
**Hai semuanya😉, karena berhubung ini lebaran, jadi Author khusus nyiapin cerita pas lebaran. Anggap aja di chapter ini semuanya agama islam😇.
Nah, silahkan membaca, jika kurang bagus mohon maaf ya😢****HAPPY READING**
"Maria, tepungnya ada di mana? Mau buat kue bolu, nastar sama yang lainnya, nih." Ujar Riya sudah siap di dapur.
"Iya, iya, aku ambilin bentar."
Sekedar info, beberapa orang Aquarius rata- rata bisa masak. Yang nggak bisa masak jangan berkecil hati, kan bisa belajar memasak dari internet terus jadi koki, jika ada yang cita- citanya jadi koki.
"Hei, dimana para prajurit Athena itu?" Tanya Ran.
"Kenapa? Kau merindukan Hara, ya?" Goda Maria sambil menyenggol lengan Ran.
"A, apaan sih, aku kan hanya nanya." Ujar Ran dengan tegas.
"Idih, kalo suka bilang, jangan di pendem, nanti di ambil orang baru tahu rasa." Ujar Maria.
"Sudah, cukup ngobrolnya, Maria, mana tepungnya?" Tanya Riya.
"Nih, selow aja kali." Ujar Maria.
Riya kembali memasak kue itu, kalo Ran buat Nasgor alias nasi goreng. Kalo Mizu, kaya mbuat seafood gitu. Kalo Rin, dia di suruh membuat pertunjukkan. Maria, dia membantuku membuat kue walau hasilnya agak sedikit berantakan.
Maksudnya dapurnya, bukan rotinya, kalo rotimya sih baik- baik aja. Rencananya setelah pada selesai membuat roti mereka akan latihan sama- sama.
"Oke, rotinya udah selesai. Ran, bagaimana nasi gorengmu?" Tanya Maria mendekat ke arah Ran.
"Yah, aku rasa sudah cukup, mau coba?"
Ran menaruh nasi goreng itu ke piring dan mengambil sendok. Ia menyuapi Maria dengan sendok itu, tentu saja Maria langsung membuka mulut.
"Ah, panas!" Ujar Maria mengipas- ngipas mulutnya.
"Ya tentu saja panas, belum kamu tiup kok." Ujar Ran dengan wajah agak datar.
Ran pun mengambil nasi goreng itu lagi dan menyuapi Maria untuk ke dua kalinya. Berasa Ran ibunya Maria anaknya.
"Em, enak!" Ujar Maria masih mengunyah makanannya.
"Woi, puasa! Kalian malah makan?!" Teriak Rin yang tiba- tiba datang.
Bruth, Maria langsung tersedak seketika itu. Riya menepuk jidat, dan Ran hanya memalingkan wajahnya malu karena lupa kalo masih puasa.
"Uhuk, uhuk, sial, aku lupa!" Ujar Maria menutup mulutnya.
"Ck, ck, ck, puasa lo batal tuh Maria." Ujar Rin menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Tapi, kalo bukan Ran yang menyuapiku aku juga nggak bakalan batal puasa!" Maria mengambing hitamkan Ran.
"Iya, iya, aku yang salah, maaf." Ujar Ran masih memalingkan wajah.
Slurp, suara seseorang menyeruput sesuatu. Itu Riya, dia, dia mencoba kue itu. Maria langsung ke arah Riya seraya berteriak.
"Tidak boleh! Puasa!" Teriak Maria.
Riya sempat terkejut akan perkataan Maria, Maria masih berada di tempatnya. Riya masih berada di tempatnya dengan tatapan datar alias dia masih tenang- tenang saja.
"Aku sedang datang bulan, berarti tidak masalah dong." Ujar Riya masih kalem.
"Oh, jadi kau sedang datang bulan ya, kalau gitu maaf." Ujar Maria menggaruk bagian belakang kepalanya.
Riya kembali memeriksa kue buatannya, Maria hanya diam di tempat masih berpikir, apa dia batal atau tidak ya?
"Tunggu, hei Rin, kenapa kau di sini?" Tanya Ran menoleh ke arah Rin.
"Apa? Oh, aku ke sini untuk memberitahu, sebentar lagi kita ada jadwal berlatih." Ujar Rin.
