Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
Gagal melarikan diri


__ADS_3

Secara perlahan, aku membuka kedua mataku. Aku memicingkan mata saat melihat sorot cahaya putih yang ada di pandangan mata. Diruangan ini juga tercium aroma khas obat-obatan, hingga aku tersadar bahwa kini diriku berada dirumah sakit lagi.


Saat aku menoleh kesamping kanan, kudapati sosok adik iparku yang tertidur dengan posisi duduk di sisi ranjang tempatku berbaring.Dia menggenggam erat sebelah tanganku yang terhubung dengan selang infus.


"Rendi.. " Aku mencoba menggoyangkan tangannya agar terbangun dari tidurnya.


Dia merespon dan bergerak perlahan lalu mengucek matanya. Kemudian beralih menatapku dan terlihat senyumnya saat mengetahui bahwa diriku telah sadar. Dia pun memelukku lalu meminta maaf karena tak bisa melindungiku.


"Gak apa-apa kok, Ren.. Jangan menyalahkan diri sendiri, yang penting sekarang aku dalam keadaan baik-baik saja. " Ucapku sambil memperlihatkan senyumku kepadanya.


"Ria dan suaminya mana? aku ingin berterima kasih kepada mereka karena sudah mau membawaku dirumah sakit ini. " Ucapku menanyakan keberadaan sahabatku dan suaminya.


"Setelah mengantar kamu kesini, mereka langsung pergi begitu saja." Ucap Rendi membelai lembut pipiku.


Aku terdiam sejenak dan merasakan sakit dibagian perutku. Lalu diriku teringat peristiwa semalam yang merasakan sesuatu keluar dari daerah kewanitaan ku. Karena merasa khawatir akupun bertanya pada Rendi tentang kondisi janinku.


"Untung saja kamu cepat dibawa oleh Ria dan suaminya kerumah sakit ini. Jadi kandunganmu masih bisa diselamatkan. " Ucapnya membuatku lega mendengarnya.


"Rendi, jangan tinggalkan aku sendiri! aku takut mas Rangga akan membawaku kembali ke tempat itu. " Ucapku ketakutan.


"Aku mengerti kamu masih trauma dengan kejadian kemarin. Aku janji,kamu gak bakalan mengalami hal seperti itu lagi. Untuk menjaga keamanan mu, aku sudah membeli tiket pesawat. Kamu akan berangkat ke Bali untuk bersembunyi sementara disana dan akan ditemani oleh Ayu dan Akbar. Sedangkan diriku, akan mengurus bang Rangga dan menjebloskan dia dipenjara. "


"Apakah nanti kamu akan menyusul ku? aku takut kamu kenapa-napa. Lebih baik sekarang juga kita pergi secara bersama saja. "


"Tenang saja, aku janji akan selalu baik-baik saja dan ada waktunya kita bisa bersatu. Yang paling penting kamu menjauh dulu dari bang Rangga, biar dia tak melakukan hal nekat lagi. Setelah semuanya beres dan aku juga resmi bercerai dengan Shania, aku akan menyusulmu dan tinggal menetap di Bali. "


Mendengar itu diriku mengangguk pelan. Mungkin memang aku harus keluar dari kota ini agar mas Rangga tak lagi mengusik hidupku.Sebenarnya, dokter belum mengizinkan aku untuk keluar dari rumah sakit, namun aku tetap memaksa hingga akhirnya dokter itu pun mengalah.


___________________


Aku pun berangkat ke bandara bersama Ayu dan juga Akbar. Kali ini adik iparku tak mengantarku takutnya mas Rangga atau Shania mengetahui tentang rencana kami yang akan pergi ke Bali. Aku dan adik iparku terpisah dirumah sakit. Sebenarnya ada rasa sedih saat harus berpisah darinya. Namun demi kebaikan ku, terpaksa aku harus ikhlas berpisah sementara dengannya.

