Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]

Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]
Bukan anak tunggal?


__ADS_3

Mendengar ucapan bapak mertua lantas membuat Mas Rangga melirik kearahku. Sehingga membuatku berusaha untuk terlihat biasa saja menanggapi kabar mengejutkan ini. Saat mata kami saling pandang aku memberikan senyum manis kepada suamiku itu, biar terkesan kalau aku senang kalau adik ipar ku itu menikah dengan kakak kandung Shania.


Tapi, bukannya Shania itu anak tunggal? kok wanita itu diperkenalkan sebagai kakak kandung Shania sih? aku jelas bingung karena dulu kan Shania pernah berkata kalau dirinya adalah anak tunggal. Lalu kemana selama ini wanita itu berada? dan mengapa baru muncul ketika adiknya meninggal? agh, sudahlah mengapa juga diriku memikirkannya.


Aku menatap kearah adik ipar ku dan menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya.Kupikir adik ipar ku akan menolak permintaan tersebut, nyatanya dia mengiyakan dan dengan mantap mengatakan akan segera menikah dengan kakak Shania yang belum ku ketahui siapa namanya.


"Baiklah, karena Rendi sudah menyetujui, besok kita akan mengatur jadwal pernikahan yang pas untuk mereka berdua. " Ucap bapak mertua dan disepakati oleh semuanya kecuali aku, namun aku tak berani mengungkapkan nya.


"Karena semuanya sudah dibicarakan, kami permisi mau pulang dulu. Kalian silahkan lanjutkan obrolannya. " Ucap Mas Rangga lalu menarik tanganku untuk mengikutinya.


Sebelum meninggalkan ruangan itu, sempat aku melirik kearah adik ipar ku lagi. Ternyata dia juga sedang menatapku dan bisa kuartikan bahwa itu adalah tatapan kesedihan. Atau mungkin karena dirinya masih merasa kehilangan atas kepergian Shania? hmm mungkin saja. Mana mungkin dia bersedih karena tak bisa hidup bersamaku.


"Kak, aku ikut pulang dengan kalian yah? " ucap Reni lalu terdengar dirinya pamit kepada semuanya dan menyusul mengikuti aku dan Mas Rangga.


"Besok datang lagi yah, sayang! tante ingin mengatakan sesuatu yang penting denganmu. " Ucap Ibu mertuaku kepada Reni membuatku curiga saja.


"Ok,besok aku kesini lagi. bye.. " Ucap Reni sok akrab kepada semuanya.


Kira-kira hal penting apa yang akan disampaikan Ibu mertuaku pada adik perempuan ku yah? aku takutnya mereka akan merencanakan sesuatu yang buruk. Astaga, kenapa aku berprasangka buruk pada Ibu mertuaku sendiri? hmm, lebih baik aku tak perlu sibuk memikirkan urusan mereka. Hanya akan membuatku tambah pusing tujuh keliling.

__ADS_1


Akhirnya kami tiba juga dirumah membuatku ingin segera masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuhku yang lelah ini. Kali ini bukan tubuh aja yang lelah, tapi pikiran dan hati ku ikutan lelah. Semoga saja mata ini cepat terpejam dan diriku bisa melupakan rasa sakit itu untuk sejenak.


Untung saja, Mas Rangga memilih untuk masuk dikamarnya bersama adik perempuan ku itu. Pasti mereka akan melakukan ritual percintaan. Baguslah, aku sudah tak mempedulikan lagi akan hal itu. Terserah mereka mau ngapain, intinya aku bisa terbebas untuk memberikan kewajiban ku sebagai seorang istri.


Aku mengelus perutku yang mulai membesar, tanpa terasa airmataku mengalir begitu saja. Sungguh aku tak bisa menahan sakit hatiku ini. Namun aku sadar, harusnya diriku tak berlarut dalam kesedihan. Takutnya nanti Mas Rangga curiga saat melihat mataku yang terlihat sembab.


Mengapa Rendi tega melakukan itu sih? kalau dia menikah lagi,semakin sulit bagiku untuk bisa hidup bahagia dengannya. Apa memang benar omongan Ibu mertua bahwa yang dulu terjadi adalah kekhilafan semata? dan itu bukan karena cinta? Agh, mengapa dia tega menyakitiku?


Tok.. tok.. tok..


