![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Jujur, aku turut merasa prihatin dengan apa yang dirasakan oleh adik iparku itu. Aku baru mengetahui, selama ini dia hanya butuh perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Namun hal itu tak pernah didapatkannya karena seperti yang terlihat, kedua orangtuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan.
Memang sih, mereka bekerja untuk dia juga dan menurutku semua yang dibutuhkan olehnya bisa terpenuhi. Mungkin saja dia belum mengerti, maklum masih labil.
"Aku hanya ingin menjalani hidup ini dengan bebas. Kakak liat sendiri kan tadi, dengan seenaknya mereka memaksaku untuk menerima pertunangan itu. Aku tidak mencintai Shania dan mereka tak mau tau dengan perasaan ku. " Ucap Rendi mengacak rambutnya.
"Tapi, Shania gadis yang cantik. Dan dia juga sepertinya baik, dan kurasa kalian cocok menjadi sepasang suami istri. " Ucapku mencoba membujuknya.
"Kakak sama aja kayak ibu dan bapak. Tak pernah mau mengerti dengan perasaanku. Sekarang keluar! pergi! menyesal diriku menceritakan semua ini pada kakak. " Ucap Rendi mengusir ku dengan kasar.
Karena tak mau membuat keributan aku pun memilih keluar dari kamar tersebut dan memutuskan untuk tidur saja. Tapi yah, sebenarnya aku tuh merasa khawatir dengan keadannya yang sedang tidak baik-baik saja. Namun aku harus kasih dia waktu untuk memikirkan nya sendiri.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Keesokan harinya, seperti biasa aku menyiapkan sarapan dan kali ini sudah ada mbok yang menemani. Akhirnya, ada teman juga buat diajak ngobrol. Mas Rangga terlihat menuruni anak tangga dan sudah terlihat rapi. Aghh aku baru ingat, pagi ini kan mas Rangga akan berangkat lagi keluar kota.
Dimeja makan, berasa ada yang kurang. Lalu aku menyuruh mbok untuk memanggil adik iparku agar turun sarapan bersama. Gak biasanya adik iparku tersebut melewati waktu sarapan bersama. Apa dia masih bersedih? mengingat semalam saat dirinya menangis, sungguh pikirannya belum dewasa, masih kekanak-kanakan menurutku.
"Maaf Non,den Rendi tak ada dikamarnya.Mbok udah cek dikamar mandi juga gak ada. " Ucap mbok memberitahu.
"Coba mbok lihat di kamar tamu! Mungkin dia ada disana. " Ucapku karena mengingat semalam dirinya masih berada disana.
"Kok bisa yakin, Rendi ada dikamar tamu? " tanya mas Rangga menaruh curiga padaku.
"Lah, siapa tau aja kan, mas? kan kata aku tadi, mungkin saja ada disana. Ih, mas nih jangan mikir macem-macem deh. " Ucapku dengan gugup.
"Siapa yang berpikiran macem-macem? aku kan cuma nanya kenapa bisa yakin doang. "
__ADS_1
Aku memutar bola mata malas menanggapi ucapan mas Rangga. Daripada salah bicara lagi, mendingan tak perlu diladeni ocehannya. Mas Rangga terlihat menoleh kearahku, seperti tersirat rasa curiganya terhadap istrinya ini.
Apalagi setelah mengetahui ucapanku benar kalau ternyata adik iparku tersebut berada di kamar tamu. Tapi aku pura-pura tak melihat ekspresi nya saat menatapku itu.
" Apa alasan bocah itu tak mau ikutan sarapan bersama? gak biasanya dia seperti itu. "Tanya mas Rangga kepada mbok.
" Anu, den.. katanya belum lapar. Nanti kalau lapar baru keluar makan sendiri katanya."
"Heran yah, punya kamar sendiri kok, malah tidur dikamar yang dikhususkan untuk tamu. " Ucap mas Rangga lalu mengelap mulutnya pake tisu.
Selesai sarapan, mas Rangga langsung berpamitan kepadaku dan memintaku agar tidak menghubunginya jika bukan dari dia yang memulainya. Aneh amat, masa istri pengen nelpon duluan gak dibolehin sih. Setelah kepergian mas Rangga, aku pun melangkahkan kaki untuk menonton TV di ruang tengah.
Saat melewati kamar tamu, terniat untuk mengetok pintu kamar itu dan menyuruh adik iparku tersebut untuk sarapan. Namun aku ragu, mengingat semalam dia mengusir ku secara kasar. Jadi aku menyuruh si mbok untuk mengantarkan nasi goreng kesukaannya kekamar itu.
