Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
Kabar mengejutkan


__ADS_3

Karena pemakamannya akan diadakan besok pagi, Mas Rangga kemudian menyuruhku untuk mengikutinya pulang kerumah. Begitu juga dengan kedua mertuaku yang pamit kepada orangtua Shania. Aku melirik kearah adik iparku, dia sedang tertunduk letih, mungkin karena merasa kehilangan.


Saat sampai dirumah, Mas Rangga memilih untuk tidur bersamaku, mungkin dikamarnya sang tuan putri gak ada. Tapi yah sudahlah, aku tak bisa menolak karena diriku merupakan istri sahnya. Sepertinya dia kelelahan sehingga tak mau membersihkan badannya, malah langsung berbaring diatas kasur.


Untung saja, walaupun dia gak mandi, aroma tubuhnya masih tetap wangi.Aku yang merasa tubuhku sangat lengket, akhirnya bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhku agar terasa segar. Setelahnya aku menggunakan piyama dan bersiap untuk tidur.


"Seharian ini, kamu melakukan aktifitas apa saja, hem? " ucap Mas Rangga lalu menyuruhku untuk mendekatinya dan tidur dengan berbantalkan lengannya.


"Seperti yang kubilang tadi, seharian ini aku menghabiskan waktuku dirumah. Setelah menonton TV, aku pindah kamar dan langsung tertidur. " Ucapku menjelaskan kepadanya.


"Baguslah kalau begitu. Kuharap kedepannya kamu tak mengingkari janjimu. Apalagi sekarang Rendi sudah menjadi duda. Pasti dia akan mencari cara untuk merebutmu kembali dariku. " Ucap Mas Rangga sambil mengelus rambutku.


Aku hanya terdiam mendengarkan ucapan darinya. Kalau pun itu beneran terjadi, sudah pasti hatiku akan merasa paling bahagia. Karena saat ini aku hanya mencintai adik iparku tersebut. Namun, mengingat perkataan Rendi tadi siang sepertinya dia akan menjauhi diriku dan membiarkan abangnya hidup bahagia denganku.


"Kenapa kamu diam saja, hem? kamu tak punya niat untuk melarikan diri dariku bersama Rendi kan? " pertanyaan Mas Rangga membuyarkan lamunanku.


"Kamu ngomong apa sih, Mas. Aku sama sekali tak punya niat seperti itu. Lagipula aku sudah berjanji pada kamu untuk memulai hubungan ini dari awal. " Ucapku terpaksa berbohong.


"Terima kasih, sayang sudah mau berbakti padaku. Walaupun kini adikmu tinggal bersama kita, percayalah aku sama sekali tak mencintainya. Aku hanya menginginkan tubuhnya saja, gak lebih dari itu. Karena cintaku hanya untukmu seorang. " Ucapnya membuatku jijik saja.

__ADS_1


Namun aku berusaha untuk terlihat biasa saja dan menerima ucapannya yang mengatakan bahwa dirinya hanya menginginkan tubuh adik perempuan ku saja. Bayangkan, dia mengatakan langsung didepanku, mungkin kalau rasa cinta ini masih untuknya, sudah pasti hati ini terlampau sakit menerima kenyataan. Beruntung rasa sakit itu sudah berlalu, dan kini hanya menunggu waktu agar bisa terbebas dari suami psikopat seperti Mas Rangga.


"Tidurlah, sayang! aku tau kamu pasti lelah karena harus ikut dirumah sakit tadi. Apalagi perutmu sudah membesar seperti itu, kamu harus banyak istirahat. Itu lah mengapa aku masih membutuhkan Reni disini. Aku tak terlalu suka jika bermadu kasih dengan wanita hamil. " Ucap Mas Rangga lalu mengecup kening ini.


"Baiklah, Mas. Kamu juga langsung tidur yah, karena kan besok harus bangun lebih awal untuk menghadiri pemakaman Shania. " Ucapku lalu ingin melepaskan diri dari pelukannya namun terasa sulit.


Sehinga aku pasrah saja tidur sambil tubuh ini dipeluk oleh suami psikopat ku. Entah sudah jam berapa, aku belum bisa terlelap. Kudengar suara dengkuran Mas Rangga, menandakan dirinya sudah sangat terlelap atau bahkan kini sedang berada di alam mimpi. Kucoba kembali untuk melepaskan diri dari pelukannya, namun masih saja terasa sulit.


Hingga tanpa sadar mata ini telah tertutup sempurna dan diriku akhirnya terlelap juga.


