
Malam harinya di sekitar api unggun, semuanya tampak gembira dan senang. Tapi cuma Sierra saja yang masih terlihat berpikiran serius.
"Sierra, ada apa? Kenapa dari tadi kau hanya murung saja?" Tanya Mia.
"Hm? Tidak apa apa. Ayo tidur." Ujar Sierra.
Beberapa menit setelah masuk ke dalam tenda. Wush, trang, angin tidak berhembus cepat tapi ada benda yang terjatuh dari atas meja. Sierra yang mendengar hal itu segera terbangun.
Begitupun dengan Mizu, bedanya Mizu sudah ada di luar dari tadi karena gilirannya berjaga. Sierra berdiri di sebelah Mizu sambil terus menatap sesuatu yang jatuh itu, ternyata itu adalah botol minum.
"Kenapa botol itu bisa jatuh? Bukankah seharusnya tidak?" Tanya Sierra.
Mizu menghela napas, "Aku juga tidak tahu."
Wush, ada sesuatu yang lewat itu bukan angin melainkan bayangan hitam. Sontak Mizu dan Sierra melompat terkejut dan segera mengejar bayangan hitam itu.
Tap, tap, tap, Sierra dan Mizu terus melaju sampai tidak sadar ada jurang di bawah mereka. Sierra menginjak sebuah batu dan membuat mereka kehilangan keseimbangan.
Beruntung ada sebuah tangan yang menarik mereka jadi mereka masih dapat selamat. Orang yang menyelamatkan mereka adalah, Riya.
"Astaga kalian ini, kenapa kalian lari lari seperti itu?" Riya yang langsung bertanya kepada mereka berdua.
Mereka hanya terdiam tidak menyahut pertanyaan Riya malah celingukan mencari sesuatu. Riya menghela napas berat melihat sikap ke dua orang itu.
"Kalian ini sedang mencari apa sih?" Tanya Riya sambil memijit keningnya.
"Bayangan itu,"
"Bayangan?" Riya memiringkan wajah.
"Bayangan hitam itu, kemana perginya?" Lanjut Sierra.
Riya ikut celingukan mencari bayangan hitam yang mereka maksud, walaupun hasilnya sia sia saja. Tidak ada bayangan hitam sama sekali, yang ada cuma pohon, bunga, rerumputan, dan jubah.
__ADS_1
Tunggu, jubah?
Riya pun lalu melirik ke arah jubah berwarna hitam yang menyatu dengan gelapnya malam hari itu.
"Apa itu yang kalian maksud?" Riya menunjuk ke arah jubah yang tidak sengaja ia lihat tadi.
Sierra mengambil jubah hitam itu lalu melihatnya dengan seksama. Jelas ada orang yang membuntuti mereka, tapi siapa?
"Jelas ada seseorang yang kemungkinan besar mengejar atau menargetkan kita."
Srek, semak- semak di sebelah mereka bergoyang, yang jelas itu tidak di sebabkan oleh angin. Mereka bertiga mengambil ancang- ancang waspada.
Tanpa peringatan, Sierra mendekat lalu menangkap sesuatu di belakang semak- semak itu. Yang ia tangkap adalah, seseorang berambut merah, dan dia adalah Pega(?!).
"Pega, apa yang kau lakukan di sini?!" Mizu bertanya dengan menaikkan nada bicaranya.
"Em, itu..."
"Tunggu dulu, apa semua keanehan yang kali alami itu semuanya ulahmu?!" Riya mengepal tangan geram.
"Apa?! Jadi semua ini adalah ulahmu? Mulai dari boneka santet palsu dan yang lainnya itu?!" Teriak Romi kesal.
"Ahaha, itu memang benar, memangnya kenapa?" Tanya Pega dengan wajah tenang dengan senyum nakal terlukis di bibirnya.
"Kau!" Romi semakin menggerang kesal.
Perempuan yang lainnya cuma bisa menggelengkan kepala pusing akan sikap kekanak- kanakan dewa mereka.
"Eh, Pega kenapa matamu seperti mata panda? Apa tidur mu kurang nyenyak belakangan ini?" Tanya Maria.
"Ahahaha, soal itu," Pega melirik ke arah Mizu-->Karena di hukum oleh Mizu tidur diluar.
Mizu hanya memalingkan wajah seolah tidak tahu apa apa soal hal itu. Tapi yang masih jadi pertanyaan, tidak mungkin Pega datang cuma karena ingin menjahili saja kan?
__ADS_1
"Jadi, apa tujuanmu datang ke sini?" Tanya Eden yang sedari tadi diam saja.
"Ah, soal hal itu, Athena meminta kalian merapikan dan mengurus dokumen di perpustakaan."
"Apa?!" Semuanya berteriak kecuali Pega tentu saja.
"Kami baru saja keluar dan, di suruh kembali lagi?"
"Benar! Itu tidak adil!" Ujar Maria memotong ucapan Riya.
Pega hanya diam agar tidak kena amukan ke 7 gadis itu. Karena kalau marah, mereka semua sangat menakutkan!
"Ya sudahlah, lagi pula ini juga perintah Athena." Ucap Hara menghela napas berat.
"Yang di katakan Hara benar." Ujar Ryu Ryu mendukung Hara.
"Permintaan, bukan perintah tol*l!" Ucao Maria masoh kesal.
"Berarti kita bisa menolaknya dong!" Ujar Silvia.
"Benar!" Ujar Nia mendukung Silvia.
"Setuju!" Teriak Maria.
.
.
.
.
Pada akhirnya mereka tetap berada di perpustakaan itu mengurus dokumen. Dengan wajah murung tentu saja mereka mengerjakannya.
__ADS_1
"Benar benar memuakkan!" Teriak Maria frustasi.
BERSAMBUNG~