![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Untungnya rasa mual itu sudah hilang, jadinya diriku bisa keluar dan bertemu dengan keempat sahabatku. Tapi, bocah tengil itu juga ikut dan ingin berkenalan dengan para sahabatku tersebut. Harusnya dia nimbrung aja bareng teman seusianya,tapi yah sudahlah demi keamanan, kubiarkan saja dia mengekoriku.
Ternyata di kafe tempat kami janjian untuk bertemu, masih sunyi. Mungkin mereka masih dalam perjalanan atau sedang terjebak macet. Kuraih ponsel dari dalam tas, lalu diriku mencoba mengirim chat sekedar ingin mengetahui posisi mereka sekarang.
[Udah pada nyampe dimana nih? ] Aku
[Udah dijalan nih, ntar juga nyampe kok. Emang kamu udah stay di kafe? ] Gladys
[Iya nih, kirain aku yang telat datang, taunya malah yang pertama hadir, mana masih sunyi lagi. ] Aku
[Yah udah, tungguin kami yah. Mungkin yang lain juga sudah dalam perjalanan. Bye.] Gladys
Iya mungkin juga mereka semua sudah dalam perjalanan. Diriku melirik kearah bocah tengil yang sedang sibuk dengan ponselnya sedari tadi,hmm pasti lagi chatan ama Shania. Siapa tau kan sebenarnya dia juga sangat mencintai wanita itu? entahlah.
Sambil menunggu, aku memesan minuman favorit ku, hazelnut chocolate. Aku menawarkan pada adik iparku untuk memesan minum juga, namun ia berkata nanti saja karena dirinya sedang tak menginginkannya.
Lima belas menit menunggu belum ada tanda-tanda dari sahabatku yang datang, padahal tadi kata Gladis dirinya udah hampir sampai di kafe ini. Pasti terjebak macet. Untungnya aku dan adik iparku menggunakan sepeda motor, jadi bebas dari kemacetan.
Sambil mengaduk-aduk Hazelnut chocolate minuman pesananku,sesekali aku mendengarkan Rendi yang sedang asyik menceritakan kisahnya sewaktu masih di SMA dulu yang katanya juga mempunyai genknya sendiri yang terdiri dari enam orang.
Lalu setiap kali ada yang membuka pintu kafe, aku berharap kalau itu adalah para sahabatku.Namun sejauh ini, belum ada tanda-tanda kedatangan para sahabatku tersebut.
"Kak, kok lama banget sih teman-teman kakak itu? huu payah tidak konsisten deh, ini kan sudah telat banget loh. Itu aja minuman kakak sudah habis masih aja belum datang juga mereka nya. " Ucap Rendi kelihatan bosan menunggu.
"Sabar sih, mungkin mereka terjebak macet. Kalau kamu bosan, mending kamu cari kesenangan diluar sana, mungkin bisa bertemu dengan genk mu itu yang kamu ceritakan tadi. " Ucapku mengusirnya secara halus.
"Gak, ah.. pokoknya aku akan menemani kakak hingga selesai nanti. Takutnya kakak mual-mual lagi kayak tadi, atau bisa saja mas Rangga melihat kakak disini, kan gawat. "
Haduh percuma deh nyuruh bocah tengil itu pergi saat diriku ingin bertemu dengan para sahabatku. Selalu saja ada alasannya biar nempel terus pada diriku kayak perangko aja. Ntar, ngomong apa diriku kalau ada yang nanya siapa bocah yang kubawa bersamaku ini. Bisa-bisa disangkanya aku mempunyai simpanan bocah ingusan lagi ama mereka berempat.
"Renataaaaa... " terdengar suara yang memanggilku dan ternyata dia adalah Gladys.
"Heiiii... akhirnya setelah sekian lama kita bisa berjumpa lagi. " Ucapku lalu cipika cipiki dan sedikit basa basi seperti khas sewaktu di putih abu-abu dulu.
__ADS_1
"Yang lain masih dalam perjalanan, kita tunggu sepuluh menit lagi yah? waduh, pasti kalian bosan yah menunggu kedatangan kami yang super telat ini. " Ucap Gladys lalu dirinya menatap kearah Rendi dengan rasa heran.
"Eh, dia... anu.. perkenalkan dia ini adik iparku dan namanya adalah Rendi. " Ucapku karena tau arti tatapan Gladys yang merasa heran melihat adik iparku tersebut.
"Oh, hay Rendi.. aku sahabat lama nya Renata, kamu bisa panggil diriku, Gladys. " Ucap Gladys mengulurkan tangannya kearah adik iparku itu.
Aku memberi kode kepada adik iparku tersebut agar mau menyalami tangan Gladys yang diulurkan kepadanya. Untungnya dia peka, hingga akhirnya mereka pun resmi berkenalan. Sungguh adik ipar yang baik dan pengertian deh.
Tak berselang lama, yang lainnya ikut menyusul masuk kedalam kafe dan bergabung dengan kami bertiga. Wah, yang dibelakang masih saja tak pernah akur dari dulu. Siapa lagi kalau bukan Fandy dan Seno si biang kerok.
"Wah, suami Renata ternyata berondong muda euyy.. " Ucap Fandi heboh.
"Jagain suami lu, Ren.. ntar disamber si pisang, nangis-nangis deh lu. " Ucap Seno yang langsung mendapat tabokan dari Fandi.
"Haduu bilang aja kalau elu yang mempunyai keinginan seperti itu. Sorry yah, gue adalah lelaki normal.Bukan kayak elu kali. " Ucap Fandi memalingkan muka dari Seno.
"Gue juga lekaki normal kali, dan buktinya aku tidak jomblo seperti kamu. Ha-ha-ha.. " Ucap Seno lagi terbahak-bahak.
