![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Ternyata adik iparku membawaku kembali ke apartemen pribadinya. Awalnya aku menolak karena takut kalau Shania akan menemukan aku di apartemen nya tersebut. Dia pun meyakinkan diriku dan berkata bahwa tak ada satupun orang yang mengetahui tentang dirinya yang mempunyai apartemen sendiri.
Hanya aku satu-satunya yang mengetahui hal itu. Sehingga aku pun setuju saja untuk tinggal kembali di apartemen nya tersebut untuk sementara waktu.
"Kalau orangtuamu tak mengetahui kamu mempunyai apartemen ini, lantas darimana kamu mendapatkan uang untuk membelinya? kamu kan belum punya pekerjaan tetap. " Ucapku karena sungguh membuatku penasaran saja dengan apartemen yang dipunya nya ini.
"Jangan salah dong, kak. Emang sih kelihatannya kalau diriku ini tak punya pekerjaan. Tapi sebenarnya, aku tuh punya pekerjaan rahasia. Seperti agen-agen gitu loh, namun untuk saat ini aku belum bisa memberitahu tentang semuanya kepada kakak. "Ucapnya membuatku curiga saja.
Apa jangan-jangan dia bekerja yang tidak benar? Ah, aku jadi ingat perkataan mas Rangga yang mengatakan kejadian saat dirinya membawa Anggun di rumah. Kala itu katanya, Anggun diberi obat aneh yang membuat hasrat wanita itu menggebu-gebu.
Mengingat juga hal yang sama terjadi padaku. Ketika dia memberi susu hangat untukku. Setelah meminum susu tersebut, aku juga merasakan hasrat yang bergejolak. Apa pekerjaan adik iparku itu sebagai pengedar obat-obatan seperti itu yah?
Ingin menanyakannya secara langsung, tapi takut dia tersinggung. Mungkin aku diam saja dan tak menanyakan perkara pekerjaannya itu, karena saat ini aku sangat membutuhkan bantuannya. Hingga aku teringat pada sesuatu, dan menanyakan padanya.
"Rendi.. Terus Shania sekarang ada dimana? Apakah dia tak marah karena ditinggal terus olehmu? Aku hanya takut saja, nanti dia akan salah paham padaku. "Ucapku merasa bersalah karena masih saja mengganggu bulan madu mereka berdua.
" Kakak tenang saja, dia sekarang ada dirumahnya. Semalam aku memberi alasan kepadanya untuk bertemu rekan bisnis. Karena yang dia tau aku sudah bekerja di perusahaan bapak. "Ucap Rendi membuat hatiku tenang.
Hari sudah menjelang sore, dan Rendi masih setia menemaniku disini. Katanya dia takut meninggalkan diriku seorang diri. Apalagi dalam keadaanku yang sedang hamil, tak boleh ditinggalkan seorang diri. Dia hanya takut janin yang ada didalam perutku kenapa-napa.
Sebenarnya aku sudah menyuruhnya untuk pulang kepada istrinya. Dan juga mengatakan kalau diriku akan baik-baik saja dan tak perlu mencemaskan keadaanku. Aku hanya tak enak saja pada dirinya, mungkin saat ini dia dan Shania tengah menikmati bulan madunya. Tapi, karena masalahku, dia malah meninggalkan istrinya dan sibuk mengurus ku.
"Rendi.. Sekarang pulanglah! Aku tak mau menambah masalah baru lagi. Biarkan aku sendiri yang tinggal di sini. Aku bisa merawat diriku sendiri kok. "Ucapku terus meyakinkan adik iparku itu.
" Tapi, kakak ingat kan kata dokter kemarin? Tak boleh membiarkan kakak seorang diri. Ingat kondisi kehamilan kakak yang tergolong lemah. "Ucap Rendi merasa keberatan meninggalkan diriku seorang diri.
