![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Keesokan paginya, aku menuju kedapur untuk membuat sarapan. Namun, saat membuka kulkas, hanya ada air minum tok. Aku tepuk jidat, karena lupa kalau saat ini aku bukan dirumah mertuaku lagi. Harusnya semalam,mumpung ada bocah tengil itu, aku membeli sesuatu yang bisa mengganjal perutku.
Kulirik jam yang ada di ponselku, ah baru jam setengah delapan pagi. Nanti sajalah sarapannya, semoga saja cacing diperut bisa diajak kompromi dan tak berdansa di dalam sana karena meminta jatah makanan.
Akhirnya sambil menunggu waktu untuk bertemu dengan ke empat sahabatku, aku pun mengambil remot dan menyalakan televisi. Semoga aja pagi-pagi begini ada acara yang menarik untuk di tonton.
Saat tengah asyik menonton TV, tiba-tiba saja ada yang membuka pintu depan membuatku ketakutan dan berlari untuk mengunci pintu kamar. Apa di tempat seperti ini, maling bisa masuk? masa sih pagi-pagi begini, sudah ada maling berkeliaran? tapi gak mungkin lah, kan apartemen ini aman, karena masuknya saja harus ada tanda pengenal. Terus itu siapa dong?
"Kakak.. kenapa TV nya gak dimatiin? kalo gak ditonton, jangan dinyalakan dong, bikin biayanya membengkak loh. " Terdengar suara seperti adik iparku. Yah, benar itu suaranya.
"Kamu Rendi atau maling sih? hayoo jawab dengan jujur." Ucapku karena takut yang masuk itu adalah maling yang menyamar menjadi adik iparku.
"Iya kali di apartemen seperti ini ada maling. Ini aku Rendi, ayo keluarlah dan kita sarapan bareng! aku udah siapin nasi goreng spesial untukmu. " Ucap Rendi membuatku yakin kalau itu memang dirinya.
Akhirnya, dengan pelan-pelan aku membuka kembali pintu kamar itu dan mengintip keluar, memang benar, itu adalah adik iparku. Karena mencium aroma nasi goreng, buru-buru aku mendekatinya dan langsung menyendok nasi goreng tersebut diatas piring.
"Wah, tau aja kalau diriku belum sarapan. " Ucapku mengelus pipinya dengan lembut.
"Ya taulah, kan disini gak ada bahan makanan yang tersimpan, kecuali air minum. Aku tau kakak itu orangnya pemalas. Sedangkan ngurus untuk perut sendiri, malasnya minta ampun. Padahal dibawah sana ada supermarket atau kafe. Kan bisa turun kebawah untuk beli sendiri yang ingin dimakan.
Ini malah nyiksa cacing peliharaan kakak sendiri. Kasian tu ntar cacingnya mati kelaparan baru tau rasa. " Ucap Rendi panjang lebar membuatku memutar bola mata malas.
"Sebodoh amat. Tapi terima kasih loh, udah nyiapin sarapan untukku. Oya, gimana kabar rumah sekarang setelah kutinggalkan? " tanyaku penasaran.
"Baik-baik saja kok. Kamu juga mau nanya tentang bang Rangga? dia juga alhamdulillah dalam keadaan sehat walafiat. " Ucap Rendi membuatku yakin kalau dia sedang menahan kecemburuan.
"Haha, ngomong tentang mas Rangga gak usah ngegas dong. Lagian aku gak nanya juga kan? "
__ADS_1
"Gak tau lah.. gelaaap. " Ucap Rendi memalingkan muka.
Haduuu, heran deh bocah tengil itu, kapan sih dewasanya? sebenarnya kalau dipikir-pikir,dia itu cocoknya dengan Shania. Malah milih aku yang umurnya lebih tua. Dasar aneh pilihan hatinya. Tapi, aku juga lebih aneh karena menaruh perasaan kepada adik iparku tersebut. Berarti sama-sama aneh dong. hehe..
"Rendi.. nanti siang aku mau reunian dengan sahabatku sewaktu SMA dulu. Boleh yah? " ucapku meminta izin kepadanya.
Tuh kan aneh, pake minta izin segala kayak pasangan suami istri aja deh aku ini.
"Hmmm, pasti nanti reunian juga deh ama mantan pacar sewaktu SMA dulu. " Ucap Rendi memanyunkan bibirnya.
