Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
Pesta rujak


__ADS_3

Akhirnya aku memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua untuk mas Rangga. Dan diriku berharap, keputusanku saat ini sudah benar. Sesuai dengan janjinya, mas Rangga mengajakku untuk tinggal di rumah pribadinya.


Hal yang dulu sangat kuidamkan, akhirnya terwujud juga. Walau sebenarnya ada rasa keberatan dihati ini karena harus berpisah dari adik iparku, namun kuusahakan agar menghapus rasa cinta ini untuknya. Memang kuakui sangat sulit, tapi aku yakin dengan berjalannya waktu, semua akan terlewati.


"Sayang, apa gak ada barang yang ketinggalan? " tanya mas Rangga membuyarkan lamunanku.


Belum juga sempat menjawab pertanyaan mas Rangga, tiba-tiba saja perutku terasa mual. Aku pun berlari kearah kamar mandi untuk memuntahkan semua yang mengganggu isi dalam perutku ini, namun lagi-lagi hanya cairan kuning yang keluar dari mulutku.


Apa mungkin pengaruh belum makan dari pagi yah? tapi, ini sudah kedua kalinya diriku mual dan muntah. Pertama, pada saat diriku di apartemen bersama adik iparku. Jangan-jangan aku beneran hamil.


"Sayang, apakah kamu sakit? mukamu juga pucat banget loh. Kita kedokter aja yah? " ucap mas Rangga penuh perhatian.


"Aku gak apa-apa kok, mas. Mungkin masuk angin doang, apalagi tadi belum sarapan. " Ucapku menolak tawarannya itu.


Aku ingin memastikannya sendiri, dan kalau nanti saat dites dan hasilnya positif, apakah aku harus bahagia? sedangkan diriku belum tau pasti siapa yang berhasil menanam benih di rahim ku ini. Mas Rangga atau adik iparku?


"Kalau gitu, sana makan dulu! jangan menyiksa diri kayak gitu. Apa aku yang harus menyuapi mu baru mau makan? " ucap mas Rangga menaik turunkan alis nya.


"Yah, kalau gak keberatan sih mau. " Ucapku lalu melangkah pergi menuju kearah dapur.


Ternyata perkataan mas Rangga benar. Dia mengambilkan nasi serta lauknya kedalam piring lalu menyuapi ku. Rasa bahagia pun kembali hadir melihat sikap mas Rangga yang seperti ini. Namun baru juga sesuap yang masuk kedalam mulutku, aku langsung berlari kearah wastafel dan memuntahkan makanan itu lagi.


Mas Rangga datang menghampiriku dan mengusap-usap belakangku, lalu dia pun mengajakku untuk memeriksa keadaanku pada dokter. Katanya dia sangat khawatir melihat kondisiku yang seperti ini.


"Gak perlu kok, mas. Nanti aku minta tolong pada mbok aja untuk ngerokin belakang ku. Pasti langsung mendingan deh. Jadi jangan khawatir yah? " ucapku terus meyakinkan mas Rangga dan akhirnya dia pun mengangguk.

__ADS_1


Sebelum balik kanan otw ke rumah pribadi mas Rangga, kami harus menunggu kedatangan adik iparku yang saat ini sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Sebenarnya aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, namun mas Rangga memintaku agar menunggu mereka dulu biar sekalian pamit nantinya.


Sambil menunggu, akupun memilih untuk menonton TV. Akhirnya yang ditunggu pun telah tiba. Adik iparku itu datang bersama Shania dan ibu mertuaku. Ingin rasanya naik keatas dan mengurung diri dikamar, namun sudah kelihatan duluan sama mereka semua. Akhirnya, dengan senyum yang dipaksakan, aku menyambut kedatangan mereka tersebut.


"Aku ingin duduk disini dulu! " pintah Rendi lalu Shania menuntunnya untuk duduk disofa.


"Oya, sayang.. tolong ambilkan makanan yang tadi kita beli! aku ingin sekali memakannya. " Ucapnya lagi dan terlihat Shania menurut saja.


"Kamu itu, aneh loh Ren.. Masa Rujak dibilang makanan sih? " ucap Ibu mertuaku geleng-geleng kepala.


"Sayang, kamu kan belum makan dari pagi. Kalau makan itu, nantinya perut kamu sakit loh. " Ucap Shania bergidik ngilu.


Shania dan ibu mertuaku tampak menahan ngilu melihat adik iparku itu melahap rujak tersebut. Tapi entah mengapa aku ikutan ngiler sih melihat rujak itu? ingin meminta untuk mencicipi rujak tersebut, tapi malu dan aku juga sudah berjanji tak ingin mau mengobrol dengan adik iparku tersebut.


"Ayo, siapa yang mau, sini bantu aku memakan rujak ini! enak loh, dijamin deh. " Ucap Rendi membuatku ingin menghampiri dan ikut memakan rujak tersebut. Namun aku menahan diri agar tak tergoda.


