Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
Kabur dari rumah


__ADS_3

Aku tak tahu harus berkata apa lagi, dan sulit bagiku untuk meminta mas Rangga agar segera mau menceraikan ku. Apa maksudnya menyimpan video itu? agar bisa mengancam ku? sungguh dirinya begitu licik.


"Kalau kamu mencintai wanita lain, apa susahnya menceraikan aku? apalagi kamu sudah tau kenyataannya kalau diriku telah berselingkuh dengan adikmu sendiri kan? jadi tolong, ayo kita bercerai secara baik-baik ! karena gak akan ada gunanya menjalani rumah tangga yang tak didasari oleh cinta. " Ucapku memohon pengertiannya.


"Gak akan ada yang namanya perceraian. Kamu tetap akan menjadi istriku, dan mulai saat ini kamu jangan lagi dekat-dekat dengan lelaki bajingan itu. " Ucap mas Rangga membuat Rendi mendorong tubuh suamiku itu memberi perlawanan.


"Apa maksud abang, berkata seperti itu, hah? aku dan istri abang itu saling mencintai. Gak ada gunanya mempertahankan pernikahan kalian jika pada kenyataannya abang masih saja bermain perempuan diluar sana. " Ucap Rendi mengepalkan tangannya.


"Oh, saling mencintai? baiklah, ayo kita tanyakan pada Renata tentang perasaannya. " Ucap mas Rangga menatap kearahku..


"Iya, aku mencintai adik iparku sendiri. Jadi semoga mas Rangga mau mengerti dengan keputusanku. Aku hanya ingin minta cerai. " Ucapku sambil berteriak di hadapannya.


Suasana jadi hening, lalu tak berapa lama kemudian mas Rangga memberiku dua pilihan yang sangat sulit untuk kuterima. Jika aku tetap menginginkan perceraian, konsekuensinya adalah menanggung malu karena rekaman video itu akan disebar ke sosial media.


Kalau aku pilih untuk bertahan, diharuskan untuk menerima mas Rangga bermadu kasih dengan wanita lain, dan diriku harus menjauhi adik iparku sendiri. Sungguh pilihan sulit yang diberikannya kepadaku.


Istri mana yang mau menerima jika suaminya berselingkuh dengan wanita lain? sebenarnya apa motifnya menikahi ku jika sebenarnya dia sama sekali tak mencintaiku ? sungguh aku bingung dengan jalan pikiran mas Rangga tersebut.


"Bagaimana Renata, kamu tinggal pilih saja biar semuanya cepat selesai. " Ucap mas Rangga lalu berjongkok mensejajarkan diri denganku yang terkulai lemas di lantai.


"Aku mau bertanya satu hal padamu, apa motif kamu menikahi ku? padahal kamu sedikitpun tak mencintaiku. Tolong beri tau alasannya mengapa aku yang kau pilih? "


"Oke, akan aku jelaskan semuanya secara rinci. Jadi sebenarnya aku itu tak mencintaimu, hanya saja adik perempuanmu itu menjodohkan aku denganmu sehingga karena ketampanan ku kamu masuk dalam perangkap ku. " Ucap mas Rangga tersenyum mengejekku.


"Yang aku tanya, motif kamu menikahi ku itu apa, mas? " ucapku dengan emosi.


"Sabar dong, sayang.. alasannya, karena kamu wanita bodoh yang bisa ku manfaatkan. Semua wanita yang dekat denganku, tak mau kuajak untuk menikah. Bahkan adikmu pun belum siap karena pada waktu itu dirinya masih sekolah.


Mengapa aku ingin buru-buru menikah? itu karena mempengaruhi jabatan ku. Kalau aku tidak cepat menikah, bapak tak akan memberikan perusahaan nya untuk ku kelola. Untung saja aku dapat merayu adikmu itu, sehingga pada akhirnya, yah seperti sekarang ini kamu telah sah jadi istriku. "Ucap mas Rangga membuatku meludahi mukanya.

__ADS_1


Mas Rangga terlihat mengelap ludah tersebut dari wajahnya, lalu menampar pipi ini dengan keras hingga diriku meringis kesakitan. Diriku baru sadar, ternyata mas Rangga yang ku kenal sejak dua tahun lalu ini adalah pria bermuka dua. Setelah aku mengetahui semua perbuatannya, dia sudah menunjukkan sikap aslinya yang suka main tangan kepada istrinya sendiri.


"Cepat pilih keputusanmu, sebelum aku muak dan membuat kamu dan keluargamu menanggung malu. " Ucap mas Rangga lagi lalu dengan tega menendang ku.


Rendi tak terima dengan perlakuan mas Rangga, lalu mereka pun terlibat dalam perkelahian. Hingga pada akhirnya, tanpa sengaja mas Rangga terdorong hingga jatuh menggelinding ditangga. Aku yang kaget, langsung bangkit berdiri dan menuruni anak tangga untuk melihat kondisi mas Rangga yang sudah tak sadarkan diri.


Begitupun dengan Rendi yang buru-buru mengambil ponsel milik mas Rangga dari saku celananya. Bukannya panik dengan keadaan abangnya, dia malah menarik ku untuk meninggalkan rumah.


"Rendi, lepaskan aku! sebaiknya kita bawa abangmu ke rumah sakit. Ini juga salahmu dan kamu harus bertanggung jawab. " Ucapku karena merasa iba melihat keadaan mas Rangga.


"Kak, sebaiknya turuti perintahku! bang Rangga tidak mengalami cedera yang parah. Dia hanya pingsan, ayo kita pergi sebelum dia sadarkan diri." Ucap Rendi membuatku tak yakin.


