
"Itu suara Romi!" Teriak Maria.
"Ayo cepat kita cari Romi dan yang lainnya!" Ujar Mizu.
Beberapa menit setelahnya tiba tiba ada seseorang yang berlari mendekati mereka. Tuan dan para peri mereka pun mengambil langkah waspada.
Bruk! Terlihat seorang pemuda berambut orange jatuh di batang kayu yang digunakan untuk duduk Mizu dan yang lainnya tadi. Orang itu tidak lain adalah Romi yang berteriak sangat keras tadi.
Dibelakangnya ada Eden yang juga berlari sangat kencang tapi untungnya tidak seperah Romi. Maria dan Rin segera membantu tuan mereka masing masing.
Eden menyeka keringat dengan napas yang masih terengah engah. Eden dan Romi pun duduk di batang kayu yang mereka tabrak tadi.
"Nih." Rin mengulurkan segelas air yang ia ambil tadi.
"Terima kasih." Ujar Eden sambil mengambil gelas berisi air itu.
Yang lainnya pun menatap Romi dan Eden heran terlebih setelah mendengar suara teriakan Romi tadi.
"Kenapa kau tadi berteriak?" Tanya Ran melipat tangan di dada dengan wajah datar.
"Hah, hah, tadi, kami melihat hantu!" Ujar Romi dengan wajah masih ketakutan.
"Hah...?"
Semuanya masih dengan tatapan yang tidak ia mengerti, bingung? Tentu saja mereka bingung. Tidak mengerti? Sudah jelas terlihat di wajah mereka.
"Hahaha!" Suara tertawa anak kecil yang terdengar sanagt jelas.
Romi tambah bergetar mendengar suara tertawa anak kecil itu. Sementara yang lainnya melihat kanan dan kiri mencari asal suara itu.
"Lihat!" Sierra menunjuk ke atas pohon sebelah Romi dan Eden duduk.
Semuanya melihat ke atas sana, tampak dua orang anak sekitar umur 8 tahun duduk di dahan pohon itu. Romi meloncat kaget, begitupun dengan Eden bedanya kalo Romi langsung bersembunyi di belakang Maria.
*Ini laki laki apa bukan sih?😓Masa laki laki sembunyi di belakang perempuan?😏Nggak gentle ah!😆*
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Parker menatap kedua anak itu dengan tatapan seperti mengenal mereka.
Kedua anak itu masih diam sambil cengar cengir melihat sikap waspada orang di bawah mereka. Parker menghela napas dan mulai mendekati pohon yang di duduki kedua anak itu.
"Hei, cepat turun dari sana!" Ujar Parker menendang pohon itu.
Semuanya menatap penuh tanda tanya melihat tingkah Parker. Segera setelahnya, dua anak itu turun dan membuat yang lainnya meloncat kaget.
Anak anak nakal yang sudah familiar untuk mereka, siapa lagi kalo bukan Silvia dan Nia. Tentu saja awalnya mereka terlihat sangat syok tapi akhirnya mereka cuma bisa menghela napas.
"Tunggu sebentar, jadi yang memegang tanganku di sana tadu kalian?!" Romi dengan cepat berdiri di hadapan mereka manaikkan nada bicaranya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Nia tersenyum senang.
__ADS_1
"Lagi pula itu cuma candaan belaka." Ujar Silvia tersenyum jahil dan membuat Romi semakin memanas.
"Kalian benar benar!" Romi berteriak geram.
"Kalian ini, sebenarnya kenapa sih? Dan Romi, kenapa kau tadi berteriak?" Tanya Mizu.
Silvia dan Nia saling bertatap muka seperti saling bertelepati. Sementara Romi gemetaran terus mencari sebuah alasan agar tidak di kira penakut.
*Ya elah bang, gengsi lu ketinggian😑Jujur aja nggak bisa apa😒*
Mizu melipat tangannya masih setia menunggu jawaban dari mereka bertiga. Tak kala Mizu juga melihat ke arah Eden yang juga ikut dalam kejadian saat itu.
"Sebenarnya..."
"Tidak, tidak ada apa apa, kok!" Dengan cepat Romi menutup mulut Nia agar tidak menceritakan kejadian memalukan itu.
Tapi itu sia sia, ternyata kedua anak kembar itu sudah berada satu langkah di depan Romi. Saat Romi menutup mulut Nia, ada Silvia yang berada di sebelah Mizu membisikkan kejadian itu.
Romi pun gelagapan, Nia malah menunjukkan sebuah senyum kemenangan. Pft, Mizu tiba tiba tertawa, sepertinya dia sudah tahu apa yang sedang terjadi.
"Jadi gara gara itu kau berteriak?" Tanya Mizu mengangkat satu alisnya terseyum sinis.
"Ah, i, itu..." Romi mulai kehabisan kata kata.
"Itu bukan sesuatu yang memalukan juga, kok. Lagi pula, setiap orang pasti punya rahasianya masing masing. Dan kau tidak perlu takut hanya karena hal itu." Seorang peri bermata permata memandang Romi dengan wajah datar.