"Yah udah kalau gak ada yang mau, aku habisin saja. " Ucap Rendi lalu kembali melahap rujak tersebut.


Daripada ngiler melihat rujak yang dimakan oleh adik iparku, mendingan masuk kedalam kamar dan menyuruh mas Rangga untuk cepat-cepat pergi dari rumah ini. Lagipula kan mereka sudah datang, jadi giliran kami berdua untuk pamit pergi.


Akhirnya, aku dan mas Rangga menuruni anak tangga lalu menghampiri semuanya yang ada di ruang tengah. Untung saja adik iparku itu sudah selesai dengan pesta rujak nya, jadi aku pun tak ngiler lagi deh.


"Bu, karena kalian sudah datang, sekarang aku dan Renata pamit untuk pulang kerumah kami. " Ucap mas Rangga berpamitan kepada ibu mertua.


"Iya, hati-hati dijalan! dan kalian baik-baik lah dirumah sendiri, kalau suamimu membuatmu terluka, langsung ngomong pada ibu, biar nanti tugas ibu yang memberi pelajaran kepadanya." Ucap Ibu mertua lalu aku dan mas Rangga bergantian mencium punggung tangan beliau dengan takzim.

__ADS_1


Namun baru saja mau berangkat, tiba-tiba mas Rangga menerima telepon dan mengharuskan dirinya untuk segera pergi meninggalkan aku lagi. Alasannya sih, ada rekan bisnisnya yang mengajaknya bertemu langsung sekarang juga. Niat hati ingin pergi secepat mungkin agar tak bertemu dengan Rendi lagi, namun dengan terpaksa diriku kembali masuk kedalam rumah itu.


Saat melewati ruang tengah, ku lihat hanya ada adik iparku dan Shania saja sedang asyik mengobrol mesra. Walau ada rasa cemburu, aku mencoba agar terlihat biasa saja di depan mereka. Aku pun buru-buru menaiki anak tangga agar terhindar dari mereka berdua.


Saat berada di dalam kamar, air mata ku jatuh begitu saja. Ternyata hatiku tak terima melihat kemesraan adik iparku dengan Shania. Sesak rasanya, ingin berteriak sekuat mungkin, namun aku sadar kalau aku berada di rumah mertuaku.


Hingga tiba-tiba terdengar ketukan pintu, membuatku menghapus segera air mataku. Kukira ibu mertuaku yang datang untuk melihat keadaanku, rupanya si mbok dan ditangannya sedang memegang kantong plastik berukuran kecil.


"Non, ini dimakan dulu! kata Den Rendi, Non pasti gak mual lagi kalau makan rujak ini. " Ucap mbok menyerahkan rujak tersebut kepadaku.


"Terima kasih, mbok. Oh ya, nanti saat aku pergi dari rumah ini, tolong sampaikan terima kasih ku pada nya yang telah memberikan rujak ini yah? "ucapku lalu dianggukin oleh mbok Ijah.


Ternyata adik iparku itu masih perhatian juga padaku. Untuk kali ini aku terima pemberiannya, daripada nanti ngiler kan? lain kali, aku pastikan akan menolaknya.Ini hanya terpaksa saja, dan aku berjanji tak akan kedua kali aku menerima pemberiannya begitu saja.


Saking pengennya makan rujak, tanpa terasa sudah habis kumakan sehingga membuatku kenyang. Padahal yah, dari dulu itu aku paling tak suka makan yang asam-asam. Karena sudah merasa kenyang, akhirnya aku tertidur pulas hingga tak terasa mas Rangga membangunkan ku untuk segera pulang kerumah pribadinya.


"Sejak kapan kamu suka makan rujak? setauku kamu sangat tidak suka makanan yang asam. " ucap mas Rangga karena melihat tempat rujak yang lupa kubuang ke tempatnya.


"Oh, itu.. anu.. tadi mbok yang nawarin ke aku. Daripada Mubazir, yah udah aku makan aja." Ucapku berbohong untungnya mas Rangga percaya saja dengan omonganku.


"Yah sudah kalau begitu. Sekarang ayo kita berangkat! " ucap mas Rangga membuat ku bersemangat.


Karena ada barang yang ketinggalan didalam kamar, akhirnya aku kembali untuk mengambilnya. Saat hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba adik iparku berada tepat di belakang ku, lalu dia berbisik sesuatu ke telingaku,


"Tolong jaga anak kita dengan baik! " Ucapnya membuatku hampir terjatuh untungnya dengan sigap dia menarik ku hingga diriku mengelus dada.

__ADS_1


"Bisa gak, jangan ganggu diriku! lagipula aku tidak hamil, jadi jangan mengada-ada. " Ucapku memelankan suara agar tak terdengar orang lain.


"Apa kakak yakin tidak hamil? ah, masa sih hanya aku yang merasakan nya sampai harus ngidam segala? " ucap Rendi lalu berjalan mendahului ku tanpa mau mendengar ucapan yang akan aku lontarkan.


__ADS_2