Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
Ijab khobul


__ADS_3

Hari berganti hari, tak terasa kini tiba saatnya hari pernikahan adik iparku. Sebenarnya, hati ini enggan untuk menghadiri acara pernikahan tersebut.Namun mengingat hanya akan menimbulkan kecurigaan, dengan terpaksa aku akan turut hadir memeriahkan hari bahagia adik iparku tersebut.


Sebelum berangkat ke gedung tempat berlangsungnya pernikahan itu, aku pun memakai gaun pemberian dari Mas Rangga, katanya agar diriku terlihat anggun didepan para tamu sehingga akan membuatnya bangga akan pujian tersebut. Padahal perutku yang sudah agak membucit terasa sesak jika memakai gaun yang seperti itu.


Namun daripada hanya akan menimbulkan perdebatan, ku paksakan saja memakainya. Aku tersenyum getir didepan cermin. Apakah aku sanggup menyaksikan saat orang yang kucintai bersanding dipelaminan bersama wanita lain?


"Sayang, apakah kamu sudah selesai ganti baju? " Teriak Mas Rangga sambil mengetuk pintu kamarku.


"Iya, Mas.. ini tinggal memasang anting doang kok. " Ucapku sedikit berteriak biar didengar olehnya.


"Cepatan dong, sayang. Nanti kita telat loh, karena sebentar lagi acaranya akan segera dimulai. " Teriaknya lagi lalu diriku langsung membukakan pintu dan keluar.


Saat diriku menampakkan diri dihadapan nya, tampak jelas kalau lelaki yang masih berstatus kan suamiku itu terpesona melihat penampilan ku. Bukannya sombong, tapi banyak yang bilang kalau aku adalah wanita yang cantik. Lihat saja, Mas Rangga bahkan tak berkedip untuk beberapa saat sewaktu memandangku.


"Mas, ayo katanya takut telat. " Ucapku menyadarkannya dari tatapannya tersebut.


"Kamu sangat cantik, sayang. Itulah mengapa aku sangat mencintaimu. " Ucapnya lalu kami pun menuju kearah mobil.


Kalau aku masih mencintai nya seperti dulu, sudah pasti berbunga-bunga saat mendengar ucapannya itu. Tapi kini aku malahan pengen muntah mendengarnya, karena sudah pasti itu hanya kata gombalannya saja. Kalau benar-benar mencintai, gak akan pernah berkhianat.


Ngomong-ngomong aku tak melihat keberadaan adik perempuan ku. Apa mungkin dia sudah kesana sendiri? atau pergi ke tempat lain? syukurlah, aku tak melihat wajahnya yang menyebalkan itu.

__ADS_1


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kami pun tiba di sebuah gedung tempat berlangsung nya acara pernikahan. Bisa kulihat dengan jelas adik iparku yang sedang duduk berhadapan dengan penghulu. Rupanya akan melangsungkan ijab khobul. Dirinya begitu tampan saat memakai baju tradisional khas Jawa.


Ternyata dia menyadari kehadiranku sehingga saat kami beradu pandang dia langsung membuang mukanya kearah lain. Agh, sebenci itukah dirimu sekarang padaku? melihat reaksinya yang seperti itu, lantas membuatku bersedih. Namun sebisanya aku bersikap sesantai mungkin agar tak menimbulkan kecurigaan.


Akhirnya, sang mempelai wanita datang dan duduk di samping mempelai pria. Kuakui wanita itu sangat cantik dan memang mirip dengan Shania. Acara pun dimulai,


"Saudara Rendi Wijaya, saya nikahkan kamu dengan seorang wanita yang bernama Vhania binti Cahyono dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai. " Ucap Pak penghulu sambil menjabat tangan adik ipar ku.


"Saya terima nikahnya Renata binti Baskoro, "


Akadnya terhenti karena adik iparku salah menyebutkan nama pengantin wanitanya. Loh, kenapa Rendi menyebutkan namaku? sekilas kulihat, para tamu undangan berbisik-bisik bahkan ada yang melirik kearahku. Pasti mereka menduga-duga kalau adik iparku mempunyai rasa terhadapku.


