![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
POV Rendi
______________________
Untung saja, Akbar cepat datang untuk membawa pergi Renata ketempat yang aman. Aku juga sudah menyuruh Akbar untuk membawanya sementara waktu di perumahan yang baru saja kubeli. Yah, dua bulan yang lalu aku membeli rumah di sebuah perumahan elit untuk kujadikan tempat tinggal ku nanti bersama Renata.
Aku sangat yakin, bisa menikahi wanita yang kucintai itu dan bisa hidup dengan bahagia. Apalagi Renata sedang hamil anak aku. Diriku sudah tak sabar menantikan momen saat menjadi seorang ayah nantinya. Hanya saja saat ini masih mencari cara agar mendapatkan restu dari orangtua kami masing-masing.
Ditambah lagi, kami berdua masih terikat dengan pasangan kami masing-masing. Jadi masih sulit rasanya untuk bisa segera menyatukan hubungan kami di jenjang pernikahan. Namun kupastikan, akan ada saatnya hari bahagia itu akan terwujud. Tinggal menunggu waktunya saja.
"Sayang.. mengapa kamu membiarkan wanita itu kabur begitu saja? kamu harus sadar, seharusnya kamu menyerahkan dia kembali pada suaminya. Untuk apa kamu menyembunyikannya? sudah berulang kali aku katakan, kalian tidak akan pernah bersatu. Tolonglah, cintai aku dan buatlah rumah tangga kita bahagia! "Ucap Shania memohon kepadaku.
" Maaf Shania.. aku tak bisa mencintaimu. Seharusnya kamu tak memaksakan diri untuk menikah denganku. Akhirnya, kamu yang menderita sendiri jadinya. "Ucapku lalu ingin melangkah pergi meninggalkan nya.
"Lihat saja, aku bisa membuatmu bertekuk lutut dihadapanku. Ingat, kalau kamu meninggalkan diriku, siap-siap saja masuk penjara. Kamu tak lupa kan kejadian saat itu yang membuat ibu dari sahabat karibmu meninggal? agh, sepertinya dia belum tau yang sebenarnya. Karena melihat dirinya yang masih mau menolongmu. "Ucap Shania mengancamku.
Selalu saja dia mengancamku seperti itu. Padahal dia tau sendiri yang menyetir mobil saat itu adalah dirinya sendiri. Mengapa seolah-olah aku yang salah disini? tapi aku tak mau persahabatan ku dengan Akbar akan hancur berantakan gara-gara peristiwa yang tak disengaja itu.
Saat itu saat diriku mengantar Shania pulang kerumahnya, dia meminta agar dirinya yang menyetir. Dengan bodohnya aku malah setuju saja dengan permintaannya itu. Hingga tanpa sengaja mobil yang kami tumpangi menabrak seorang wanita paruh baya.
Aku keluar untuk memeriksa keadaan ibu paruh baya tersebut. Alangkah terkejutnya saat mengetahui kalau beliau adalah ibu dari sahabat karibku,Akbar.Sepertinya lukanya cukup parah, sehingga membuatku panik. Waktu itu aku hendak membawanya ke rumah sakit, namun Shania memaksaku untuk meninggalkan ibu dari sahabat ku itu mumpung keadaan jalan sangat sepi.
"Shania.. ayo kita bawa ibu itu kerumah sakit! " ucapku kala itu dengan keadaan yang sangat panik.
__ADS_1
"Jangan bodoh kamu.. emang kamu mau masuk penjara? ayo, kita pergi dari sini sebelum ada yang melihat kita. " Ucap Shania sehingga karena takut masuk penjara, aku pun menuruti keinginannya.
"Maafkan aku, Akbar.. aku tak ingin masuk kedalam penjara. Semoga saja ibumu masih bisa diselamatkan. Semoga saja saat ini sudah ada yang mengantar beliau kerumah sakit. " Ucapku sambil berdoa agar ibu dari sahabatku itu bisa diselamatkan oleh dokter.
"Apa kamu mengenal ibu-ibu itu? " tanya Shania penasaran.
Aku pun mengangguk dan mengatakan bahwa ibu-ibu yang ditabrak olehnya tadi adalah ibu dari sahabat karibku. Dari peristiwa itulah dan semenjak dia mengetahui kalau yang ditabrak itu adalah ibu dari sahabat karibku, dirinya mulai mengancamku. Sehingga mau tak mau, aku pun menerima untuk menikahinya. Jujur saja, aku benar-benar takut jika sahabatku tau bahwa diriku yang menyebabkan kematian dari ibunya.
Karena tak mau Akbar mengetahui akan hal tersebut, aku pun kembali pulang kerumah orangtuaku bersama Shania. Sesampai dirumah, ternyata sudah ada bang Rangga yang menunggu diruang keluarga. Dari tatapannya, aku sangat tahu kalau dirinya sedang menahan amarah yang begitu besar.