Terdengar ketukan pintu kamarku, sehingga diriku segera menghapus air mata yang membasahi pipi ini. Sebelum membuka pintu, aku menarik nafas panjang lalu menghela nya dan itu kuulangi hingga beberapa kali. Aku juga berusaha terlihat ceria didepan Mas Rangga nanti. Saat pintu kubuka,


"Sebenarnya sih aku keberatan bila ditinggal sendirian dirumah ini. Tapi karena ini masalah pekerjaan aku sih tak masalah, Mas. "Ucapku sesantai mungkin.


" Hehe, kamu memang istri penurut, sayang. "Ucap Mas Rangga mengecup kening ini.


Setelah kepergian Mas Rangga, aku melangkahkan kaki menuju kearah dapur untuk sekedar mengambil camilan dan susu khusus untuk Ibu hamil. Setelahnya, aku duduk disofa sambil menonton TV. Sepertinya, Reni belum bangun dari tidurnya. Mungkin kelelahan karena habis digempur oleh Mas Rangga. Tapi yah sudahlah, ngapain juga aku memikirkan wanita gak tau malu itu.


Tak berapa lama kemudian, terlihat Reni menuruni anak tangga dan terlihat dirinya sudah memakai baju yang rapi. Pasti dirinya akan keluyuran lagi,dasar wanita gak punya urat malu. Saat dirinya melewati ku yang sedang duduk disofa ruang keluarga, aku pun mengatakan satu hal yang membuatnya menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Jangan pikir, aku gak tau kalau kamu yang menyebabkan kematian Shania. " Ucapku sambil tetap fokus menonton TV.


"Atas dasar apa kakak menuduhku? apa kakak punya bukti atas tuduhan tersebut? " ucapnya menantang.


"Memang aku tak mempunyai bukti. Tapi aku mendengar saat dirimu berbicara dengan seseorang melalui telepon dan merencanakan untuk membunuh seorang wanita. Dia kan wanita yang kamu maksud? " tanyaku dengan tatapan sinis kepadanya.


"Oh, jadi kakak nguping yah saat itu? haha, kalau iya, apa kakak akan mengadukan hal ini pada Mas Rangga? harusnya kakak berterimakasih kepadaku karena telah berhasil menyingkirkan wanita itu dari Rendi. " Ucap Reni membuatku terkejut.


"Jangan mengatasnamakan aku yang pada kenyataannya,kamu melakukannya hanya untuk dirimu sendiri agar bisa merebut Mas Rangga dariku. Perbuatan kamu ini sungguh kriminal. Suatu saat pasti kamu akan menerima hukumannya. " Ucapku dengan lantang.


"Ayolah, kak. Bilang saja kalau kamu senang atas kepergian Shania. Namun kesenangan mu itu hanya bersifat sementara. Dan kini kakak harus merasa sakit hati karena Rendi akan menikahi kakak dari Shania. Cup.. cup.. aku turut bersedih yah Kak atas kenyataan yang menimpa kakak. " Ucapnya membuatku seketika terbungkam.


Kuakui apa yang dikatakan oleh Reni tentang suasana hatiku memanglah benar adanya. Sungguh perih kurasakan menerima kenyataan bahwa Rendi yang kucintai akan segera menikahi kakak iparnya sendiri, dan itu bukanlah aku. Ingin menggagalkan pernikahan tersebut, tapi aku tak akan mampu melakukannya. Haruskah aku merelakan semuanya dan menerima takdirku hidup dibawah kekuasaan Mas Rangga?


"Kalau kakak ingin menyingkirkan wanita itu, aku dengan senang hati akan melakukannya untuk kakakku yang tersayang. " Ucap Reni dengan senyum jahatnya.


"Jangan pernah mengajakku untuk melakukan tindakan kriminal, karena aku tak akan pernah melakukannya. Kalaupun Rendi ingin menikah lagi, yah bagus dong. Dia juga berhak bahagia. Yang harusnya disingkirkan itu adalah kamu, agar pergi jauh dari kehidupan rumah tangga ku. " Ucapku lalu bangkit dan berjalan menuju ke kamarku.


Masih terdengar suara adik perempuan ku yang mencaci ku atas ucapanku barusan. Kali ini aku harus terus waspada kepadanya. Jangan sampai dia melakukan tindakan kriminal lagi lalu menuduhkannya kepadaku. Apalagi kalau tuduhan itu ditujukan padaku, semuanya akan percaya begitu saja, karena yang mereka tau aku sangat mencintai adik ipar ku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2