Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
Takut mati secara mengenaskan


__ADS_3

Dengan perlahan diriku membuka mata ini karena mendengar suara langkah kaki yang datang menghampiri ku. Entah berapa lama aku tertidur dalam keadaan terikat seperti ini, sungguh perbuatan mas Rangga sangatlah keterlaluan. Mengapa bisa dia menemukan diriku dengan mudahnya? padahal aku sangat yakin jika kemarin Akbar membawaku ke tempat yang aman.


"Hallo sayang.. bagaimana keadaan mu hari ini? sepertinya dirimu bisa tidur dengan nyenyak walau dalam kondisi terikat seperti ini. " Ucap mas Rangga membelai pipi ini.


Aku hanya bisa menangis dan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berharap adik iparku datang untuk membebaskan diriku dari lelaki psikopat ini. Sungguh, saat ini diriku terasa lemah apalagi dibagian perutku terasa sakit karena dari semalam belum makan apa pun. Semoga janin yang di dalam perutku baik-baik saja.


Mas Rangga lalu membelai rambutku sembari menyelipkan anak rambut yang mungkin terlihat berantakan. Lalu juga mendaratkan ciuman singkat dikeningku. Aku tak bisa memberontak karena keadaan ku yang tak memungkinkan. Seandainya, jika hubungan kami masih seperti dulu, pasti aku akan bahagia diperlakukan seromantis ini.


"Ah, sayang.. apakah kamu ingin mengatakan sesuatu? baiklah aku akan membuka penutup yang menyumpal mulutmu itu! " Ucapnya lalu menarik dengan kasar benda yang menyumpal mulutku semalaman.


"Tolong lepaskan aku, mas! apa kamu tak punya rasa kasihan padaku yang tengah berbadan dua? " ucapku memohon agar hatinya tersentuh dan mau melepaskan ku.


"Tapi janji dulu, kamu tidak akan pergi lagi dariku! " Ucap mas Rangga lalu mengelus wajahku membuat diriku begitu jijik.


"Apa susahnya melepaskan diriku, mas? bukannya di luar sana ada banyak wanita yang mengantri? pilihlah salah satu dari mereka, dan biarkan aku mengejar kebahagiaan ku sendiri. " Ucapku memberanikan diri.


"Tapi aku hanya mencintaimu, dan mereka hanya kujadikan sebagai pemuas hasratku saja. " Ucap mas Rangga lalu mencium bibir ini dengan lembut.


Aku tak bisa melepaskan diri dari ciuman itu. Sudah kucoba untuk menutup mulutku rapat-rapat, namun mas Rangga berhasil membukanya sehingga terpaksa diriku pasrah saja. Airmata ku mengalir dengan deras menerima nasib yang seperti ini.


Tiba-tiba, ponsel mas Rangga berdering hingga akhirnya dia pun menghentikan aksinya dan melepaskan ciumannya lalu mengangkat telepon tersebut.

__ADS_1


"Ada apa adikku sayang? apakah kamu penasaran dengan keadaan kakak ipar mu? " ucap mas Rangga membuatku yakin kalau itu adalah Rendi.


"Bang Rangga.. tolong lepaskan kak Renata sekarang juga, atau aku akan membongkar semuanya kepada bapak tentang perselingkuhan mu dengan beberapa wanita. Aku sudah punya bukti rekaman video bang Rangga yang tengah bermadu kasih dengan beberapa wanita termasuk dengan Shania. Aku bisa pastikan bapak akan mencabut semua fasilitas dan akan memecat abang dari jabatan sebagai direktur utama. "Terdengar Rendi mengancam mas Rangga karena kebetulan obrolan mereka di loudspeaker.


" Kamu mengancamku? "ucap mas Rangga terlihat panik.


" Abang bisa pilih sekarang, membebaskan kak Renata,atau siap kehilangan harta serta jabatan? "ucap Rendi lalu mas Rangga membanting ponselnya karena frustasi.


Terlihat mas Rangga duduk termenung. Mungkin dirinya sedang mencari cara agar terlepas dari ancaman adiknya. Semoga saja, dia mau menuruti permintaan Rendi sehingga aku bisa bernafas dengan lega. Jujur saja, aku takut mas Rangga berbuat hal nekat dan bisa saja kan dia melukaiku karena melihat amarah yang terpancar diwajahnya.


" Sayang, aku tak mau bercerai darimu! kalau kamu tak mau kembali padaku, lebih baik kita berdua mati saja, agar dirimu selamanya jadi milikku. "Ucap mas Rangga membuatku ketakutan.


" Mas janganlah berpikiran pendek seperti itu! perjalanan hidup kita masih panjang. Aku yakin, mas Rangga akan menemukan kebahagiaan nantinya."Ucapku terus meyakinkannya agar tetap berpikiran yang waras.