Namun aku mencoba untuk tidak peduli dengan tatapan marahnya itu dan memilih masuk kedalam kamar. Saat menaiki anak tangga, terdengar bang Rangga mengucapkan satu kalimat,
"Kalau kamu tak membawa Renata dihadapan ku, jangan salahkan aku jika aku bertindak kasar. Aku akan berusaha mencarinya dan saat kutemukan, aku akan membawakan mayatnya dihadapan mu. " ucap bang Rangga namun diriku tetap melangkah dan masuk kedalam kamarku.
Aku sangat frustasi memikirkan semuanya. Jika menyerahkan kak Renata kembali pada bang Rangga, takutnya akan terjadi hal buruk. Apalagi kondisinya yang sedang hamil, aku tak mau dia kenapa-napa. Aku rela mati asalkan kak Renata bisa terbebas dari bang Rangga.
"Sayang, lebih baik kamu serahkan Renata kepada bang Rangga. Lagipula bang Rangga berhak atas istrinya itu." Ucap Shania saat menghampiriku didalam kamar.
Aku tak menanggapi ucapan wanita itu, lalu hingga akhirnya, aku pun membaringkan tubuhku untuk tidur sejenak. Semoga saja setelah bangun nanti, aku bisa menemukan solusinya.
_____________________
Keesokan paginya aku terbangun dari tidurku. Ternyata bisa juga aku tidur dengan nyenyak. Kulihat disamping, ternyata Shania sudah tak ada. Hingga akhirnya, aku pun turun kebawah untuk sarapan. Ternyata semuanya sudah pada ngumpul. Ada bapak dan ibu juga, membuatku menyapa mereka semua sambil memperlihatkan senyumku.
__ADS_1
"Rendi.. apa benar kamu yang membawa kabur istri abangmu? " tanya bapak membuatku bingung untuk menjawabnya.
"Jangan sembarangan nuduh gitu dong, pak. Suamiku ini mana mungkin membawa kabur istri abangnya sendiri? mungkin saja kak Renata kabur bersama lelaki lain? " ucap Shania membela diriku.
"Iya Pak, mana mungkin adik kandungku tega pada abangnya sendiri. " Ucap bang Rangga sambil memperlihatkan senyum sinis nya padaku.
"Ibu juga percaya kok, kalau Rendi itu tak ada sangkut pautnya dengan hilangnya Renata. Mungkin istri dari Rangga itu, ingin menyendiri dulu dan nanti juga akan kembali dengan sendirinya. " Ucap Ibu lalu menyuruhku untuk duduk dan menikmati sarapan.
Mendengar semua ucapan itu, membuat bapak manggut-manggut saja. Lalu memberi nasehat kepadaku agar selalu berbahagia dengan Shania.
"Kamu kalau ada masalah dalam rumah tanggamu, bicarakan baik-baik agar tak seperti menantu bapak yang satu itu yang kalau ada masalah, bukannya diselesaikan dengan baik,malah pake kabur segala dari rumah.Itu pertanda bahwa dirinya belum bersikap dewasa. " Ucap bapak yang ditujukan kepada Shania.
Agh, bapak belum tau saja mengapa menantunya itu sampai kabur dari rumah ini. Ingin rasanya aku menjelaskan tentang semua yang dilakukan oleh bang Rangga terhadap Kak Renata, namun lagi-lagi aku takut dengan ancaman yang diberikannya kepadaku. Seandainya bisa, aku akan membuat bang Rangga dan Shania mengalami amnesia untuk selama-lamanya agar permasalahan ini cepat berakhir dan aku serta kak Renata bisa hidup dengan bahagia.
Mereka masih saja mengungkit tentang keburukan kak Renata, namun aku hanya diam saja sambil menahan amarah karena mereka sudah menjelekkan nama wanita yang kucintai. Aku hanya bisa menahan semua amarah itu, dan tak bisa menunjukkan nya karena pada saat ini aku tak punya kekuatan untuk membalas dan membuat bang Rangga dan Shania menerima penderitaan atas perbuatan mereka.
Setelah selesai sarapan, hanya tersisa diriku dan bang Rangga yang masih duduk diruang makan. Awalnya, kami tak saling mengobrol. Hingga tiba-tiba saja, bang Rangga menunjukan sesuatu kepadaku yang membuat diriku sangat terkejut.
Dia memperlihatkan kepadaku rekaman video dimana Renata disekap disuatu tempat. Dalam video itu juga, Renata terlihat sangat lemah dan airmata nya mengalir membasahi pipinya. Mulutnya juga tersumpal dengan kain. Dirinya juga terikat dengan kuat di sebuah kursi. Aku bisa merasakan penderitaan yang dia alami sekarang.
"Bang Rangga.. tolong bebaskan kak Renata sekarang juga! apa abang gak kasihan padanya yang tengah berbadan dua? kehamilannya sangat rentan, tolong kasihani dia. " Ucapku lalu bersimpuh di kakinya.
"Hahaha.. kasihan padanya? bukannya dia hamil anak kamu? aku tak punya rasa kasihan pada wanita seperti dia. Kalau ingin menyelamatkan dirinya, kamu turuti semua perintah ku. Bagaimana, Deal? " ucap bang Rangga lalu tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1