"Ini bukan reunian besar-besaran kok, hanya kami berlima saja.Paling ngobrolnya sambil ngopi bareng aja. Sewaktu SMA dulu aku punya empat sahabat yang paling dekat denganku. Nah, nanti siang kami sudah berencana untuk bertemu untuk mengenang kisah sewaktu SMA dulu. "Ucapku menjelaskan.
" Aku boleh ikut yah? "ucapnya membuatku melongo.
Kalau bocah tengil itu ikut denganku, nanti kalau mereka bertanya siapa yang kubawa bersamaku, apa yang akan kujawab kepada mereka yah? kalau bilang adik kandungku, mereka tau kalau aku hanya mempunyai adik perempuan. Apa aku jujur saja dan mengatakan kalau dia adalah adik iparku yah?
"Kak, gimana.. boleh yah? pliss, biar ada yang ngejagain kakak juga loh. Ntar kalo ketemu orang jahat gimana? bang Rangga, misalnya.hehe " Ucapnya sambil cengengesan.
Abangnya sendiri dikatain penjahat. Tapi benar juga sih, mas Rangga itu lebih lagi dari seorang penjahat. Dengar nama mas Rangga buatku mual saja. Tapi tunggu, ini beneran loh aku merasa mual entah karena masuk angin kali.
Uwekk... uweeek... uwekkk...
Karena mual berkelanjutan aku pun berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua yang terasa aneh di perutku. Namun, hanya liur saja yang ku muntah kan. Fiks ini, aku masuk angin karena telat makan.
"Kakak gak apa-apa? " terdengar Rendi menggedor pintu kamar mandi.
Karena rasa mual sudah hilang, aku pun mencuci mulutku lalu keluar menemui Rendi yang terlihat sangat khawatir dengan keadaanku.
__ADS_1
"Aku mungkin masuk angin, tapi sekarang udah gak apa-apa kok. " Ucapku agar Rendi tak khawatir lagi.
"Kalau gitu, kakak istirahat dulu. Kalau gak kuat, ditunda aja dulu pertemuan nya dengan sahabat kakak. Daripada nanti makin parah. " Ucap Rendi mengelus pipiku dengan lembut.
"Aku beneran udah gak apa-apa kok. Sekarang, kita lanjutin sarapannya yah? " ucapku mengajaknya kembali untuk menghabiskan nasi goreng yang masih tersisa sedikit.
Rendi lalu menarik ku hingga aku jatuh ke dalam pelukannya. Mencium aroma parfum miliknya, membuat kepalaku pusing hingga mual kembali melanda ku.
Uweeek.. uwekk..
Kembali aku masuk kedalam kamar mandi dan memuntahkan semuanya, namun masih saja sama, hanya liur saja yang dimuntahkan olehku. Tapi mengapa tiba-tiba saat mencium aroma wewangian, diriku merasa mual? mungkin saja karena pengaruh masuk angin.
Saat aku keluar lagi, Rendi tampak memasang wajah bahagia. Idih, kok melihat aku yang sedang masuk angin, dia sebahagia itu ekspresi nya?
"Ngapain kamu senyam senyum seperti itu?" tanyaku ketus.
"Jangan-jangan aku akan jadi seorang ayah? wah, semoga saja yah.." Ucap Rendi membuatku syok.
Jangan bilang, dia berpikir kalau aku mual muntah seperti ini dikarenakan sedang hamil muda. Tapi, mungkin juga sih. Ah, pasti ini hanya masuk angin doang. Daripada penasaran nanti aja aku coba beli tes kehamilan di apotik. Semoga saja, belum ada isinya didalam perutku ini. Karena kan rumah tangga ku sudah berada diambang kehancuran.
"Kita periksa kedokter yah, kak? " Ucap Rendi dengan sumringah.
"Aku kan sudah bilang, ini cuma masuk angin saja. Lagian aku belum telat datang bulan kok, jadi jangan dulu berpikiran kearah sana. " Ucapku lalu kembali kearah dapur untuk mengambil minum.
Mendengar kalimatku,wajahnya langsung berubah menjadi patah semangat. Kalau aku terbukti hamil, lalu rumah tangga ku berakhir, pasti aku dan keluargaku akan menanggung malu. Dan mas Rangga akan merasa menang karena telah berhasil membuatku dan keluargaku menanggung rasa malu itu.
Apalagi kalau aku hamil anak dari adik iparku, pasti keluargaku akan mencoret ku dari daftar keluarga karena telah mencoreng nama baik keluarga. Iya kali, hamil anak adik ipar sendiri. Sudah bisa kubayangkan nasib hidupku jika sekarang ini diriku benar-benar hamil.
__ADS_1