"Percayalah padaku, demi keselamatan kita berdua, lebih baik kita menjauh dulu dari bang Rangga untuk sementara waktu." Ucapnya lagi mungkin karena melihat keraguan ku.


Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Rendi, jadi ku turuti saja apa maunya. Sebelum pergi, aku dan adik iparku tersebut mengambil barang yang mungkin diperlukan. Dan beruntunglah mbok mengerti dengan keadaan kami, Sehingga menyuruh kami berdua untuk pergi sejauh mungkin.


Rendi juga berpesan kepada mbok untuk tetap berhati-hati mengingat keadaan mas Rangga yang kurang waras. Yah, menurutku mas Rangga itu pikirannya gak waras lagi. Kami pun keluar dari rumah itu menggunakan mobil milik adik iparku.


"Kerumah orangtuamu, mungkin disana kakak akan aman. "


"Lalu kamu? "


"Tenang saja, aku akan menginap di hotel yang tak jauh dari rumahmu. Karena gak mungkin juga kan aku tinggal bersamamu?"


"Lebih baik jangan kerumah orang tuaku, aku tak mau mereka curiga dengan keadaan rumah tangga ku. Apalagi minggu depan kamu akan tunangan, aku hanya tak ingin membuat orangtuamu tambah membencimu. "


Terlihat adik iparku itu sedang berpikir keras, begitu juga denganku yang memikirkan harus tinggal dimana. Kalau pulang ke rumah orang tuaku bisa-bisa mereka akan curiga, dan diriku tak mau mereka mengkhawatirkan ku.


"Kak, untuk sementara waktu kakak tinggal di apartemen ku aja yah? tenang aja, mas Rangga gak tau kok kalau aku punya apartemen pribadi. Disana kakak akan aman. " Ucap Rendi memberi solusi.

__ADS_1


"Terus, kamu gimana? gak mungkin dong kita tinggal bersama? bukan muhrim. " Ucapku membuatnya garuk-garuk kepala.


Hmmm jangan bilang bocah tengil itu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Walaupun aku sudah mengakui mencintainya didepan abangnya, tapi kan aku ini masih sah sebagai kakak iparnya.Gak boleh itu terjadi, mendingan cari tempat lain aja, dan harus tinggal menyendiri.


"Gini aja, kamu yang tinggal di apartemen ku sedangkan aku akan pulang dan mempersiapkan hati untuk bertunangan dengan Shania. " Ucap Rendi membuatku cemburu.


"Apa kamu beneran akan bertunangan dengan wanita penggoda itu? " tanyaku dengan wajah cemberut.


"Gak perlu cemburu gitu dong, kak. Aku punya rencana untuk membuat Shania dan bang Rangga malu didepan keluarga masing-masing dan seluruh tamu undangan. Untungnya aku sudah menyalin semua data yang ada diponsel bang Rangga. Didalamnya ada foto dan video kemesraan mereka berdua. Saatnya bermain cantik. "Ucap Rendi menaik turunkan alisnya.


Oh, jadi itu rupanya yang membuat Rendi mau melangsungkan pertunangannya. Ide bagus tuh, biar kapok mereka berdua karena selama ini sengaja mempermainkan hatiku. Mendengar ucapan mas Rangga sewaktu dirumah tadi, membuat rasa cintaku hilang seketika. Ternyata dia hanya memanfaatkan ku dan menikahi ku hanya karena ingin mendapatkan jabatan tinggi diperusahaan bapak mertua.


Lihat saja, setelah diriku menggugat cerai dirinya, dan membongkar semua pengkhianatan nya, aku bersumpah dia akan kehilangan pekerjaannya dan dipecat oleh bapak mertua. Biar jadi pembelajaran baginya.


Sehingga aku pun teringat sesuatu tentang rekaman video yang tersimpan diponsel mas Rangga,


"Rendi.. terus video kita yang tersimpan diponsel mas Rangga kamu sudah hapus kan? " tanyaku was-was takut video itu masih tersimpan diponsel mas Rangga.


"Tenang aja, semua data yang ada diponsel bang Rangga sudah kuhapus. Tapi sebelumnya sudah ku salin ke ponselku. " Ucapnya cengengesan.


"Oh, baguslah kalau begitu. " Ucapku merasa lega.


Hingga kembali kucerna kata-kata adik iparku tadi, membuatku tersadar akan sesuatu lalu diriku ingin merebut ponselnya yang sedang di genggamnya,


"Rendi.. jangan bilang kamu menyimpan video itu yah? cepat hapus.. " ucapku membuatnya menyembunyikan ponselnya dibelakangnya.


"Gak bisa kak, ini sebagai penyemangat ku. Kalau aku kangen ama kakak kan, bisa melihat isi video ini. Tenang, ini aman kok ditanganku gak akan tersebar, suer tekewer-kewer. " Ucap Rendi mencium pipiku.


Ah, biarkan sajalah yang penting video tersebut sudah tak tersimpan lagi diponsel mas Rangga. Jadi lelaki itu tak bisa mengancam ku lagi. Gak sabar rasanya melihat ekspresi mereka berdua saat dipermalukan didepan keluarga dan para tamu undangan yang hadir di acara pertunangan itu.

__ADS_1


Tapi tunggu, bagaimana kondisi mas Rangga setelah jatuh ditangga tadi yah? semoga dia baik-baik saja. Agh,aneh saja diriku ini, masih mau saja mengkhawatirkan lelaki pengkhianat itu.


__ADS_2