__ADS_1
" Aku hanya tak ingin menambah masalah. Kalau kamu tak bersama istrimu sekarang, pasti ibu dan juga mas Rangga akan curiga kalau saat ini kamu yang membawaku kabur dari rumah orangtuaku. "Ucapku membuatnya sejenak terdiam.
Terlihat adik iparku itu memijiti keningnya secara perlahan. Aku tau saat ini dia sangat mengkhawatirkan janin ku yang menurutnya adalah calon anaknya. Aku sih, belum tau apakah ini hasil benihnya atau justru benih dari mas Rangga? sungguh membuatku ikut pusing saja memikirkannya.
"Aku punya ide, dan kakak tak boleh protes. Nanti, aku akan cari orang untuk merawat kakak disini. Kalau perlu sekalian membayar seorang bodyguard juga untuk melindungi kakak. "Ucapnya membuatku membelalakan mata secara sempurna.
" Dapat duit dari mana untuk membayar dua orang sekaligus per bulannya? Kalau menggunakan jasa ART dan seorang bodyguard, harus mengeluarkan uang yang tak sedikit loh per bulannya. "Ucapku protes dengan keinginannya tersebut.
" Kan kataku, kakak tak boleh protes. Demi keamanan dan kesehatan kakak dan calon buah hati kita, aku akan melakukan yang terbaik. Itu sudah jadi urusanku, sekarang aku akan menelpon sahabatku, mungkin dia yang akan kupilih menjadi bodyguard mu. Mengingat, waktu itu dia meminta pekerjaan padaku. "Ucap adik iparku membuatku mengikuti saja dengan kemauannya.
Setelah menelpon sahabatnya tersebut, lalu dia mengatakan bahwa sahabatnya itu sedang otw menuju ketempat ini. Dan untuk perawat, dia akan pulang ke rumah orangtuanya dan akan mencoba untuk bertanya kepada mbok Ijah, siapa tau beliau mempunyai kenalan yang sedang mencari pekerjaan.
Mendengar hal itu aku pun setuju dan berharap mbok Ijah punya kenalan yang bisa merawatku dimasa kehamilan ku ini. Aku pun berpesan kepada adik iparku agar tidak membocorkan rahasia tentang keberadaan ku di apartemen miliknya ini. Dia pun mengatakan akan berakting sebagus mungkin agar semuanya tak curiga kepadanya.
"Tenang saja, serahkan semuanya padaku. Sekarang aku akan pergi ke bandara dan nanti akan menyuruh Shania untuk menjemputku.Biar semuanya tak akan curiga kalau diriku yang membawamu kabur. Hehe. "Ucap adik iparku itu membuatku memutar bola mata malas.
" Boleh minta jatah yah? kangen nih.. "Ucapnya menaik turunkan alisnya.
" Huu, jadi kamu mau membantuku karena ada maunya yah? Hmm berarti kamu tak ikhlas membantuku. "Ucapku membuang muka.
" Aku ikhlas kok kak.. Aku membantu kakak itu karena rasa cintaku yang sangat besar terhadap kakak. "Ucapnya mulai mengeluarkan jurus pergombalan.
" Aku masih ingat loh, pesan yang kamu kirimkan saat itu. Bukannya kamu mendekati diriku karena hanya ingin memuaskan nafsumu? "tanyaku membuatku sedih saja mengingat itu kembali.
Terlihat, adik iparku mengerutkan alisnya tanda tak mengerti dengan ucapanku. Ah, pura-pura lupa segala nih bocah. Sangkanya aku tak akan ingat setiap kata yang ditulisnya itu? tapi untuk saat ini aku tak mau mengungkitnya lagi, bisa-bisa dia mengusir diriku dari apartemennya ini. Kalau diusir, mau kemana aku akan pergi? daripada jadi gelandangan, lebih baik jangan membuat hatinya tersinggung.
__ADS_1
"Sudahlah, lupakan tentang itu. Sekarang kamu pergilah, nanti kangen-kangennya dengan istrimu saja. "Ucapku kemudian.
