![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Entah mengapa pikiranku tak tenang, jadi kuputuskan untuk menelpon mas Rangga. Sekali bahkan dua kali menelpon tak kunjung diangkat, padahal nomernya sedang aktif. Kucoba terus hingga mas Rangga mau mengangkat telepon dariku, hingga akhirnya entah keberapa kali aku menghubunginya, barulah teleponku tersambung,
"Mas, kok lama sih ngangkat telepon dariku? Padahal aktif, dan sekarang mungkin lagi jam istirahat kan? " ucapku dengan nada kesal sehingga terdengar lawan bicara ku menghela nafas panjang.
"Sayang, kamu harus ngerti dong posisiku. Sekarang aku masih meeting bersama client. Jadi jangan dulu menghubungiku sebelum aku yang melakukannya terlebih dahulu. Akibatnya, meeting kami terganggu gara-gara kamu. " Ucapnya lalu memutuskan obrolan secara sepihak.
Apa katanya? mengganggu? padahal kupikir sekarang ini adalah jam istirahatnya. Kalaupun aku yang salah, tak bisakah dirinya bersikap lembut mengatakannya padaku? Ini malah memberikan kata-kata yang menyakitkan padaku. Tapi yah sudahlah, mungkin aku harus mengerti dengan keadaannya.
Tak lama kemudian ada pesan masuk lagi dari Nia dan kali ini disertakan sebuah foto. Padahal tadi sudah terniat dihati ini untuk meminta tolong padanya, eh malah duluan aja mengirimi foto yang kuinginkan. Soalnya penasaran aja siapa lelaki yang dilihat temanku itu bersama adikku.
Foto pertama dan yang kedua tak terlihat dengan jelas tampang lelaki tersebut, mungkin Nia mengambil gambarnya dari arah yang jauh,Sehingga pada waktu Nia mengirim foto yang ketiga dan keempat, nyata jelas pria yang bersama adikku tersebut. Mulutku mengangah seolah tak percaya dengan apa yang kulihat.
Lelaki itu ternyata adalah mas Rangga. Yah, suamiku itu memang tampak sedang bersama adik perempuan ku di sebuah restoran. Apa mereka bermain api dibelakangku? rasanya tak mungkin mereka tega menghianatiku. Mungkin saja hanya kebetulan bertemu, kan mereka berada dikota yag sama saat ini. Tapi masa sih, hanya kebetulan semata? mengingat, sudah berapa kali hal ini terjadi belakangan ini.
Pikiranku berkecamuk, antara percaya dan tidak pada semua yang terlihat ini. Namun, aku juga tak boleh sembarang menuduh sebelum mereka ketangkap basah olehku. Mulai saat ini, aku harus mencari tau tentang semuanya. Hingga saat hendak menelpon Reni, sekedar untuk bertanya keberadaannya, aku malah fokus pada status WA adikku tersebut.
'Sungguh pertemuan yang indah.. Love you mr. R'
Siapa yang dimaksud dengan mr. R? Apa mungkin mereka punya hubungan spesial dibelakangku? melihat status WA adikku, ku urungkan niat untuk menghubunginya. Aghh, kalian berdua sungguh membuatku bingung.
Dada ini sesak, berarti tadi itu sewaktu menelpon mas Rangga, dirinya terasa terganggu. Katanya ada meeting bersama client, eh taunya meeting ama adik iparnya sendiri. Tapi diriku masih tetap berpikiran positif, mungkin karena kebetulan bertemu.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Malam hari pun tiba, entah mengapa kepalaku terasa berat. Kuputuskan untuk turun kearah dapur untuk mencari sesuatu yang bisa kumakan. Sebenarnya aku tidak mau makan, karena teringat tentang foto yang dikirim oleh Nia tadi kepadaku. Tapi, cacing diperut tak mau diajak kompromi.
Saat menuruni anak tangga, dibelakang aku rupanya si bocah tengil itu membuntutiku. Aku mempercepat langkah karena tak mau dia berbuat hal aneh lagi.
"Pelan-pelan aja sih jalannya! " bisiknya ditelingaku.
__ADS_1
"Tolong, jangan berisik! aku tak mau mendengar suaramu itu. " Ucapku sambil tetap melangkah maju kearah dapur.
Mendengar perkataanku, dia pun berjalan mendahuluiku dengan langkah yang dipercepat. Bodoh amat kalau dia marah padaku, intinya saat ini aku tak mau diajak bicara oleh siapa pun.
Setelah meminum air, aku hendak kekamar lagi, tapi entah mengapa adik iparku malah menarik pergelangan tanganku. Lantas, akupun menghentikan langkahku dan menatapnya dengan sinis.
"Tolong, lepaskan! aku tak mau melihat wajahmu, jadi hargai keputusanku. " Ucapku namun tetap saja dia tak mau melepaskanku membuatku sedikit memberontak.
"Kak, aku tau kalau sekarang pikiran kakak lagi kacau memikirkan bang Rangga kan? aku cuma mau bilang, tak perlu menyiksa diri. Kalau kakak ingin teman curhat, temui aku saja! " Ucapnya lalu bergegas meninggalkanku.
Aku memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamar. Sesaat sebelum masuk, aku terpaku didepan pintu kamar adik iparku. Dalam pikiranku, mungkin saja Rendi tau sesuatu tentang abangnya. Buktinya, tadi adik iparku itu tau tentang suasana hatiku yang sedang kacau memikirkan mas Rangga yang entah bermain serong dengan adik perempuanku.
