Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
Biar takdir yang berbicara


__ADS_3

Setelah sarapan, aku kembali kedalam kamar untuk sekedar chatingan bersama keempat sahabatku. Mungkin saja mereka mau diajak untuk bertemu. Semoga mereka masih berada di kota yang sama denganku. Bisa saja kan pindah tempat? daripada penasaran, kita langsung ke aplikasi.


Sudah banyak chat yang terlewatkan olehku, namun ku skip aja, dan langsung bertanya apakah mereka masih tinggal di kota yang sama denganku?


[Hey, gengs.. kalian masih tinggal di kota tercinta kita ini kan? ] Aku


Setelah beberapa menit menunggu, ada juga balasan dari mereka.


[Aku sih masih betah tinggal di kota ini. ] Fandi


[Aku juga, malah sering ketemuan ama Fandi, iya kan? ] Seno


[Idih.. jijay deh ketemu ama pisang. ] Fandi


Aku tertawa membaca chat keduanya, sungguh tak pernah berubah dari dulu.


[Kalo aku sekarang lagi di kota B, ngikut suami. Hehe. ] Ria


[Aku sih masih stay di kota kita ini lah. ] Gladis


[Kita reunian yuk! kangen tau pada kalian semua. ] Aku


Sementara asyik chatan bersama sahabatku, malah datang si pengganggu. Mau apa lagi bocah tengil itu menemuiku? nanti yang ada mbok salah paham lagi.Awas saja kalau dia berbuat macam-macam padaku lagi.


"Kak, lagi sibuk gak? "


"Gak.. emangnya kenapa? ada yang bisa dibantu? "


"Hmm, mau gak nemanin aku dirumah PELANGI lagi?


Aku langsung menoleh kepadanya, dan menunjukkan ekspresi bingung.

__ADS_1


" Itu loh, tempat yang kita datangi kemarin. Pasti anak-anak akan senang bisa bertemu denganmu lagi. "Ucapnya membuatku mengerti maksudnya.


" Boleh sih, daripada bosan dirumah terus. Hayuk lah otw! "ucapku bersemangat.


Daripada diriku bosan dirumah melulu, lebih baik aku mencari kesibukan biar otak ini jadi fresh. Saat menuruni anak tangga berbarengan dengan bocah tengil itu, terlihat mbok senyam senyum sendiri. Hayo, mbok lagi mikirin apa tuh?


"Mbok ini loh, kok heran amat sama kalian berdua. Hari ini tuh, kayak berbeda aja gitu loh. " Ucap mbok sambil senyam senyum melulu.


"Berbeda gimananya, mbok? " tanya bocah tengil itu menaik turunkan alisnya pada mbok.


"Kayak sepasang kekasih aja. hehe. Malah kalo dilihat lebih serasi dibanding dengan Den Rangga. " Ucap mbok membuatku batuk-batuk.


Mungkin mbok sadar dengan ketidaknyamanan ku, sehingga dengan segera meminta maaf padaku dan kembali berlari kecil kearah dapur. Jangan-jangan mbok mulai curiga yah dengan kedekatan kami? wah, aku harus lebih berhati-hati.


Diriku terkejut saat Rendi menarik tanganku untuk melanjutkan rencana mengunjungi rumah PELANGI. Dan mengatakan tak perlu mendengarkan omongan mbok, karena hanya akan menambah beban pikiran lagi.


__________________


Kami pun telah tiba dirumah PELANGI. tapi tunggu dulu, itu yang sedang bermain dengan anak-anak, Shania kan? lah ngapain si Rendi ngajak aku segala kalau dia juga mengundang Shania kesini? Hmmm, pasti dia akan membuat aku cemburu. Ini sih, bukannya membuat pikiran jadi fresh tapi malah nambah beban pikiran kali.


Kalau tau ada Shania, lebih baik aku dirumah aja tadi. Kesal deh, pengen kutabok kepala adik iparku tersebut. Daripada kesambet berdiri sendirian, akhirnya aku pun menyusul untuk bergabung dengan anak-anak yang ada disitu.


Eh, tau-tau Shania malah mengumumkan bahwa sebentar lagi akan bertunangan dengan Rendi. Mendengar omongannya, kok aku jadi kesal yah?


"Kupikir, kakak cantik yang itu pacarnya kak Rendi. Ternyata bukan yah? padahal menurutku sangat cocok. " Ucap salah satu anak menunjuk kearahku. Wih, masih bocah ingusan, bisa aja ngomong cocok segala.


Rendi menoleh kearahku sambil cengengesan. Doyan amat sih berekspresi seperti itu?Namun tetap ganteng sih walaupun mukanya dibuat sejelek mungkin. Kalau aku melihat, kok Shania kayak gak suka yah dengan kehadiranku? haha pasti cemburu, karena bocil tadi mengatakan kalau diriku yang cocok dengan Rendi.


