
"Wah, aku 3 besar dari atas, dan untungnya itu sesuatu yang bagus." Ujar Maria.
"Ya, ya, ya. Terserah kau sajalah." Ujar Nia dengan wajah malas.
"Ceritanya kita akhiri dulu saja. Ayo semuanya tidur." Ajak Mizu.
"Tapi aku mau begadang." Rengek Rin.
"Kau bukan anak kecil lagi. Jadi jangan menangis seperti itu." Ujar Eden.
*Padahal nggak nangis😒cuma merengek doang😑*
"Yang Eden katakan benar, ayo tidur." Ucap Maria menyuruh yang lainnya tidur.
"Iya~"
Pembahasan zodiak selesai dan mereka tidur pukul 01:46. Keesokan harinya, cuit, cuit, cuit, suara burung bersamaan di balkon kamar mereka.
"Ayo bangun. Ini sudah pagi." Ujar Maria.
*Ini pada tidur satu kamar gegara kemarin pesan kamar yang besar, jadi semuanya tidur di sana.
"Ini belum siang kan? Bangunkan aku jika sudah siang." Ujar Romi masih tidak beranjak dari tempatnya.
Parker menguap, "Hahhh, apa kalian tidak punya janji pada seseorang?"
Romi pun bergumam sambil mengingat ingat, "Janji, em, janji. Ah, benar! Aku lupa! Hei, kalian semua ayo bangun!"
"Kau ini kenapa sih? Teriak-teriak seperti itu?" Tanya Yuna yang habis mandi.
"Yuna, apa kau lupa hari ini hari apa?" Tanya Romi tiba tiba berdiri di kasurnya.
"Hari Senin. Memangnya kenapa?" Jawab Yuna.
"Hari ini memang hari Senin. Tapi, bukan itu yang ku maksud. Acara hari ini, apa kau lupa?" Tanya Romi.
"Acara hari ini? Astaga, kita harus segera pergi sekarang!" Yuna ikut terkejut dan gelagapan sendiri.
"Kemana? Dan kenapa kalian terburu-buru?" Tanya Mizu.
"Soal itu, akan aku jawab nanti. Romi, Eden, Ryu Ryu, Hara, ayo pergi!" Teriak Yuna.
"Baiklah, ayo." Ujar Ryu Ryu, Hara dan Eden yang sudah berpakaian rapi.
"Kalian dulu saja yang berangkat. Aku mau tidur lagi." Romi yang tiba tiba tertidur lagi di kasurnya.
*Kaga bener lu Romi😒Jadi kesep sendiri aing nulisnya😑*
"Kau yang teriak-teriak menyuruh kami bangun, tapi kau malah bilang seperti itu?!" Teriak Yuna kesal.
"Romi, kau benar-benar, ya!" Hara meninggikan suaranya.
Tok Tok Tok, seseorang mengetuk pintu mereka. Sontak semuanya langsung diam dan melihat ke arah pintu. Siapa yang mengetuk pintu pagi pagi begini?
*Pagi? Udah jam 09:30 woy!😑*
"Siapa itu?" Tanya Mizu.
"Aku akan membukakannya pintu." Ujar Silvia menuju ke arah pintu.
"Maaf, apa kalian bisa diam sebentar? Para tamu yang lain agak terganggu dengan suara kalian." Ujar seseorang berseragam, sepertinya dia adalah seorang pengurus hotel.
"Ah, soal itu. Kami benar-benar minta maaf. Kami berjanji tidak akan berisik lagi. Kami mohon maaf." Ucap Silvia sambil menggabungkan tangannya meminta maaf pada pengurus hotel itu.
"Ahaha, terima kasih atas pengertiannya. Saya permisi dulu." Ujar pengurus hotel undur diri.
"Baiklah, terima kasih dan mohon maaf, ya."
__ADS_1
"Tidak apa-apa."
Setelah pengurus hotel pergi, Silvia menutup pintu kamar hotel dan menghela napas. Semua yang di dalam kamar hotel pun hanay diam.
"Hah, sebaiknya kita segera pergi dari sini." Ajak Ran.
"Kak Ran benar, ayo pergi." Ujar Nia.
Pukul 10:16 mereka meninggalkan hotel dan pergi ke suatu tempat.
"Ngomong-ngomong, kalian ingin pergi kemana sih? Pagi-pagi tadi berisik sekali." Ujar Nia dengan nada kesal.
"Ahaha, soal itu..."
"Tunggu, apa itu Sierra?" Maria tiba-tiba menyela pembicaraan Romi.
"Aku rasa itu memang Sierra." Ujar Mizu.
"Hei, Sierra." Ran menyapa gadis berambut magenta itu.
"Hm? Kalian di sini juga ya?" Pemilik nama pun berbalik dan tersenyum.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Ran.
"Bukannya aku yang bertanya tadi?" Sierra bapas bertanya.
"Sudahlah, tinggal di jawab saja kan?" Ucap Mizu.
"Aku ingin menemui Athena." Ujar Sierra.
"Athena? Bukannya itu nama kota?" Tanya Rin.
"Sebenarnya Athena itu bukan hanya nama kota saja. Tapi itu juga sebutan untuk seorang dewi." Parker menjelaskan.
