![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Malam itu juga aku menuju ke stasiun kereta. Untuk pulang kerumah orangtuaku aku memilih untuk naik kereta saja. Sepanjang perjalanan, aku memijiti keningku yang terasa sakit. Agh, menerima kenyataan ini membuat seluruh badanku terasa sakit saja.
Dua jam perjalanan ku menaiki kereta dan akhirnya diriku sampai juga ke kotaku. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghela nya. Saat nanti tiba dirumah, aku harus bersikap biasa saja dulu dan tak boleh menunjukkan kesedihan. Biarlah aku mencari caranya dulu untuk menjelaskan semuanya kepada orang tuaku secara perlahan.
Sebelum memutuskan balik kerumahku,aku mampir sebentar di sebuah kafe. Perutku tiba-tiba terasa lapar saja. Namun, entah mengapa aku malah ingin meminum jus lemon. Padahal selama ini diriku paling tak suka jus yang rasanya asam seperti itu. Jangankan jus, semua makanan yang rasanya asam dilidah membuatku bergidik ngilu kalau melihat ada yang memakannya.
Tapi dari kemarin, aku malah doyan makan yang asam-asam. Karena merasa penasaran, akhirnya setelah mendapatkan jus lemon nya, aku mampir di apotik untuk membeli tes kehamilan. Kita tunggu besok pagi untuk mengeceknya. Agh, semoga saja hasilnya negatif. Dalam rumah tangga ku yang diujung tanduk ini, aku belum siap untuk hamil.
Bukannya tak bersyukur telah diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa, hanya saja jika kalian juga di posisiku saat ini akan berharap hal yang sama bukan? setelah membeli tes kehamilan tersebut, akupun menuju kerumahku diantar oleh tukang ojek pengkolan.
Akhirnya, aku pun tiba dirumahku dengan penuh selamat. ku bayar ongkos pada tukang ojek itu lalu segera mengetuk pintu rumah orang tuaku tersebut. Ada rasa deg-degan saat pintu itu dibuka oleh ibuku. Ayolah, Renata! perlihatkan senyummu dan jangan dulu menunjukan ekspresi kesedihanmu! hati kecilku mulai menyemangati diriku sendiri.
"Kejutan... " Ucapku membuat ibu merasa bahagia saat melihatku.
"Renata.. aduh anak kesayangan ibu, ayo sini masuk! oya, kamu datang sendirian? " ucap Ibu celingukan mencari disekitar luar rumah.
"Iya, aku datang sendiri, bu. Mas Rangga lagi diluar kota soalnya." Ucapku berbohong.
Saat kami masuk kedalam ruang keluarga, terlihat bapak sedang menonton siaran langsung sepakbola. Gak perlu heran, kalau beliau tak menyambut kedatangan ku ini. Beliau kalau lagi serius seperti itu, tak boleh diganggu gugat. Barulah ketika acaranya berakhir, bapak memperlihatkan senyumnya dan merasa bahagia melihat kedatangan ku yang katanya sangat mendadak.
"Lah, adikmu sama siapa dong disana? bukannya dia tinggal bareng kamu, nak? " tanya bapak mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
"Iya, nak.. soalnya tadi dia nelpon dan kami juga sempat ngobrol dengan suamimu. Katanya, kamu lagi keluar membeli sesuatu di supermarket. Tapi, kenapa kamu bilang tadi pada ibu kalau suamimu lagi keluar kota, nak? " tanya Ibu merasa bingung.
"Jangan bilang, rumah tanggamu sedang tidak baik-baik saja? mengapa kamu tak mengajak Reni serta untuk pulang bersamamu? gak boleh loh suamimu ditinggal bersama dengan wanita lain dirumah walaupun itu adikmu sendiri. Pamali, nak. " Ucap Bapak menasehati ku.
Aku mencoba untuk menenangkan diri, lalu bersiap untuk mengatakan semuanya kepada mereka malam ini juga. Belum sempat aku menjelaskan, tiba-tiba kepalaku terasa pusing hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.
_______________________
Saat aku terbangun, ternyata diriku sudah berada dirumah sakit. Ditanganku sudah terpasang selang infus. Entah sudah berapa lama diriku tak sadarkan diri, sampai-sampai disampingku sudah ada Rendi yang menemani ku di ruangan ini. Jelas aku sangat terkejut dengan kehadirannya. Kemana orang tuaku? apakah semalam itu aku hanya bermimpi pulang kerumah dan bertemu dengan orang tuaku?
"Syukurlah, kakak sudah siuman. Nanti aku panggilkan dokter dulu! " Ucap Rendi lalu bergegas keluar dari ruangan ini.
