Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
mengunjungi rumah PELANGI lagi


__ADS_3

Keesokan harinya, aku terbangun dari mimpi indahku. Namun entah mengapa rasanya badanku terasa lemas dan kepalaku terasa sangat berat. Apa mungkin pengaruh semalam habis digempur oleh adik iparku? agh, sungguh bodohnya aku yang ikut terlena hingga menghabiskan tiga ronde bersamanya.


Diriku meraih ponsel yang ada dibawah bantal, lalu mencoba untuk menghubungi adik iparku. Sepertinya aku ingin meminta pertanggung jawaban atas apa yang dilakukannya semalam padaku. Tapi terlintas dipikiranku, mungkin saat ini dia sedang bersama dengan istrinya. Kalau aku menelpon dirinya, pasti Shania akan curiga dan pada akhirnya akan tau tentang keberadaan ku.


Tapi, kalau aku tidak menelponnya, gimana caranya aku bangun dari kasur ini? rasanya sulit untuk menggerakan tubuhku. Apalagi, aku ingin membuat sarapan untuk diriku sendiri. Ah, gimana caranya yah? saat tengah sibuk memikirkan solusi untuk diriku sendiri, terdengar pintu depan terbuka. Apakah itu Rendi?


Terdengar suara langkah kaki menghampiri kamar tempatku berada, saat pintu kamar itu dibuka dari luar, benar saja ternyata yang datang adalah adik iparku. Ditangannya sudah membawa makanan sepertinya itu bubur ayam.


"Sekarang sarapan dulu yah, nyonya besar! "


"Wah, so sweet amat sih. Oyah, gimana semalam, apa Shania tidak curiga kepadamu? " tanyaku penasaran.


"Tenang saja, semuanya aman terkendali. Semalam juga kami menginap dirumah ibu, dan diriku bertemu dengan mas Rangga juga. Tapi kayaknya dia biasa saja dan tak menanyakan tentang kamu kepadaku. "


"Oh, baguslah kalau begitu. Semoga saja, mas Rangga tak mengetahui keberadaanku. Terus masalah perawat yang akan membantu ku, apa kamu udah menanyakannya pada mbok Ijah? "


"Sudah beres. Nanti siang orang yang direkomendasikan oleh mbok Ijah mulai bekerja untuk merawatmu. Kata mbok Ijah sih, dia masih muda dan merupakan keponakan mbok Ijah sendiri. "


"Oh, seperti itu. Semoga saja wanita itu cocok untuk merawat ku selama kehamilan ku ini. "


Karena perut juga terasa lapar, aku mencoba untuk memakan bubur ayam yang dibawakan oleh adik iparku tersebut. Untung saja bisa kemakan olehku, kan kalau biasanya, langsung dimuntahkan kembali karena yang didalam perut sangat rewel dan milih-milih makanan.


Aku juga heran dengan tubuhku,yang tadi sangatlah sulit untuk ku gerakan. Tapi, entah mengapa setelah bertemu dengan adik iparku, rasanya diriku langsung sehat kembali dan rasa lemas tadi mendadak hilang. Saat aku bangkit berdiri untuk mencuci muka, tiba-tiba adik ipar ku menarik tanganku hingga aku menghadap kearahnya.

__ADS_1


Posisinya saat itu dia masih duduk diatas kasur dan aku sedang berdiri menghadapnya. Dengan lembut dia mengusap perutku yang masih rata ini lalu menciumnya dengan mesra. Lebih anehnya, dia malah mengajak ngobrol perutku.


"Bertumbuh lah dengan sehat yah, kamu di dalam sana. Biar saat waktunya tiba nanti, bisa bertemu dengan mama dan papa didunia ini. " Ucapnya sambil mengelus-elus perutku dengan lembut.


"Iya kali dia bisa dengar omonganmu. Saat ini janin yang di perutku baru berbentuk gumpalan sebesar kacang polong. Kalau mau ajak bicara itu kalau perutku udah terlihat membesar. Ini masih rata tau. " Ucapku merasa lucu dengan tingkah konyolnya itu.


"Kali aja dia sudah bisa mendengar omonganku. Iya kan sayang? " ucapnya terus mengoceh pada perutku.


Aku memutar bola mata malas, suka-suka mu lah yang penting buatmu bahagia. Setelah puas mengobrol dengan perutku, akhirnya dia mau melepasku juga. Sehingga aku buru-buru masuk kedalam kamar mandi, hehe kebelet soalnya.


Hari ini katanya adik ipar ku itu akan menemaniku seharian full. Ingin rasanya aku jalan-jalan ke mall untuk sekedar mencuci mata. Tapi takutnya, ketahuan oleh mas Rangga atau Shania. Kalau berdiam diri di tempat ini membuatku bosan saja.


