Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
Permen lolipop


__ADS_3

Keesokan paginya, aku merasa heran dengan sikap adik iparku. Kok tumbenan mau ngebantu mbok untuk nyiapin sarapan. Biasanya kan turunnya saat pas jam sarapan dimulai. Idih gayanya pake celemek segala kayak benar aja ngebantuin masak. Pasti dia hanya jadi penonton doang dan bikin mbok gak konsentrasi aja bikin sarapan nya.


"Hey, jangan ganggu mbok dong! Idih, anak laki kok sukanya masak memasak sih? " ucapku lalu menabok kepala bocah tengil itu.


"Emang kakak pikir, cuman wanita doang yang jago masak? liat tu acara TV master chef, kebanyakan lakinya yang ahli soal masak memasak. Jadi jangan salah, nanti kalo gak percaya, aku udah masakin nasi goreng buat kakak. Dicobain dulu, dijamin top markotop. " Ucap bocah tengil itu mengangkat jempolnya.


Jadi penasaran juga dengan masakannya. Agh, so sweet amat sih bocah tengil itu, sampe rela bangun pagi-pagi untuk nyiapin sarapan buat kakak iparnya ini. Jadi tersanjung deh.


"Nah, kan, jadi senyum-senyum sendiri. Pasti lagi mikirin aku kan? " ucapnya membuatku langsung melihat sekitar, takut kedengaran mbok ucapannya barusan.


"Senangnya mbok ngeliatin kalian berdua akur seperti ini. Gak kayak keluarga kebanyakan, yang gak akur dengan sodara iparnya. Hehe. Lanjutkan yah! " ucap mbok membuatku memutar bola mata malas.


Aduh mbok.. mbok.. gak tau aja kalau hubungan kami ini sudah dalam tahap yang tak wajar. Kira-kira kalau mbok tau yang sebenarnya, gimana reaksinya yah? jadi penasaran.


"Mbok, kira-kira cocok gak yah aku menikahi wanita yang lebih tua dariku? " ucap Rendi membuatku tersedak air liurku sendiri. Eh, jangan bilang dia menyinggung ku yah?


"Yah cocok-cocok aja sih, Den. Tapi kan, Non Shania seumuran dengan kamu. Masa kamu berpikiran untuk menikah dengan wanita yang lebih tua darimu sih? "


"Jangan terlalu banyak menghalu deh, kamu. Udah jelas-jelas mau nikah ama Shania, eh malah mau nyari yang lebih tua. Ntar dapat yang seumuran kayak mbok, baru tau rasa. " Ucapku membuat mbok tertawa mendengarnya.


"Gak apa-apa juga sih kalau dapat yang seumuran kayak mbok. Hehe, tapi lebih bagus lagi kalau dapat yang seumuran kakak. " Ucapnya lalu dengan seenaknya mengelus pipi ini.


Gak ada takut-takutnya nih bocah. Didepan mbok udah berani memperlakukan aku seperti kekasihnya sendiri. Daripada membuat mbok curiga, mendingan aku pergi aja dari dapur ini dan memulai sarapan.


"Kakak iparku, tersayang.. nih, aku udah buatin nasi goreng special untukmu. Jangan lupa bintang limanya, atau Lope-lopenya juga bisa. Sekalian beri kritik dan saran, tentang rasa masakanku ini. " Ucapnya membuatku memutar bola mata malas mendengar ocehannya tersebut.


Aku tak mau menanggapi ocehannya, lalu dengan santainya menyendok nasi goreng tersebut dan memasukannya kedalam mulut ini. Agh, ternyata dia jago masak juga. Namun aku hanya diam saja tak mau memberi komentar soal rasanya kepada adik ipar ku itu.

__ADS_1


Kelihatannya dia sangat antusias menanti tanggapan dariku. Sehingga aku pun memuji dirinya karena telah membuatkan ku sarapan.


"Hmmm, ini enak kok. Dan juga makasih loh, sudah repot-repot bikinin aku sarapan. "


"Wah, makasih atas pujiannya. Hehe untuk calon istri apa sih yang nggak? semuanya akan kulakukan agar kamu terlihat bahagia. " Ucapnya kembali mengelus pipi ini dengan lembut.


"Pssstttt, kamu gak boleh ngomong gitu. Ntar kalo mbok dengar bisa gawat. Aku gak mau yah, mbok tau tentang hubungan kita berdua. Pokoknya, hubungan terlarang kita ini, harus ditutup rapat-rapat. Gak mau aku dicap wanita murahan. " Ucapku dengan nada pelan takut kedengaran mbok.


"Hehe, iya deh maaf. Ya udah, setelah sarapan aku tunggu di kamarku yah? gak boleh nolak, karena ada sesuatu yang akan kuberikan kepada kakak. " Ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkanku.


"Apakah kamu gak sarapan dulu? " tanyaku membuat langkah kakinya terhenti.


