![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
"Maaf, aku masih perlu waktu untuk berpikir. " Ucapnya lalu tanpa pamit bergegas pergi meninggalkan kami begitu saja.
Ibu mertua tampak ingin mengejar anak bungsunya itu dan menyuruh untuk kembali mengobrol, namun kedua orangtua Shania menahannya dan mengatakan untuk membiarkan Rendi memikirkan semuanya dengan mateng.
Aku yang melihat kearah Shania sebenarnya merasa sedih, pasti gadis itu sakit hati karena perlakuan adik iparku tadi. Yah kalau aku menilai, mungkin cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi, gadis secantik Shania, kenapa Rendi terlihat seperti tak berselera sih? mungkin saja dia masih malu-malu kali.
Karena belum dapat kepastian, mereka pun pamit untuk pulang. Dan berencana akan membicarakannya lagi setelah Rendi sudah siap untuk bertunangan dengan Shania.
"Maafkan kelakuan Rendi yang tak sopan yah? " ucap Ibu mertua mungkin merasa malu pada calon besan karena ulah adik iparku tersebut.
"Gak apa-apa kok, jeng. Begitulah kalau ngasih taunya secara mendadak. Pasti dia masih syok, kan selama ini Rendi dan Shania hanya berteman biasa. Biarkanlah, nanti bicarakan baik-baik dengannya. Kalau misalnya nanti dia menolak pertunangan ini, kami tidak keberatan. " Ucap bu Rina masih memperlihatkan senyumnya.
Kalau aku perhatikan, pak Ilham hanya diam saja tak mau banyak bicara. Mungkin beliau tersinggung dengan sikap adik iparku tersebut yang menurutku memang tidak sopan sih. Masa lagi serius di ajak ngobrol, pergi begitu saja tanpa permisi?
Setelah kepergian mereka, kami masih duduk diruang tengah. Sebenarnya sih diriku males ikut nimbrung dan hanya menceritakan tentang ketidaksopanan adik iparku. Namun, daripada aku juga ikutan dicap tidak sopan karena meninggalkan obrolan penting, mending ikutan aja deh.
"Makanya anak itu diajarkan sopan santun. Akibat terlalu dimanja olehmu, sikapnya jadi kurang ajar. " Ucap bapak mertua dengan nada emosi.
"Selalu saja, ibu yang disalahkan gagal mendidik anak. Seharusnya bapak juga turut mendidik mereka, bukan hanya pekerjaan melulu yang diprioritaskan. " Ucap Ibu mertua tak mau kalah.
Mendengar perdebatan kedua mertuaku, jujur aku ingin segera masuk kedalam kamar. Kenapa aku yang jadi takut melihat perdebatan mereka? hah serasa diriku yang sedang diomelin. Ingin menutup telinga,nanti yang ada diriku juga yang kena imbasnya. Heran deh, masa mas Rangga diam aja? ajak kek diriku ini menjauh dari perdebatan panas ini, atau gak,lerai tuh Ibu dan bapaknya agar tak saling menyalahkan.
__ADS_1
"Aku capek berdebat, sekarang kamu temui anak kesayangan mu itu dan kasih tau untuk segera menyetujui pertunangannya dengan Shania. Sekarang, aku akan berangkat kembali untuk menyelesaikan pekerjaan ku. " Ucap bapak mertua lalu beranjak masuk kedalam kamar.
" Nanti Ibu akan membicarakan hal itu dengan Rendi melalui telepon. Ibu juga akan berangkat ke Singapura malam ini. "Ucap Ibu mertua ikut masuk mengikuti suaminya kedalam kamar.
Aku melongo, mereka baru tiba sore tadi, dan sekarang akan pergi lagi? apa gak capek? berarti kedatangan mereka tadi hanya khusus untuk membicarakan tentang pertunangan anak bungsunya? aku geleng-geleng kepala, sungguh keluarga macam apa ini? waktu orangtua hanya dihabiskan untuk pekerjaan semata.
Kedua mertuaku sudah siap dengan kopernya masing-masing, lalu pamit kepadaku dan mas Rangga. Tapi tunggu? mengapa mereka tidak berpamitan kepada anak bungsunya? walau dalam keadaan kecewa dengan sikap anaknya tadi, seharusnya pamit juga kali biar terpancar keharmonisan keluarga. Dengan sikap mereka seperti ini, mungkin Rendi jadi berpikir kalau orangtuanya tak pernah mempedulikannya.siapa tau aja kan?
Selepas kepergian mereka, aku pun mengajak mas Rangga untuk masuk kedalam kamar. Entah mengapa aku merindukan suamiku dan malah tak mempedulikan soal pengkhianatan nya. Walau aku juga masih kurang percaya, kan bisa aja dalam vidio yang dikirim oleh Nia, suamiku terlihat berpelukan dengan seorang wanita yang ku curigai adalah adik permpuan ku, karena hanya hal lumrah yang dilakukan ketika bertemu?
