Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
Tinggal seatap dengan adik perempuanku


__ADS_3

Setelah pertemuan keluarga itu, aku kembali dibawa oleh mas Rangga kerumah pribadinya. Kini jika diriku melihat lagi mas Rangga bermadu kasih dengan Reni ataupun dengan wanita yang lain, aku memutuskan untuk diam saja dan tak akan berniat kabur lagi.


Sudah capek diriku jika harus lari lagi dari lelaki itu. Ingin rasanya mengatakan yang sebenarnya kepada mertuaku, namun percuma saja karena mas Rangga itu bisa berakting dengan baik sehingga membuat semuanya lebih mempercayai omongannya tanpa mendengarkan dulu penjelasan dariku yang teraniaya akibat perlakuan lelaki itu.


Seperti biasanya, diriku sibuk menyiapkan makan malam untuk suamiku. Katanya sih dia akan pulang cepat malam ini untuk melepas rindu denganku. Sebenarnya diriku jijik jika harus melayani mas Rangga lagi mengingat sikapnya yang seperti seorang psikopat. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa karena itu sudah jadi kewajibanku sebagai seorang istri.


Dan untung saja, dia mau berubah pikiran dan membiarkan diriku mempertahankan janin ku ini hingga dia lahir nanti. Namun dengan satu syarat, setelah anak ini lahir, aku harus menyerahkannya kepada Shania. Karena menurutnya Shania yang lebih pantas merawatnya.Demi menyelamatkan janin ku, akhirnya aku pun setuju dengan syarat yang diberikan itu.


Tepat pukul tujuh malam, mas Rangga tiba di rumah ini. Dan dia tak datang sendiri, melainkan ditemani oleh adik perempuan ku. Agh, mengapa adikku itu sangat bodoh mau diperbudak oleh mas Rangga sih? aku tak tau dengan isi otaknya itu, dan lebih baik aku tak perlu ikut campur dengan urusannya. Kini bagiku, Reni adalah orang lain yang tak ada hubungan keluarga denganku.


"Kakak masak apa untuk kami berdua? eh iya, kakak kan gak bisa masak yah? hmm sayang, kita makan diluar aja yuk! " ucap Reni bergelayut manja pada suamiku itu.


"Enak tak enak, aku tetap akan memakan semua makanan yang sudah dimasak oleh istri tercinta ku. " Ucap mas Rangga membuat adikku itu memanyunkan bibirnya.


Agh, andai saja rumah tangga ku bisa harmonis seperti saat masa pacaran dulu, pasti diriku terasa terbang melayang saat mendengar ucapan mas Rangga tadi. Namun yang kurasakan saat mendengar ucapannya, biasa aja tak membuat diriku melayang terbang keawan-awan.


"Makanannya sudah dihidangkan diatas meja! silakan mencicipi masakanku, semoga sesuai selera yah. " Ucapku mempersilahkan mereka untuk makan.


"Kamu juga harus makan, pasti dari tadi belum makan kan? ayo, kita makan bersama! " ucap mas Rangga menarik tanganku.


Terpaksa aku ikut makan bersama mereka berdua. Bisa kulihat tatapan Reni yang seolah tak suka padaku.Selama dimeja makan, tak ada yang angkat bicara karena itu sudah kebiasaan kami kalau sedang makan tak boleh berbicara.


Barulah setelah selesai makan, mas Rangga mengucapkan satu kalimat yang membuatku keberatan.

__ADS_1


"Mulai sekarang, Reni akan tinggal seatap dengan kita! dan setelah kamu bereskan semua meja makan ini, kamu siapkan kamar untuknya! " ucap mas Rangga membuatku terkejut.


"Kamu mengajak Reni tinggal seatap dengan kita, mas? apa kata tetangga jika nanti melihat ada seorang wanita yang tinggal seatap dengan pasangan muda seperti kita? " ucapku merasa keberatan.


Aku sebenarnya tak peduli jika mas Rangga masih mempunyai hubungan terlarang dengan Reni. Hanya saja jika dia ikut tinggal disini, aku tak mau jadi bahan omongan para tetangga. Aku masih mempunyai rasa malu yang tinggi jika ada yang mengetahui tentang hubungan keduanya yang menjijikkan itu.


"Gak perlu banyak alasan deh, kak. Pokoknya turuti apa yang dikatakan oleh suamimu!dan aku ingin kamu membereskan kamarku serapi mungkin! " ucap Reni berlagak kayak nyonya saja.


"Ck, kamu pikir aku pembantumu? kamu udah gede, pasti bisa dong nyiapin sendiri? jangan nyusahin orang lain dan berlagak kayak nyonya. Karena aku adalah istri sah mas Rangga, dan tak sepatutnya kamu memperlakukan tuan rumah seperti seorang pembantu. " Ucapku karena merasa kesal dengan sikap adikku itu.


"Aku tak mau dengar keributan, sekarang kamu bereskan semua piring kotor ini, baru boleh istirahat! " ucap mas Rangga kepadaku sehingga diriku merasa seperti seorang babu saja di rumah ini.


