Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
dipermalukan di depan orang banyak


__ADS_3

Seminggu kemudian, ternyata acara pertunangan adik iparku dengan Shania ditunda selama dua bulan. Aku tak tau pasti apa alasannya pertunangan itu harus tertunda. Saat bertanya pada Rendi, katanya Shania sedang sakit dan sekarang dirawat inap dirumah sakit.


Jadi untuk rencananya,terpaksa juga ikut tertunda. Padahal diriku sudah tak sabar melihat ekspresi mas Rangga dipermalukan didepan umum. Dan untungnya sampai saat ini dia tak berhasil menemukanku ditempat ini. Padahal kata Rendi, lelaki yang masih berstatus kan suamiku itu sedang berusaha mencariku sampai harus membayar orang lain.


Ngapain juga dia harus mencari tau keberadaan ku? kalau untuk meminta maaf, paling aku akan memaafkan namun untuk kembali seperti dulu lagi, tak akan bisa lagi. Hatiku sudah tertutup dan yang kuinginkan hanyalah sebuah perpisahan.


"Kak, gimana kalau kita ikut reuni akbar saja? kayaknya bakalan seru loh, daripada ngurung terus di apartemen kayak gini. " Ucap Rendi membuatku melototinya.


"Bilang aja karena kamu ingin bertemu dengan Gladys. Sana pergi dengannya, biar bisa pake baju couplean. " Ucapku karena merasa terbakar api cemburu melihat semangatnya yang membara untuk ikut reuni akbar angkatan ku.


"Ishh kakak.. aku kan hanya menawarkan saja karena takutnya kakak bosan berdiam diri disini terus. Kalau gak mau, aku saja yang temani kakak disini. Baguslah kakak gak ikut reunian itu, takutnya nanti malah clbk dengan mantan dulu. " Ucap Rendi mengusap pipi ini dengan lembut.


Tapi ada benarnya juga ucapan adik iparku tersebut. Mungkin dengan mengikuti acara reuni akbar itu, aku bisa sedikit terhibur dan melupakan soal mas Rangga sejenak.


"Ya sudah kalau begitu, sekarang ayo kita bersiap dan berangkat ke tempat acara reuni tersebut dilangsungkan. " Ucapku penuh semangat.


"Yang benar, kak? kalau gitu aku akan mengabari kak Gladys agar kita berangkatnya barengan. " Ucap Rendi membuatku kembali loyo.


Haduuu, kenapa dia harus menyebut nama sahabatku itu lagi sih? mendingan kemarin, gak perlu ngajakin bocah tengil itu, beginilah jadinya malah bertemu dengan Gladys. Pasti keduanya akan saling jatuh cinta.


"Hehe, maaf kak. Kalau gitu kakak saja deh yang mengabari ke mereka kalau kita jadi ikut. " Ucap Rendi seakan tau isi hatiku yang sedang cemburu.


Tanpa merespon ucapannya barusan, aku pun meraih ponsel yang ada diatas meja, lalu menelpon Ria. Ogah diriku menelpon Gladys, yang ada nanti dia malah nanya tentang adik iparku lagi.


Saat telepon tersambung,


"Hallo, Ren.. gimana,apa kamu berubah pikiran? kalau iya, kami akan menjemputmu sekarang juga. Perjalanan harus dilakukan pagi ini juga karena lumayan jauh. Apalagi nanti akan mendaki gunung biar sampai ditempat perkemahan. " Ucap Ria bersemangat.


"Hmmm iya.. kalian udah nyampe mana emangnya? "


"Nih lagi nungguin Gladys lagi belanja di supermarket. "


"Oh, nanti aku serlok alamat ku yah.. Sampai jumpa lagi,bye.. " Ucapku lalu mematikan sambungan telepon.


Setengah jam menunggu akhirnya mereka datang juga. Ternyata Ria mengajak suaminya untuk ikut serta. Ah, aku jadi iri melihat keharmonisan rumah tangga mereka.