__ADS_1


Namun perjalanan kami tak berjalan sesuai rencana. Ditengah perjalanan, mobil kami dihadang oleh beberapa geng motor membuatku sangat takut. Mungkin saja itu suruhan mas Rangga untuk menangkap ku kembali.


Benar saja saat berada di jalanan sepi, Akbar memberhentikan mobil dan mencoba untuk menghadapi orang-orang yang menghadang perjalanan kami.


Dari jauh terlihat sebuah mobil yang datang menghampiri kami. Sehingga membuatku terkejut tatkala melihat orang yang turun dari mobil tersebut adalah mas Rangga.


"Renata.. ayo turun dari mobil itu dan ikuti aku pulang kerumah kita! " Ucap mas Rangga mengetuk jendela mobil tempatku berada.


Aku memejamkan mataku dan meyakinkan diri untuk mengikuti kemauan suamiku itu. Mungkin, memang sudah takdirku akan berada dibawah kekuasaannya. Daripada adik iparku terbawa dalam masalah ini, lebih baik aku mengalah saja. Aku juga sudah capek jika harus terus berlari dan bersembunyi dari mas Rangga.


Ayu terlihat memegang tangan ku dan memberi isyarat agar aku tak turun dari mobil ini. Namun, keputusanku sudah bulat. Dengan terpaksa aku pun membuka pintu mobil lalu keluar menghadap kepada mas Rangga dengan raut wajah yang kubuat setegar mungkin. Diriku tak boleh kelihatan lemah, harus kuat menjalani semua yang ada didepan mata.


"Aku suka caramu, sayang. Sekarang masuk kedalam mobilku, dan kita jalani rumah tangga ini dari nol. " Ucapnya membuatku menurut saja masuk kedalam mobilnya itu tanpa mengatakan satu kalimat pun.


"Sekarang kalian boleh pergi! biarkan kedua insan itu mengadu pada bosnya! " ucap mas Rangga lagi lalu menyuruh sopirnya untuk menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan, diriku hanya bisa tertunduk lesu dan tak mau menanggapi ocehan mas Rangga. Sehingga membuat lelaki itu tampak emosi dengan sikapku yang cuek. Mendengar bentakan itu, sungguh membuat hatiku perih. Namun sebisanya kutahan agar airmataku tak tumpah lagi.


"Sekarang, kita akan pulang kerumah kita! disana sudah ada adikmu dan juga orangtua kita yang menunggu kedatangan kita berdua. " Ucap mas Rangga membuatku terkejut.


Apakah mereka akan menghakimi ku? sepertinya aku harus mempersiapkan mental untuk menghadapi mereka semua yang mungkin saat ini marah besar atas tindakanku.


"Apakah Rendi juga ada disana? " entah mengapa aku berani menanyakan keberadaan adik iparku itu kepadanya.


Mas Rangga terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan ku barusan. Dia pun terlihat menarik nafas panjang lalu menghela nya secara kasar. Lalu menatap mataku dengan tajam, aku tau dia sedang menahan emosinya.


"Mulai saat ini, jangan pernah kudengar kamu mengungkit nama lelaki bajingan itu! hapuslah namanya dari ingatanmu agar kita bisa hidup dengan harmonis! " ucapnya meremas dagu ku dengan kencang.


"Maafkan aku, mas! aku tak akan mengungkit nama dia lagi. " Ucapku agar dirinya tak melukaiku lagi.


"Dan aku ingin, janin mu dikeluarkan saja! aku tak ingin benih lelaki itu menempel di rahimmu. " Ucap mas Rangga membuatku syok.

__ADS_1


Ya Tuhan, semoga saja mas Rangga mau berubah pikiran dan membiarkan janin ini tetap bersamaku. Aku tak rela jika harus kehilangan calon anakku. Agar tak membuat mas Rangga emosi lagi, aku pun terdiam membisu tak mau merespon perkataan nya yang ingin mengeluarkan janinku.


