![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Diriku masih belum percaya sepenuhnya dengan ucapan mas Rangga. Sehingga, aku pun meminta waktu kepadanya untuk memikirkan semuanya. Sepertinya aku belum siap jika harus meninggalkan Rendi dirumah ini sendirian.Apalagi, kedua mertuaku jarang pulang kerumah.
Untungnya mas Rangga memberikan ku kesempatan untuk memikirkan semuanya, dan dia berharap agar aku tak salah memilih. Selalu saja dia mengatakan kalau adik iparku itu adalah orang yang bermuka dua.Dan sangat pandai membuat rumah tangga orang lain berantakan.
Apakah ia seperti itu? rasanya aku belum percaya sebelum melihat buktinya secara langsung. Dan jujur saja, kini di hatiku hanya ada nama Rendi seorang. Kalau untuk mas Rangga, mungkin hanya tersisa setitik saja. Karena aku sudah terlanjur kecewa atas sikapnya yang menurutku sangat kelewatan.
Sebelum berangkat kerumah sakit, aku masuk kedalam kamar Rendi, lalu mengambil beberapa bajunya agar sekalian ku bawakan. Mataku tertuju pada satu benda yang ada diatas mejanya. Ah, rupanya dia hobby juga menulis diary.
Ingin rasanya membuka dan membaca isi diary tersebut, tapi aku sadar itu sangatlah tidak sopan. Gak boleh membaca privasi seseorang tanpa persetujuan sang pemilik.Akhirnya aku menutup kembali pintu kamar adik iparku setelah selesai mengambil beberapa potong baju miliknya.
"Aku akan mengantar kamu kerumah sakit. Lagipula disana sudah ada ibu dan juga Shania yang menjaga adik iparmu yang tersayang itu. " Ucap mas Rangga santai.
"Aku bisa berangkat sendiri. Lagian didepan sudah ada taxi online menungguku. " Ucapku membuatnya mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa disana yah? " ucapnya lalu kembali masuk kedalam kamar.
Aku pun bergegas menuju rumah sakit, dan semoga saja adik iparku itu sudah sadarkan diri. Aku sudah tak sabar ingin mendengar ocehannya lagi. Jujur saja, kalau saat ini diriku merasa kesepian.
___________________
Saat masuk kedalam ruangan tempat adik iparku dirawat, benar saja disana sudah ada ibu mertua dan juga Shania.Rupanya, Rendi sudah sadar dan sekarang tengah disuapin oleh Shania. Ah, apakah aku datang disaat yang tidak tepat? jangan perlihatkan rasa cemburu mu, Renata!
Melihat kedatangan ku, mereka semua beralih menatapku lalu ibu mertua memperlihatkan senyumnya. Beda dengan Shania yang seperti tidak suka dengan kehadiranku.
"Ayo, sayang.. dibuka mulutnya! makan yang banyak biar cepat sembuh dan kita bisa melangsungkan pernikahan kita nantinya. " Ucap Shania yang kuyakini ingin membuatku cemburu. Ya, saat ini dia memang berhasil membuatku terbakar api cemburu.
__ADS_1
"Kak Renata, baik-baik saja? " tanya Rendi dengan suara yang masih terdengar lemah.
"Ah, iya.. aku baik-baik saja kok. Sekarang kamu makan yah, biar cepat pulih dan bisa kembali kerumah. " Ucapku membuatnya tersenyum.
"Nak, kata Rangga kalian akan pindah dirumah sendiri yah? wah pemikiran yang bagus tuh, ingin hidup mandiri. " Ucap Ibu mertua membuatku melirik kearah adik iparku. Terlihat wajahnya cemberut, pasti karena dengar omongan ibu mertua deh.
"Itu keinginan Renata loh, bu. Salut banget pokoknya,punya istri yang ingin hidup mandiri. " Ucap mas Rangga yang datang secara tiba-tiba.
Aku garuk-garuk kepala yang tak gatal, lalu melirik kembali kearah adik iparku. Rupanya dia terlihat biasa saja dan menyuruh Shania untuk menyuapinya kembali.
"Iya, biar Rendi dan Shania yang tinggal di rumah ibu dan bapak. Lagian rumah itu kan atas nama Rendi. " Ucap Ibu mertua membuatku bingung.