"Hai Rendi.. ayo sini duduk disampingku aja, kebetulan masih kosong. " Ucap Gladys sambil mengedipkan matanya kearah Rendi. Uh, sungguh kecentilan amat wanita itu.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, kebetulan aku suka duduk diposisi ini. " Ucapku langsung menyerobot duduk di samping Gladys.


Dengan jelas diriku melihat ekspresi mukanya yang terlihat kesal karena telah mengambil kursi milik pujaan hatinya. Enak aja, dia itu milikku, gak akan kubiarkan kau merebutnya dariku.


"Makasih kak, nanti aku duduk di belakang aja. " Ucap Rendi lalu naik dibagian belakang dan duduk disamping Fandi.


Setelah semuanya sudah beres, mobil pun berjalan menuju ke tempat tujuan.


____________________


Mobil yang kami kendarai akhirnya masuk ke sebuah tempat persinggahan sebelum mendaki gunung. Ada beberapa warung lesehan ditempat itu dan sudah banyak manusia yang mondar mandir ditempat tersebut.


Saat turun dari mobil, aku menggunakan kacamata hitam. Biar kelihatan gaul, hehe. Tapi banyak mata yang tertuju padaku, namun aku cuek saja. Hingga saat duduk di salah satu warung, terdengar ada yang bisik-bisik tetangga. Ah, rupanya mereka yang dulunya merasa gengknya paling wow disekolahan.


"Rendi, kita kesana dulu yuk! " tiba-tiba terdengar suara Gladys merayu adik iparku. Huu, menyebalkan.


"Makasih, kak.. aku mau makan dulu, soalnya belum makan dari rumah karena buru-buru. " Ucap Rendi lalu duduk berhadapan dengan ku.


Aku mengulum senyum, ternyata Rendi menjaga perasaan ku. Bisa terlihat Gladys juga ikutan duduk disampingku. Aduh, gak peka amat sih sahabatku yang satu ini? padahal udah beberapa kali ditolak oleh Rendi masih saja kecentilan.


"Gladys... " teriak salah satu wanita memanggil nama sahabatku sehingga aku ikut menoleh kearah suara yang memanggil tersebut.


"Iya, aku diundang oleh Riko untuk hadir di acara reuni akbar sekolah kalian. " Ucap Anggun lalu cipika cipiki dengan sahabatku.


Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba Anggun menatap kearah adik iparku. Dari tatapannya, jangan-jangan dia terpesona lagi dengan ketampanan adik iparku itu.


"Eh, kamu kan adiknya mas Rangga kan? " ucap Anggun membuatku terkejut.


"Oh, iya kak..aku adiknya bang Rangga. Emang kakak kenal kepada abangku?" ucap Rendi sambil mengulas senyumnya kepada wanita itu.


"Hehe, iya kenal. Mungkin kamu sudah lupa padaku, tapi aku masih ingat betul dengan wajahmu. Dulu aku pernah dekat dengan abangmu itu, bahkan sering main kerumah mu. Hanya saja belum jodoh dengannya. Hehe. " Ucap Anggun membuatku sadar,berarti wanita ini yang bermadu kasih dengan mas Rangga di hotel tempo hari.


"Oh, tapi maaf aku sudah lupa. Soalnya mantan abangku itu teramat banyak. " Ucap Rendi cengengesan.


"Aku kesana dulu yah, nanti kita ngobrol lagi kapan-kapan. " Ucap Anggun kepada Gladys dan saat melihat kearah adik iparku, wanita itu buang muka lalu pergi begitu saja.


Pasti dia kesal karena adik iparku tersebut tidak mengenalnya. Mungkin juga tersinggung dengan perkataan Rendi. Entahlah.

__ADS_1


Karena semua sudah berkumpul, kami pun dibagi menjadi beberapa kelompok. Ternyata sebelum kami datang tadi, suda ada beberapa kelompok yang mendaki duluan. Mungkin sudah sampai di tempat perkemahan.