Ran dan Maria melihat ke arah jam yang ada di sana. Benar, sekarang sudah waktunya berlatih, tapi acara memasaknya?
"Tapi kalau kita berlatih, siapa yang mengurus kuenya?" Tanya Mizu.
Brak, seseorang membuka pintu dapur mereka cukup keras. Mereka adalah para prajurit Athena, tapi kenapa mereka ke sini?
"Kami bisa membantu kalian." Ujar Romi.
"Hump, jangan meremehkan laki- laki, kami juga bisa memasak tahu!" Ujar Romi tidak terima.
"Tidak boleh marah- marah begitu, puasa harus menahan amarah, pahala kalian berkurang baru tahu kalian nanti." Ujar Riya masih dalam mode kalemnya.
Perkataan Riya berhasil membuat semuanya diam. Walau nggaj tahu kenapa mereka diam, yang pasti perkataan Riya ada benarnya juga.
"Baiklah, kalau begitu kami percayakan dapur ini padamu. Awas kalau kau sampai membakar dapur ini nanti." Ancam Maria.
"Iya, iya." Ujar Romi.
Para prajurit Pega pun segera pergi ke ruang latihan. Sementara yang laki- laki tentu saja memasak, tapi kenapa laki- laki itu mau melakukannya ya?
Seketika langsung menyanyikan🎶Entah apa yang merasikumu~Dalam hati.
Para prajurit Athena membuat sebuah panggung dan berencana akan bernyanyi bersama- sama di sana. Tentu saja mereka membuat kelompok menari, jadi ada 4 kelompok menari dengan lagu yang berbeda.
Sebagai pertunjukkan bonus, mereka akan tampil bersama. Setelah beberapa saat mereka meninggalkan dapur, DUAR, suara letupan seperti kembang api berasal dari dapur.
"Sudah ku duga, ini bukan ide bagus." Ujar Riya menepuk jidat.
__ADS_1
"Ayo segera ke sana." Ujar Mizu.
Mereka pun berlari menuju ke arah dapur itu, untung dapurnya tidak terbakar. Terlihat wajah para prajurit Athena yang sangat, em, berantakan, krim dimana- mana.
Mereka menghela napas berat, para parajurit Pega yang menghela napas. Tapi, agak sedikit terkejut juga sih, kenapa masakannya baik- baik saja dan malah bertambah?!
"Itu, apa kalian yang memasaknya?" Tanya Rin memastikan.
"Iya, yah, sebenarnya Ryu Ryu yang mengajari kami memasak." Ujar Eden.
"Jadi, bagaimana kalau kalian mencobanya?" Tanya Hara sedikit malu- malu.
"Astaga, wajah malu- malunya itu, imut sekali." Batin Ran.
"Ya, baiklah."
Maria tiba- tiba berada di depan Ran dan mengambil sebuah kue yang sudah ia incar sebelumnya.
"Enak!" Ujar Maria senang.
"Hei, puasa!" Teriak Rin.
"Wah, aku lupa! Lagi." Ujar Maria.
"Huh, sudahlah, anggap saja puasamu sudah batal."
"Apa?! Jangan dong." Maria menggoyang- goyangkan badan Rin.
"Ini sudah yang kedua kalimya kau lupa." Ujar Rin dengan tegas.
Mizu hanya menggeleng akan tingkah Rin dan Maria, kemudian ia beralih menatap Ryu Ryu.
"Jadi, kau bisa memasak ya Ryu Ryu?" Tanya Mizu.
"Ah, em, tidak juga, sebenarnya Riya lah yang mengajariku dulu."
Riya tersentak karena namanya lah yang di sebut. Gadis bermata permata itu memalingkan wajah lantaran malu- malu kocheng.
"Oh, begitu." Ujar Mizu menggangguk.
"Jadi, bagaimana latihan kalian?" Tanya Ran.
"Yah, lumayan." Ujar Rin.
"Apa yang akan kalian pertunjukkan nanti?" Tanya Eden penasaran.
"Rahasia dong!" Ujar para prajurit Pega itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG KE CHAPTER HARAPAN LANGIT BERBINTANG EDISI LEBARAN(2)~
Ini sekedar pemberitahuan aja, nama dewa Pega itu sebenarnya murni imajinasi penulis. Jadi nggak ada yang namanya Dewa Pega, hanya kebetulan aja😉.