" Tapi tunggu, aku benar tak mengerti dengan maksud kakak. Perasaan aku tak pernah mengirimkan pesan apapun pada kakak. Justru saat aku ingin menghubungi kakak, eh nomorku sudah diblokir oleh kakak. Iya kan? "Tanyanya membuatku ikutan bingung juga.
Apa jangan-jangan bukan adik iparku yang mengirimkan pesan tersebut? Agh, pasti itu ulah Shania. Karena dia yang selalu berada di samping Rendi saat adik iparku itu sedang dirawat dirumah sakit tempo hari. Dalam keheningan karena sedang terlarut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba ada yang membunyikan bel pintu.
" Ah, itu pasti sahabatku. Tunggu sebentar disini, aku akan membukakan pintu untuknya. "Ucap Rendi lalu bergegas untuk membuka pintu depan.
Sepertinya mereka sedang bersenda gurau didepan sana karena terdengar suara tawa yang menggelegar, membuat telinga ini sakit saat mendengarnya. Karena penasaran, aku pun keluar untuk melihat mereka berdua. Melihatku keluar, Rendi pun memanggil dan mengenalkan diriku pada sahabatnya itu.
"Ini sahabatku, namanya Akbar. Nanti dia yang akan bertugas melindungimu. Sesuai perjanjian kami, dia akan selalu stay dari jam tujuh pagi hingga jam sembilan malam. Kalau lewat dari jam itu, tapi kamu butuh bantuannya, kamu tinggal hubungi saja dia. Pasti dia akan segera datang untuk membantumu. " Ucap Rendi membuatku manggut-manggut saja.
"Nah, kalau dia ini Renata, istriku. Selama aku tak ada disini, tolong lindungi dia dari bahaya. Karena seperti kataku tadi, kami berada disini karena kabur dari rumah utama. Semisalnya ada orang yang datang kesini, jangan pernah izinkan untuk masuk kedalam. Kecuali atas izin dariku atau dari istriku. "Ucap Rendi menjelaskan tugas yang akan diberikan kepada sahabatnya tersebut.
Tapi, apa katanya tadi?istrinya? Haduh, mengapa mesti ngaku-ngaku segala sih? Dasar bocah tengil. Ingin protes, tapi yah sudahlah sudah terlanjur pun. Mendengar omongan Rendi, sahabatnya itu setuju dengan pekerjaan tersebut. Dan mulai sore ini dia akan bekerja untuk melindungiku.
Setelah beres, akhirnya Rendi menghampiriku didalam kamar. Mungkin sudah merasa bosan mengobrol dengan sahabatnya itu. Dia pun pamit untuk pulang, lalu tanpa permisi mengecup bibir ini dengan mesra. Mendapat perlakuan manis seperti itu, membuatku terlena saja. Sehingga aku pun membalas ciumannya tersebut dengan hasrat yang menggebu.
Jangan ditanyakan lagi, karena kami memang melakukan hal terlarang itu. Sebagai wanita normal, pasti aku akan melakukannya. Walaupun aku sadar, semestinya ini tak boleh terjadi, karena kami bukan suami istri. Namun karena hasrat yang sudah menggebu, aku tak bisa menahannya begitupun dengan adik iparku.
Tapi, kami melakukannya secara pelan-pelan saja, mengingat kehamilan ku yang sangat rentan. Kalau biasanya kan, adik iparku ini sangatlah agresif saat melakukannya. Hehe, maafkan diriku yang masih saja terjerat hasrat terlarang bersama adik iparku.
"Rendi.. Aku ingin memakan sosis bakar. "Ucapku yang tiba-tiba kepengen memakan sosis bakar. Padahal posisinya kami masih sedang bermadu kasih.
Mendengar ucapanku, adik iparku tertawa lepas karena merasa lucu dengan permintaan ku barusan.
__ADS_1
" Ah, sayang.. Gak cukup dengan sosis yang ku berikan ini? "Ucapnya membuatku menabok kepalanya.