![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Setelah para tamu pamit untuk pergi, ibu mertua menyuruh kami untuk menginap saja karena hari sudah semakin larut. Namun Mas Rangga menolak dengan alasan masih ada sesuatu yang harus dikerjakan saat tiba dirumah pribadinya nanti.
Dalam hati aku yakin pasti Mas Rangga tak mau menginap karena mengingat di rumah sudah ada Reni yang sedang menunggu. Baguslah, jadi diriku tak perlu untuk melayaninya malam ini. Jujur saja, diri ini merasa jijik jika bermadu kasih lagi dengannya.
Akhirnya setelah kami tiba dirumah, terlihat Reni sedang duduk dikursi teras rumah dengan wajahnya yang ditekuk. Sungguh senang hatiku melihat wajahnya yang seperti itu. Saat Mas Rangga turun dari mobil, Reni pun menghampiri sambil marah-marah gak jelas.
"Sayang, kok kamu lama amat sih perginya? aku sudah lama menunggu, sampai badanku kedinginan, dan para nyamuk-nyamuk telah kenyang mengisap darahku. Kalau aku sakit, gimana? " ucap Reni membuatku terkekeh.
"Bukannya kunci cadangan ada sama kamu? " tanya Mas Rangga mengusap rambut tuan putri itu. Tapi maaf yah, aku sedikitpun tak cemburu melihatnya.
"Itu dia masalahnya, kunci cadangan itu ada didalam kamar kita dan aku lupa untuk membawanya. Lagian, ini semua salah kak Renata juga tuh, tau-tau diriku gak ikut serta dengan kalian, bukannya menaruh kunci rumah ditempat biasanya. " Ucap Reni menyalahkan diriku.
Mendengar hal itu, aku segera membuka pintu rumah dan masuk begitu saja tanpa mau mendengarkan ocehan Reni yang menurutku sangatlah lebay. Dipikirnya, aku akan merasa iri dan cemburu melihat Mas Rangga memperlakukan nya dengan mesra.
Aku masuk kedalam kamarku lalu menghempaskan tubuhku diatas kasur karena merasa lelah. Bukan lelah karena perjalanan tadi, melainkan pikiranku lah yang merasa lelah.Perkataan ibu mertuaku tadi masih terngiang-ngiang dikepala, apakah memang aku harus melupakan Rendi?
Tiba-tiba saja Mas Rangga masuk kedalam kamar lalu menghampiriku dan ikut berbaring tepat disampingku. Dalam hati aku berkata, pasti dia mau meminta jatah padaku.
"Sayang, malam ini giliran kamu yang harus melayani ku! " ucap Mas Rangga membuatku menahan nafas.
"Hmmm, baiklah aku akan sepenuh hati melayani mu, Mas. " Ucapku yang sebenarnya tak bersungguh-sungguh.
"Sekarang, ayo kita mandi bareng! sudah lama aku merindukan hal itu. " Ucap Mas Rangga lagi lalu menarik ku masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Diriku berusaha terlihat bersungguh-sungguh melayaninya. Sebenarnya aku juga sangat ingin disentuh, karena sebagai wanita normal pasti akan merasakan hal tersebut. Seandainya aku bisa bertemu dengan Rendi pasti kami akan melakukannya hingga kami merasa puas.
Saat bermadu kasih dengan Mas Rangga, aku memejamkan mataku dan membayangkan kalau saat ini Rendi lah yang sedang melakukannya. Entah mengapa tiba-tiba perutku terasa sakit saat Mas Rangga menghujam terlalu dalam. Namun untung saja rasa sakit itu bisa kutahan, agar ritual percintaannya cepat berakhir.
Saat mencapai puncak, aku membayangkan wajah adik iparku. Agh, aku sungguh merindukannya. Terlihat Mas Rangga terbaring lemas disampingku. Untung saja, dia tak seperti Rendi yang melakukannya hingga beberapa ronde. Dari dulu memang Mas Rangga hanya bertahan satu ronde saja.Dan itu pun tak memakan waktu yang lama.Upsss, maafkan aku,Mas sudah membuka kartumu.
"Sayang, aku sangat mencintaimu." Ucap Mas Rangga lalu tak lama terdengar dengkuran halus menandakan bahwa dirinya telah terlelap.
Sebagai istri yang baik, aku memakaikan baju tidur ditubuhnya agar dirinya tak merasa kedinginan akibat bertelanjang bulat seperti itu. Setelah itu, aku mematikan lampu dan mencoba untuk memejamkan mata.
________________________
Seperti biasanya aku bangun dari tidurku, dan ternyata disampingku sudah tak kudapatkan keberadaan Mas Rangga. Pasti dia sekarang sedang berada dikamar mandi atau pindah kekamar lantai atas untuk bersiap berangkat kekantor. Bergegas aku masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi, kemudian menuju kearah dapur untuk menyiapkan sarapan.