"Dewi? Jadi di dunia ini masih ada yang percaya dewi?" Tanya Ran.
"Athena adalah dewi perang dan penyusun strategi. Kalo tidak salah sih seperti itu." Ujar Parker.
"Kenapa kau ingin bertemu dengan Athena?" Tanya Mizu penasaran.
"Karena aku di undang oleh Athena untuk pergi ke hadapannya. Kalian juga pasti tau diman keberadaan Athena kan? Para prajurit Athena." Ujar Sierra dengan entengnya.
"Prajurit Athena?" Tanya Rin.
"Dasar Bre****k! Kau tidak mengatakan padaku kalau kau saint Athena." Uajr Maria menarik kerah Romi.
*Astaga, kenapa gw nyiptain karakter perempuan kek begini sih😰Yah, walaupun semua kebar baran Maria belum aku keluarin semua😏*
"Soal itu..."
"Kau juga tidak memberitahu kami kalau kau adalah prajurit kegelapan milik Pega." Yuna tiba tiba menyela ucapan Romi.
"Sudah ku bilang, kami tidak tau apa-apa soal prajurit kegelapan. Ataupun orang yang bernama Pega." Ujar Mizu.
"Itu pasti bohong. Kau tau sesuatu soal Pega." Ujar Yuna dengan sangat yakin.
"Sudah, sudah. Ayo kita pergi ke Dewi Athena. Para prajurit, tuntun jalan kami ke sana." Ucap Sierra.
Perjalanan menuju Dewi Athena pun di mulai. Sesampainya di kuil Athena, mata Rin dan yang lainnya terbelalak sempurna. Kecuali Mizu, Sierra, dan Parker karena udah pernah ke sini. Lantaran mereka semua belum pernah ke tempat Athena sebelumnyam
"Hm?" Mata Rin tertuju kepada sesuatu yang baru saja lewat barusan.
"Ada apa?" Tanya Silvia.
"Siapa perempuan berambut ungu itu?" Tanya Rin menunjuk perempuan itu.
"Bukannya itu Mizu? Mata mu rabun ya?" Tanya Silvia yang di kira maksud Rin adalah Mizu.
__ADS_1
"Bukan, selain Mizu maksudku." Uajr Rin.
"Hm? Maksudmu dia?" Tanya Mizu yang tiba tiba menyela.
"Benar. Siapa dia?" Tanya Rin.
"Bukankah itu Athena? Kalian bahkan tidak tau kalau itu Athena?" Tanya Yuna mulai curiga.
"Bukankah sudah ku bilang, kami tidak tau apapun soal Athena atau yang lainnya." Ujar Ran membantah.
"Huh, dasar menyebalkan." Yuna mendengus sebal.
"Ada apa ini?" Tiba tiba seseirang yang di tanyakan oleh Rin ada di belakang mereka.
"Hm?" Mizu berbalik dan matanya sontak terbelalak sempurna.
"Kami menghadap pada Dewi Athena." Yuna, Romi, Eden, Ryu Ryu, dan Hara menunduk sebagai salam kepada Dewi Athena.
*Kalo ada yang tanya salamnya kaya gimana, bayangin aja seorang kesatria menghada ratu atau raja😇*
"Siapa mereka? Apa mereka teman-temanmu." Tanya perempuan berambut ungu panjang itu.
"Mereka..."
"Musuhmu." Ucap Sierra tanpa takut sedikitpun.
Apa?!
"Musuh? Apa maksud perkataanmu itu Sierra?" Tanya Mizu tidak mengerti.
"Sierra? Apa kau ke sini untuk mencari adikku?" Tanya wanita berambut ungu panjang itu.
Adik? Untuk seorang kakak yang mencoba untuk membunuh adiknya sendiri. Apa dia masih pantas untuk memanggilnya adik? Dasar bre****k munafik! -Sierra.
"Kak Sierra ada apa?" Tanya Silvia.
"Kau terlihat sangat marah. Apa kau baik-baik saja." Nia ikut bertanya.
"Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu menghawatirkanku."
"Maafkan aku, tapi dia sedang tidak ada di sini. Dia pergi beberapa hari yang lalu." Ujar wanita berambut ungu panjang itu.
Oh, jadi Dewi Athena juga bisa minta maaf, ya? Aku tidak akan tertipu dengan tipu muslihatmu!
-Sierra.
"Ya sudah kalau begitu." Ujar Sierra.
"Sebenarnya apa yang harus kita lakukan di sini, Mizu?" Bisik Parker.
"Aku tidak tau, kita ikuti saja alurnya. Jika keadaan masih aman kita lamjutkan sandiwara, tapi jika sudah tidak aman atau identitas kita terbongkar. Kita terpaksa melawan mereka apa pun yang terjadi." Balas Mizu.
"Baik, kami mengerti." Ujar yang lainnya.
Apa yang mereka bicarakan di sana? -Yuna.
BERSAMBUNG~
Pertanyaan:
Sekarang mereka sudah bertemu dengan Athena. Selanjutnya, apa yang akan mereka lakukan?
A. Mereka akan menunggu kesempatan untuk menyerang Athena dan menguasai Yunani.
B. Mereka akan bertanya pada Pega renacana selanjutnya.
C. Pega akan memberitahu identitas mereka.
__ADS_1