"Aku tau kamu lagi kepengen jalan-jalan kan? ayo, aku akan menuruti keinginanmu itu! " ucapnya, tau aja dengan isi pikiranku.


"Tapi, kalo nanti ketemu dengan mas Rangga atau istrimu, gimana? aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk jika mereka tau kalau kamu sedang bersamaku. Aku juga tak mau kejadian saat perkemahan, akan terulang lagi. " Ucapku merasa trauma dengan kejadian yang menimpa adik ipar ku saat di perkemahan dulu.


"Jadi maksud kamu, kita akan mengunjungi anak-anak dirumah PELANGI? " tanyaku membuatnya langsung mengangguk.


Daripada bosan berdiam diri di apartemen ini, lebih baik ikut saja ke rumah PELANGI bersama adik ipar ku. Lagipula aku juga sangat merindukan anak-anak yang ada di tempat itu.


__________________________


Dirumah PELANGI, ternyata anak-anak menyambut kami dengan sukacita. Saat ingin bermain bersama anak-anak itu, tiba-tiba ada sebuah mobil mewah yang berhenti diseberang jalan. Melihat wanita yang turun dari mobil itu, membuatku panik seketika. Terlihat Rendi mengangkat ku untuk bangkit berdiri dan bersembunyi di salah satu rumah kardus yang ada di tempat itu.

__ADS_1


Gawat, jangan sampai Shania melihatku disini. Mengapa dia harus datang disaat yang tidak tepat sih? hmmm, kata Rendi, istrinya itu paling anti jika berada di tempat kumuh seperti ini. Tapi buktinya? istrinya tersebut datang untuk mengunjungi anak-anak di tempat ini. Dia terlihat datang dengan ibu mertuaku. Lah, bukannya kata Rendi,ibu mertuaku itu sedang berpergian bersama mas Rangga keluar kota?


"Wah, mbak Shania.. suatu kehormatan bagi kami, karena sudah menyempatkan diri untuk mampir lagi di tempat ini. " Ucap salah satu pengurus rumah PELANGI.


"Makasih atas sambutannya. Kedatangan aku kesini hanya ingin menanyakan, apakah Rendi pernah kesini bersama seorang wanita? " tanya Shania penuh selidik.


Deg..


Jangan sampai anak-anak mendengar pertanyaan dari Shania tersebut. Kalau para pengurus rumah PELANGI bisa saja berkata bohong. Tapi anak-anak tak bisa disuruh untuk berbohong. Aku dan Rendi saling pandang dan juga memberiku isyarat agar tidak bergerak atau mengeluarkan suara. Shania berada tepat di depan kami berdua. Hanya saja kami terhalang oleh rumah kardus, jadi tak terlihat oleh wanita tersebut.


"Oh, Rendi sudah tak pernah datang kesini. Terakhir dia datang, saat bersamamu waktu itu dan seorang wanita yang lain yang merupakan kakak iparnya. " Jawab salah satu pengurus rumah PELANGI tersebut.


"Oh, baguslah kalau begitu. Kalau begitu aku permisi dulu. " Ucap Shania membuatku lega seketika.


"Ibu.. Om dan tante yang tadi udah pulang yah? kok gak pamitan pada kami semua sih? " Ucap salah satu anak membuatku kembali panik.


"Hmm, om dan tante yang mana? emang tadi ada om dan tante yang datang kemari? apakah om Rendi dan tante Renata yang kamu maksud? " tanya Shania menginterogasi anak kecil tersebut.


Rendi membekap mulutku agar diriku tak mengeluarkan suara. Jujur, berada lama didalam kardus ini membuatku mual dan kepalaku terasa mau pecah. Bukan karena jijik, tapi karena merasa gerah dan tempatnya pun sangatlah sempit. Untungnya, Shania sudah membelakangi kardus tempat persembunyian kami, sehingga dia tak melihat pergerakan kardus saat Rendi berpindah untuk membekap mulutku yang hendak muntah.


"Oh, om Anton dan tante Mira sudah pergi dari tadi, nak. Katanya nanti akan kesini lagi minggu depan. Sekarang kamu bergabung lagi dengan teman-temanmu yah? " terdengar, ibu pengasuh anak-anak itu menyebut nama orang lain untuk mengibuli Shania.


Saat mereka hendak pergi, tiba-tiba ada anak perempuan memanggil nama adik ipar ku.

__ADS_1


"Om Rendi.. kok ngumpet disini sih? "


Ahh, tamatlah riwayat ku...


__ADS_2