kesakitan.


"Astaga, Maria, apa kau baik- baik saja?"


Maria mendongakan kepala, "Kau k*p*r*t Romi!" Hardik Maria memegang dahinya.


"Maaf, salah siapa lari- lari di koridor."


"Hah? Sekarang kau memarahiku?!"


"Tidak, bukan begitu juga maksudnya." Romi memayunkan bibirnya.


Tanpa basa- basi dan banyak bac*t, Maria menarik tangan Romi dan memaksanya ikut dengannya.


"Eh, kau, kau mau membawaku kemana?!"


"Kau akan tahu saat sudah sampai di tempatnya nanti."


Sesampainya di tempat yang mereka tuju, yaitu ruangan pebuh dokumen kemarin. Tidak hanya Maria dan Romi saja, tapi ada prajurit Pega dan juga Athena.


"Eh, kalian juga ke sini?" Tanya Maria.


"Iya." Jawab Sara.


Sierra memiringkan kepalanya, Maria pun mengikuti miringan kepala Sierra. Sierra menatap Maria dengan tatapan sedikit tajam, Maria sontak kaget.


"Kalian, apa kalian sedang pacaran?"


Pertanyaan Sierra sontak menjadi perhatian semua orang. Maria dan Romi sang korban pun terkejut tentu saja, bagaimana tidak? Semua sorot mata itu sekarang sedang melihat mereka.


"Kenapa kau berkata seperti itu?!"


"Karena kalian datang ke sini dengan bergandengan tangan. Sampai sekarang pun belum di lepas, jadi..."


Maria melihat ke arah tangannya, ternyata benar. Maria pun melepaskan genggaman tangan itu dengan agak kasar.


"Tidak, bukan seperti itu!"


"......"


"Baiklah, ayo kita periksa." Ujar Mizu.

__ADS_1


Kriet, pintu terbuka, betapa terkejutnya mereka. Dokumen yang mereka kerjakan kemarin, semuanya...Lenyap!


"Apa, kemana semua dokumennya hilang?" Tanya Mizu.


"Yey! Dokumennya hilang! Kita tidak perlua mengurus dokumen menyebalkan itu lagi, terima kasih ya tuhan!" Teriak Chicas dan Maria senang.


"......"


"Apa Riya yang melakukannya ya?" Batin Ryu Ryu.


"Baiklah, mungkin kemarin itu hanya mimpi?" Tanya Mia.


"Ya, aku rasa kau benar. Kalau begitu kita pergi, yuk!" Ujar Chicas bersemangat.


"Em, aku masih ada urusan, jadi aku pergi duluan ya." Ujar Ryu Ryu.


"Oh, baiklah."


Ryu Ryu pergi ke perpustakaan, ia tahu kalau kemungkinan besar Riya ada di sana saat dia bosan atau tidak tahu apa yang akan dia lakukan.


Sesampainya di perpustakaan, ternyata benar, Riya ada di sana sedang membaca sebuah buku. Ryu Ryu mendatangi meja Riya.


"Eh, Ryu Ryu, kenapa kau di sini?"


"Riya, apa kau yang, menyelesaikan semua dokumen itu?"


"Eh, apa maksudmu itu?"


Riya mencoba mengelak, tapi Ryu Ryu tahu kalau Riya sedang berbohong. Di tempat dan waktu yang sama, Ran juga sedang membaca sebuah buku di sana. Tapi beda ruangan.


"Hah, tapi aneh juga karena dokumen itu tiba- tiba hilang. Aku juga tidak yakin kalau itu hanya mimpi belaka saja." Batin Ran.


"Hei, apa itu Ran?" Riya mengubah topik.


"Jangan mengubah topik Riya."


"Baiklah, itu benar, tapi apa kau mau membantuku melakukan sesuatu?"


"Apa?"


Di sisi Ran yang masih tenang membaca buku di tangannya itu. Di balik rak dinding perpustakaan, ada Hara yang juga bersandar di rak sambil membaca buku.


Wing, Riya dan Ryu Ryu melihat hal itu dan sepertinya mereka punya rencana yang cukup aneh.


"Kau melihat hal itukan, Ryu Ryu?"


"Iya, lalu?"


"Ayo buat pertunjukan menarik."


"Apa rencanamu kali ini?" Ryu Ryu memasang tatapan curiga.


Tok, tok, tok, brak, suara meja yang di ketuk dan pintu yang tertutup cukup keras. Ran pun menutup bukunya dan pergi ke arah suara, begitupun dengan Hara.


"Tidak ada apapun."


Zhung, crit, crit, lampu perpustakaan tiba- tiba redup dan hidup kembali, menambah kesan horor di ruangan itu.


"Hm, ada apa ini sebenarnya?"

__ADS_1


Ran berbalik badan, "Ah!" Ia terkejut dengan keberadaan Hara yang tiba- tiba ada di belakangnya.


"Kau, kenapa kau di sini?" Tanya Ran masih mengotrol napas dan jantungnya yang masih berdegup kencang.


"Aku, aku hanya membaca sebuah buku saja." Jawab Hara.


"Begitu, tapi, kenapa suasananya menjadi seperti ini ya? Padahal tadi masih baik- baik saja, lo."


"Aku juga tidak tahu."


Tuk, sesuatu mendorong Hara dan membuatnya menindih tubuh Ran. Sontak Ran pun di buat sangat terkejut.


"Uh, sakit." Ujar Ran.


Deg, Hara malah terhipnotis akan wajah imut Ran yang tertindih dirinya. Ran terus mendesah kesakitan, hal itu membuat Hara tersadar.


"Ah, aku benar- benar minta maaf!"


Hara kemudian bangun dari tempatnya sekarang, ia mengulurkan tangan dan Ran memgang tangan itu. Di sini Riya dan Ryu Ryu.


"Huh, temanmu itu sangat menyebalkan, Ryu Ryu."


"Apa?"


"Kita pergi saja."


Riya dan Ryu Ryu segera meninggalkan tempat kejadian lantaran Riya yang mulai bosan. Mereka pergi ke sebuah taman, tapi taman yang sangat gelap, padahal itu di pagi hari.


"Riya, kau, mau kemana?"


"Jalan- jalan."


"Em, Riya."


"Ya?"


"Apa, apa, apa kau, apa kau mau menjadi pacarku?!"


Ryu Ryu mengerahkan semua tenaganya untuk menyampaikan perasaanya itu. Riya sontak berbalik saking terkejutnya.


"Saat, saat aku melihatmu, aku merasakan suatu rasa yang sangat nyaman saat bersamamu. Dulu, aku tidak pernah berpikir akan jatuh cinta pada seorang yang dulunya adalah musuhku."


"Aku tahu ini aneh, tapi, aku benar- benar-"


Sebelum Ryu Ryu menyelesaikan kalimatnya, cup, Riya membungkam mulut Ryu Ryu dengan bibirnya yang lembut. Mata Ryu Ryu terbelalak sempurna.


"Em,"


Mereka melepaskan ciuman yang sangat panas itu, Riya mengusap bibirnya dan melihat ke arah Ryu Ryu dengan serius.


"Jadi, apa kau...?"


"Iya."


"Apa?"


"Aku bilang iya, dasar bodoh."


BERSAMBUMG~

__ADS_1


__ADS_2