Harapan Langit Berbintang

Harapan Langit Berbintang
Epispde 23 Malapetaka Pembawa Keberuntungan


__ADS_3

Sesampainya di hotel yang di tuju, Ran mengurus administrasi hotel dan kamar mereka. Di depan kamar.


"Baiklah, kalau begitu. Laki-laki dengan laki-laki perempuan dengan perempuan, ya?" Ujar Romi.


"Ya tentu saja harus begitu. Kau pikir satu kamar laki-laki dan perempuan gitu. Aneh." Kata Maria.


"Kalau begitu Riya yang berpura-pura menjadi laki-laki yang bernama Parker. Gawat!" Batin Ran yang mulai resah.


Silvia menarik baju Ran dan berbisik, "Kak Ran bagaimana ini? Kalau mereka tau soal gender Kak Parker ini gawat!"


"Ternyata kita sepemikiran, ya?" Ujar Ran.


"Takjubnya nanti saja. Kalian juga tenang saja, Identitas kak Parker tidak akan ketahuan." Bisik Nia.


"Kau yakin sekali, ya? Nia." Ujar Ran.


"Aku kan tau kakak, kau juga bukan Silvia?" Tanya Nia.


"Ya, aku rasa kau benar. Mungkin aku terlalu panik." Ujar Nia menghembuskan napas lega.


"Kalian kan memang selalu panik duluan." Ucap Nia.


*Padahal sebenarnya Nia duluan yang panik😑*


"Iya, iya. Kau benar dan aku salah, puas?" Tanya Ran.


"Tidak, aku belum puas sama sekali."


"Kau keterlaluan, Nia!"


"Hm, Ran, Rin, Maria, tolong jaga Silvia dan Nia, ya?" Ujar Parker menyerahkan ke dua anak itu.


"Selagi mereka tidak nakal. ok, ok, aja sih kalo buat aku." Ucap Maria.


"Kami tidak nakal, kok. Kalian saja yang terlalu melebih-lebihkan." Ujar Nia kesal.


"Apa kau bilang?!" Tanya Rin.


"Sudah, sudah. Ayo kita masuk saja bagaimana?" Silvia mencoba menengahi.


"Ide bagus, dari pada aku terbakar di sini."


"Pemarah sekali."


"Kau bilang apa tadi?"


"Lupakan saja, ayo masuk." Ajak Maria.


Setelah pertengkaran kecil itu, mereka masuk kamar dan membersihkan diri. Di sisi kamar perempuan, mereka membahas rencana berikutnya. Di sisi laki-laki.


"Pasti sulit, ya? Mengendalikan Maria." Ujar Larker yang duduk di sofa sambil menatap Romi.


"Dari mana kau tau?"


"Kami dulu satu sekolah. Tentu saja aku tau."


"Apa kau tau kebiasaan-kebiasaan kecil Maria?"


"Kalau begitu aku tanya. Apa kau jatuh cinta pada Maria?"


"Apa maksud perkataanmu itu?"


"Tenanglah, aku cuma asal nebak saja. Kau tidak perlu grogi begitu. Kecuali, kalau yang aku katakan itu benar."


"Eh? Tidak, itu tidak benar!"

__ADS_1


*Aing boleh tanya nggak? Kenapa sih, laki laki itu kaga pernah mau jujur sama perasaannya sendiri😒Kan jadi gregetan😠*


"Aku rasa kau sangat penasaran pada kehidupan orang lain, ya?" Tanya Hara.


"Tidak juga, hanya saja. Aku suka melihat orang jatuh cinta dan melihat mereka memperjuangkan cinta mereka." Ujar Parker dengan santainya.


"Be, begitu, ya?" Tanya Ryu Ryu dengan senyum canggung.


"Ya, apa lagi kalau ada adegan ciuman." Parker mengatakan hal hal itu dengan tenangnya.


"Ci, ciuman?!" Ke empat pria itu me jadi salah tingkah setelah mendengar kata 'ciuman'.


"Benar, itu adegan yang sering aku tunggu-tunggu." Ujar Parker tanpa ragu.


"Apa hatimu nggak nyesek liat orang ciuman?" Tanya Ryu Ryu.


*Kalo lu kan tenang tenang aja😌Lah gw yang nulis ampe gigit bantal gara gara iri lo😢*


"Tidak, aku malah menyukainya. Jadi, jika ada salah satu dari kalian jatuh cinta. Bilang ke aku ya? Aku pasti bantu, kok." Ujar Parker dengan santainya.


"Haha, baiklah." Ujar me empat laki laki itu.


Tiba-tiba Parker mengambil bola basket yang dia temukan di dalam ruangan. Dia melempar bola basket itu ke dinding yang tepat sebelahnya adalah kamar Maria dan yang lainnya.


"Hm? Kenapa tidak ada reaksi ya?" Tanya Parker. masih mengamati dinding yang ia lempari bola tadi.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Tanya Hara yang bingung dengan tingkah Parker.


"Kalau mereka marah bagaimana?" Tanya Ryu Ryu khawatir.


"Kalian terlalu khawatir." Ujar Parker.


Karena penasaran tidak ada reaksi, Parker mendekati tembok dan menempelkan telinganya.