"Kalau kalian ingin beradu mulut, diluar aja sana! jangan ngumpul bareng kita disini. Malu dong pada suami Renata, masa udah gede masih bertingkah kayak bocah SD. " Ucap Ria membuat keduanya langsung terdiam dan membisu.
"Rendi, kamu mau pesan apa biar sekalian dicatat nih! " ucapku lalu dia berkata untuk menyamakan saja dengan yang ku pesan pribadi.
"So sweet amat sih pasangan suami istri ini. Kalau bisa, pake panggilan sayang dong, masa manggil suami, pake namanya. " Ucap Seno membuatku hampir tersedak air liur sendiri.
Terlihat Gladys menyunggingkan senyumnya karena sahabat yang lainnya menyangka kalau Rendi adalah suamiku.
"Tapi hebat loh kamu, nyari suami yang masih berondong. Paling setiap hari kewalahan deh dirimu diatas ranjang. " Ucap Seno membuatku benar-benar tersedak.
"Haduu, Seno.. dia ini bukan suami Renata, tapi adik iparnya, mungkin saja dia mau jadi pacarku? haha boleh kan berharap mendapatkan dia? " ucap Gladys membuatku melirik kearah Rendi yang mengulum senyumnya.
Pasti senangnya ampe keawan-awan deh karena disukai oleh salah satu sahabatku yang paling cantik. Bisa-bisa nanti dia minta nomor WA bocah tengil itu lalu akhirnya mereka jadian beneran gimana? pokoknya jangan sampai itu terjadi.Apalagi kan, Gladys masih jomblo.
"Ayo, coba ceritain apa kesibukan kalian masing-masing sekarang ini? " Ucap Fandi mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
"Kalau aku super sibuk, kerjanya gak ada habis-habisnya. Sampai bertemu kalian aja, aku sambil kerja juga. " Ucap Gladys nyerocos sambil mengeluarkan laptop tipisnya.
"Sementara ngobrol, gak apa-apa yah aku sambil mengerjakan tugas. "Ucapnya lagi sambil tangannya lihai mengoperasikan laptopnya yang baru saja menyala.
" Huuu, reunian kok masih tetap kerja sih. Gak bisa ditunda dulu, nanti kamu malah gak fokus tau. "Ucap Seno menyoraki sahabatnya yang super duper sibuk itu.
Akhirnya kami mengobrol serius menceritakan kisah indah pada jaman SMA dulu. Hingga tiba-tiba, Gladys mengalihkan pandangannya kepadaku lalu memohon kepadaku agar nyomblangin dirinya dengan adik iparku yang menawan itu.
Apa yang harus kukatakan padanya untuk menolak permintaannya itu yah? gak mungkin dong aku jujur dan berkata kalau bocah tengil itu sekarang sudah jadi kekasihku? kacau benar-benar kacau kalau Gladys terus memaksa untuk dicomblangin dengan adik iparku tersebut.
Bukannya membantu, bocah tengil itu malah diam saja dan tak banyak berbicara. Haha malu-malu kucing dirinya. Padahal dia itu type lelaki yang banyak bicara alias cerewet. Mungkin karena baru pertama kali bertemu makanya dirinya canggung.
"Memangnya kakak, beneran naksir padaku? " ucapan Rendi membuatku syok. Apa maksudnya berkata seperti itu? jangan bilang dia akan memberikan kesempatan kepada sahabat ku itu. Dasar yah, sama aja kayak abangnya, playboy tingkat tinggi.
"Nah, loh.. Ayo jadian aja sekarang juga biar sahabat ku yang satu ini terbebas dari masa jomblo nya. Udah tua juga, betah amat nge-Jomblonya." Ucap Seno membuatku tersedak lagi untuk kesekian kalinya.
"Nanti kalau udah jadian kan saat acara api unggun bisa ajak sekalian buat pake baju couplean. " Ucap Seno lagi membuatku terkejut.
"Acara api unggun, maksudnya? " ucapku tak mengerti betul maksudnya.
"Wah parah nih bocah, jangan bilang kamu belum baca surat undangan yang ada digrup besar WA angkatan kita yah. " Ucap Ria ngegas..
"Eh.. iya emang belum baca sih. Hehehe. " Ucapku tanpa merasa berdosa. Lagian kan kemarin aku sibuk dengan urusan rumah tangga ku, mana sempat baca surat undangan digrup WA tersebut.
"Rendi, mau yah ikut dengan kami? walaupun kamu bukan seangkatan dengan kami, tapi tenang saja, aku bisa mengurusnya agar bisa barengan dengan kamu. Mau yah? " Ucap Gladys membujuk adik iparku tersebut.
Awas saja kalau dia mengiyakan ajakan Gladys tersebut, aku akan ngambek. Saat aku menatap kearahnya dengan bibir manyun, dia menyunggingkan senyumnya lalu berkata,
"Kalau kak Renata mengizinkan, aku akan dengan senang hati akan ikut bersama kakak-kakak sekalian. " Ucap Rendi membuatku memutar bola mata malas.
Lagian siapa juga yang akan ikut reuni akbar tersebut? buang-buang waktu saja. Lebih baik duduk manis dirumah dan memikirkan bagaimana cara untuk bisa bebas dari mas Rangga.
"Tenang saja, pasti Renata akan mengizinkan kok. Dia pasti setuju kalau kamu jadi kekasihku. " Ucap Gladys membuatku batuk-batuk.
__ADS_1
Huuu kalau begini jalan ceritanya, pasti Gladys akan terus berusaha untuk mendekati adik iparku itu. Fiks ini, dia jatuh cinta beneran pada adik iparku yang sangat ganteng tersebut. Berarti diriku punya saingan berat, tapi aku yakin Rendi pasti memilih diriku.