
Bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid pulang ke asrama mereka masing-masing. Maria pun keluar dengan wajah di tekuk dan mendengus sebal.
"Akhirnya, pulang juga. Aku benci guru itu." Ujar Maria dengan wajah di tekuk.
"Parker, tunggu." Tiba tiba guru yang dibicarkan Maria datang.
Cih, panjang umur si guru sialan itu. Baru di omongin udah muncul aja. -Maria.
"Kalian pergi dulu, aku akan menyusul." Ujar Parker meminta Maria dan yang lainnya pergi.
"Oh, baiklah. Sampai jumpa besok." Ucap Miku melambaikan tangan.
"Ada apa, Pak?"
"Bapak ingin, kamu mewakili sekolah dalam acara lomba antar sekolah."
"Maaf pak. Tapi, apa untungnya bagi saya?"
"Oh, keuntungan ya. Kau akan mendapat uang 10 juta. Bagaimana?"
"Maaf, aku tidak tertarik dengan uang yang bapak katakan. Saya permisi."
"Oh, tunggu. Kalau kau tidak mau uang itu, maka kami akan mengabulkan permintaan mu. Apapun itu."
"Permintaanku adalah, pergilah ke peti mati."
"Apa?!"
"Kalau kau tidak bisa melakukannya, maka ya sudah."
"Murid sialan."
*Ya lord, doakan agar aku nggak punya guru kek begitu😰Sebel gw, rasanya pengen matahin tu leher😏*
Keesokan harinya. Di jam ke lima pelajaran di mulai pukul 11:29. Banyak kerumunan orang berkumpul di halaman yang tepat bersebelahan dengan kelas Parker dan yang lainnya.
Saat di lihat apa penyebab orang-orang berkerumun di halaman. Mereka terkejut dengan apa yang di lihatnya. Wali kelas mereka berada di peti mati.
"Eh? Kenapa wali kelas kita ada di dalam peti mati?" Tanya Maria.
"Huh, biarkan saja, dia mengerjai aku kemarin. Itu pantas untuknya, lagi pula, aku rasa dia sudah siap untuk mendapat karma." Ujar Maria masih mengingat kejadian kemarin.
"Ternyata wali kelas kita lebih gila dari pada wali kelas kita dulu." Ujar Sierra menepuk jidat.
"Kalau yang itu aku setuju." Ujar Ran menggangguk.
"Tapi kenapa dia melakukan ini?" Tanya Rin penasaran.
"Parker lihatlah, aku sudah berada di peti mati seperti yang kau minta." Ujar guru itu berteriak lantang.
Huh, murid sialan. Kau tidak akan bisa menolak kali ini. -Guru.
Semua orang langsung menatap ke arah Parker penuh tanda tanya. Membuat Parker merasa tidak nyaman dan jengkel.
Guru gila, aku cuma ingin membuatnya memyerah saja. Tak di sangka dia akan melakukan ini. Kalau begini jadinya, aku seharusnya membunuhnya sejak awal. -Parker.
"Jadi kau yang meminta wali kelas kita melakukan ini, ya. Parker?" Sara bertanya sambil menatap Parker penuh keheranan.
'Masih belum cukup. Aku tidak mau mengikuti perlombaan itu sampai kau mengubur dirimu hidup-hidup!' Sesungguhnya aku ingin sekali mengatakan itu. -Parker.
"Aku akan mengikutinya. Dengan syarat, kau tidak boleh menggangguku sampai acara perlombaan itu berakhir." Ujar Parker demgan wajah kesal.
"Baiklah."
__ADS_1
Diskusi antara Parker dan wali kelas pun berakhir seperti situasi di atas. Seperti yang dijanjikan, wali kelas kami tidak mengganggu Parker sampai acara perlombaan itu di mulai. 3 hari setelahnya perlombaan pun di mulai.
"Parker semangat ya." Ujar Miku.
"Jangan sampai kalah." Ucap Mizu.
"Tidak akan."
"Baiklah, perlombaan antar sekolah akan di mulai. Para peserta sefera menempati posisinya masing-masing." Ujar si pembawa acara.
"Perlombaan antar sekolah babak pertama adalah...Jawab quiz."
Mizu melihat Parker yang berjalan menjauh. Setelah itu, Mizu menggenggam tangannya di dada seperti berdoa.
Aku serahkan padamu Parker. -Mizu.
"Semuanya sudah siap?" Tanya si pembawa acara.
"Ya, kami siap!" Teriak para peserta dengan sangat antusias dan bersemangat.
"Kalau begitu tanpa banyak bicara lagi. Perlombaan di mulai!"
"Pertanyaan pertama tentang ilmu pengetahuan alam(IPA). Apa itu Seismologi?" Pembawa acara membacakan soal pertama.