"Besok siapkan dirimu untuk mendatangi dokter yang sudah ku bayar mahal untuk mengeluarkan janin itu! nanti Reni yang akan menemanimu menemui dokter tersebut. Karena dia sudah tau tempatnya, karena minggu lalu dia juga sudah mengeluarkan janinnya. Dan itu sudah dilakukan sebanyak tiga kali. " Ucap mas Rangga membuat mulutku mengangah.


Jadi Reni sudah pernah hamil sebanyak tiga kali, dan dengan teganya membunuh bayi tak bersalah itu? aku tak percaya dia melakukan hal seperti itu. Agh Reni.. mengapa kamu yang dulu kukenal sangat polos, berubah drastis seperti ini sih?


Akhirnya kami pun tiba dirumah mas Rangga. Saat kami masuk, ternyata disana memang sudah ada orang tuaku, kedua mertuaku dan juga adik permpuan ku. Namun aku tak melihat keberadaan adik ipar ku dan Shania. Mungkin mereka tak diundang oleh mas Rangga? atau mungkin saat ini Rendi belum tau kalau diriku tak berhasil melarikan diri di Bali?


Mungkin saja saat ini dia sudah tau akan hal itu, karena pasti Akbar telah menghubunginya.Kulihat ekspresi mereka semua seperti sedang menahan kecewa yang ditujukan padaku.


"Renata.. masih untung suamimu masih mau memaafkanmu. Seharusnya kamu sadar bahwa perbuatanmu itu sungguh keterlaluan. Mengapa kamu tega bermain api dengan adik iparmu sendiri? "Ucap Ibu mertua dengan nada tinggi.


"Bapak tak menyangka, sikapmu ini sudah melewati batas. Kamu pantasnya dihukum, untung saja dinegara ini tak ada hukum rajam." Ucap bapak kandungku tak kalah sengit.


"Nak.. ibu berharap, kamu mau merubah sikapmu. Untung saja suamimu masih mau memberimu kesempatan dan mau memaafkan kesalahanmu. " Ucap Ibu kandungku sambil menangis.


"Sekarang, bapak tanya kepadamu, apakah kamu masih mau menjalani rumah tangga dengan suamimu? kalau tidak, silakan kalian bercerai, dan kamu bersiap masuk kedalam penjara! " ucap bapak mertua lebih membuatku terkejut mendengarnya.


Atas dasar apa bapak mertua akan menjebloskan diriku didalam penjara? kuakui aku memang salah telah bermain api dengan adik iparku sendiri. Tapi mas Rangga juga melakukan hal yang sama kan? bahkan mas Rangga telah bermain api dengan banyak wanita termasuk adik perempuan ku dan juga Shania.


Mengapa hanya aku yang disalahkan oleh mereka? ingin rasanya aku protes, namun lidahku terasa sulit untuk berbicara.Hingga hanya air mata yang mengalir membasahi pipi ini.


"Ayo jawab, sayang! keputusan ada ditanganmu, dan aku siap menerima apapun keputusan darimu!" ucap mas Rangga sambil tersenyum manis kepadaku.


Dasar senyuman palsu, dihadapan semua orang dia menunjukkan sikap seolah-olah diriku yang paling bersalah. Memang kamu pandai berakting, mas! baiklah jika ini yang kamu inginkan. Sekarang diriku tak akan kabur lagi darimu. Jika Tuhan masih sayang padaku, suatu saat kamu akan menerima karma atas perbuatan jahatmu kepadaku.


"Aku minta maaf, mas!aku janji akan selalu setia kepadamu! dan kuharap kedepannya, kita bisa hidup dengan bahagia. " Ucapku bersimpuh di kakinya.


"Baiklah sayang, aku sudah memaafkan semua kesalahan mu! sekarang, kita mulai semuanya dari awal yah? " ucapnya membuatku mengangguk perlahan.


Mulai hari itu, akupun berpura-pura untuk mencintainya kembali. Dan berharap secepatnya karma itu menghampiri mas Rangga. Sungguh hatiku tak sabar melihat karma apa yang akan menimpa mas Rangga nantinya.

__ADS_1


__ADS_2