Aku pun menurut lalu mengangkat semua piring kotor untuk kucuci. Namun aku ikhlas melakukannya, dan setelah semuanya beres diriku pun melangkahkan kakiku menuju ke kamarku bersama mas Rangga. Dari kejauhan, aku mendengar suara ******* dari arah kamarku, dan kuyakin mereka tengah bermain gila dikamar tersebut.


"Mas, mengapa kalian melakukan hal kotor ini dikamar kita? " tanyaku dengan nada kesal.


"Siapa suruh kamu tak mengindahkan ucapan suamimu untuk menyiapkan kamar buatku! jadi jangan salahkan aku dong jika kami melakukannya dikamar kalian. " Ucap Reni sehingga ingin sekali menampar pipinya itu


"Baiklah, kalau begitu silahkan ambil kamar ini, biar aku yang menempati kamar yang ada dibagian bawah. " Ucapku lalu meninggalkan kamar tersebut dan membiarkan mereka melanjutkan aksi kotornya.


"Sayang, tutup kembali pintunya dong! malam ini aku tidur bersama Reni. Besok baru denganmu. " Ucapnya membuatku jijik saja.


Aku sengaja memilih kamar yang ada dibagian bawah, agar telinga ini tak mendengar semua ******* mereka yang sangat menjijikkan itu. Saat membaringkan tubuhku diatas kasur, aku malah merindukan adik iparku. Kira-kira saat ini dia sedang apa yah? ingin rasanya menelpon dirinya, namun ponsel ku sampai sekarang belum kutemukan. Aku yakin, ponsel ku berada ditangan mas Rangga.

__ADS_1


Mungkin dia sengaja tak memberikan kembali ponsel itu kepadaku, agar diriku tak pernah berhubungan lagi dengan adik iparku. Hingga aku mempunyai ide, untuk menelponnya menggunakan telepon rumah. Tapi terbesit dibenakku, pasti nanti mas Rangga akan mengetahui kalau diriku menggunakan telepon rumah untuk menghubungi Rendi.


Daripada nanti akan menimbulkan masalah baru, lebih baik ku urungkan niatku tersebut. Hingga akhirnya, diriku mencoba untuk memejamkan mata agar tertidur dan mendapatkan mimpi yang indah.


_________________


Keesokan paginya, aku bangun dari tidurku dan bersiap-siap untuk membuat sarapan. Ternyata, mas Rangga lagi menikmati sarapannya yang mungkin sudah disiapkan oleh adik perempuan ku. Memang sih kuakui, Reni sangat jago dalam bidang masak memasak. Makanya dia selalu menjadi kebanggaan orangtuaku.


"Upss, aku lupa kalau saat ini kak Renata sudah kembali di rumah ini! sarapannya bikin sendiri aja yah? " ucap Reni, namun aku melewatinya begitu saja dengan cuek.


"Mas, istri pertama kamu itu loh, gak ada sopan santunnya kepadaku. Coba sekali-kali kamu ajarkan dia agar bisa sopan kepadaku! " ucap Reni lagi merengek manja kepada mas Rangga.


Karena merasa kesal dengan omongannya, aku pun menghampiri dirinya dan langsung menjambak rambut panjangnya hingga dia meringis kesakitan.


"Harusnya aku yang ngomong kayak gitu kekamu. Yang tak punya sopan santun disini tuh, kamu. Udah tau mas Rangga itu suami kakakmu sendiri, tapi masih saja kegatelan. " Ucapku lalu menarik rambutnya itu dengan kuat, setelah puas baru kulepaskan.


Reni menangis histeris sambil merengek kepada suamiku untuk membalas perbuatanku yang menurutnya sudah keterlaluan. Aku menoleh kearah mas Rangga menunggu reaksinya menanggapi rengek kan wanita penggoda itu.


"Sudahlah, Ren jangan bersikap kekanak-kanakan begitu dong! lagian apa yang dikatakan oleh kakakmu itu ada benarnya. Sekarang, kalau mau saling jambak-jambakan silakan saja! aku mau berangkat ke kantor dulu. " Ucap mas Rangga membuat Reni menghentakkan kakinya karena suamiku itu tak menuruti keinginannya.


"Dan kamu, sayang.. jangan coba-coba kabur dariku! kalau mau jalan-jalan, silakan saja. Tapi jangan sampai kamu ketemuan dengan Rendi, aku akan memberikanmu hukuman jika sampai ketahuan bertemu dengannya! " ucap mas Rangga mengancamku.


Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Namun dalam hatiku berkata, nanti akan membeli ponsel baru secara diam-diam dan akan menghubungi nomor adik iparku. Semoga saja, mas Rangga atau Reni tak mengetahui kalau nantinya aku mempunyai ponsel baru. Sehingga diriku bisa lebih muda untuk melepas rindu bersama adik iparku walau hanya melalui telepon.

__ADS_1


__ADS_2