Jadi untuk saat ini, aku belum akan mempercayai satu hal sebelum aku memergokinya langsung sedang bermesraan dengan wanita lain. Kan gak bagus curiga tanpa bukti kepada suami, pamali.. Nah permasalahan nya sekarang, aku udah terlanjur memberi harapan palsu kepada adik iparku.
"Sayang, ayo kita tidur! mataku udah ngantuk banget nih. Besok harus cepat bangun, karena akan berangkat lagi ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaan kemarin yang belum tuntas. "
"Berangkat lagi? mas, bisa kan kamu nyuruh yang lainnya untuk menggantikan posisimu menyelesaikan pekerjaan itu? jujur, aku tak mau lagi berada jauh darimu. " Ucapku merengek agar suamiku tersebut tidak jadi berangkat lagi.
"Yah gak bisa dong, sayang. Aku kan ketua tim, dan harus setiap saat mengontrol semua pekerjaan tim agar bisa memenangkan tender. "
Percuma aku merengek lagi kalau ada saja alasan yang keluar dari mulutnya. Padahal aku ingin bermanja-manja dengannya, namun kelihatannya suamiku itu tak peka malahan langsung tertidur karena terdengar suara dengkurannya.Bukannya ngucapin selamat tidur, malah ketiduran duluan. Kesal deh.
Melihat suamiku yang sudah tertidur pulas, kubiarkan sajalah mungkin dia kecapekan seharian ini dari kantor terus menjemput kedua mertuaku di bandara. Karena perut ini kembali merasa lapar, kuputuskan untuk turun kedapur mengambil beberapa camilan serta susu anget dan kubawa keruang tengah sambil nonton TV.
__ADS_1
Sebodoh amatlah kalau berat badanku naik, memang itu yang kuinginkan. Saat tengah asyik menonton TV sambil memakan camilan kesukaan ku, tiba-tiba saja adik iparku menghampiri dan duduk tepat disampingku.
Saat aku menoleh kearahnya, astaga.. jangan bilang kalau adik iparku itu habis nangis. Nampak dari matanya yang membengkak dan terlihat sembab. Sejenak hening, lalu akhirnya karena penasaran, aku mencoba bertanya padanya,
"Rendi, kamu habis nangis yah? "
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Aku mencoba untuk terus menanyakan keadaan hatinya yang mungkin sedang syok saat mengetahui akan bertunangan dengan Shania. Entahlah..
"Rendi, apa yang membuatmu sedih, kalau kamu mau teman curhat, kakak bersedia untuk menjadi tempat curahan hatimu. Kalau kamu mau, sebisa mungkin pasti kakak akan membantu untuk menemukan solusinya." Ucapku lalu mencoba mengusap bahunya.
Dia menarik ku masuk kedalam kamar tamu, dan setelah masuk dia mengunci kamar tersebut dan langsung memelukku dengan erat. Aku kaget, dan jujur kupikir dia hanya menjebak ku dan pada akhirnya bisa merayu ku untuk memenuhi hasratnya.
Aku mendorong tubuhnya dan langsung menampar pipinya.
"Sudah kukatakan, kamu jangan macam-macam pada kakak iparmu sendiri! apalagi saat ini sedang ada abangmu dirumah. Aku tak mau yah rumah tangga ku dengan mas Rangga berantakan gara-gara kamu. Sekarang minggir, aku mau keluar! " ucapku dengan kesal.
Namun adik iparku tak mau berpindah tempat membuatku makin emosi. Saat aku ingin memarahinya, dia malahan menarik tanganku sehingga aku jatuh kedalam pelukannya. Aku berontak ingin melepaskan diri, namun tenaga adik iparku itu sangatlah kuat, ingin berteriak tapi takut mas Rangga terbangun dan memergoki kami berdua dikamar ini.
"Kak, bisa gak sekali ini aja kakak mau jadi sandaran ku? aku capek kak, hidup seperti ini. Setelah kehadiran kak Renata, aku sangat bahagia karena kupikir kakak bisa meringankan luka hatiku. Kakak lihat sendiri kan sikap Ibu dan bapak terhadapku? mereka tak pernah mempedulikan perasaanku. Hingga aku dijodohkan dengan Shania tanpa meminta pendapat ku. Aku capek berada diposisi ini, kak. " Ucap Rendi, dan tarasa ada yang membasahi bajuku. Yah adik iparku itu sedang menangis.
Apa yang akan kulakukan sekarang? padahal aku ingin menjauhi adik iparku tersebut biar dirinya tak terus menggangguku. Namun melihat kesedihannya, apakah aku akan siap untuk sekedar mengobati luka hatinya seperti permintaannya barusan?
__ADS_1