![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Untungnya kami tiba tepat waktu, jadi diriku masih bisa menata makanan itu ke piring yang terlihat cantik. Kan kalau pake piring mbok, bisa pada curiga nantinya pada diriku. Karena mas Rangga kan memintaku untuk memasaknya sendiri. Jadi semuanya harus terlihat sempurna.
Tapi nanti mereka akan menyadari masakan mbok ini gak yah? kan selama ini yang masak buat keluarga disini adalah mbok. Waduh, bisa gawat darurat kalau sampai ketahuan.
"Ada masalah, kak? kok terlihat gelisah seperti itu? " tanya Rendi yang datang menghampiri ku dimeja makan.
"Hufft, aku takut kalau mas Rangga, ibu, atau bapak menyadari kalau makanan ini adalah hasil masakan si mbok. Kan pasti udah hafal betul rasa masakan yang dibikin oleh mbok. "
"Kamu tenang aja, gak bakalan ada yang curiga. Nanti akan kukatakan kalau tadi aku yang membantumu memasak ini semua. " Ucap Rendi penuh percaya diri.
Aku tepuk jidat, lalu mengiyakan saja yang dia katakan. Yang paling penting, mereka percaya kalau semua makanan ini, aku yang memasaknya. Biar dapat pujian dan mendapat predikat menantu yang ahli dalam memasak makanan yang enak.Hehe maafin aku mbok.
Jam setengah enam sore, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun telah tiba dengan selamat. Aku yang sudah terlihat rapi ini pun menghampiri mereka dan mengucapakan selamat datang. padahal yah, ini rumah mertuaku malah ngucapin selamat datang segala.
Melihatku duduk disamping mas Rangga, lalu ibu mertua memperkenalkan tamu istimewanya tersebut. Ada sepasang suami-istri dan seorang wanita yang seumuran dengan Rendi. Wah, cantik banget, sumpah. Aku jadi iri.
"Hallo mbak Renata, aku Shania. Tadi, bang Rangga sudah bercerita banyak tentang mbak kepadaku. " Ucapnya memperkenalkan diri sambil tersenyum ramah.
"Wah, menantu kalian cantik juga yah. Pandai betul sih Rangga nih milih pasangan. " Puji bu Rina membuatku senyum-senyum bahagia.
"Rendi kemana yah, kok belum kelihatan dari tadi? " tanya Shania celingukan mencari keberadaan adik iparku tersebut.
Iya yah, kok bocah tengil itu belum turun juga yah dari kamarnya? betah amat ngurung diri di kamar? atau jangan-jangan mandi kembang segala karena ingin bertemu Shania.
Mungkin dia udah tau yang bakalan dibawa mertuaku kerumah ini adalah Shania. Tapi tunggu, melihat Shania yang datang bersama orang tua nya, apakah dia dan bocah tengil itu akan dijodohkan? atau mungkin mereka sudah lama pacaran dan sekarang datang untuk membicarakan pertunangan? karena penasaran aku pun berbisik kepada mas Rangga untuk menanyakan nya langsung.
Belum juga sempat dijawab oleh mas Rangga, ibu mertua yang mengatakannya lebih dahulu kalau Shania dan Rendi akan bertunangan. Dan kedatangan mereka ini untuk menentukan kapan hari yang pas untuk melangsungkan pertunangan tersebut.
__ADS_1
Deg..
Entah mengapa mendengar penuturan ibu mertua, membuatku cemburu yah? padahal Rendi kan hanya sebatas adik iparku saja. Ngapain harus ada rasa cemburu? Ingat, suamimu itu adalah mas Rangga, janganlah aneh-aneh deh.
Tak berapa lama, sang pangeran turun juga dari kayangan. Eh salah, adik iparku akhirnya menuruni anak tangga menuju kearah kami. Namun bukannya berpakaian yang rapi untuk bertemu calon tunangan,tapi malah memakai kaos oblong dan celana pendek selutut. Malu-maluin aja adik iparku ini.
Tapi walaupun hanya menggunakan pakaian yang seperti itu, membuat Shania terpesona. Itu terlihat jelas dari tatapannya yang tak berkedip saat menatap kearah adik iparku tersebut. Namun, entah mengapa adik iparku malah bersikap acuh terhadap gadis cantik itu. Apa mungkin gerogi kali yah?
"Loh, kamu kok bukannya berpakaian yang rapi sih? kan udah tau kalau saat ini bakalan kedatangan tamu istimewa. Sana ganti dulu baju kamu dengan yang lebih sopan yah! " ucap Ibu mertua membuat Rendi memutar bola mata malas.
Bapak mertua terlihat memelototi Rendi agar menuruti perintah ibunya barusan. Seolah sudah paham dengan tatapan bapaknya, adik iparku tersebut kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
Akupun meminta tolong kepada mas Rangga untuk membantuku menata makanan diatas meja yang belum rampung, namun dia menolak dengan alasan itu sudah jadi tugas istri. Padahal kan aku cuma ingin membuat tamu istimewa itu melihat keharmonisanku bersama suami tercinta. Ini malah menyuruhku menyiapkan sendiri. Berasa kayak pembantu aja dibuatnya.. Hiks..