_____________


Akhirnya sampai juga di perkemahan dengan selamat walaupun badan terasa lelah. Ternyata tempatnya begitu luas, sehingga bisa menampung sekitar 200 orang lebih. Kami pun mendirikan tenda, dan setiap tenda diisi oleh lima orang.


Saat berjalan untuk berkeliling, tanpa sengaja mata ini melihat sosok pria yang sangat familiar. Ah, itu benar mas Rangga. Ngapain dia ada disini juga? lalu ada seorang wanita yang mendekatinya membuatku makin syok. Kok adik perempuan ku juga ada disini?


"Kak, mereka juga ada disini. Siapa yang mengundang bang Rangga dan Reni yah? " ucap Rendi membuatku kaget aja karena datang secara mendadak.


"Sekarang kita pergi dari sini, dan usahakan jangan sampai mereka melihat kita berdua. " Ucapku lalu membalikan badan untuk kembali ke tenda.


Baru juga mau melangkahkan kaki, tiba-tiba ada yang memanggil namaku. Ah, ternyata mas Rangga telah menyadari keberadaan ku. Namun aku tak mau menoleh kearahnya, dan kembali melangkah pergi.


"Hei pengkhianat! ternyata kamu ada disini juga. Bagaimana rasanya berbagi peluh dengan adik ipar sendiri? wah, hebat yah berselingkuh dengan bocah ingusan. " Teriak mas Rangga membuatku malu karena semua mata tertuju kepadaku.


Tubuh ini bergetar hebat, hari ini aku bernasib sial. Padahal tujuanku datang kesini untuk menghindari mas Rangga. Namun ternyata malah ketemu dia ditempat ini dan dengan teganya mempermalukan aku di hadapan orang banyak.


Seandainya aku bisa menelpon doraemon, akan ku pinjam pintu ajaibnya agar diriku bisa pergi dari tempat ini sekarang juga.


"Benarkah yang diucapkan lelaki itu? apakah kamu punya hubungan terlarang dengan adik iparmu sendiri? " terdengar Gladys bertanya kepadaku perihal perkataan mas Rangga barusan.


"Iyalah benar, aku itu suami sah nya. Namun dia tega mengkhianati ku. Mungkin dirinya doyan berondong kali, ditambah punyanya kegatelan, makanya adik ipar sendiri disosor. Dasar wanita murahan. " Ucap mas Rangga menusuk relung hatiku.


Sungguh mendengar kalimat mas Rangga yang telah mempermalukan diriku, aku tak bisa menggerakan tubuhku sedikit pun. Aku berdiri seperti patung, dan air mataku mengalir membasahi pipi ini.


Hingga akhirnya aku mendengar suara keributan. Rendi bergulat dengan abangnya sendiri. Sungguh aku malu sekali. Keduanya terlihat babak belur, untung saja mereka berdua dapat dipisahkan.


Lalu adik iparku tersebut menghampiri ku dan menarik lenganku. Kemudian menggenggam tanganku erat-erat.


"Ayo, kita pulang saja! jangan dengarkan omongan orang-orang yang menghujat kita berdua. Anggaplah ini sebuah cobaan, sekarang tenangkan hati dan pikiran, kita pasti bisa melewati ini bersama. " Ucap Rendi membuatku mengangguk.


"Idih, dasar tak tau malu. Kalau mau selingkuh, cari lelaki lain di luar sana. Ini malah adik suami yang diembat.Kalau ibu dan bapak tau kelakuan kakak, haduu gak tau deh nasib kakak selanjutnya." Ucap Reni membuatku syok.


"Diam kamu, Reni! mungkin kamu yang akan membuat malu kedua orang tuamu. Hamil tapi tak tau siapa ayahnya. " Ucap Rendi membuatku makin syok.


Reni hamil? mendengar hal itu aku langsung berlari kearah adikku dan menanyakan tentang kebenarannya. Namun dia malah mendorong ku hingga diriku terjerembab ditanah.

__ADS_1


"Jangan sok tau kamu, Rendi. Siapa bilang aku hamil hah?dasar fitnah. " Ucap Reni lalu pergi begitu saja.


__ADS_2