![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Setelah membereskan semua pekerjaan rumah, akupun memutuskan untuk membersihkan diriku dan kemudian bersiap untuk keluar jalan-jalan sembari nanti akan membeli ponsel baru. Untung saja, diriku masih punya tabungan untuk membeli ponsel yang murah, yang penting bisa kupakai untuk sekedar menghubungi adik ipar ku.
Setelah selesai bersiap-siap aku mengintip kekamar utama, dan untungnya adik perempuan ku sudah tak ada, entah kemana perginya. syukurlah, jadi aku bisa bebas untuk keluar dari rumah ini tanpa gangguan darinya.
Terdengar suara klakson mobil yang kuyakin itu adalah taxi online yang sudah ku pesan tadi. Buru-buru diriku mengunci pintu dan masuk kedalam mobil tersebut. Aku pun mengatakan kepada sopir taxi itu untuk membawaku disebuah counter terdekat.
Tak membutuhkan waktu lama, aku pun telah sampai disebuah counter yang dekat dengan sebuah swalayan. Aku turun dari taxi lalu masuk kedalam counter tersebut sambil melihat-lihat dulu.
"Hallo ibu, apa ada yang bisa dibantu? " sapa pegawai counter kepadaku yang terlihat sibuk melihat ponsel yang terpajang di etalase.
"Ini Mbak, aku mau mencari sebuah ponsel yang bagus dan harga yang murah." Ucapku sambil tersenyum kearah pegawai counter tersebut.
Mendengar penjelasanku, pegawai counter tersebut mengambil sebuah ponsel yang katanya bagus dan harganya juga sangat murah lalu menyodorkan kepadaku. Tanpa pikir panjang lagi, akupun memilih ponsel tersebut karena kebetulan uangnya juga pas.Tak lupa juga aku membeli kartu perdana agar sekalian dipasangkan oleh pegawai counter tersebut.
Setelah semuanya beres, aku pun segera meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan gembira. Semoga saja dengan adanya ponsel baru ini, hubunganku dengan Rendi bisa kembali seperti dulu lagi walaupun secara sembunyi-sembunyi. Kembali diriku memesan taxi online dan memilih untuk langsung pulang kerumah saja.
Setelah sampai dirumah, beruntung adik perempuan ku dan juga mas Rangga tak ada. Jadi diriku bisa dengan bebas untuk menghubungi Rendi tanpa sepengetahuan mereka berdua. Untung saja, nomor adik iparku itu masih terhubung, dan semoga saja yang mengangkat teleponku bukan Shania. Karena biasanya wanita itu yang memegang ponsel Rendi saat ada kesempatan.
Saat panggilan tersambung, aku bernafas lega karena pada akhirnya diri ini bisa mendengar suara adik iparku lagi.
"Hallo, ini dengan siapa yah? " tanyanya diseberang telepon.
"Rendi.. ini aku, Renata." Ucapku dengan rasa yang deg-degan.
__ADS_1
"Kak Renata.. kenapa kamu ganti nomor telepon? sejak kemarin aku mencoba menghubungi kakak tapi selalu diluar jangkauan. Apa kakak baik-baik saja? "
"Iya, aku baik-baik saja. Hanya saja Mas Rangga tak memperbolehkan aku menemuimu lagi. Ini saja aku membeli ponsel tanpa sepengetahuannya." Ucapku sambil melihat kearah jendela, takutnya Mas Rangga atau Reni datang secara tiba-tiba.
"Kak, aku kangen banget. Kapan kita bisa ketemuan?" ucap Rendi membuatku bahagia mendengarnya.
"Nanti kita cari waktu yang tepat yah? untuk saat ini sepertinya sangat sulit karena aku tak mau ketahuan oleh Mas Rangga. Karena kalau aku melanggar perintahnya, kita berdua dalam bahaya. " Ucapku dengan nada sedih.
Karena lelah, akhirnya aku memilih untuk membaringkan tubuhku diatas kasur sambil melepas rindu bersama Rendi walau hanya melalui telepon. Lama kami mengobrol sampai lupa waktu, dan itu sangat membuatku bahagia karena bisa kembali terhubung dengan Rendi sang pujaan hati.
"Aku sudah tak sabar ingin bermadu kasih denganmu lagi. Aku sangat merindukan suara des**annmu yang nakal. " Ucap Rendi membuat hasratku bergejolak.
"Semoga saja secepatnya kita bisa bertemu untuk melepaskan rindu yah? aku juga sangat merindukan sentuhanmu, sayang. " Ucapku memberanikan diri memanggilnya dengan sebutan sayang.