Ting Tong bel milik Parker berbunyi. Pembawa acara pun mempersilahkan Parker untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Seismologi ilmu yang mempelajari tentang gempa bumi."
"Coba kita lihat. Jawabannya benar. Soal berikutnya tentang bahasa inggris. Tiara is_____.She is not afraid of doing bungee jumping."
Ting Tong bel milik Parker sekali lagi berbunyi.
"Jawabannya, Tiara is brave."
Babak pertama jawab quiz berakhir, dan itu di menangkan oleh Paker. Babak ke dua adalah di menangkan oleh Miku. Babak ke tiga di menangkan Maria. Sore harinya.
Bum Brak Duar, suara ledakan terjadi dan membuat semua orang panik. Semuanya mencari asal suara ledakan itu.
"Apa yang terjadi?" Para murid nampak kebingungan dan gelisah.
Tak lama setelahnya, tanah yang mereka injak bergetar seperti gempa bumi. Semua orang pun menjadi sangat histeris dan ketakutan.
"Kenapa tanahnya bergetar begini?" Tanya Maria mencoba memegang tiang yang ada di sampingnya.
"Ada sesuatu yang aneh. Tidak mungkin tanahnya bergetar seperti ini tanpa sebab." Ujar Mizu.
"Kalau begitu, apa penyebabnya?" Sara bertanya dejgan wajah ketakutan.
"Lihat, apa itu meteor yang mengarah ke sini?" Ran menunjuk ke arah langit langit.
"Meteor kau bilang?!" Maria segera melihat ke langit dan tertegun di tempatnya.
Wush Tap Tap Tap, dengan cepat, para prajurit Athena datang dan berusaha menghentikan keributan saat itu.
"Siapa itu?" Rin masih terpaku di tempatnya.
"Apa itu salah satu prajurit terhebat Athena?" Tanya Mizu.
"Tunggu itu, Hara dan teman-temannya." Ujar Ran.
"Apa kau bilang?" Parker segera menengok ke arah prajurit Athena itu.
"Meteornya mengarah ke sini. Ayo cepat lari. Cepat!" Chicas segera berlindung.
__ADS_1
"Ayo lari. Ah, Mizu awas!" Sara berteriak dengan sangat hiateris.
"Apa yang...?"
"Mizu!!!" Mia berteriak.
"Hiyah." Dengan cepat Yuna mengehentikan laju meteor yang ada di hadapannya itu.
"Yuna?"
"Mizu cepat pergi."
"Kalian tidak akan bisa menghentikan meteor-meteorku." Ujar seseorang yang terbang di langit langit sambil mengatur meteor meteor itu.
"Pega?!" Mata Romi terbelalak sempurna melihat seseorang yang dulunya kawan menjadi lawannya sekarang.
"Siapa dia?" Tanya Chicas.
"Terima lah seranganku!" Pega mengarahkan meteor itu ke arah Mizu berada.
"Ah, Mizu awas!"
"Aaahhhhh!!!"
Tak sempat menghentikan laju meteor itu, Yuna terdiam di tempatnya karena gagal melindungi Mizu dan sudah menuduhnyabyang bukan bukan.
"Kalian juga terimalah!" Pega mengarahkan meteor meteor itu ke arah sembilan orang itu.
"Parker!" Chicas berteriak karena orang di depannya mencoba melindunginya.
"Hah, sampai jumpa." Parker tersenyum di sela sela waktu terakhirnya.
"Chicas awas!" Maria berteriak.
"Apa?! Aaahhhh!!!"
"Pega, awas kau!!" Romi mengeluarkan aura penuh kemarahan dan mendatangi Pega.
Hiya Hiyah Ting Tang Tang, suara pertarungan dari udara yang samgat sengit. Pega terus tersenyum bahagia di sela sela pertarungan dan itu membuat Romi semakin jengkel.
"Heh, kau marah ya? Apa berharganya gadis-gadis itu untukmu?"
"Kau tidak perlu tau!"
Sret, salah satu pukulan Romi mengenai wajah Pega dan berdarah. Pega pun menyentuh bagian tubuh yang terkena pukulan Romi itu dan menyeringai senang.
"Ah. Sialan. Huh, kita akan berjumpa lagi suatu hari nanti. Pasti."
"Pega!!!"
Banyak korban yang berjatuhan setelah pertarungan Pega dan Romi. Yuna dan yang lainnya mencari murid-murid baru itu. Tapi, sayangnya tidak dapat mereka temukan.
BERSAMBUNG~
Pertanyaan:
Kenapa Pega melakukan hal itu? Apa yang terjadi padanya?
A. Mungkin otaknya sudah di cuci seseorang. Karena Pega sangat mencintai Mizu. Dia tidak mungkin membunuhnya.
B. Itu adalah salah satu sandiwara kecilnya.
C. Dia hanya ingin mempermainkan perasaan seseorang.
__ADS_1