
Acara pernikahan Mia pun di gelar, ia nampak cantik dengan pakaian warna putih saat itu. Riya yang biasanya berpakaian seperti laki- laki pun kali ini pertama kalinya ia menggunakan pakaian feminim.
Di ruang rias, Mia sangat gugup dan ketakutan. Karena ini hari pernikahan, tentu saja yang laki- laki di larang menemui pengantin wanita kecuali di altar pernikahan.
"Apa kau sangat gugup, Mia?"
Suara seseorang yang sedang bersandar di dekat pintu. Mia kemudian melirik ke arahnya, nampaklah Riya, dan Ryu Ryu yang menggunakan baju *cou*ple.
"Wah, udah tanda- tanda mau nyusul aku, ya?" Tanya Mia.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh, nih?" Riya mendekatkan wajqhnyavke wajah Mia.
"Tentu saja boleh, tapi, kau cantik sekali dengan pakaian couple nan feminim itu."
"Huh, jangan menyinggungku lagi, atau ku buat pernikahan mu bagaikan padang es nanti."
"Eiy, jangan ngambek gitu dong!"
Riya tidak menggubris perkataan Mia dan meninggalkan ruang rias tersebut. Mia mulai gelagapan, takut kalau yang di katakan Riya akan benar- benar ia lakukan.
"Hei, aku kan sudah bilang maaf. Ryu Ryu, tolong nasehati istrimu itu agar tidak membekukan pernikahan ku dong!"
Ryu Ryu terkekeh geli, "Tidak akan, Riya bukan orang sejahat itu. Jadi kau tenang saja, ya?"
"Ba, baiklah."
Mia pun menuruti perkataan Ryu Ryu, walaupun di hatinya masih ada rasa takut tapi kemudian ia memukul pipinya dan meyakinkan dirinya kalau itu tidak akan terjadi.
"Mia, ayo cepat." Ujar Ran memanggil dari luar.
"Ah, tunggu sebentar!"
Petugas pembawa dan penyebar bunga adalah adik Riya yang tidak lain adalah Silvia dan Nia. Anak- anak itu bagaikan seorang malaikat, jika tidak ada yang tahu sifat buruk mereka.
"Semoga semuanya akan baik- baik saja." Batin Mia.
__ADS_1
Tap, tap, tap, Riya sampai di altar pernikahan dan menghadap ke arah Rei, calon suaminya. Mia mendengus napas berat. Pendeta pun membacakan janji pernikahan.
"Bagaimana, Nona Mia?"
"Saya terima."
"Bagaimana, Tuan Rei?"
"Saya terima."
"Dengan ini, kalian resmi menjadi pasangan suami istri. Kalian di persilahkan untuk berciuman."
Cup, semua orang bertepuk tangan dengan meriahnya. Sementara Riya, dia mengangkat tangannya, wush, salju pun muncul dan menambah keindahan pernikahan itu.
"Oh, jadi itu yang akan kau lakukan, Riya? Terima kasih banyak." Batin Mia terharu.
Seminggu setelahnya, sekarang giliran Riya dan Ryu Ryu yang akan segera menikah. Tentu saja sekarang waktunya Mia gantian menggoda Riya. Walau itu tentu tidak akan berhasil.
"Hei, si calon istri sedang siap- siap, ya?" Goda Mia.
"Ih, si calon ibu hami apa kabar, nih?" Balas Riya.
"Kau, kau juga akan segera menjadi calon ibu hamil seperti ku, kok." Mia membela diri.
Riya terkekeh geli mendengar pembelaan Mia. Suasana menjadi sedikit hening setelah sedikit perdebatan itu.
"Em, bagaimana? Apa kau gugup, calon istri?" Goda Mia lagu belum kapok.
"Tidak, lalu kau, apa kau gugup tentang olah raga malam nanti?"
"O, olah raga malam?" Tanya Mia dengan wajah polos.
"Haduh, kau tidak tahu ya olah raganya orang dewasa saat malam- malam? Itu loh, mirip- mirip kejadian malam pertama."
"Malam perta-"
__ADS_1
Bush, pipi Mia seketika memerah kembali. Sekarang sudah di ketahui pemenang debat yang sesungguhnya mengelak atau melawan berapa kalipun, pasti hasilnya akan tetap sama.
"Halo Riya, ayo kita mulai pernikahan mu!" Teriak Chicas sangat bersemangat.
"Hah, baiklah. Entah kenapa seperti kau yang akan menikah setelah ini." Ujar Riya.
Yah skip ajalah ya, soalnya tu mirip- mirip pernikahannya Mia. Jadi nggak usah di ulangi lagi, langsung malam pernikahannya saja.
Riya berdiri di dekat balkon sambil menatap indahnya bulan malam itu. Sepertinya Riya sedang menunggu seseorang, siapa lagi kalau bukan suaminya?
"Riya, ada apa?" Tanya si suami.
"Kau tahu kan kalau aku tidak suka kalau sesudah menikah kebebasan ku terhambat."
"Iya, aku tahu soal itu. Kau memangnya mau pergi kemana?"
Ryu Ryu mendekat ke arah Riya yang masih lengkap dengan baju pernikahnnya. Riya menoleh ke tatapan Ryu Ryu.
"Kemana pun selama bersama mu. Tapi yang pasti, aku tidak akan berhenti meraih mimpi dan keinginanku."
Grep, Ryu Ryu memegang tangan Riya dan seketika itu pipinya sontak memerah. Tidak terlalu terlihat sih, tapi hatinya amat terpacu detik itu juga.
"Apapun yang akan kau lakukan, aku akan selalu berada di sampingmu dan selalu mendukungmu. Jadi, apa impianmu?"
"Kedamaian, karena itulah harapan dari langit- langit yang berada di atas kita. Tidak ada pertengkaran."
"Baiklah, kalau begitu, ayo masuk."
"Kau sudah tidak sabar, ya?"
"Kalau iya, bagaimana?"
Ryu Ryu menarik lengan Riya ke atas kasur, sekarang posisi mereka. Riya di atas dan Ryu Ryu di bawah. Langsung skip aja, soalnya aku nggak tahu😅.
Kalau Mia di karuniai anak bernama Axel. Kalau Ryu Ryu dan Riya di beri dua anak laki perempuan, namanya Rea dan Heru. Kalau Mizu dan Pega di beri dua anak laki perempuan juga, namanya tea dan diego.
__ADS_1
Sementara sisanya menjalani hidup tentu saja atau ada yang bersenang- senang dan keliling dunia.
TAMAT~