"Cie.. cie.. yang perhatian padaku. Aku jadi terhura, eh salah.. terharu maksudku. Hehe, aku udah sarapan duluan tadi kok. Jadi, sampai bertemu di kamarku yah. " Ucapnya membuatku melototinya karena tak terima dengan ucapan terakhirnya tersebut.


_____________________


Akupun menabok kepalanya, dan berkata bahwa diriku bukan lagi anak kecil. Sambil cengengesan, dia berkata untuk membuka lolipop tersebut. Lah, mau bikin aku sakit gigi kayaknya. Ogah amat makan lolipop, udah tua juga.


"Nih, kamu kasihin buat Shania aja. Aku mah udah gak pantas makan yang beginian. Mana gambarnya SpongeBob lagi."


"Idih kakak nih, sedangakan mbok aja kalau dikasihin kayak beginian, pasti senang sekali. Lagian apa salahnya makan lolipop? enak tau. "


"Ah terserahlah apa katamu, pokoknya aku gak suka makan lolipop itu. Yang ada gigiku pada sakit semua nantinya. "


"Gak apa-apa kalo gak mau makan permennya. Tapi kakak buka dulu yah lolipop itu dan temukan harta karun didalamnya. "


"Halah, mau menjebak aku kan? alesan ada harta karun didalamnya biar aku tergoda. Ujung-ujungnya disuruh makan lolipop juga karena udah terlanjur dibuka dari kulitnya. "

__ADS_1


"Bawa aja ke kamar kakak kalo gitu. Nanti kalo pengen makan lolipop baru deh dibuka. Tapi ingat, jangan kasih kesiapa pun yah lolipop pemberian ku ini? nanti kakak nyesal loh. "


Kayak emas aja sampai ngomong akan menyesal kalau memberikan ini pada orang lain. Ya sudahlah untuk menghargai pemberiannya, ku kantongi aja deh daripada dia ngambek. Ketika aku mau keluar dari kamarnya, dia malah sudah menarik ku kedalam pelukannya.


Aku tak menolaknya, malah merasa nyaman berada di pelukannya. Saat kami hendak berciuman, tiba-tiba terdengar pintu kamar diketok oleh seseorang. Membuatku gelagapan sehingga adik iparku mencoba menenangkanku, dan berbisik agar diriku tak perlu takut.


"Sayang, kamu udah bangun kan? bukain pintunya dong! " ternyata itu Shania, membuatku lari kedalam lemari untuk bersembunyi. Semoga aja dia tak menyadari keberadaan ku ini.


Setelah diriku merasa aman, terdengar adik iparku itu membukakan pintu untuk gadis cantik itu. Lalu aku juga mendengar suara mas Rangga. Eh, beneran itu suara mas Rangga? hadu, darurat ini mah.


Ternyata mas Rangga menanyakan keberadaan ku pada adik iparku itu. Yang kudengar, dia berkata bahwa diriku sedang keluar untuk membeli sesuatu. Semoga saja mas Rangga percaya dengan omongan adik iparku tersebut.


Lalu, Shania masuk kedalam kamar sambil memeluk adik iparku tersebut. Aku bisa melihatnya dari bolongan kecil lemari yah? his, ngapain aku harus melihat pemandangan itu sih? itu juga Shania, main peluk-peluk aja. Kan aku jadi cemburu melihatnya.


"Sayang, boleh gak kita ngelakuinnya satu kali aja. Aku ingin mencobanya! " Ucap Shania membuatku membekap mulutku sendiri karena kaget.


Semoga saja mereka tak melakukan hal itu sekarang. Aku gak sanggup ngeliatnya, woy. Awas saja bocah tengil itu bermadu kasih saat aku terperangkap di lemarinya ini.


"Kan gak boleh sebelum nikah? pamali loh. " Untunglah bocah tengil itu menolak.


"Kan pada akhirnya juga kita akan menikah. Jadi gak apa-apa dong melakukannya sekarang? aku ingin tau rasanya kayak gimana gitu loh. " Terdengar Shania terus memaksa.


Kalau dipaksa terus menerus kayak gitu, aku yakin pasti bocah tengil itu akan tergoda. Awas saja yah kalau dia sampai tergoda, aku tak akan memaafkannya.


"Nanti aja setelah menikah yah? aku juga gak mau merusak kehormatanmu sebagai wanita. " Ucapan Rendi itu menjadi tamparan bagiku.


Gak mau merusak kehormatan Shania sebagai wanita, tapi yang dilakukannya padaku? ah, aku merasa seperti wanita murahan saja. Ngapain juga berharap cinta dari bocah tengil itu, sudah jelas kalau wanita yang dicintainya adalah Shania. Sampai bisa menjaga kehormatan gadis itu segala. Sedangkan aku? paling dianggap sebagai pemuas nafsunya semata.

__ADS_1


__ADS_2