Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
POV Rangga__Awal bertemu__


__ADS_3

PoV Rangga


___________________________


Ingin sekali rasanya mengejar Renata kedalam kamarnya, namun bapak mertuaku melarangku dan menyuruhku untuk membiarkan dia memikirkan semua salahnya. Sebenarnya, aku ingin mengatakan kepada bapak mertuaku bahwa yang salah disini adalah aku dan Reni.


Mendengar perkataan Renata yang mengungkit perselingkuhan ku dengan Reni, membuatku yakin kalau kemarin malam itu dia telah melihat diriku yang bermadu kasih dengan adik perempuannya. Makanya dia memilih kabur dan pulang kerumah mertuaku ini.


Kalau boleh berkata dengan jujur, sebenarnya aku sangat mencintai istriku itu. Hanya saja, entah mengapa dari dulu diriku sangat ingin bermadu kasih dengan wanita yang berbeda-beda. Tak cukup kalau hanya melakukannya pada satu wanita saja. Pernah sekali aku memeriksakan diriku pada dokter, karena bingung juga dengan diriku yang sangat haus akan belaian para wanita.


Menurut dokter aku terkena sebuah syndrom yang dimana selalu menginginkan kepuasan batin dari berbeda wanita. Untuk menyembuhkan, dokter belum menemukan obatnya, karena menurutnya, yang aku alami ini sangatlah langka.


Hingga pada suatu hari tepatnya empat tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang bocah ingusan. Dia baru duduk dikelas tiga SMP. Saat itu, aku sangat ingin mendapatkan mahkotanya karena aku yakin dia masih segel. Melihat caranya memandangku, pasti dia bisa ku taklukkan.


Karena syndrome yang kualami, untuk memuaskan hasratku, aku tak memilih-milih wanita. Mau tua ataupun muda, tak masalah bagiku. Kecuali kalau yang udah tua banget, mungkin aku masih sadar diri untuk menghormati mereka sebagai wanita.


Aku juga melakukan hal itu bukan karena cinta, melainkan hanya nafsu semata. Sudah ada banyak wanita yang menjadi korban bahkan sampai ada yang sudah hamil dan mereka memilih untuk menggugurkan nya karena diriku tak ingin bertanggung jawab.


Namun saat itu, aku gagal melancarkan aksi ku karena gadis SMP itu membawa serta kakaknya untuk bertemu dengan ku. Mungkin dia takut diculik olehku? entahlah. Waktu itu, aku hendak pergi lagi dan tak mau menemuinya, namun keburu terlihat duluan olehnya. Sehingga mau tak mau, akupun menghampiri gadis itu.


Siapa sangka sejak pertemuan dengan bocah SMP itu membuatku berjodoh dengan kakaknya. Yah, bocah SMP itu adalah Reni. Karena Reni lah, aku bisa menikah dengan Renata. Jujur saja, sejak pandang pertama, aku telah jatuh cinta pada Renata.


Biasanya kalau bertemu mangsa, aku langsung mengajak mereka kesebuah hotel untuk menuntaskan hasratku. Waktu pertama bertemu Reni pun, aku sudah tak sabar ingin merebut mahkotanya itu sebagai perempuan. Semua wanita yang kutemui, hanya ingin kujadikan pemuas hasratku semata. Tapi berbeda saat bertemu pertama kali dengan Renata.


Wanita itu mampu membuat hatiku berbunga-bunga. Kuakui aku jatuh cinta untuk pertama kalinya sejak bertemu dengan Renata.


"Reni.. siapa lelaki ini? apa dia ini pacarmu? kan ibu dan bapak tak memperbolehkan kamu untuk pacaran. Fokus untuk belajar dulu, dek. " Ucapan Renata kala itu saat diriku menghampiri mereka.

__ADS_1


"Hmm.. dia bukan pacar aku, kak. Tapi dia ini yang sudah membantuku saat diganggu oleh preman tempo hari. Makanya kali ini aku mengundang dia untuk makan siang bersama kita, sekalian mau menjodohkan kalian berdua. Hehe. " Ucapan Reni membuatku tersedak air liur sendiri.


"Apaan sih kamu, Ren.. Maafin kelakuan adik perempuan ku yah, mas! " Ucap Renata terlihat kikuk.


"Issh, kakak nih.. akhiri sajalah kejombloan kakak tuh. Mumpung ada teman aku, apalagi kalau dilihat kalian berdua cocok kok. Mau yah? " Ucap Reni lagi namun aku hanya tersenyum saja.


"Udahlah, Reni jangan bikin malu kakak dong! Sekarang kita habiskan makanan nya, lalu pulang kerumah! " Ucap Renata tak berani menatap kearahku.


"Aduh, tiba-tiba aku kebelet pipis. Kak, temani teman aku dulu yah? aku permisi ke toilet dulu. " Ucap Reni membuatku bersorak riang karena diberi kesempatan untuk mendekati kakaknya.