Saat tiba di ruang dapur, tanpa sengaja aku mendengar suara Reni yang sedang mengobrol dengan seseorang melaui telepon. Dia tak menyadari keberadaan ku karena dengan cepat aku bersembunyi dibalik tembok untuk menguping pembicaraan nya tesebut.
Entah dirinya mengobrol dengan siapa, dan wanita yang dimaksud itu aku juga masih penasaran, sehingga aku terus menguping pembicaraannya.
"Iya, aku ingin memusnahkan wanita itu agar hidupku tak terganggu lagi. Kamu sudah dapatkan alamatnya kan? kalau wanita itu mati, suaminya bisa kujadikan alat untuk membuat hidupku bahagia. " Ucap Reni lagi sambil tertawa kecil.
Aku belum menemukan titik terang tentang wanita yang dimaksud oleh adik perempuan ku itu. Yang jelas wanita itu bukan diriku, dan itu membuatku sedikit lega. Karena aku takut jika Reni merencanakan hal buruk untuk diriku. Dia sekarang seperti Mas Rangga yang berjiwa psikopat.
Baru saja aku ingin melanjutkan untuk mendengarkan obrolan itu, tiba-tiba saja Mas Rangga terdengar menuruni anak tangga, dan itu membuat Reni tersadar hingga dia berpamitan kepada lawan bicaranya ditelepon tersebut.
__ADS_1
Aku pun juga dengan santainya langsung memasuki ruangan dapur dan bersikap seolah-olah tak mendengarkan apa-apa. Melihat kedatangan ku yang mendadak membuat Reni terlihat panik.
"Sejak kapan kakak berada disini? " tanyanya membuatku seperti seorang yang kebingungan.
"Kenapa kamu panik seperti itu, Re? aku juga baru kesini untuk menyiapkan sarapan. " Ucapku lalu membuka kulkas.
"Ada apa ini, kok kalian ribut-ribut sih? kayak pasar aja deh. " Ucap Mas Rangga membuatku mengedikkan bahu.
"Gak tau tuh sih Reni, pertanyaan nya aneh." Ucapku sambil tertawa kecil dengan tingkah Reni.
"Sayang, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, ayo kita sarapan bersama. " Ucap Reni yang menurutku mengalihkan pembicaraan.
Sudah hal biasa setelah Reni tinggal seatap dengan kami, dia yang selalu menyiapkan sarapan untuk Mas Rangga. Dan aku membuat sarapan untuk diriku sendiri. Tapi yah, baguslah jadi aku tak perlu repot-repot lagi. Setelah sarapan, Mas Rangga berangkat ke kantor sedangkan tuan putri setelah mengganti pakaiannya, pergi entah kemana.
Kini saatnya aku beraksi untuk menelpon adik iparku. Sungguh aku sudah tak sabar ingin mendengarkan penjelasannya yang tak memberitahu bahwa dia dan istrinya sudah pindah diluar kota. Setelah mencuci piring bekas sarapan, aku mengunci pintu depan lalu bergegas masuk kedalam kamar.
Kuambil ponselku lalu ku aktifkan. Setelah menunggu beberapa saat, aku pun memencet nomor Rendi lalu menelponnya. Sekali dua kali dia tak kunjung mengangkat telepon dariku. Apakah dia sedang sibuk? namun aku mencoba untuk yang terakhir kalinya, jika dia tak mengangkatnya juga, berarti memang dirinya tak bisa diganggu.
Beruntung telepon dariku langsung tersambung,
"Hallo, apa kamu sedang sibuk? " tanyaku ketika mendengar suaranya.
"Maaf, kak.. saat ini aku ingin mengurus Shania dulu. Tolong jangan menelpon ku lagi. " Ucap Rendi lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.
__ADS_1
Mendengar ucapannya membuat hati ku bagai tersambar petir. Berarti apa yang dikatakan oleh ibu mertuaku sungguh benar adanya. Mengapa diriku harus berharap banyak kepadanya? sungguh air mataku tak dapat kutahan, aku menangis sejadi-jadinya karena kini harapanku untuk hidup bahagia dengan Rendi,pupus sudah.
Apa yang harus kulakukan kini? mungkinkah aku menuruti perkataan ibu mertua untuk membuka kembali hatiku pada Mas Rangga? tak semudah itu, karena rasa cintaku kini sudah hilang untuknya. Entah sampai kapan aku harus terkurung dalam belenggu Mas Rangga, aku hanya ingin terbebas dan hidup bahagia. Tapi mungkin kebahagiaan itu tak berpihak kepadaku.