Setelah selesai bermain dengan para bocil tersebut, kami pun pamit untuk pulang. Adik iparku mengajak untuk makan siang di sebuah restoran. Namun, aku mengusulkan untuk makan diwarung pecel lele aja. Soalnya lagi pengen banget.


"Sayang, aku gak biasa makan ditempat seperti itu. Kita ke restoran aja yah? " rengek Shania membuatku emosi.

__ADS_1


"Kak, kita makan di restoran aja yah? kasian Shania gak biasa makan ditempat begituan. " Ucap Rendi membuatku makin kesal.


"Yah udah, kalian berdua aja sana makan di restoran! aku akan pergi sendiri aja, lagian nanti aku bisa kok pulang sendiri.Jadi kamu turuti aja dulu kemauan calon tunangan mu itu ! " ucapku lalu melenggang pergi.


Kudengar adik iparku itu memanggil namaku dan mungkin akan mengejarku, namun ternyata dia membiarkan aku pergi begitu saja. Katanya cinta padaku, ah sudahlah makin pusing kepalaku memikirkan semuanya.


Karena kekesalan ku pada adik ipar ku, rasa lapar hilang seketika. Jadi aku memilih untuk duduk di sebuah taman sambil menghirup udara segar. Ah, entah sampai kapan masalahku ini akan berakhir? Saat tengah santai menikmati angin sepoi-sepoi, mata ini malah melihat seseorang yang tak asing. Bukannya mas Rangga sedang diluar kota?


Melihat suamiku menggandeng wanita lain, amarahku pun memuncak. Aku pun melangkahkan kaki untuk melabrak mereka, dan menguatkan hati agar tak kelihatan lemah dihadapan mas Rangga dan wanita itu. Sungguh laki-laki itu telah berbohong padaku. Sumpah, aku tak akan pernah memaafkannya.


Diri ini hampir dekat dengan kedua insan itu, namun tiba-tiba saja ada sebuah tangan menarik dirikku hingga aku terjatuh dalam pelukannya dibalik pohon rindang.


"Lepaskan aku, biarkan diriku menemui pengkhianat itu! " ucapku mencoba untuk lepas dari dekapan adik iparku itu.


Bukannya bocah tengil itu bersama Shania? mengapa tiba-tiba dia berada disini? gara-gara perbuatannya, aku jadi kehilangan jejak mas Rangga dan wanita murahan itu.


"Mengapa kamu lakukan ini, hah? lihat, aku kehilangan jejak suamiku. Seandainya kamu tak menggangguku, pastinya saat ini udah ku labrak mereka berdua. " Ucapku penuh emosi.


"Aku tau, tapi kakak tak boleh bertindak gegabah. Kita pulang dulu yah? untuk saat ini lupakan tentang bang Rangga. Ada saatnya nanti, dia akan menerima karmanya karena telah mengkhianati kakak.


Kamu tau karma yang akan diterima oleh bang Rangga? dia akan kehilangan dirimu dan akan menerima kenyataan istrinya ini akan jadi milik adiknya sendiri. " Ucap Rendi membuatku menatap matanya dalam-dalam.


"Terus Shania? " tanyaku yang membuatku heran kok bisa-bisanya bertanya hal konyol seperti itu.


"Aku tidak mencintainya, tapi kamu tak perlu khawatir, aku bisa mengurusnya nanti. Dan kupastikan, kita berdua akan hidup bersama selamanya. Hanya kamu yang kucintai. " Ucapnya lagi lalu mencium kening ku.


Jujur pikiranku saat ini buntu. Entah mengapa setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri tentang pengkhianatan mas Rangga, aku terlena dengan ucapan adik iparku. Apakah memang sebenarnya aku mencintai adik iparku tersebut? dan bukan sekedar dijadikan pelampiasan atas kekesalan ku pada mas Rangga?


Wahai hati kecilku, jawablah pertanyaanku ini! Hu dasar pelit, biasanya kalau gak diminta, ngomong terus hati kecil nih. Hehehe..tuh kan malah tertawa. sssttt,, serius dulu yah..


untuk mas Rangga, aku tak akan pernah memaafkan semua perbuatannya. Mungkin saat ini yang harus kulakukan hanya sekedar balas dendam. Dan jika nyatanya aku mencintai adik iparku tersebut pada akhirnya? biarlah takdir yang berbicara.

__ADS_1


Aku pun membalas pelukan adik iparku tersebut dan tak mempedulikan mata yang memandang. Ini kan tempat umum, woy? ah biarkanlah aku menikmati pelukan hangat adik iparku. Terserah apa pendapat orang yang sempat melihat kami. Yang penting kan kami tak melakukan hal menjijikkan. Ini masih dalam batas wajar lah.


"Apa yang kalian berdua lakukan disini? aku tak percaya, dengan semua pemandangan ini. Kalian sungguh menjijikan. "


__ADS_2