Ingin rasanya aku memulai obrolan, tapi entah mengapa lidah ku terasa sulit untuk digerakkan. Sehingga hanya ada keheningan diantara kami berdua. Kulihat kearahnya, dia tampak tak tenang mungkin karena adik perempuannya tak kunjung datang menghampiri kami lagi.


"Hmmm.. aku permisi sebentar dulu yah? " ucapnya malu-malu,akupun hanya mengangguk.


Terlihat diujung kafe, dia sedang menelpon seseorang. Mungkin menelpon Reni, aku sangat yakin itu. Tampak raut wajahnya terlihat sangat kesal, lalu mematikan telepon tersebut dan menghampiriku lagi.


Aku masih memilih untuk duduk di kafe sambil melihat kearah Renata yang berdiri di depan kasir untuk membayar makanan yang tadi di pesannya. Namun melihat dia mengutak-atik tas pribadinya, membuatku yakin kalau dompet nya tak ditemukan di dalam tasnya tersebut.


Bagai mendapat kesempatan emas, akupun menghampiri wanita itu dan berpura-pura untuk menanyakan permasalahannya.


"Kok dompetku gak ada yah? perasaan aku menaruhnya di dalam tas ku ini. Masa gak ada sih? " terdengar Renata ngomong pada dirinya sendiri.


"Ada yang bisa kubantu? " tawar ku, siapa tau dengan bantuan ku, hatinya bisa luluh.


Mendengar ucapanku, membuatnya menatap kearahku lalu menggelengkan kepalanya. Ah, tatapan itu membuat hatiku meleleh. Sungguh ciptaan Tuhan yang sangat indah dipandang mata.


"Hmm gak perlu kok, Mas. Nanti aku telepon Reni untuk datang membawakan dompetku yang mungkin berada di dalam tasnya. Soalnya tadi, sepertinya dompetku tersebut dipegang olehnya. " Ucap Renata lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Reni.

__ADS_1


Tapi, yang ditelepon seakan berpihak padaku. Mungkin saat itu Reni sengaja tak mau mengangkat telepon tersebut karena ingin memberiku kesempatan mendekati kakaknya? yah, mungkin saja. Tanpa meminta persetujuannya, akupun langsung membayar pada kasir semua total makanan yang telah dipesan oleh Renata tadi secara tunai.


Melihat tindakan ku yang super baik ini, dia pun mengucapkan terima kasihnya kepadaku lalu berjanji akan mengganti kembali uang yang telah ku bayarkan pada kasir tadi. Padahal aku tak meminta untuk diganti, karena diriku ikhlas membantunya.


"Gak, mas.. pokoknya nanti aku akan mengganti uang itu. Aku hanya tak ingin berhutang apapun pada orang lain. " Ucap Renata tetap keukeuh.


"Oke lah kalau itu maumu, nona. Kalau begitu cepat berikan nomor telepon mu, biar dengan muda aku menagih utang pada dirimu. "Ucapku dan tampak jelas dia membelalakan matanya dengan sempurna.


" Gak boleh, aku tak mau sembarangan memberikan nomor teleponku pada orang asing sepertimu. "Ucapnya dengan sengit.


" Lalu gimana caranya, kamu akan mengembalikan uang tersebut kepadaku? "tanyaku lalu diriku melipat tangan di depan dada.


Lama wanita itu berpikir, hingga akhirnya dia mau juga mencatat nomor teleponnya lalu menyerahkan nya padaku. Setelah nomor telepon tersebut kugenggam, dia main pergi begitu saja.


Mengingat pertemuan awal kami berdua,membuatku terasa bahagia. Namun setelah menikah dengannya, kupikir sindrom yang ku derita akan hilang karena diriku sudah menemukan cinta sejati. Namun sangat sulit untuk menghilangkan kebiasaan ku tersebut.


Hingga keinginan ku yang tertunda saat bersama Reni dulu, kembali terwujud saat malam pengantin ku bersama Renata. Aku berhasil menjebol gawang milik adik iparku tersebut.


Apa setelah melakukan hal itu aku menyesal? ya, ada rasa penyesalan, namun kelakuan burukku itu terjadi terus menerus, dan terasa sulit untuk ku hindari.


_____________________


"Pak, Renata gak ada dikamarnya.. " Teriak ibu mertua dengan histeris.


Mendengar ucapan ibu mertua, kami semua langsung menuju kearah kamar Renata. Benar saja, kalau istriku itu tak ada didalam kamar tersebut. Melihat jendela yang terbuka, aku yakin dia kabur melalui jendela tersebut. Aku pun mendekati arah jendela dan menemukan gelang tangan berwarna hitam yang kutau siapa pemiliknya.


'Sialan kamu Rendi.. belum kapok juga rupanya anak itu. Lihat saja, aku akan membunuhmu! 'Batinku lalu dengan amarah aku berteriak dan membanting semua benda yang ada di depan mataku.

__ADS_1


__ADS_2