Romi pun menggangguk, yang lainnya pun juga ikut memaklumi, hanya saja, ada satu biang kerok pembuat masalah di tempat itu dan dia masih tersenyum sinis. Dia adalah Maria.
"Tapi cukup memalukan juga loh, karena seorang laki laki harus bisa menjaga gadis pujaannya. Benar kan?" Ujar Maria mendekatkan wajahnya ke wajah tuannya itu.
Romi pun menelan salivanya membuang muka karena malu. Beberapa detik setelahnya, seseorang menarik Maria dan mengangkatnya seperti seekor kucing kecil.
"Sudah cukup, beruntunglah semuanya baik baik saja." Ujar Mizu, orang yang mengangkat Maria seperti kucing tadi.
"Iya, iya." Balas Maria dengan wajah kesal.
Sierra masih berdiam di tempatnya melihat sekeliling hutan itu. Entah kenapa, wajah Sierra terlihat sangat ketakutan dan khawatir. Ada apa dengannya?
"Sierra, ada apa?" Tanya Mia.
"Hm?" Sierra membalikkan badannya, "tidak, tidak apa apa. Hanya saja, kita harus lebih berhati hati di hutan ini." Ujar Sierra masih dengan raut wajahnya tadi.
Semua orang pun menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah Sierra. Sierra menatap balik ke arah orang orang yang melihatnya.
"Sebenarnya, aku merasakan aura tidak mengenakan dari hutan ini. Kesedihan, keputus asaan, rasa sakit, aku bisa merasakannya dengan sangat jelas."
Sierra lalu menutup matanya sekarang udara di sekelilingnya menyatu dengan dirinya. Sekedar pemberitahuan, Sierra dapat berkomunikasi sama hantu.
*Jika ada yang tanya kenapa? Author akan jelaskan lain kali ya😇*
__ADS_1
"Pembunuhan." Lanjut Sierra.
"Pembunuhan?" Tanya Maria.
"Oh, pantas saja aku tidak sengaja menemukan boneka santet tadi di perjalanan." Ujar Riya dengan wajah santai dan tenang.
"Oh~"
Beberapa detik kemudian, mereka semua tersentak dan terkejut mendengar perkataan Riya tadi. Apa lagi setelahnya? Tentu saja mereka menatap Riya dengan tajam.
"Boneka santet?! Kau tadi bilang boneka santet?!" Sierra tiba tiba mendekat ke wajah Riya.
Jarak wajah mereka sangat dekat, satu gerakan saja akan membuat bibir mereka bersentuhan. Sementara yang lainnya menatap Riya masih terlihat waspada.
*Huwa😭Jiwa lesby ku memberontak😭Pengen banget aku membuat bibir Riya dan Sierra bersentuhan😫Tapi lain kali aja deh😋*
"Ekhem, bisakah kau sedikit mudur ke belakang?" Riya batuk batuk, walau sebenarnya nggak batuk sih.
Sierra mulai sadar apa yang tepah ia lakukan, dengan cepat Sierra mundur ke belakang dan mulai menjaga imagenya. Setelah itu Sierra menatap Riya mulai serius.
"Benar, tadi aku menemukan boneka santet. Memangnya kenapa?" Tanya Riya denagn wajah polos dan benar benar polos.
"Memangnya kenapa? Apa kau bercanda? Di mana boneka santet itu?!" Sierra kembali mendekat ke Riya tapi sekarang dengan jarak yang di jaga sambil mencengkram kerah Riya.
"Ini?" Dengan polosnya Riya memperlihatkan boneka santet yang ia temukan tadi.
*Begini, sebenarnya Riya di sini sedikit aku buat polos. Tapi bukan berarti dia bodoh ya😒*
"Ya, tuhan!" Dengan sigap Mia langsung mengambil boneka itu dan melemparnya.
Sierra cuma menatap sebentar dalam kebingungannya, setelah itu ia beralih ke Mia denagn wajah geram bin kesal.
"Apa kau bodoh?!"
"Kau ini benar benar ya, untuk tidak terjadi apapun saat kau melempar boneka itu." Ujar Mizu memijit keningnya.
"Aku rasa itu cuma boneka santet palsu saja." Ujar Hara.
"Dengan kata lain itu hanya di gunakan untuk menakut nakuti orang yang lewat ke sini." Ujar Eden.
"Tapi, apa untungnya mereka melakukan hal itu?" Tanya Ryu Ryu sedikit bingung.
"Apa orang jahil membutuhkan alasan?" Tanya Ran.
"Ya, aku rasa kau benar juga." Ujar Sierra melepaskan cengkramannya itu.
"Tapi, ini memang agak sedikit aneh sih." Batin Sierra.
BERSAMBUNG~
__ADS_1
**Mulai hari ini, author bakal update 2 hari sekali. Salam sejahtera dan dirumah aja😇. Sampai jumpa readers readers ku😆
Eh, btw, aku nepatin janji ku kan U^U update 3 chapter like dong😎Haha canda😆Terserah sih mau like apa nggak kan author ini hidupnya sangat santuy UwU**.