Melihat pistol yang mengarah kepadaku, membuat diriku memejamkan mata. Apakah perjalanan hidupku berakhir sampai disini? Sepertinya, mas Rangga tidak main-main dengan ucapannya. Ya Tuhan, ampuni setiap salah dan dosaku. Memang sebenarnya aku belum siap untuk mati, namun kalau ini sudah takdir hidupku, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Renata..pikirkan sekali lagi, aku sungguh mencintaimu. Kemarin itu, aku hanya khilaf. Kalau kamu mau kembali padaku, aku janji akan memperbaiki segala kesalahan ku. Ucapnya mencoba membujuk ku seraya menggenggam tangan ini berharap diriku memberikan kesempatan kepadanya.


" Khilaf katamu, mas? kalau hanya sekali kamu lakukan mungkin aku bisa memaklumi kekhilafan mu. Tapi ini sudah berkali-kali kamu melakukannya bahkan dengan beberapa wanita termasuk adik kandungku. "Ucapku membuang muka darinya.


" Ayolah, sayang.. aku rasa kita berdua yang salah disini, bukan hanya diriku. Jadi kan impas, dan aku berharap kita kembali seperti dulu lagi yang menjalin hubungan dengan penuh kasih sayang. Aku tak ingin kita berpisah. Kalau kamu tetap tak mau juga, baiklah lebih baik kita mati secara bersamaan. "Ucap mas Rangga lagi lalu membelai pipiku menggunakan pistol yang digenggaman nya.

__ADS_1


Aku kembali memejamkan mataku melihat benda yang dipegang oleh mas Rangga tersebut. Apakah sekarang, aku lebih baik mengalah dan memberikan kesempatan itu kepadanya? hati ini sebenarnya hanya ingin berpisah dari mas Rangga secara baik-baik. Namun demi keselamatan nyawaku, sepertinya aku tak punya pilihan lain lagi.


"Ba-baiklah, aku akan kembali padamu dan berjanji tak akan kabur lagi darimu. " Ucapku walau tak sesuai isi hatiku.


Airmata ku kembali membasahi pipi ini atas keputusan yang kuambil barusan. Memang sangatlah salah, namun seperti kataku tadi, aku masih ingin menikmati hidupku didunia ini. Walaupun hanya menikmati nasib buruk karena kembali kepada mas Rangga, tapi setidaknya aku tak mati secara mengenaskan ditempat ini.


Mendengar ucapanku barusan, terdengar tawa menggelegar mas Rangga membuat kupingku terasa sakit mendengarnya. Lalu dia pun memanggil anak buahnya untuk membawakan berkas yang harus ku tandatangani. Melihat orang yang datang tersebut membuatku terkejut saja, anak buah mas Rangga datang bersama seorang wanita yang ternyata adalah adik kandungku sendiri.


"Hallo kakaku sayang.. wah sungguh kasian amat nasibmu, makanya jangan coba-coba kabur dari suamimu. " Ucap Reni sambil berkacak pinggang.


"Reni.. mengapa kamu tega kepadaku? apa salahku padamu, sehingga kamu memperlakukan aku dengan kejam seperti ini? " ucapku memandang kearah adikku itu.


"Kamu sih gak punya salah apa-apa sebenarnya. Hanya saja aku dari dulu ingin membuatmu hidup menderita. Emang sih kamu belum tau, kalau sebenarnya kamu itu hanya anak pungut."Ucap Reni membuatku terkejut.


Anak pungut? mengapa adikku sendiri tega mengatakan kalau diriku adalah anak pungut? diriku merasa adalah anak kandung dari ibu dan bapak. Agh, pasti ini akal-akalan dia saja untuk membuatku tertekan. Tapi mengingat orangtuaku yang bersikap tidak adil padaku tempo hari, apakah benar kalau aku ini sebenarnya bukan anak kandung mereka?


"Sekarang, ayo tandatangani surat perjanjian ini! kalau kayak gini kan kamu tak akan bisa kabur lagi dariku. Dan kekasihmu itu tidak bisa mengancamku lagi, karena kamu sendiri yang menginginkan hubungan kita kembali utuh seperti dulu." Ucap mas Rangga membuyarkan lamunanku.


"Gimana cara menandatangani surat itu kalau tanganku terikat seperti ini? " ucapku dengan emosi.


Akhirnya, aku bisa terlepas juga dari ikatan yang terlalu kencang ini. Lalu mas Rangga memberikan bolpen kepadaku agar dengan segera menandatangani surat perjanjian tersebut yang entah apa isinya. Diriku tak sempat membacanya karena kepalaku mendadak pusing.

__ADS_1


Masih terdengar suara mas Rangga yang menyuruhku untuk segera menandatangani surat tersebut.Sehingga saat tanganku sudah berada diatas surat perjanjian tersebut,tiba-tiba aku terkulai lemas dan selanjutnya aku tak tau apa yang terjadi lagi.


__ADS_2