"Hei, yang di sana. Siapa tadi yang melempar bola? Apa kalian tidak ada kerjaan?" Teriak Maria sambil memukul dinding itu.


"Astaga, terkejut aing. Eh, Maemunah kaga' usah tereak-tereak napa?"-->(Padahal dia yang teriak-teriak)


"Yang nyuruh main bola basket di kamar siapa?"


"Romi yang nyuruh." Ujar Parker menunjuk Romi sebagai kambing hitam.


"Apa?! Sejak kapan? Fitnah lu." Bantah Romi.


"Benarkah?" Tanya Maria.


"Tidak Maria, dia yang nyuruh." Parker masih berusaha mengelak.


"Kau jangan fitnah aku, ya!" Teriak Romi kepada Parker.


Parker sialan! Dia yang melempar tapi aku yang salah. Sebenarnya apa yang dia mau, sih? -Romi.


Maria menghela napas, "Parker jujur siapa yang nyuruh siapa?"


"Aku yang nyuruh Romi untuk menyatakan perasaan kepadamu. Karena, dia menyukaimu tapi tidak berani mengatakannya." Ujar Parker dengan mudahnya.


*Kalo aku punya temen kek gitu udah gw masukin dia ke api neraka sambil ngumpat😰*


"Apa?! Itu, itu tidak benar! Maria dia bohong!" Romi mencoba mengelak.


"Hei, Romi."


"I, iya? Kenapa?"


"Tinggalkan aku."

__ADS_1


"Apa?! Kau barusan bilang apa?" Romi terkejut setengah mati.


"Kebalikannya."


"Ke, kebalikannya?" Romi masih membeku di tempat mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Maria.


"Maksudnya perjuangin aku. Dia mau kau berjuang untuk mendapatkan hatinya." Ujar Parker sambil merangkul pundak Romi.


A, apa yang kau katakan? Itu, itu tidak mungkin." Wajah Romi seketika menjadi semerah tomat.


"Hei, Maria. Yang aku katakan benar, kan?" Tanya Parker.


"Terserah kau mau menganggapnya seperti apa." Ujar Maria melirihkan suaranya mencoba agat tidak terdengar.


"Berarti yang di katakan Parker benar." Tapi percuma saja, Hara dapat mendengar suara Maria.


"Good Night semuanya." Ujar Maria mengakhiri konflik pendek ini.


"Good Night, have sweet nice dream." Ujar Parker dengan senyum penuh kemenangan.


"You to." Balas Maria.


"Wah, dia tadi mengucapkan selamat malam untukmu lo, Romi." Ryu Ryu mencoba menggoda Romi.


"Di, diamlah." Romi menyuruh Ryu Ryu diam karena wajahnya yang semakin memerah malu.


"Hei kawan, aku cuma bisa membantumu sampai sini. Sisanya kau lakukan sendiri, dengan caramu sendiri. Agar dia merasa kau benar-benar serius padanya." Bisik Parker.


"A, aku tau, terima kasih, Parker. Tapi, nggak gini juga caranya!"


"Hei, hei. Tenang lah nanti dia dengar. Aku minta maaf, ya?"


"Huh, baiklah. Lagi pula kau juga sudah membantuku."


"Oh ya, Romi. Dapatkan ciuman pertamanya, ya. Pasti bibirnya sangat manis dan lembut." Bisik Parker tepat di telinga Romi membuatnya mendengar jelas apa yang sudah ia katakan.


Push, wajah Romi seketika memerah, lebih merah dari sebelumnya. Karena hal itu, Romi lun tidak sadarkan diri, lantaran memikirkan bibir manis nan lembut Maria.


"Romi, Romi, hei." Yang lainnya pun mencob. membangunkan Romi yang tidak sadarkan diri.


Setelah mendengar kata-kata Parker wajah Romi pun tiba-tiba memerah dan tidak sadarkan diri. Teman-teman Romi yang melihatnya pun terkejut dan panik melihat keadaan Romi.


"Kenapa mukanya memerah? Apa yang kau katakan pada Romi?" Tanya Ryu Ryu.


"Aku cuma bilang kepadanya untuk mendapatkan ciuman pertamanya. Juga agar dia merasakan sentuhan bibir yang manis dan lembut."


"Pa, pantas saja." Ujar Eden memalingkan wajah.


"Tidak heran." Ryu Ryu mencoba memaklumi.


"Tidak kusangka kau lihai dalam hubungan asmara, ya?" Hara menatap Parker sambil tersenyum.


"Hehe, itu bukan semua kemampuan ku, loh." Ujar Parker.


"Parker, besok kami akan pergi ke Athena Yunani. Kau mau ikut?" Tanya Ryu Ryu.


"Pergi ke Athena, Yunani?"


BERSAMBUNG~


Pertanyaan:


Apa Parker/Riya akan mengikuti mereka ke Yunani?


A. Iya, karena Parker/Riya punya dendam pada Athena di eps sebelumnya. Jadi, dia pasti ikut.

__ADS_1


B. Tidak, karena Parker akan memilih pergi ke tempat lain.


C. Aku tidak peduli. Jika, benar pergi ke Yunani. Tolong bahas juga soal zodiak. Aku ingin tau lebih banyak tentang zodiakku.


__ADS_2