Saat tengah menata makanan diatas meja, tiba-tiba saja ada sebuah tangan memelukku dari belakang. Aku senang dong, karena pikirku mas Rangga berubah pikiran dan akhirnya mau membantu istrinya ini yang sedang kewalahan. Saat aku berbalik, malah kaget karena yang melakukannya ternyata adalah adik iparku.
" Kalo ada yang liat gimana? aku gak mau yah kamu membuat kekacauan. Tolong, hargai aku sebagai kakak iparmu. "Ucapku dengan suara berbisik takut kedengaran orang lain.
" Terus, yang kita lakukan tadi pagi apa hanya karena kakak lagi pengen disentuh doang? karena bang Rangga gak ada dirumah, kakak melampiaskan nya padaku? katanya, kakak cinta padaku. "Ucap Rendi lalu memilih untuk duduk di kursi.
" Lupakan yang terjadi tadi pagi. Kamu benar, aku hanya melampiaskan hasratku kepadamu. Jadi tolong, mulai detik ini jangan pernah menggangguku lagi, karena aku tidak mencintaimu sedikit pun. "
Tanpa sengaja, aku melihat sekilas bayangan yang berada dibalik tembok pemisah ruang makan dan ruang tengah. Aku bergegas untuk melihatnya dan jujur saja ada ketakutan menyelimuti hatiku. Bisa gawat kalau ada yang mendengar percakapan ku dengan adik iparku barusan.
Tapi ternyata gak ada siapapun disana, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Atau mungkin hordeng jendela ruang tengah yang terkena angin sehingga terlihat seperti bayangan yang lewat.
"Sekarang, kamu temui mereka sebelum mereka yang kesini dan melihat kita berdua. Aku hanya takut mereka akan curiga terhadap kita berdua. " Ucapku walau hati ini masih gelisah dengan kemunculan bayangan tadi.
__ADS_1
Untungnya adik iparku tersebut mau menurut walaupun tampak jelas dimatanya ada kekecewaan atas perkataan ku yang menyakiti hatinya. Yah, sudah sepatutnya aku mengakhiri semuanya dan tak mau membawa adik iparku tersebut terlalu jauh untuk menjalin hubungan yang terlarang ini.
Kalaupun ingin membalas pengkhianatan mas Rangga, sebaiknya cari cara yang lain dan tidak membawa adik iparku tersebut kedalam rencana. Bisa berakibat fatal nantinya.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Saat makan malam, mereka terlihat lahap sekali. Yaiyalah, kan masakan mbok tidak diragukan lagi. Tapi untung saja, mas Rangga dan mertuaku tidak menyadari kalau makanan ini adalah masakan mbok. Mereka malah mengira ini masakanku bahkan sampai memuji segala dan katanya sangat lezat jadi pengen nambah.
"Masakannya, sebelas duabelas ama masakan mbok. " Ucap Rendi membuatku hampir tersedak.
Apa maksud bocah tengil itu berkata demikian? apa dia sengaja ingin mengatakan kalau aku ini sudah membohongi mereka? mengakui masakan mbok sebagai masakanku biar dapat pujian sebagai menantu terbaik?
"Iya, kok bisa sama yah rasanya dengan masakan mbok? " ucap Ibu mertua membuatku panik karena takut kebohongan ku terbongkar.
" Jangan-jangan kamu nyuruh mbok yang masakin ini semua yah? siapa tau kan waktu aku pergi tadi, kamu minta tolong pada mbok? "Ucapan Rendi sungguh membuatku malu, apalagi mereka semua menatapku penuh tanya.
" Yah, yang dikatakan oleh Rendi itu benar, aku.. "
Ucapanku terhenti, lalu tiba-tiba Rendi berucap,
"Tadi setelah belanja aku ninggalin kak Renata sebentar. Setelah balik, masakannya sudah pada mateng, eh taunya dia nelpon mbok untuk nanyain resepnya. Berarti sama aja dong ini termasuk masakan mbok juga. Makanya rasanya sebelas duabelas. "Ucap Rendi cengengesan pengen ku tabok tuh kepalanya.
Untung saja dia tak membongkar semuanya. Hanya karena masalah masakan ini, dan demi mendapat pujian, aku harus berbohong. Padahal jujur, aku benci pada pembohong. Gak sadar diri kalo diriku juga seorang pembohong.
"Jadi gimana keputusannya, apakah kalian sudah siap melangsungkan pertunangan di bulan depan? " tanya kedua orangtua Shania kepada Rendi.
Shania menoleh kearah Rendi menanti jawaban yang keluar dari mulut lelaki itu. Kalau aku melihat, Shania ini sangat mencintai Rendi. Tapi lelaki itu seperti ogahan kayak terpaksa. Tapi biarlkanlah menjadi urusannya sendiri.
__ADS_1
"Maaf, aku masih perlu waktu untuk berpikir. " Ucapnya lalu tanpa pamit bergegas pergi meninggalkan kami begitu saja.