![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Aku mengerang perlahan. Kepalaku masih terasa sakit. Agh, kemana mereka perginya? sial, ternyata mereka masih mengikat tangan dan kakiku. Entah sudah berapa lama aku pingsan, bukannya membawa diriku kerumah sakit, malah dibiarkan begitu saja. Ya Tuhan, berilah kekuatan kepada hambaMu ini agar mampu terlepas dari penyekapan ini. Doaku berharap bisa kabur dari tempat asing ini.
Sepertinya mereka sudah pergi dan membiarkan aku sendirian disini. Otak adik perempuan ku dan mas Rangga itu sudah tak waras lagi. Mereka manusia yang tak berhati, dengan teganya menyiksa wanita hamil sepertiku.
Braaakkk..
Suara pintu yang terbuka secara kasar sontak membuatku terkejut. Tampak dua lelaki menghampiriku lalu dengan kasarnya menarik lakban yang menyumpal mulutku.
Sreeettt
"Aghhhh.. "aku mengerang saat merasakan perih dibagian mulutku.
" Maafkan kami,nona! sungguh, kami tak sengaja. Hahaha. "Ucap salah satu dari lelaki tersebut.
Kutatap wajah mereka satu per satu, dengan tajam. Lalu mereka hanya memperlihatkan tawanya yang mungkin sedang mengejekku karena terlihat sangat ketakutan.
"Wah, ternyata istri bos ini cantik juga. Boleh nih di icip sedikit. " Ucap salah satu pria itu membuatku bergidik ngeri.
"Jangan coba-coba deh! emang kamu ingin dihabisin sama si bos? " tanya pria yang satunya menabok kepala temannya.
"Sedikit aja coy.. gak bakalan ketahuan ama sih bos kok. " Ucap lelaki itu lagi lalu membujuk temannya agar mau bekerja sama dengannya untuk menyentuhku.
Aku sontak waspada dibuatnya. Jujur, aku sangat takut jika mereka berbuat macam-macam kepadaku. Apalagi salah satu dari mereka sudah bersiap untuk menyentuh bagian tubuhku. Beruntung temannya menarik tangan lelaki itu dan mengatakan agar tak melakukan hal bodoh yang akan membuat mereka dibunuh oleh bosnya.
__ADS_1
"Aku bilang jangan pernah menyentuh istri bos itu! aku tak mau gara-gara perbuatanmu, akan berimbas kepadaku juga. Aku masih ingin menikmati hidup. Setelah dapat bayaran nanti, barulah kamu cicipi wanita-wanita diluar sana. " Ucap lelaki itu membuat yang satunya naik pitam.
"Bos lagi ada urusan penting diluar, jadi gunakan kesempatan emas ini! " ucap lelaki itu lagi tetap ingin menjalankan misinya.
Karena keduanya saling bertentangan, akhirnya terjadilah perdebatan dan saat tak ada yang mau mengalah, mereka pun keluar untuk berkelahi dengan sengit. Aku menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Untungnya didepanku, ada sebuah pisau, mungkin jatuh dari saku salah satu lelaki itu.
Tanpa pikir panjang aku mencoba menggerakkan kursi yang melekat di tubuhku. Aku berusaha meraih pisau yang ada didepanku. Dengan susah payah aku mencoba untuk mengambilnya dengan menjatuhkan kursiku kesamping. Dengan refleks aku mengerang kesakitan, namun kuusahakan agar suaraku tak terdengar oleh kedua lelaki yang sedang berkelahi diluar sana.
Dengan menahan sakit aku tetap berusaha untuk beringsut bergerak menuju kearah pisau itu. Walaupun perutku juga ikut merasakan sakit, namun aku berdoa agar janinku baik-baik saja. Susah payah aku bergerak menuju kearah pisau itu hingga akhirnya usahaku tak berakhir sia-sia.
Setelah berhasil meraih pisau tersebut, aku pun mencoba untuk memotong tali yang mengikat tanganku. Memang sangatlah sulit, hingga diriku nyaris kehabisan tenaga dalam berupaya bisa memotong tali tersebut.
"Arghhh.. " Aku kembali mengerang kesakitan karena pisau tersebut mengiris salah satu jariku.Untungnya erangan ku tak terdengar oleh kedua lelaki itu.
Tanpa putus asa, akhirnya aku berhasil memotong tali itu. Dan kemudian aku juga memotong tali yang mengikat kakiku. Setelah semuanya sudah terlepas, aku merobek ujung bajuku untuk menutupi luka di jari ku yang terkena pisau tadi.