Baru saja aku ingin mengucapkan satu kalimat, terdengar ketukan pintu kamar yang sangat keras. Aku terkejut karena tak menyadari kalau Mas Rangga sudah pulang. Aku yakin itu adalah Mas Rangga karena diriku melihat dari jendela kamar kalau dihalaman rumah telah terparkir mobil pribadinya.
Segera aku mematikan sambungan telepon dan menonaktifkan ponsel ku. Setelah itu menaruh ponsel tersebut di tempat yang aman.Untung saja aku mempunyai mp3 mini sehingga bisa memberi alasan jika Mas Rangga mendengarkan suaraku yang sedang mengobrol barusan dengan Rendi.
"Renata... cepat buka pintunya sekarang juga atau aku akan mendobraknya! " ucap Mas Rangga dengan nada tinggi.
"Iya, Mas tunggu sebentar aku lagi buang air nih. " Ucapku sedikit berteriak agar kedengaran oleh Mas Rangga.
Untung saja, kamar yang kupilih mempunyai toilet dalam. Sebelum keluar kupastikan semuanya aman lalu segera aku menarik nafas lalu menghela nya. Setelah memasang headset dikuping sambil mendengarkan musik dari mp3 mini, aku membukakan pintu kamar untuk Mas Rangga.
__ADS_1
Saat melihat wajahnya, aku mencoba untuk tersenyum semanis mungkin menyambutnya dan berusaha menghilangkan rasa gugup karena takut ketahuan bahwa barusan diriku sedang mengobrol dengan adik kandungnya.
"Tadi aku mendengar kamu sedang mengobrol dengan seseorang, apa didalam ada orang selain kamu? " tanya Mas Rangga lalu masuk kedalam kamar untuk memastikan.
"Mengobrol? perasaan dari tadi aku hanya seorang diri disini sambil mendengarkan musik. Oh, atau mungkin karena tadi aku ikut bernyanyi, makanya terdengar suara seperti orang yang sedang mengobrol. Karena lagu yang kunyanyikan tadi adalah lagu Rap, soalnya aku pecinta Rapper. "Ucapku sambil nyengir kuda kepadanya.
" Benarkah? aku kok baru tau kalau kamu suka dengerin musik Rap. Tak pernah loh aku mendengar kamu bernyanyi, apa kamu ingin membohongiku?"tanyanya membuatku menelan saliva.
"Mas, semenjak hamil ini aku sukanya dengerin lagu seperti itu. Kalau gak percaya, lihatlah sendiri disini hanya ada lagu Rap saja tak ada yang lain. " Ucapku terus meyakinkan dirinya.
"Ok lah kali ini aku percaya denganmu. Tapi ingat, kalau kamu ketahuan berbohong, dan masih saja menghubungi Rendi, aku tak segan-segan membuat hidupmu menderita. " Ucap Mas Rangga lalu keluar dari kamar.
Diri ini kembali bernafas lega karena belum ketahuan oleh Mas Rangga. Kedepannya harus lebih hati-hati lagi. Aku keluar dari kamar menuju kearah dapur untuk menyiapkan makan siang. Namun ternyata, saat makan siang sudah siap semuanya, Mas Rangga memilih untuk menjemput tuan putri disuatu tempat yang entah dimana, aku pun tak tau dan tak mau tau.
"Kamu makan sendiri aja yah, aku dan Reni akan makan diluar. Nanti malam gak perlu masak, karena ibu dan bapak mengundang kita untuk makan malam dirumah utama. " Ucap Mas Rangga membuatku mengangguk paham.
"Ingat, mulai saat ini kamu tak diperbolehkan untuk memegang ponsel pribadi. Kalau ingin menelpon keluarga atau teman, kamu bisa pakai telepon rumah. Dan jangan sekali-kali kamu menghubungi Rendi, aku tak akan memaafkanmu. Mengerti? " ucapnya lagi lalu mengecup kening ini dengan lembut.
"Iya, Mas aku mengerti dan tak akan melanggar peraturan yang Mas berikan. " Ucapku lalu mencium tangannya dengan takzim.
Setelah kupastikan Mas Rangga benar-benar telah pergi, aku mengunci pintu rumah lalu memutuskan untuk makan sebelum kembali menelpon adik iparku.Dipikir suamiku aku adalah wanita bodoh, maaf saja aku tak sebodoh itu. Di depannya biar saja aku terlihat bodoh dan diri ini mencoba untuk menjadi istri penurut dan setia.
Kali ini aku mempunyai ide untuk menjebak Mas Rangga dan Shania. Kupikir mereka juga masih mempunyai hubungan special. Kalau aku mempunyai bukti yang kuat, pasti kedua mertuaku akan sadar siapa sebenarnya pengkhianat itu. Dengan begitu, aku bisa terbebas dari semuanya dan berharap kebahagiaan itu segera menghampiri.
__ADS_1