Ku urungkan niatku, aku harus tetap bisa berpikiran positif pada suamiku sendiri. Lagipula, mana mungkin aku harus curhat pada bocah tengil itu? Yang ada nanti dia menyangka aku memberikan kesempatan lagi kepadanya. Arggggh,, mending masuk kekamar dan akan kucoba untuk menghubungi mas Rangga lagi.
Kuraih ponsel yang berada diatas nakas dan melihat apakah ada yang mengirim pesan atau yang menghubungiku. Nihil, tak ada satupun yang rindu kepadaku. Lalu, kucoba menghubungi mas Rangga, namun hanya suara operator yang menjawab mengatakan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif.
Apakah kebetulan juga?
Tok.. Tok.. Tok..
"Kak, boleh minta tolong gak? " lamunanku buyar ketika mendengar ketukan pintu dibarengi suara Rendi yang terdengar meminta tolong.
"Ya, mau minta tolong apa malam-malam begini? kalo mau minta dibuatin makanan, perasaan masih ada tuh didapur. " Ucapku datar saat pintu kubuka setengah sehingga hanya kepalaku yang nongol menanyakan keperluannya. Males amat membuka lebar, yang ada nanti bocah tengil itu menerobos masuk.
"Cielah, takut amat yah padaku. Tenang kak, aku gak akan macem-macem kok. Kecuali atas permintaan kakak sendiri. Aku kesini untuk meminjam charger, soalnya punyaku ketinggalan dirumah temen. " Ucapnya dengan cengengesan membuatku ingin menaboknya.
"Ogah amat, ingat aku ini kakak iparmu! jangan berpikiran aneh deh, mana mungkin aku memintamu untuk berbuat hal yang terlarang. Tunggu disini! aku akan mengambilkan untukmu. Awas, jangan sampai berani masuk kedalam, atau aku akan pergi dari sini! " ucapku sengaja mengancamnya agar tak berbuat hal nekat lagi.
Setelah memberikan charger, aku hendak menutup pintu kamarku, namun lagi-lagi bocah tengil itu menahannya membuatku sedikit emosi dibuatnya.
__ADS_1
"Mau apa lagi? "
"Kakak harus sabar menghadapi bang Rangga yah? " ucapannya membuatku bingung.
"Maksud kamu apa berkata seperti itu? " tanyaku menginterogasi dirinya.
"Nanti juga tau sendiri. Sudah, gak perlu dipikirkan! mending sekarang masuk tidur, daripada aku berubah pikiran. " Ucapnya cengengesan lalu meninggalkanku.
Aku menghela nafas dengan kasar mencerna ucapan adik iparku tersebut. Apa mungkin dia tau sesuatu tentang abangnya? apa memang ada yang disembunyikan mas Rangga dariku? tentang perselingkuhannya mungkin? aku memijit keningku perlahan, semuanya sungguh membuatku pusing.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Pagi menyapa, aku bangun seperti biasanya dan diharuskan untuk membuat sarapan untukku dan ditambah juga untuk si bocah tengil itu. Dalam hati aku berharap, semoga bibi cepat balik kerumah ini agar diriku tak kesepian. Saat nasi goreng tertata diatas meja, seperti sudah hafal jam makan, adik iparku duduk lalu melahap nasi goreng buatanku.
"Hmmm, enak seperti biasanya. Makasih yah Kak, masih mau membuatkanku sarapan. Walaupun bawel, tapi makin sayang deh. " Ucapnya membuatku bergidik geli mendengarnya.
"Jangan asal kalo ngomong. Aku gak mau yah candaanmu itu terdengar orang lain. Bisa salah paham yang ada. " Ucapku lalu duduk untuk melahap sarapan ku.
"Emang selain kita berdua, ada siapa lagi disini kak? " Ucap Rendi celingukan melihat sekeliling sambil bergidik ngeri.
Aku memutar bola mata malas untuk menanggapi omongannya. Sehingga kemudian tak terdengar lagi ocehannya membuat suasana hening. Setelah selesai sarapan, aku membawa piring bekas untuk dicuci agar dapur terlihat bersih dan enak dipandang mata.
Saat menoleh kemeja makan, ternyata bocah tengil itu sudah tak kelihatan lagi batang hidungnya. Membuat hati ini tenang tak mendengarkan ocehannya. Kuputuskan masuk kembali kekamar untuk mencoba lagi menghubungi mas Rangga. Semoga saja kali ini sudah bisa terhubung.
Aku terpaku saat membuka layar ponsel, lagi-lagi Nia mengirimkan chat di aplikasi layar biru. Dia mengirim 2 buah gambar beserta sebuah video pendek. Aku langsung membuka video yang berdurasi satu menit tersebut dan tak mempeduikan dua foto yang dikirim sebelumnya.
Dalam video tersebut dengan jelas mas Rangga berpelukan mesra dengan seorang wanita. Tapi sayangnya wanita tersebut tak terlihat jelas raut wajahnya, karena membelakangi kamera. Hanya wajah suamiku yang terlihat nyata membuatku tak kuasa menahan air mata sehingga ponsel ditanganku ku banting dengan keras.
Apakah wanita itu adikku? tidak salah lagi, mereka bermain api dibelakangku. Video itu sudah cukup jadi bukti kebusukan mereka berdua. Sungguh tega kalian menghianatiku. Apa salahku? Lihat saja, aku bahkan bisa melakukan yang lebih dari kalian berdua. Akan kubuat kamu menyesal mas, aku tak akan tinggal diam.
__ADS_1