Namun lagi-lagi, adik iparku itu menyebutkan namaku lagi, sehingga untuk sementara acara ijab khobul nya terjeda.Terlihat bapak mertuaku berbisik kearah Rendi, mungkin sedang menyuruh adik iparku itu agar berpikiran fokus. Penghulu juga mengatakan kalau salah lagi, maka pernikahan itu menjadi batal alias tidak sah.


"Apakah, nak Rendi sudah siap kembali? usahakan agar tak salah lagi dalam mengucapkan ijab khobul nya yah?" Ucap penghulu lalu terlihat adik iparku itu menganggukkan kepalanya.


Setelah yang ketiga kalinya, adik iparku dinyatakan sah menikah dengan wanita itu yang bernama Vhania. Ingin menangis rasanya, namun aku segera menyadarkan diriku agar tak menunjukkan kesedihan ku kepada semua orang. Kupikir, acara pernikahannya akan batal, tapi nyatanya mereka berdua kini sudah sah sebagai suami istri.


Namun mendengar adik iparku yang menyebutkan namaku saat ijab khobul, apakah sebenarnya dia masih mencintaiku? aku gak tau akan isi hatinya saat ini, yang kuyakini dia sudah tak menginginkan ku lagi. Mungkin harusnya aku mengikhlaskan dia hidup bahagia dengan pilihan hatinya.

__ADS_1


Setelah ijab khobul, Mas Rangga mengajakku untuk pulang kembali dan beristirahat. Karena acara resepsinya akan diadakan pada malam hari. Jadi acara untuk siang ini sudah berakhir. Dalam perjalanan pulang, Mas Rangga terus mengingatkanku agar tak pernah lagi mengganggu hubungan rumah tangga Rendi yang baru.


"Loh, Mas.. mengapa kamu mempunyai pikiran seperti itu?" tanyaku karena tersinggung. Aku juga sadar diri lah, saat ini Rendi sudah berbahagia dengan istri barunya.


"Karena kupikir, kalian masih saling mencintai. Buktinya tadi, dia sampai menyebutkan namamu sebanyak dua kali saat ijab khobul. " Ucap Mas Rangga membuatku paham.


Pasti dirinya merasa cemburu saat adiknya malah menyebutkan namaku saat ijab khobul tadi. Dan dia takut kalau kami masih saling mencintai dan mempunyai rencana untuk kawin lari. Sebenarnya, aku memang punya niat seperti itu. Namun kurasa itu tak akan terwujud karena sekarang adik iparku itu telah menikah dengan wanita pilihannya.


"Kenapa kamu diam? apa benar kamu masih memiliki rasa untuknya? " tanya Mas Rangga membuyarkan lamunanku.


"Mas, aku kan sudah janji untuk memulai rumah tangga kita dari awal. Hanya saja saat ini aku menantikan perubahan sikap Mas dan hanya mencintaiku seorang. " Ucapku yang entah datang dari hati atau asal-asalan doang.


"Aku akan berusaha untuk berubah demi keutuhan rumah tangga kita kembali. Bantu aku untuk menghilangkan penyakitku ini yah? " ucapnya membuatku menatapnya dan tersenyum menanggapinya.


Apakah ia,sifat suamiku itu bisa disembuhkan? kalaupun nanti dia benar-benar berubah dan hanya memberikan cintanya kepadaku seorang, apakah aku bisa membuka kembali hatiku yang telah terluka parah ini? sungguh aku tak tau kedepannya akan menjadi seperti apa.


Kalau saat ini diriku ingin terlepas dari Mas Rangga, bagaimana nasib anak yang sedang ku kandung ini? tak bisa kubayangkan anakku terlahir tanpa sosok ayah. Mungkin benar kata Rendi, aku harus kembali membuka pintu hatiku untuk Mas Rangga. Tapi apa bisa? agh, mengapa aku berada di situasi sulit seperti ini.


"Sayang, aku janji akan mengakui anak itu setelah dia lahir nanti. Walaupun itu bukan anakku, tapi aku akan menjaga dan merawatnya. " Ucapan Mas Rangga membuatku tertegun.


"Sungguh, Mas? " tanyaku tak percaya.

__ADS_1


Mas Rangga tersenyum kearahku dan mengucapkan kalimat tadi dengan mantap. Apa itu tulus dari hatinya berbicara seperti itu? aku seperti merasa tak yakin dengan ucapannya barusan. Mungkinkah dengan sikapnya seperti ini akan membuat kembali hatiku luluh?


__ADS_2