Karena bosan, aku pun masuk kedalam kamar sambil memainkan ponsel. Namun mata ini tertuju pada satu benda penting milik mas Rangga. Lah, ponselnya ketinggalan. Terdengar nada dering tanda pesan masuk. Hati ini penasaran dong? walau ragu, tapi aku tetap saja membuka layar ponsel itu.
Ternyata chat group, aku hanya melihat notifikasinya yang baru masuk tanpa membuka keseluruhan isi chat tersebut biar mas Rangga gak curiga kalo aku udah lancang membuka ponselnya.
[ Eh, sih Rangga nih kok lama banget sih? apa dia nyari alasan lagi buat ngibulin istrinya? haha berani amat yah.. ] Reza
[Sssttt, jangan berisik nanti orangnya baca. Kita tunggu sebentar lagi pasti juga udah dijalan. ] Anggun
[Susah yah kalau suami takut istri, haha.. emang kamu gak takut @anggun? ] Alex
[Dasar dudul, jangan ngungkit itu lagi. Aku tuh udah gak punya hubungan apa-apa lagi dengan Rangga. Hati-hati kalo ngomong, nanti ada yang salah paham. ] Anggun
[ Haha, berarti takut dong ketahuan istrinya. Terus yang kemarin di hotel itu siapa? pake ngomong gak punya hubungan apa-apa segala.. haha] Alex
__ADS_1
Ponsel segera ku matikan dan ku taroh kembali ke tempat semula setelah mendengar suara langkah kaki yang menuju kekamar ini. Aku pura-pura berbaring dikasur sambil memainkan ponselku. Deg-degan juga, semoga suamiku itu tak menaruh curiga padaku.
"Sayang, tadi kamu buka ponselku yah? " tanya mas Rangga membuatku menahan nafas.
"Gak kok. Mana berani aku membuka ponselmu tanpa seizinmu. " Ucapku meyakinkan dan tak memperlihatkan kegugupan ku.
"Oh, baguslah kalau begitu. Berarti kamu istri yang berbakti pada suami. Kalau gitu aku pergi lagi. Bye, "
Mas Rangga pergi lagi setelah mengambil ponselnya yang ketinggalan. Tapi aku penasaran pada Anggun. Siapa wanita itu? tadi katanya pernah bersama mas Rangga di sebuah hotel? Jangan-jangan yang divideo itu, bukanlah adikku tapi wanita itu? aku memijiti keningku perlahan. Sungguh misteri apa lagi yang kau buat ini, mas?
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Sore harinya, saat aku menuruni anak tangga, tanpa sengaja aku melihat Rendi yang sudah berpakaian rapi. Entah akan kemana lagi dia pergi? saat aku menyapanya, dia malah memalingkan muka pertanda masih marah padaku.
Terdengar bel rumah berbunyi, agh, sore-sore begini siapa yang datang yah? tumben amat ada tamu dijam seperti ini. Terlihat mbok hendak membukakan pintu, lalu aku terus melangkah kearah dapur karena haus melanda.
Saat mbok kembali kedapur, aku bertanya siapa yang datang barusan, dan mbok berkata kalau itu adalah temannya Rendi. Aku hanya menanggapi oh doang pada mbok lalu hendak masuk lagi kedalam kamar sambil menunggu jam makan malam tiba.
Saat melewati ruang tengah, aku terperangah saat menyaksikan penampakan di depan mata. Rendi dan Shania tengah berciuman. Entah mengapa dada ini seakan bergemuruh dan rasa sakit hinggap dihati ini. Apakah aku cemburu? gak, itu gak boleh terjadi. Sudah sewajarnya adik iparku itu untuk melabuhkan hatinya pada Shania, calon tunangannya. Harusnya aku ikut bahagia, bukan?
Shania menyadari keberadaan ku, dan dengan malu-malu melepaskan ciuman mereka itu.
"Eh, kak Renata. Apa kabar kak? " ucap Shania masih menyimpan rasa malu karena ku pergoki sedang berciuman dengan adik iparku.
"Baik kok, dek. Kalian lanjut aja dulu ngobrolnya, kakak masuk kekamar dulu. " Ucapku lalu buru-buru melangkahkan kakiku menaiki anak tangga menuju kekamar.
Mengapa dengan hatiku ini? sadar diri dong, kamu itu istrinya mas Rangga, masa harus cemburu melihat kemesraan adik ipar sendiri? Mungkin otakku ini rada geser.Omegat..
__ADS_1