________________________


Yang membuatku sedikit terkejut, saat melihat penampakan adik perempuan ku yang berada didekat ibu mertuaku. Ibu mertuaku tampak menyenderkan kepalanya dibahu Reni. Yah sudah pasti beliau merasa kehilangan atas kepergian salah satu menantu kesayangannya. Seandainya aku yang ada diposisi Shania, apakah beliau akan menangisiku seperti itu? Astaga, mengapa aku berpikir seperti itu sih.


Ampuni aku ya Tuhan, tolong jangan kabulkan keinginan ku karena diri ini masih ingin hidup didunia yang fana ini. Apalagi aku belum merasakan kebahagiaan, izinkan kebahagiaan itu menghampiri ku, aku sangat mendambakan nya. Amin. Aku berdoa dalam hati atas perkataan ku barusan.


Aku melirik lagi kearah adik perempuan ku. Dasar kesedihan palsu. Aku yakin dia yang menyebabkan kematian Shania, karena ada satu hal buruk yang telah direncanakan nya. Pokoknya, aku akan mencoba untuk menyelidiki semuanya. Kalau dibiarkan, takutnya akan ada lagi korban selanjutnya.


Setelah prosesi pemakaman selesai, kami pun meninggalkan tempat pemakaman tersebut dan pulang kerumah utama. Katanya sih, kedua mertuaku ingin mengatakan suatu hal penting kepada kami. Ternyata, orangtua Shania dan wanita yang tadi ada disamping Rendi juga ikut serta bersama kami.

__ADS_1


Lebih menyebalkan lagi, adik perempuan ku malah ikutan juga. Padahal kan dia gak ada hubungannya dengan keluarga suamiku. Dasar wanita yang sudah putus urat malunya, suka mencari muka didepan ibu mertua. Ingin rasanya menampar mukanya itu.


Saat hendak masuk kedalam mobil pribadi Mas Rangga, tiba-tiba Reni menerobos sehingga dirinya yang menempati bagian depan. Aku menarik nafas sepenuh dada dan mencoba untuk sabar menghadapi sikap adik perempuan ku tersebut. Kan malu diliatin orang-orang, berantem karena hal sepele.


"Kakak kan lagi hamil, jadi duduk dibelakang aja biar lega. Kalau didepan sempit soalnya. " Ucap Reni namun aku diam saja dan masuk kedalam mobil bagian belakang.


"Ngapain juga kamu ikut serta kerumah utama? perasaan kamu tak berkepentingan deh. Keluarga juga bukan kan? " ucapku membuat matanya melotot. Aku sih bodoh amat melihat ekspresi nya tersebut.


"Tolong, jangan berdebat lagi! sekarang kita otw menuju kerumah utama. Sepertinya ada hal mendadak yang ingin disampaikan oleh ibu dan bapak. " Ucap Mas Rangga lalu mulai menyalakan mesin dan menjalankan mobil mengikuti mobil lainnya yang ada didepan.


Melihat kedua orangtua Shania yang ikut serta, apakah mereka akan menuntut kematian anaknya tersebut? sudah pasti orang tuanya akan menuduh Rendi yang menyebabkan kematian Shania. Agh, semoga saja apa yang ada dipikiranku ini tak menjadi kenyataan. Gak bisa kubayangkan jika pada akhirnya adik iparku itu mendekam dalam penjara.


Akhirnya, kami pun tiba di rumah utama dengan selamat. Kami pun masuk kedalam dan berkumpul diruang tamu. Entah mengapa aku merasa aneh melihat wanita asing itu yang selalu nempel kayak perangko pada adik iparku. Siapa sebenarnya wanita itu yah? aku melirik kearah adik iparku, tatapannya sungguh datar sekali.


Tanpa berlama-lama, akhirnya bapak mertua angkat bicara dan mengatakan kabar yang hampir membuat jantungku mau copot.


"Karena semuanya sudah berkumpul disini, jadi bapak ingin menyampaikan satu hal, yaitu karena Shania sudah pergi untuk selamanya, maka sebagai gantinya, kakak dari Shania ini yang akan menggantikan posisi Shania sebagai istri dari Rendi. "


Deg

__ADS_1


Jadi wanita itu adalah kakak dari Shania? berarti kalau dia yang menggantikan posisi Shania, agh.. mengapa jadi seperti ini? itu tandanya mereka menggunakan sistem naik ranjang?


__ADS_2