
Setelah kegaduhan malam itu, paginya ada suara yang sangat berisik. Suara itu berasal dari dapur. Yuna, Romi, Eden, Hara, dan Ryu Ryu yang mendengar hal itupun segera pergi ke dapur.
Mereka khawatir jika terjadi sesuatu di sana. Saat di lihat, ada 4 orang di sana. Yaitu Riya, Silvia, Nia, dan Sara.
"Kenapa kalian ada di sini? Mau membantu kami kah?" Tanya Nia.
"Siapa yang mau membantu kalian? Ngomong- ngomong soal itu, apa yang kalian lakukan?" Tanya Romi.
Riya menghela napas dan berkata, "Sedang mencuci baju."
"Mencuci baju kok di dapur?" Tanya Romi polos.
"Ya jelas memasak lah! Ya kali ada orang nyuci di dapur?!" Kata Nia.
"Ya, mungkin aja ada." Kata Romi sambil memalingkan muka.
"Kalau sampai ada berarti dia orang gila. Persis sepertimu. Hahaha." Kata Silvia.
"Keterlaluan kalian berdua!" Kata Romi.
Romi pun mengejar Silvia dan Nia. Karena ulah kejar- kejaran mereka, dapur menjadi kotor. Beruntung makanannya tidak tercemar. Kan mubazir gitu loh kalo tercemar U>U.
"Kalian berdua! Kalo kalian mau bermain di luar sana!" Kata Sara marah.
"E, maaf kak Sara." Kata Silvia dan Nia.
"Sebagai hukuman untuk kalian berdua, kalian beraihkan kekacauan ini. Sampai bersih jika masih ada kotoran harus kalian bersihkan. Walaupun harus memakan waktu 1 hari penuh!" Kata Sara.
"A, apa kau bilang?!" Tanya Romi.
__ADS_1
"Em, ada hukuman lain tidak?" Tanya Nia.
"Akan kami lakukan kak Sara." Kata Silvia.
"Silvia?!" Teriak Romi dan Nia.
"Baiklah, bersihkan dapur setelah makan. Kalau masih kotor, awas saja kalian nanti." Kata Sara mengancam.
"Ba, baik." Kata Silvia, Romi, dan Nia.
Sesuai perkataan Sara tadi, setelah makan mereka bertiga pun membersihkan dapur. Dari dalam ruangan dapur terdengar suara menggerutu dan memberontak.
"Kenapa kau tadi harus menyetujuinya sih?" Tanya Nia tidak mengerti.
"Sudahlah, percuma saja kalau kita melawan. Lagi pula, kalau kita melawan, itu hanya akan menambah hukuman kita." Kata Silvia menjelaskan.
"Apa?! Salah kami? Hello~, maaf ya tapi, bukankah kaunyang memualainya, hah?!" Kata Nia tidak terima di salahkan.
"Apa maksudmu? Kalau bukan karena kau berkata seperti itu dan membuatku marah. Hal itu tidak akan terjadi bodoh!" Kata Romi.
"Kau bilang apa? Kau bilang aku bodoh?! Kau benar- benar!" Kata Nia bersiap memukul Romi.
"Sudah cukup! Kalau kalian bertengkar di sini, maka dapur ini akan berantakan lagi. Kalaubmau bertengkar di luar saja sana!" Kata Silvia.
"Ide bagus!" Kata Nia dan Roki sambil berjalan keluar.
"Tu, tunggu, hei, kalau kalian pergi maka. Aku dong yang harus menyelesaikan semua ini." Kata Silvia sambil murung.
Silvia pun murung setelah itu tersadar akan sesuatu yang aneh. Saat sadar apa yang telah terjadi, Silvia pun berteriak dan memanggil Romi dan Nia.
__ADS_1
"Kalian berdua! Berhenti di sana!" Kata Silvia marah.
Romi dan Nia pun berhenti karena suara teriakan Silvia. Romi dan Nia pun berbalik dan mendapati Silvia yang sedang marah besar.
"Ka. Li. An. Ber. Du. A. Be. Nar. Be. Nar." Kata Silvia sambil menahan emosi.
"Si, Silvia adikku sayang, ke, kenapa? Ada apa?" Tanya Nia sedikit ketakutan.
"He, hei, kau, kau kenapa?" Tanya Romi.
"Kalian pikir bisa membodohiku apa?! Sayang sekali, itu tidak akan bekerja!" Kata Silvia sambil menatap Nia dan Romi tajam.
"A, apa maksud perkataan mu itu Silvia?" Tanya Nia tidak mengerti.
"Huh, kalian pikir aku bodoh? Aku tahu kalian membuat sandiwara palsu itu agar kalian bisa lari dari tugas dan melimpahkan tugas itu padaku bukan?!" Tanya Silvia.
"A, apa maksud perkataan mu itu Silvia? Itu tidak benar." Kata Nia mencoba mengelak.
"Cukup! Aku sudah muak sekarang! Kalian berdua, bereskan sisanya! Ini semua dengan alasan, kalian mencoba menghindari tugas!" Teriak Silvia.
"Tidakkkk!!!" Teriak Nia dan Romi.
Pada akhirnya, rencana mereka ketahuan oleh Silvia dan mereka berdualah yang harus menyelesaikan pekerjaan membersihkan dapur tersebut. Benar- benar menyebalkan.
"Haaah, makanya, jangan coba- coba membodohiku ya, atau kalian akan dapat hukuman." Kata Silvia dari kamar.
BERSAMBUNG~
Terima kasih pada para pembaca setia๐. Semoga sehat selalu ya!๐
__ADS_1