![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Sebenarnya hati ini ingin kembali pulang agar pikiranku bisa tenang dan tentram. Namun karena hari sudah mau gelap, terpaksa diriku tetap tinggal di perkemahan.Ternyata bukan hanya sekolah kami saja yang mengadakan acara reuni akbar. Tapi ada sekolah lain juga yang turut ikut untuk merayakan reuni ditempat yang sama.
Mengapa bisa kebetulan sekali bisa mengadakan reuni akbar bersama angkatan mas Rangga? berarti Anggun dan Reni, apakah dia yang mengundang?tapi yang mengganggu pikiranku saat ini adalah tentang perkataan adik iparku. Benarkah adik perempuan ku itu sedang hamil?
"Renata.. maafkan kami para sahabatmu yang tadi tak memberi pembelaan terhadapmu!jangan marah yah? " ucap Ria merasa bersalah.
"Iya Ren, apalagi aku sangat syok mendengar perkataan lelaki tadi yang mengaku sebagai suamimu. Tapi kalau aku boleh tanya, apakah benar kamu dan adik iparmu punya hubungan spesial? " tanya Gladys penasaran.
Mungkin sudah saatnya diriku menceritakan semuanya kepada kedua sahabatku itu. Dengan begitu mereka bisa paham dengan posisiku sekarang ini. Namun belum sempat aku mencurahkan isi hatiku, tiba-tiba datang tiga orang pengganggu. Siapa lagi kalau bukan Fandi, Seno, dan adik iparku.
Mereka bertiga datang membawakan makanan untuk kami para wanita. Wah, sungguh pengertian sekali mereka ini, tau aja kalau kami para wanita sudah kelaparan.
"Ria, suamimu mana? " tanyaku karena sedari tadi tak pernah terlihat olehku.
"Dia reuni nya diseberang sana dengan kawan seangkatannya. Jangan-jangan dia saling kenal dengan suamimu? " ucap Ria menatap kearahku.
Aku mengedikkan bahu tanda tak tau, dan tak ingin tau juga. Semoga saja, mas Rangga tidak mempermalukan diriku lagi saat api unggun nanti. Karena kata panitia, saat api unggun nanti,kami akan bergabung dengan mereka yang diseberang sana.
Semoga saja, aku dan mas Rangga saling berjauhan posisi duduknya. Dan jangan sampai kami saling bertemu nantinya. Rasanya aku ingin berdiam diri didalam tenda saja, namun hati ini ingin menyaksikan api unggun. Biar kedatanganku kesini tidak sia-sia percuma.
Tiba-tiba,Ria bersorak senang karena melihat kedatangan suaminya.Ah, teriakannya itu sungguh membuatku jantungan.Saat aku menoleh kebelakang,rupanya suami Ria tersebut tidak datang sendiri, melainkan dengan beberapa orang dan salah satunya adalah mas Rangga.
Ternyata mereka memang saling mengenal, ah semoga saja mas Rangga tak membuat kekacauan lagi kayak tadi. Aku tak mau melihat kearah mas Rangga, karena sungguh membuatku jijik atas perlakuannya tadi kepadaku.
Mungkin karena melihat aku yang tak tenang setelah kedatangan mas Rangga, tiba-tiba saja adik iparku menarik lenganku untuk menjauh dari situ. Mungkin dia curiga kalau mas Rangga akan membuat diriku malu lagi di hadapan orang banyak.
__ADS_1
"Mau cari tempat untuk bermadu kasih yah? tolong jangan mengotori tempat ini! " Ucap salah satu diantara mereka yang baru datang.
"Aku ini masih suaminya loh, tapi kalian bisa lihat sendiri,dia malah lengket dengan lelaki lain yang ternyata adalah adik iparnya sendiri . Apa kalian masih mau bersahabat dengan wanita seperti dia? " ucap mas Rangga membuatku emosi.
Aku ingin sekali menonjok mukanya itu berulang kali, namun adik iparku menahan pergelangan tanganku dan mengatakan tak perlu mempedulikan ucapan abangnya tersebut. Karena hanya akan menambah kekacauan.
Tapi apakah aku harus diam saja dengan perlakuannya yang mempermalukan diriku? tak lama, mas Rangga terlihat mendekati diriku lalu menyeret ku dengan paksa. Sedangkan adik iparku terlihat tak berdaya, karena langsung dikeroyok oleh sekelompok pria.
Aku hanya bisa menangis melihat keadaan adik iparku tersebut. Mengapa semuanya hanya diam saja dan tak mau melerai mereka yang menyiksa adik iparku tersebut? aku juga tak menyangka, keempat sahabatku hanya diam membisu dan tak ada yang berniat untuk menolong. Malah suami Ria turut membuat adik iparku babak belur.
"Lihatlah Renata.. adik iparmu itu, apakah kamu tak kasihan padanya? " ucap mas Rangga membuatku memberontak untuk melepaskan diri, namun sulit kulakukan sehingga hanya tangisan yang jatuh membasahi pipi ini.