"Kan mereka baru akan melangsungkan pertunangan, bu. Kok, udah bisa tinggal seatap? " tanyaku karena merasa heran aja dengan jalan pemikiran ibu mertua yang membiarkan anaknya tinggal seatap dengan wanita yang belum mukhrim nya.
"Memang awalnya, hanya akan melangsungkan pertunangan saja, namun barusan Rendi yang meminta agar langsung menikah saja. Rupanya anak ibu itu sudah tidak sabar untuk menikah dengan Shania. " Ucap Ibu mertua lagi terlihat bahagia sekali.
"Sayang, benarkan kamu ingin menikahi ku secepatnya? " tanya Shania seolah tau dengan isi pikiranku.
"Iya, sayang. Dan aku ingin, kita bisa hidup bahagia selamanya. " Ucap Rendi membuatku syok.
Berarti benar, dia yang menginginkan pernikahan tersebut tanpa paksaan dari siapapun. Tapi mengapa secepat ini dia berubah? bukannya dia sendiri yang mengatakan bahwa dirinya tidak mencintai Shania? ah Rendi.. apa sebenarnya tujuanmu itu.
Karena merasa sudah tak diperlukan di ruangan itu, akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja. Kali ini aku tak menolak penawaran mas Rangga untuk pulang bersama-sama. Mungkin aku juga tak harus banyak berharap pada adik iparku tersebut.
Tapi bagaimana bisa aku menghilangkan rasa cinta ini yang telah tumbuh dihatiku? mungkin aku harus terima penawaran mas Rangga untuk memulai kembali rumah tangga kami dari awal.
__ADS_1
"Bagaimana, Ren.. apakah kamu masih memberiku kesempatan untuk memulai lagi dari awal rumah tangga kita ini? " pertanyaan mas Rangga membuat ku masih bingung.
"A-aku.. bolehkah aku menjawabnya nanti malam saja? " tanyaku berharap mas Rangga memberiku waktu sejenak untuk memikirkannya.
Mungkin nanti aku bisa mengirim chat kepada Rendi tentang semuanya. Jika dia memang benar mencintai Shania, aku harus bisa merelakannya bahagia dengan pilihan hatinya. Hanya saja aku akan menanggung kecewa kepadanya karena selama ini sudah berhasil menipu ku.
_____________
Saat sampai dirumah, ternyata mas Rangga pergi lagi. Katanya sih, ingin bertemu dengan rekan bisnisnya. Aku tak peduli entah mau pergi kemana, saat ini hatiku sedang merasakan sakit karena mendengar kabar mengejutkan tentang pernikahan adik iparku yang mendadak.
Saat mencoba memejamkan mata agar terlupa dari cobaan hati, tiba-tiba saja ponselku bergetar tanda ada pesan masuk.
[Maafin aku, kak.. karena selama ini telah membohongi kakak. Sebenarnya aku sama sekali tak mencintai kakak. Aku hanya ingin mencicipi tubuh kakak doang. ] Rendi
[Masalah bang Rangga, dia juga tak pernah mengkhianati kakak. Itu semua aku yang atur agar kakak jatuh kedalam perangkap ku] Rendi
[Sekarang kembalilah pada bang Rangga. Karena aku sudah bosan pada kakak. Seharusnya kakak bersyukur, bang Rangga masih mau menerima kakak yang telah dinodai olehku. ] Rendi
[Jangan pernah menaruh perasaan apapun padaku. Karena kita jauh berbeda. Harusnya kakak sadar, masa anak seumuran aku menyukai tante-tante? ] Rendi
Setiap chat yang dikirim oleh adik iparku berhasil membuatku menangis sejadi-jadinya. Mengapa dengan bodohnya aku jatuh ke dalam perangkap adik iparku? menyesal tiada guna, semuanya telah terjadi. Kini aku bagaikan wanita yang tak mempunyai harga diri.
Sebenarnya masih banyak lagi chat yang dikirimkan oleh adik iparku tersebut, namun aku tak mau meneruskan untuk membacanya. Aku tak ingin luka hatiku bertambah parah. Segera ku blokir semua kontak adik iparku itu. Dan berharap, tak akan bertemu dengan dirinya lagi.
Mengapa disaat cintaku seutuhnya berlabuh padanya, dia dengan teganya membuatku hancur berkeping-keping? sungguh sulit bagiku untuk melepaskan rasa cinta ini untuknya.
__ADS_1
Ah sial, mengapa juga diriku tak menyadari dari awal kalau dia hanya ingin memuaskan nafsunya semata.