Diriku sama sekali tak mengenal tempat ini. Sekeliling nya di penuhi oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi. Agh, apakah aku disekap dihutan belantara? Namun aku tetap melangkahkan kakiku dan berharap bisa menemukan jalan keluar. Sakit di kepalaku mulai terasa lagi, dan bagian perutku juga ikut merasakan sakit. Namun aku berusaha menahannya agar bisa keluar dari hutan ini.
Hingga akhirnya, aku sampai disebuah jalan raya yang terlihat kecil. Sepertinya jarang kendaraan yang lewat di tempat ini.Membuatku berjalan mengikuti jalan raya kecil itu, mungkin saja aku bisa keluar dari tempat ini.
Tanpa terasa hari sudah mulai gelap, membuat diriku takut dengan suasana tempat ini yang begitu mencekam. Aku tetap melangkahkan kakiku walau dalam keadaan yang sudah sangat lemah. Aku menangis sejadi-jadinya meratapi nasib yang menimpaku ini.Mungkin saja saat ini Rendi sibuk mencari keberadaan ku. Ya Tuhan, semoga saja adik iparku itu baik-baik saja. Takutnya, mas Rangga akan berbuat hal yang lebih nekat lagi kepadanya.
Ingin rasanya diriku menelpon adik iparku untuk menjemputku pulang, namun sayangnya ponselku entah ada dimana. Pasti mas Rangga telah menyitanya agar diriku tak menghubungi siapapun untuk meminta pertolongan. Dengan sekuat tenaga diriku terus berjalan menapaki jalan raya kecil ini dan berharap ada kendaraan yang lewat agar bisa memberiku tumpangan.
__ADS_1
Mungkin kedua lelaki tadi sudah menyadari kalau diriku sudah tak ada disana. Apakah sekarang mereka sedang mengejarku? karena takut, akupun mempercepat langkah kakiku sebelum mereka berhasil menangkapku kembali.
Entah sudah berapa lama aku berjalan menapaki jalan raya kecil ini. Sesekali diriku menoleh kebelakang takut kedua lelaki tadi mengejarku. Untung saja sejauh ini tak terlihat tanda-tanda kedua lelaki itu mengejarku. Semoga saja mereka masih terlibat peperangan.
Dari kejauhan, aku melihat sorot lampu mobil yang menyapu jalanan. Tapi tunggu, itu bukan mobil mas Rangga kan? sepertinya bukan, karena aku hafal betul dengan mobil pribadi milik mas Rangga. Semoga saja mobil itu mau memberiku tumpangan agar diriku bisa kembali ke kota.
Saat mobil itu mendekat, aku mengetok jendela mobil itu untuk meminta pertolongan. Ya Tuhan terima kasih karena telah mengirimkan malaikat penolong untukku. Hatiku begitu riang gembira karena pada akhirnya aku bisa keluar dari hutan belantara ini.
Namun raut wajahku seketika mendadak takut karena melihat orang yang ada didalam mobil itu. Kali ini, aku tak bisa kabur kemana-mana lagi. Apakah nasibku akan berakhir sampai disini? ya Tuhan, kalau memang ini takdir hidupku, cepatlah jemput aku! biar diriku tak merasakan penderitaan seperti ini. Kali ini aku sudah pasrah jika harus mati.
"Ayo, sekarang ikut dengan kami! " Ucap Ria membukakan pintu mobil bagian belakang.
Aku terdiam membisu. Sepertinya Tuhan memang ingin menghukum ku. Karena tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya ditambah guntur yang menggelegar memekakkan telinga. Ria tetap menyeret ku untuk segera masuk kedalam mobil, namun diriku tetap berdiam diri seperti patung.
"Apakah kamu masih menganggap ku sebagai sahabatmu? "tanyaku menatap wajahnya dengan lekat.
" Iya, aku masih menganggap mu sahabat kok. Sekarang lekas naik ke mobil, karena hujannya begitu lebat. "Ucap Ria menarik tanganku.
" Kalau begitu, jangan antar diriku kepada mas Rangga! dia itu lelaki psikopat yang tak punya perasaan. "Ucapku memohon kepada wanita itu.
Bruuukkk...
Aku terjatuh dan terkulai lemas dipinggir jalan. Tetesan air hujan terasa menimpa wajah dan seluruh tubuhku. Kali ini perutku terasa sakit dan sulit untuk kutahan. Kepalaku semakin berat ku rasakan. Samar-samar kudengar, Ria dan suaminya berdebat. Suami sahabatku itu menyuruh untuk membawaku kembali kepada mas Rangga. Mendengar itu, aku ikhlas jika harus mati ditangan mas Rangga.
__ADS_1
Saat Ria dan suaminya mengangkat ku masuk kedalam mobil, kurasakan ada sesuatu yang mengalir dari daerah kewanitaan ku.
"Tolong aku, RI!" ucapku hingga akhirnya diriku tak tau apa yang terjadi selanjutnya.