"Tolong, hentikan aksi gila kalian!apa kalian tak punya hati nurani? mas, dia itu adik kandungmu,mengapa kamu tega menyiksanya seperti itu? " ucapku memohon untuk mengakhiri pengeroyokan itu.
"Ok, tapi ada syaratnya! " ucap mas Rangga membuatku langsung mengiyakan apapun yang akan jadi syaratnya tersebut.
"Baiklah semua, sekarang kita kembali ke perkemahan kita! biarkan saja bocah ingusan itu terkapar disitu. " Ucap mas Rangga lalu melepaskan ku dan berlalu pergi.
"Ingat, besok aku tunggu kamu pulang kerumah! " ucapnya lagi lalu tertawa bahagia.
Aku berlari kearah adik iparku dan mencoba mengguncangkan tubuhnya dengan perlahan agar dia tersadar. Sungguh kejam mereka semua telah melakukan semua ini, apalagi mas Rangga yang begitu tega menyiksa adik kandungnya seperti ini.
Aku melihat sekeliling, dan mencoba untuk meminta bantuan agar mengangkat tubuh adikku ke dalam tenda. Namun mereka tak ada yang tersentuh hatinya untuk menolong. Dan ke empat sahabatku itu? sungguh tega kalian meninggalkanku disaat sulit seperti ini.
"Lihatlah pasangan pezinah itu, gak ada rasa malunya yah masih berdiam diri disini. " Ucap salah satu wanita yang kebetulan lewat di hadapan kami berdua.
__ADS_1
Aku tak peduli tentang tanggapan orang-orang terhadap kami berdua. Saat tengah menangis sedih karena melihat kondisi adik iparku yang tak sadarkan diri, tiba-tiba muncul salah satu pria menghampiri kami. Untungnya dia mau menolong untuk memindahkan tubuh adik iparku ke dalam tenda. Posisinya saat itu, semuanya sudah berkumpul untuk menikmati api unggun.
Masa bodoh dengan api unggun, saat ini aku hanya memikirkan bagaimana caranya untuk bisa pulang sekarang juga. Lelaki yang baik hati itu juga menghubungi panitia untuk segera datang menjemput adik iparku. Karena mengingat kondisinya yang semakin melemah.
"Terima kasih atas bantuannya. Kalau boleh tau, nama kamu siapa? " tanyaku sambil mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya.
"Aku Bima, dan kamu harusnya berterima kasih kepada adik perempuanmu, karena dia yang menyuruhku untuk datang membantu kalian. " Ucap lelaki itu yang bernama Bima.
"Apakah kamu temannya Reni? " ucapku lalu dia menganggukan kepalanya.
Saat ingin bertanya lagi, namun dia pergi begitu saja dan sempat menyuruhku untuk menunggu tim penjemput. Ternyata adik perempuanku masih peduli kepada ku, buktinya dia menyuruh orang lain untuk membantuku.
Beberapa menit kemudian, tim penjemput sudah datang lalu mengangkat tubuh Rendi keatas tandu.
Walaupun hanya menggunakan cahaya senter, ku hilangkan ketakutanku. Padahal aku berjalan paling belakang. Sedangkan tim penjemput yang berjumlah dua orang berada didepanku membawa adik iparku diatas tandu. Semoga Rendi bisa bertahan. Sungguh aku khawatir dan sangat takut kehilangan dirinya.
_________________
Saat ini, Rendi sudah berada dirumah sakit. Aku setia menemaninya dan berharap dia secepatnya sadar dari komanya. Yah, akibat pengeroyokan itu, dirinya dinyatakan kritis. Kini aku jadi bingung, apakah harus memberitahu semua ini kepada kedua mertua ku?
Ya, tak mungkin aku akan merahasiakan ini dari mereka. Jadi kuputuskan untuk menelpon mereka, dan mendengar perkataan ku membuat ibu mertua syok.
"Renata, ibu minta tolong padamu untuk menjaga Rendi selama dia dirawat dirumah sakit yah? saat ini bapak dan ibu belum bisa pulang. Barusan Rangga juga menelpon dan mengatakan agar kami disini tak perlu khawatir. Karena kamu bisa diandalkan. Tolong bantu ibu yah, nak? " ucap ibu mertua memohon kepadaku.
Ck.. orangtua macam apa itu? harusnya kalau mendengar keadaan anaknya yang seperti ini, tinggalkan dulu semua pekerjaan. Heran deh dengan cara berpikir keduanya yang selalu saja mementingkan pekerjaan daripada anak sendiri.
__ADS_1
Lihat saja mas Rangga, kamu akan menanggung semua perbuatan mu ini. Baiklah, aku akan mengikuti syarat yang kau berikan. Namun akan kupastikan kamu akan mati ditanganku secara perlahan.