Tak berapa lama, dia kembali bersama seorang dokter dan dua orang suster. Dokter memeriksa keadaanku lalu menyuruh suster untuk mengganti obat infus. Setelah selesai, dokter tersebut menyuruhku untuk banyak istirahat.
"Nanti, suami mbak ini saja yang menjelaskan yah! saran dari saya, setelah keluar dari sini, jangan terlalu banyak pikiran dan istirahatlah yang cukup. " Ucap Dokter itu sambil tersenyum ramah lalu pergi meninggalkan ruangan ini.
Aku menoleh kearah adik ipar ku dan meminta penjelasannya. Lagipula kenapa bisa dokter itu menyebut Rendi sebagai suamiku? pasti ini akal-akalan bocah tengil itu ngaku-ngaku sebagai suamiku. Terus, darimana dia tau kalau aku ada disini?
Rendi tersenyum kearahku lalu mengelus pipi ini dengan lembut. Aku mencoba untuk menghindar, namun sangat sulit. Hingga tiba-tiba, ibu dan bapak masuk kedalam dan melihat aksi adik ipar ku tersebut.
Diriku merasa panik, takut mereka curiga. Tapi mereka seperti biasa saja melihat aksi Rendi tersebut. Bahkan saat melihat orang tuaku pun, Rendi masih saja mengelus pipi ini. Ada apa ini sebenarnya? apa aku masih dialam mimpi? tak mungkin dong, ibu dan bapak membiarkan Rendi memperlakukan aku seperti istrinya?
__ADS_1
"Renata..ibu dan bapak kecewa kepadamu!mengapa kamu tega mengkhianati suamimu sendiri?kamu telah melakukan dosa besar karena telah melakukan hubungan terlarang dengan adik ipar mu sendiri. " Ucap Ibu membuatku syok.
"Pak.. Bu.. maafkan atas semua kesalahan yang telah kulakukan. Tapi ini ada alasannya, dan aku memilih pulang kerumah ingin membicarakan hal ini. Tapi, belum sempat aku berbicara, aku malah berakhir ditempat ini. Sebenarnya, aku__"
"Sudahlah, Renata.. tak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kamu sudah membuat keluarga malu. Setelah keluar dari sini, silahkan kamu pergi kemanapun kamu mau, dan jangan menginjakkan kakimu lagi dirumah kami. " Ucap bapak dengan amarahnya.
"Pak, jangan usir anak kita dari rumah. Apalagi dia dalam keadaan hamil seperti ini, tolong maafkan kesalahan anak kita, pak! " ucap Ibu memohon sambil berlutut di hadapan Bapak.
Ingin rasanya aku berlari dan mengangkat tubuh ibuku agar tak berlutut dihadapan bapak karena demi diriku ini, namun apa daya, aku tak mempunyai tenaga. Entah mengapa diriku terasa lemas seperti ini. Mungkin karena pengaruh kehamilan ini? entahlah.
"Pak, ini bukan sepenuhnya salahku. Aku melakukan hal ini karena suamiku yang awalnya mengkhianati ku. " Ucapku pada akhirnya.
"Bukan berarti kamu membalasnya dengan cara yang sama kan? harusnya kamu sebagai istri yang mencari cara agar suami betah tinggal dirumah dan tidak bermain wanita diluar sana. " Bentak bapak selalu menyalahkan diriku.
"Dia berselingkuh dengan anak kesayangan bapak. Sekarang aku ingin lihat, gimana reaksi bapak saat tau Reni yang telah menusukku dari belakang? dia wanita ****** dan yang patut disalahkan, bukan diriku. " Ucapku sedikit berteriak.
Terlihat bapak memegangi dadanya. Sebenarnya aku tak ingin mengatakan semuanya secara mendadak, namun diriku merasa sakit hati karena selalu salah dimata bapak. Tanpa mau mendengarkan dulu penjelasan dariku, beliau malah mengeluarkan kata-kata yang tak enak didengar oleh telinga bahkan sampai tega mengusir ku dari rumah.
Kini setelah tau, anak kesayangan nya yang menyebabkan semuanya ini, apakah beliau masih ingin menyalahkan ku?
"Makanya, kalau tak mau suami kepincut pada Reni, harusnya kamu bisa belajar dari dirinya yang pandai mengambil hati dan mungkin kamu saja yang gak becus mengurus suamimu sendiri. " Ucap bapak masih saja menyalahkan ku.
__ADS_1
Bukan maen, saat tau kesalahan anak kesayangannya, bapak bahkan masih membelanya. Apakah aku ini bukan anak kandung bapak? dari dulu diriku ini tak pernah benar dimatanya.